
Mama Farida menutup panggilan telepon dengan wajah berbinar-binar dan dia segara mencari menantunya yang sibuk membantu bibi di dapur menyiapkan makan siang.
"Lian..." panggil Mama Farida.
"Iya, ma. Ada apa?"
Berlian meninggalkan pekerjaannya dan berjalan mendekati mertuanya.
"Lian, mama baru saja mendapatkan kabar gembira dari kantor" katanya.
"Kabar gembira apa ma?" tanya Berlian penasaran.
"Barusan mama dapat kabar dari orang kantor kalau Bintang sudah mencabut keputusannya untuk mengeksekusi pemukiman warga"
"Apa ma?. Bintang mencabut keputusannya menggusur pemukiman?" tanya Berlian tak percaya.
"Lian, ngga salah dengar kan, ma?" mata Berlian berkaca-kaca.
"Iya, nak. Bintang sudah merubah keputusannya"
Berlian menghambur memeluk mama mertuanya, meluapkan rasa syukur, kelegaan juga kebahagiannya.
"Ma , Lian mau menemui Bintang dulu di kantornya" ujar Berlian berbinar-binar mengingat suaminya. Berlian tahu dia harus berbuat apa setelah Bintang mau mencabut keputusannya.
"jangan lupa dandan yang cantik. Biarpun pada dasarnya kamu itu udah cantik , tidak ada salahnya sedikit memoles wajah kamu biar terlihat lebih segar" usul mama Farida sambil memegang dagu Berlian.
"Siap, mamaku yang cantik. Lian mau minta bibi siapin bekal makan siang buat Bintang , baru deh siap-siap "
"iya sayang. Nanti kamu biar diantar mang Asep ke kantor"
"Makasih ma..."
...****************...
Di kamar, Berlian memilih-milih baju yang akan dikenakannya. Pilihan nya jatuh pada dress putih dengan motif bunga-bunga kecil. Setelah itu memilih flat shoes hitam sebagai alas kaki nya. Semua baju dan perlengkapannya yang dia pakai saat ini adalah pemberian dari sang mama mertua yang dipersiapkan mendadak sebelum akad pernikahan Bintang dan Berlian waktu itu.
Betul apa yang di katakan mama mertuanya tadi, dia harus sedikit berdandan. Berlian pun memoles wajahnya dengan riasan yang tipis dan natural. Tak lupa juga menambahkan lipstik berwarna pink lembut untuk menyempurnakan penampilannya. Rambut nya yang hitam panjang tetap dibiarkan tergerai.
"selesai..." ucap Berlian sambil mematut dirinya didepan cermin. Berlian pun keluar kamar dengan senyum yang terus menghiasi bibirnya lalu turun untuk berpamitan ke mama Farida. Tak lupa membawa bekal makan siang yang sudah disiapkan bibi tadi.
...****************...
__ADS_1
Berlian pun sampai di kantor Bintang sebelum jam makan siang.
"perlu mamang temenin neng Lian ke atas?" tawar mang Asep saat membukakan pintu mobil majikan muda nya.
"Ga usah mang, Lian tahu tempatnya kok. Mamang kalau mau cari makan atau ngopi-ngopi dulu, silahkan." ucap Berlian.
"oh iya atuh neng kalau begitu mah"
Berlian sempat terdiam saat melihat gedung berlantai sepuluh itu. Ingatannya kembali ke masa saat pertama kali dia menginjakkan kakinya di gedung itu. Dia tak menyangka akan kembali lagi ke tempat itu dengan status yang berbeda.
...****************...
Setibanya di lantai sepuluh Berlian langsung disambut oleh sekertaris Bintang. Sekretaris itu diberitahu satpam bahwa istri bos sedang dalam perjalanan menuju lantai 10.
Karyawan disana belum banyak yang tahu bahwa bos mereka telah menikah. Kecuali beberapa staff dan sekertaris Bintang. Termasuk pak satpam, yang baru tahu dari mang Asep beberapa saat lalu.
"Selamat siang Bu Lian...saya Karina sekertaris nya pak bintang" sambut sekertaris yang bernama Karina itu menyambut kedatangan Berlian.
"Siang juga mba Karina, Bintang nya ada?" tanya Berlian.
