
"Segarnya..." gumam Bintang dalam hati saat keluar dari kamar mandi sambil menyisir rambutnya yang basah menggunakan jari-jarinya.
Rangga langsung menoleh ke arah pintu kamar mandi.
"Ngapaian kamu masuk ke kamar ku?" Bintang menatap curiga bahasa tubuh sepupu dan istrinya yang tegang satu sama lain.
Sedangkan Rangga di buat bertanya-tanya kenapa Berlian dan Bintang bisa berada dalam satu kamar dan keadaan mereka juga sama segarnya habis keramas.
"Bin, kamu kenapa bisa satu kamar dengan gadis ini?" tanyanya ingin tahu.
"Ngga ada yang salah kan kalau aku berada satu kamar dengan suamiku sendiri " jawab Berlian.
"Suami?" ulang Rangga tak percaya. Nafasnya sesak mendengar pernyataan Berlian.
"Iya,semalam aku dan Bintang sudah resmi menikah" tegas Berlian lagi tak mau di pengaruhi rasa cintanya pada Rangga.
"Iya kan, sayang" Berlian menatap mesra suaminya. Yang ditatap hanya bisa heran kenapa Berlian tiba-tiba bersikap begitu.
"Iya kan, sayang...." Berlian menekan nada suaranya sambil memeluk manja tubuh kekar suaminya.
"I..i..iya" kata Bintang gagap karna godaan itu seolah tak bisa di tahan lagi.
"Tidak mungkin" gumam Rangga geram dan tanpa permisi langsung keluar dari kamar tersebut setelah menyimpan kunci motor di meja kamar Bintang.
"Lah... kenapa tuh orang" kata Berlian pura-pura heran.
Rangga pergi, Berlian melepas pelukannya sambil menoleh kearah suaminya.
"Astagfirullah..." Berlian membuang muka saat sadar melihat Bintang hanya mengenakan handuk menutupi bagian pusar hingga lutut, sedangkan dadanya di biar terbuka mempertontonkan lengannya yang berotot dan dadanya yang six pack.
"kamu kenapa?" Bintang coba mendekati Berlian hendak bertanya karena curiga dengan sikap nya yang aneh.
"em... ah... Aku keluar dulu , mau bantu siapin sarapan..." Berlian beralasan lalu ngacir keluar kamar demi menghindari pesona cowok seksi di depan matanya dengan degup jantung yang tak menentu.
...****************...
Kenapa jadi begini?. Bukankah ini yang dia mau?. Bukankah dia yang meminta Berlian agar mau menikah dengan Bintang. Agar dia dapat terus menikmati kemewahan yang didambakannya. Tapi, kenapa kini justru dia begitu mengutuk keputusan yang sudah di buat Berlian di luar sepengetahuannya.
__ADS_1
"Brengs*k!!" Rangga melempar jam weker pemberian Berlian hingga hancur berantakan di atas lantai kamarnya.
"Dasar perempuan munafik..." makinya.
"Kemarin saja mati-matian menolak menikah dengan Bintang. Sekarang, dia malah dengan enteng mengatakan sudah menikah dengan Bintang... dengan gaya centil menjijikkan. Dasar perempuan tidak tahu diri" umpat Rangga meluapkan kemarahannya tanpa mau menyadari kesalahan yang dia perbuat hingga wanita yang dia cintai lepas dari genggamannya.
"Lian, jangan kamu pikir kamu bisa lepas dariku. Setelah aku bisa mewujudkan semua mimpi aku, aku akan merebut kamu kembali" tekad Rangga menggebu-gebu sambil mengepalkan tinjunya dengan sorot mata berapi.
"Aaaaarrrggghhh...." terak Rangga melepaskan segenap kemarahan yang meliputi jiwanya.
...****************...
"Pagi,tante..." sapa Berlian pada mama Farida yang sedang sibuk menata beragam menu sarapan di atas meja makan.
"Kok,tante?. Mama, sayang..." protes mama Farida mengingatkan menantunya.
"Maaf, ma, Lian lupa dan belum terbiasa..." ralat nya sambil tersenyum.
"Kali ini mama maklum. Lain kali kamu harus membiasakan diri memanggil mama ,oke ? kamu tuh udah jadi anak perempuan mama sekarang" kata mama Farida lemah lembut penuh kasih sayang, membuat Berlian terenyuh dengan segala ketulusan yang di perlihatkan ibu mertuanya yang mengingatkan dia pada sosok ibu kandung yang sangat dia rindukan.
"Oh ya!. Suami kamu mana?. Kok, tidak turun bareng kamu?" lanjut mama Farida bertanya.
