
"Rumah jadi sepi di tinggal Lian sama bintang ya, kek?" nenek Aminah mengemukakan apa yang dia rasakan pada suaminya ketika dia dan suaminya juga Arya baru selesai makan malam.
"Mau bagaimana lagi, Lian itu kan sudah bersuami, sudah seharusnya dia ikut kemana suaminya pergi. Kita harusnya bersyukur selama ini bintang tak pernah membatasi hubungan Berlian dengan kita" ucap kakek Dharma berfikir bijaksana.
"Makanya Ar, kamu segera menikah, biar kakek dan nenek tidak kesepian karna di rumah ada temannya" ujar nenek beralih pada cucu tertuanya.
"Aku masih muda, nek. Belum kepikiran berumah tangga" jawabnya lalu kabur masuk ke kamarnya.
"Anak itu selalu saja main kabur-kaburan kalau di tanya soal menikah" omel nenek Aminah.
Kakek Dharma cuma tersenyum, lalu meneguk kopi buatan istri yang setia menemaninya berpuluh tahun lamanya.
...****************...
Matahari selalu menepati janjinya tepat waktu. Berlian perlahan membuka matanya saat dia merasakan sentuhan hangat menyapa keningnya. Berlian tahu pasti siapa pemilik bibir yang menyapa keningnya. Berlian buru-buru membuka matanya. Sebuah sosok bergerak cepat membaringkan tubuhnya kembali.
Berlian bangun dan memastikan apa yang dia rasakan atau apa yang dia lihat barusan. Di perhatikan nya Bintang tidur nyenyak layaknya anak kecil.
"Apa aku tadi hanya bermimpi?" terka nya ragu.
"Sudahlah..." tepisnya tanpa semangat.
Berlian menunduk mencium pipi suaminya seperti pagi-pagi sebelumnya.
"Aku cinta kamu" bisiknya lembut dengan senyum khasnya. Kemudian beranjak turun dan langsung menuju kamar mandi.
"Aku juga cinta kamu, Yank" ujar Bintang mencoba duduk. Namun, dia cepat-cepat menahan tubuhnya manakala Berlian kembali membuka pintu kamar mandi.
"Perasaan tadi aku mendengar suara Bintang" tuturnya.
"Apa karna aku terlalu berharap, makanya tadi aku mendengar suaranya Bintang?" desahnya getir, lalu pintu kamar mandi pun kembali dia tutup.
"Huftt... hampir saja ketahuan" leganya. Kemudian dia tersenyum sendiri menertawakan sikap anehnya. Dia yang tadinya bangun duluan dan mengecup keningnya Berlian diam-diam, dia sendiri juga yang bersikap acuh seperti ini.
...****************...
Kurang dari 30 menit, Berlian sudah keluar dari kamar mandi dengan keadaan segar bugar. Dia pun sudah menyiapkan perlengkapan kerja suaminya karna hari ini Bintang harus masuk kantor dan juga harus wajib lapor. Berlian tak pernah lupa akan hal itu.
Selesai menyiapkan keperluan suaminya, dia pun sudah rapi dengan baju rumahan. Berlian menghampiri Bintang yang masih saja tertidur.
Berlian membelai halus wajah suaminya.
"Sayang, kamu bangun, ya" bujuknya. Bintang tak merespon. Berlian tak putus asa.
"Hari ini kamu harus wajib lapor, lho. Kamu ngga lupa, kan?" kata Berlian sambil tersenyum ,walau bintang mungkin tidak melihatnya.
__ADS_1
"Kalau kamu bangun nanti, kamu langsung mandi. Aku sudah menyiapkan air hangat buat kamu. Trus baju nya juga udah aku siapin. Aku mau bantu bibi menyiapkan sarapan buat " Berlian kembali menunduk mencium pipi suaminya dan turun sejenak menyentuh bibir Bintang. Setelah itu dia keluar dari kamar. Pintu di tutup, Bintang bangun.
"Tetap seperti biasanya. Ngga ada yang berubah dari kamu" Bintang bergumam sendu.
...****************...
Asyik di dapur, Berlian tidak menyadari ada sepasang mata coklat menatapnya penuh cinta juga kerinduan.
Senyum pemilik mata coklat itu merekah di saat senyum Berlian merekah bertutur sapa dengan pembantu rumah tangga yang ikut menyiapkan sarapan. Rasa kecewa yang membungkus hatinya semalam, perlahan memudar di hapus oleh perhatian nyata yang di tunjukan Berlian tanpa lelah dan bosan.
Tengah sibuk memotong sayuran yang mau dia masak, Berlian merasa kepalanya mendadak pusing tanpa sebab.
"Non Lian kenapa?. Non sakit?" cemas bi sumi melihat ada yang tak biasa dari istri majikannya itu.
"Nggak apa-apa kok, bi. Lian baik-baik saja" jawabnya dengan senyum meyakinkan. Sedangkan Bintang yang mengamatinya, cemas dan hati tak tenang.
Berlian kembali melanjutkan aktivitas paginya di dapur. Dia pun ingin mengambil sesuatu dalam kulkas. Langkahnya tertahan karna rasa pusing yang menyergapnya semakin menjadi. Berlian merasa tubuhnya lemah tak berdaya. Dia pun terhuyung dan mau jatuh kelantai.
Untung, tangan kekar dengan sigap menahan tubuhnya, lalu mengangkatnya. Tangan berlian reflek mengalungi leher lelaki yang menggendongnya. Mata Berlian tak berkedip.
"Semalam kamu pasti kurang tidur, makanya kamu pusing begini" omel Bintang sambil melangkah menapaki satu demi satu anak tangga menuju kamarnya.