"Pak Bintang saat ini masih ada di ruang meeting mungkin beberapa menit lagi baru keluar. Ibu mau menunggu? Biar saya antar ke ruang kerja bapak " tawarnya sopan.
"silahkan..." Karina membukakan pintu mempersilahkan masuk istri bos nya.
"ibu mau minum apa?" tanya Karin lagi.
"Ngga usah repot-repot mba. Nanti saja" tolak Berlin.
"Ya sudah kalau begitu saya kembali ke tempat dulu. Kalau ada yang dibutuhkan, ibu bisa panggil saya. Permisi..."
"silahkan" jawab Berlian singkat.
...****************...
"Yang kamu antar barusan siapa Rin?" tanya teman kerja Karina yang bernama Susi , kepo.
"Istri bos...." jawab Karina.
"What? kapan nikahnya? ah bercandanya ga lucu kamu Rin" sahut Susi tidak percaya.
"Lah...ga percaya yasudah."
__ADS_1
"Hiks...hiks... hilang deh harapanku buat nikah sama CEO Kaya raya kayak cerita novel itu tuh" ucap Susi dengan mimik muka sedih nya.
"Haha korban cerita novel ni anak. Dasar halu....bangun Weh masih siang udah mimpi aja" kata Karina tak bisa menahan tawa.
"eh tapi si bos pinter juga cari istri nya. Dapet yang bening, cantik gitu. Jadi ngebayangin saat malam pertama mereka seperti apa....secara si bos kayak kutub es gitu, dingin ga ketulungan apa lagi kalau udah masang muka sangar nya ...iihh serem " lanjut Susi bergidik tapi terus bergosip, tak berhenti bicara.
"Sttt... Diam kamu, nanti kedengaran sama orangnya. Bisa di pecat kamu"
Tak lama kemudian Bintang keluar dari ruang meeting beserta karyawan lainnya.
"maaf Pak Bintang, istri bapak sedang menunggu di dalam" Lapor Karina.
"Lian...?!" gumam Bintang.
"Yasudah kamu boleh istirahat sekarang" Perintah Bintang sambil berlalu menuju ruang kerjanya.
"Baik. Terimakasih Pak"
...****************...
"Ngapain kamu kesini?" tanya Bintang pura-pura ketus begitu memasuki ruang kerjanya karena dia faham dengan maksud kedatangan Berlian ke kantornya.
Berlian yang sedang berdiri menghadap ke tempat singgasana bintang untuk bekerja spontan berbalik ke arah sumber suara.
"Bin, kamu udah selesai meeting nya?" bukannya menjawab, Berlian malah balik bertanya tapi tetap dengan senyuman manisnya. Bintang langsung terkesima melihat betapa cantiknya Berlian saat ini.
"sial...kenapa cantik banget dia hari ini" gumam Bintang berjalan ke arah tempat duduknya sambil melonggarkan dasinya yang menurut dia tiba-tiba suhu ruangannya terasa panas.
"aku kesini cuma mau bilang terimakasih karena kamu sudah mencabut rencana penggusuran lahan warga" ucap Berlian penuh sukacita.
"Aku memang tidak jadi menggusur lahan itu. Bukan karena kamu atau apa pun yang kamu tunjukkan kemarin. Tapi karena setelah di lakukan penelitian tanah di sekitar pemukiman tidak subur, ga cocok buat perluasan perkebunan. Aku bisa merugi" Bintang beralasan. Padahal Berlian tahu pasti kalau tanah pemukiman itu sangat lah subur. Bintang nya saja yang mengada-ada.
"Yah... terserah kamu saja. Apapun alasannya pokoknya aku sangat berterima kasih dan sangat senang mendengarnya."
"Oh ya, kamu belum makan kan? Aku bawain kamu makan siang. Kita makan siang bareng yuk ?"
"ayo..." Berlian mendekati Bintang dan menarik tangan nya untuk mengikuti dia duduk di sofa. Bintang hanya diam tak bersuara, dia hanya mengekori kemana Berlian membawanya.
Dengan sigap Berlian menyiapkan makan siang untuk bintang. Mereka pun makan siang berdua dengan tenang tanpa ada gangguan.
Saat makan pun Bintang tak banyak bicara. Namun disela makan Bintang selalu mencuri-curi pandang Berlian yang menurutnya saat ini terlihat lain dari biasanya.
__ADS_1