"Kamu panggil suami kamu sana. Biar kita sarapan sama-sama" perintahnya.
"Baik ma..." sahut Berlian patuh.
Baru saja kakinya mau melangkah, Bintang sudah berjalan menuruni anak tangga sambil memegang pinggangnya yang masih terasa sakit habis terjatuh dari tempat tidur akibat dorongan tak disengaja Berlian.
"Bin, pinggang kamu kenapa?" tanya Mama Farida heran.
"Kayaknya keseleo ma " jawabnya singkat begitu berhadapan dengan mama kandungnya.
"Kok,bisa?"
"Lian enggak sengaja mendorong Bintang dari tempat tidur, ma" Berlian dengan lugu mengakui kesalahan yang dia perbuat.
Mama Farida menanggapi pengakuan menantunya dengan tersenyum geli.
__ADS_1
"Mungkin Bintang nya semalam terlalu semangat, makanya kamu kaget dan spontan mendorong suami kamu" ucap mama Farida asal bicara.
"Maksudnya??" tanya pasutri itu bersamaan dan kurang paham maksud pernyataan mamanya.
"Tidak perlu di bahas. Lebih baik kita sarapan dulu" mama Farida enggan menjelaskan maksud perkataannya dengan jelas karena takut keceplosan kalau semalam dia lah yang mengatur semua strategi aneh mendekatkan pasangan pengantin baru itu.
Berlian dan Bintang bergegas duduk berdampingan setelah mama Farida duduk terlebih dahulu.
"Pagi semua..." sapa Rangga sumringah tanpa beban.
"Kamu akhirnya turun juga. Cepetan duduk. Di tungguin dari tadi" ujar mama Farida pada keponakan tersayangnya.
"Maaf ma..." kata Rangga singkat sambil menarik kursi yang tepat berhadapan dengan Berlian.
Semangat pagi Berlian seketika berubah gerah dan jengah dengan kehadiran Rangga. Lirikan sinis dengan senyum penuh ejekan sempat di lemparkan Rangga saat Berlian memberanikan diri menatap mantan kekasihnya.
Dilema perasaan berada di antara laki-laki yang pernah mengisi harinya dengan cinta dan laki-laki yang sudah mengikatnya dalam janji suci pernikahan.
"Bin, kamu mau makan apa?. Biar aku ambilkan..." Berlian berhasil menguasai keadaan dan tahu menempatkan posisinya bagaimana.
"Roti selai coklat saja..." jawab Bintang daftar.
Berlian pun dengan cepat mengolesi sehelai roti dengan selai coklat dan menuangkan segelas susu pada gelas milik Bintang. Berlian sendiri memilih nasi goreng sebagai menu sarapan nya.
Mama Farida tersenyum bangga melihat sikap perhatian yang di tujukan Berlian untuk suaminya.
"Semoga mata hati kamu terbuka untuk menerima dan mencintai istri kamu,nak" harapan mama Farida dalam hati.
Rangga di buat terhempas kaget melihat sikap tegar yang di perlihatkan Berlian dengan nyata di depan matanya. Kenapa Berlian bisa se tegar itu?. Apa dia tidak hancur kehilangan dirinya?.
"Lian, kamu kan anggota baru di rumah ini?. Tidak ada salahnya jika kamu juga melayani kami semua yang ikut sarapan bareng kamu?. Jangan cuma Bintang yang kamu perhatikan." cetus Rangga berniat menguji keteguhan hati Berlian, apa masih memperhatikannya apa tidak. Kalau iya,tidak sulit baginya untuk merebut Berlian kembali nantinya.
"Maaf, aku seorang wanita bersuami. Segala bentuk perhatianku hanya untuk suami , bukan orang lain" tekan Berlian, menimbulkan kekaguman dalam diri Bintang yang diam-diam terus memperhatikannya.
"Tapi, aku kan bukan orang lain. Aku sepupunya Bintang yang berarti adik ipar kamu" sela Rangga memendam kekesalannya karena Berlian sama sekali tidak terpancing.
"Kamu memang adik ipar ku. Tapi, kamu terlalu dewasa untuk di perhatikan. Walaupun ada yang harus aku perhatikan di rumah ini selain suamiku, orangnya adalah mama"
__ADS_1
Senyum tipis menyungging dari bibir Bintang mendengar ketegasan yang terlontar dari ucapan Berlian. Namun, dia di buat curiga dengan sikap bawel Rangga di meja makan, lain dari biasanya. Biasanya Rangga lebih banyak diam ketimbang bersuara.
"Makanya,kamu segera cari calon pendamping hidup biar ada yang memperhatikan kamu seperti Bintang"saran mama Farida kepada Rangga.