Berlian termangu dan terdiam. Bukan karna dia di omelin Bintang. Tapi, perubahan sikap Bintang yang kembali normal.
Berlian kembali meneteskan air matanya ketika Bintang merebahkan tubuhnya, kemudian mengecup keningnya cukup lama.
"Apa kamu tahu apa yang aku rasakan saat ini, Lian?" . Berlian menggeleng lemah.
"Saat ini yang aku rasakan adalah aku sangat membenci kamu"
Berlian menunduk pasrah. Hatinya terkoyak.
"Aku sangat membenci kamu karna kamu menyamakan aku dengan Rangga" katanya dengan sorot mata tajamnya menyambut tatapan Berlian yang langsung menengadah memastikan apa maksud ucapannya.
"Kamu pikir kesalahan yang kamu perbuat patut di bayar dengan membuang kamu dari kehidupanku seperti apa yang pernah di lakukan Rangga terhadap kamu?. Aku nggak akan pernah punya pikiran untuk membuang kamu. Kamu segalanya untukku, Lian. Aku ingin kamu ada selamanya untukku" Bintang diam sebentar dan menangkup wajah Berlian.
"Aku cinta kamu .Sampai detik ini rasa itu ngga pernah berubah dan ngga terpengaruh sedikitpun dengan apa yang di katakan Rangga. Selamanya rasa itu ga akan pernah berubah. Pengorbanan , perhatian juga curahan kasih sayang kamu tak bisa di patahkan oleh kisah masa lalu kamu. Kamu punya Rangga sebelum dengan ku. Aku punya Bella sebelum denganmu. Sekarang kita saling memiliki dan mereka adalah masa lalu kita. Kamu dan aku, kita adalah masa depan, masa lalu kita biarkan terkubur seiring waktu. Hanya maut yang akan memisahkan kita"
Berlian tersenyum haru, penegasan dari Bintang cukup jadi gambaran jelas kalau rasa itu tak mudah terkikis dari sanubarinya.
Berlian menghambur memeluk Bintang dengan erat. Air matanya kembali menetes tanpa dapat dia bendung.
"Aku cinta kamu, Bintang. Aku ngga mau kehilangan kamu" katanya sedu.
"Aku juga cinta kamu. Aku ga mungkin bisa melepaskan kamu dari hidup ku" balasnya.
__ADS_1
Berlian tersenyum bahagia sambil melepas pelukannya. Bintang ikut tersenyum dan tangannya bergerak menghapus sisa air mata dari dua sudut mata istrinya yang indah. Kemudian secara perlahan dan pasti, Bintang menunduk dan menarik lembut tengkuk Berlian agar mendekat dengan wajahnya. Sedikit lagi bibir keduanya bertemu, Berlian merasa ada yang menyesak minta di keluar dari perutnya.
"Huuueeekkk..." Berlian cepat menutup mulutnya. Bintang menjauhkan wajahnya dengan wajah panik dan bingung.
"kamu kenapa yank?" tanyanya cemas.
"Maaf Bin,aku.... hueeekkk"
Tak tahan, Berlian turun dan berlari menuju kamar mandi. Bintang menyusul dengan cemas.
"Hueeeeekkkk..." Berlian mengeluarkan semua rasa mual yang dia rasakan. Dan itu menyiksanya berkali-kali. Bintang dengan setia mengurut bagaian lehernya dan tanpa ada rasa jijik membersihkan sisa muntah yang menempel di bibirnya Berlian. Berlian bergetar di perhatikan dengan nyata.
"Kamu pasti masuk angin karna hampir semalaman kamu tidur di lantai yang dingin menunggui aku di luar" terka Bintang merasa bersalah.
"Paling karena semalam aku kurang tidur" berlian tak mau menyalahkan suaminya.
Bintang cepat membungkuk dan menggendong istrinya kembali ketempat tidur.
"Kamu tunggu di sini. Aku akan menyiapkan sarapan buat kamu, biar sakit kamu ngga tambah parah" Bintang langsung berlalu tanpa menunggu persetujuan dari istrinya.
"Kok bintang sih yang mau menyiapkan sarapan buat aku?. Dia kan sekarang mesti wajib lapor" Berlian hendak menyusul Bintang.
...****************...
"istri kamu mana?. Mama mau bicara dengan dia sebentar"
Bintang yang baru menuruni beberapa anak tangga di sapa ketus oleh mamanya. Bintang yakin mamanya pasti mau membahas masalah hubungan Rangga dengan Berlian.
"Mama kalau mau bicara dengan Lian, nanti saja kalau Lian sudah sembuh"
"Lian sakit, dia sakit apa?" wajah mama Farida cemas.
"Lian tadi sempat pusing dan hampir terjatuh, tadi juga sempat muntah-muntah "
Wajah mama Farida berubah sumringah mendengar penjelasan Bintang mengenai kondisinya Berlian.
"Istri kamu hamil kali bin" tebak mama Farida.
"Hamil?" Bintang kaget.
"Aku hamil?" hati Berlian berdesir menguping pembicaraan suami dan mertuanya. Tangannya spontan menyentuh perutnya.
Bintang kembali melangkah menuruni sisa anak tangga di bawahnya.
Dari hitungan kalender yang dia tandai dia baru sadar datang bulannya sudah telat 2 minggu.
__ADS_1
"Apa yang di katakan mama mungkin saja benar, Bin. Di dalam rahim ku mungkin saja sudah tertanam benih cinta kita. Tapi kenapa kamu seperti ga senang ?" Berlian menangis pilu.
"Aku sudah lama memimpikan bisa mengandung benih dari kamu. Aku sangat bahagia jika aku memang benar hamil"