
"Jadi ini tempat pemukiman penduduk yang akan kita gusur?" tanya Bintang pada salah seorang karyawan yang mendampinginya begitu sampai di kawasan yang tidak begitu padat perumahannya, terlihat jelas dari rumah-rumah yang letaknya berjauhan.
"Benar Pak. Kebetulan ada petanya. Kalau Bapak mau lihat, saya bisa ambilkan di mobil" jawab Romi, karyawan yang menemani Bintang ketempat tujuan.
"Oke . Saya penasaran dengan statistik daerah ini" setuju Bintang.
Romi pun berjalan meninggalkan Bintang sendirian menuju mobil yang lumayan jauh terparkir.
"Gerah banget,sih" Bintang mengibas-ngibas bajunya.
"Lebih baik aku berteduh di sana sambil menunggu Romi kembali" gumam Bintang melihat sebuah pohon rindang yang tidak jauh dari tempat dia berdiri.
"Lumayan sejuk juga di bawah pohon ini" katanya begitu berdiri di bawah pohon rambutan.
"Aduh...." Bintang meringis terkejut sambil memegang kepalanya yang seperti sengaja di timpuk dari atas.
"Rambutan?" gumam Bintang melihat di bawah kakinya ada buah berambut warna merah.
"Aduh..." Bintang kembali meringis. Kepalanya kembali ketiban buah rambutan. Untung hanya rambutan bukan durian, bisa hancur tuh kepala.
"Hei... siapa sih di atas?" Bintang mendongak. Di atas pohon rambutan seseorang sedang sibuk memetik buah rambutan tanpa sadar ada yang terjatuh dan menimpa kepala Bintang yang ada di bawahnya.
"Dia lagi..." geram Bintang.
"Eh...Dasar monyet, turun kamu" gertaknya dari bawah.
"Waduh, ada yang berani ngatain aku monyet. Cari perkara rupanya ni orang" Berlian seketika menengok kebawah. Hampir saja Berlian terjatuh kalau tidak berpegang kuat pada salah satu dahan pohon begitu mengenali wajah angker di bawahnya.
"Gila ya, kamu lagi ... kamu lagi ... " balas Berlian dari atas.
"Turun kamu sekarang. Kamu sudah dua kali menimpuk kepalaku dan aku ingin buat perhitungan sama kamu, monyet jelek."
"Seenaknya saja bilang aku monyet. Salah sendiri, siapa suruh berdiri di bawah sana. Jangan-jangan kamu mau maling rambutan ya?" sambar Berlian.
"Mana ada maling pakai celana, yang ada maling pakai rok" sindir Bintang dari bawah, membuat wajah Berlian merona menahan malu. Berlian pun cepat mengapit roknya.
__ADS_1
"Kamu ngintip,ya?. Dasar cowok mesum"
"Lumayan jelas bisa melihat warna merah" cetus Bintang asal tebak. Bintang yang biasa dingin dan cuek entah kenapa di hadapan Berlian ada saja rasa ingin cari gara-gara atau keluar rasa ingin menjahili.
Wajah Berlian makin memerah, bagaimana Bintang bisa tahu kalau dia pakaian dalaman warna merah padahal sudah memakai celana short tambahan.
"Dasar cowok genit" seketika Berlian melempari Bintang dengan buah rambutan yang berhasil dia petiknya. Bintang berusaha menghindar.
"Hei, monyet jelek... kamu turun sekarang atau aku sendiri yang akan naik dan menjatuhkan kamu ke bawah" gertak Bintang kesal.
"Coba saja kalau kamu berani?. Anak manja seperti kamu mana bisa memanjat, paling juga takut sama ketinggian" ejek Berlian memancing adrenalin Bintang untuk memanjat.
"Lihat saja, aku akan naik dan aku akan melempar kamu kebawah, seperti rambutan yang kamu lempar tadi" Bintang pun beraksi, dia tak kalah lincahnya dari Berlian soal urusan memanjat. Pas ada sepasang monyet bertengger di atas pohon rambutan.
"Waduh... ternyata si songong ada bakat juga."
"Awas,kamu" gertak Bintang terus memanjat dan menghampiri Berlian.
Berlian tersenyum jahil, muncul ide di otak nya mengerjai Bintang. Saat Bintang semakin mendekat, Berlian turun dengan cekatan.
"Hei,,,kamu..."ujar Bintang.
"Brengs*k, dia mengerjai aku lagi. ****" gumam Bintang geram pada Berlian yang terus berteriak dari bawah.
Kakek Dharma yang sedang asik membaca koran di belakang rumah, begitu mendengarkan teriakan cucunya langsung berlari mendekati Berlian dengan membawa Golok.
"Gawat, ngapain kakek mesti bawa golok sih. Bisa mati ntar anak orang di sambit sama kakek" Berlian menepuk jidatnya sendiri. Maksudnya kan cuma bercanda.
"Mana orang yang berani maling rambutan kakek, mana?"
"Brukkk"
"aahhhh...."
Belum sempat Berlian menjawab, dia dan kakeknya di buat kaget dengan bunyi sesuatu yang jatuh di sertai teriakan kesakitan dari bawah pohon rambutan.
__ADS_1
"Bintang..." ujar Berlian kaget.
"Oh, jadi ini maling rambutan kakek" kakek Dharma mendekat dengan mengacungkan goloknya. Bintang spontan berdiri.
"Kek,jangan kek. Kakek tahan emosi kakek dulu" Berlian dengan cepat melindungi Bintang di belakang punggungnya.
"Lian, minggir kamu. Berani sekali dia maling rambutan kakek"
"Kek, kakek jangan asal tuduh aku bukan maling" Bintang membela diri dan terus berlindung di belakang Berlian. Nyalinya ciut saat melihat tampang sangar kakeknya Berlian, di tambah dengan goloknya yang mengkilap. Bisa mati dia sekali libas dengan golok itu.
"Kek, laki-laki ini teman berlian, bukan maling" Berlian coba meredam emosi kakeknya.
"Bintang" seru Kartika baru keluar dari dalam rumah dan melihat aksi ribut-ribut di halaman rumah.
"Kek, dia bukan maling, dia itu Bintang Pratama. Anak pemilik perkebunan ini" Kartika menjernihkan ke salah pahaman kakek Dharma.
"Bintang Pratama?". Berarti dia ini sepupunya Rangga" Berlian melirik kebelakang, saat bersamaan Bintang menegakkan kepalanya, tanpa sengaja bibir keduanya bertemu tipis tapi dengan cepat menjauh. Paras keduanya sontak memerah. Kartika di bakar rasa cemburu saat itu.
"Dasar lelaki tidak punya sopan santun, berani sekali kamu mencium cucu ku di depan mata kepala ku sendiri" kakek Dharma marah sambil mengacungkan goloknya.
"Bin, cepat kamu lari" kata Berlian, karena kakeknya sangat over protektif terhadap lelaki yang selalu ingin mendekatinya. Saat hendak lari , Romi tiba-tiba muncul. Bintang pun mengurungkan niatnya.
"Ternyata pak Bintang di sini. Ini peta penggusuran pemukiman yang saya maksudkan tadi" Romi yang tidak tahu apa-apa langsung membahas hal tersebut dengan menyerahkan file yang di bawanya.
"Di gusur???" ucap Berlian dan kakeknya serentak terkejut. Golok di tangan kakek Dharma pun terlepas.
...****************...
"Kek, sebenarnya tanah yang kita tempati sekarang ini milik siapa?. Kenapa perusahaan Pratama mengaku sebagai pemilik sah tanah ini dan berniat menggusur perumahaan disini?" Berlian mempertanyakan sengketa tanah yang jadi perdebatan beberapa warga penduduk dengan perusahaan Pratama, termasuk kakeknya.
"Lian, tanah ini milik keluarga kita sejak lama. Pak Wiguna menghibahkan tanah ini pada kakek sebagai tanda terima kasih atas pengabdian kakek bekerja puluhan tahun dengan keluarga Pratama."cerita kakek Dharma.
"Pak Wiguna itu siapa,kek?" tanya Berlian penasaran.
"Pak Wiguna itu kakek dari lelaki kurang ajar yang sudah berani mencium kamu di depan kakek"
__ADS_1
"Cium..." Berlian spontan memegang bibirnya. Rasa bersalahnya pada Rangga kembali menyeruak karena insiden ciuman tanpa sengaja tadi siang.
Jauh dari lubuk hati terdalamnya, Berlian merasa sudah mengkhianati Rangga meski ciuman bukan atas kemauannya. Rasa kesal juga menguasai perasaan Berlian karena selama ini dia begitu menjaga cara berpacaran nya dengan Rangga. Sebagai gadis desa yang tumbuh di bawah didikan kakek dan neneknya yang selalu mengajarkan tentang norma dan kesopanan, Berlian tumbuh menjadi gadis yang bisa menjaga diri dengan baik. Sampai kejadian tadi siang, Bintang adalah laki-laki pertama yang menyentuh bibirnya.