
"Bukan hanya indah, tapi sangat indah" Berlian tersenyum dan memberanikan diri menatap suaminya yang balas tersenyum lalu memeluknya dengan erat.
"kamu kenapa bawa aku kesini?. Kenapa kita ga langsung pulang saja?" Berlian yang dari tadi penasaran bertanya dalam pelukan suaminya.
"Sementara waktu ini kita tinggal di sini. Aku ga mau Rangga bersikap lancang lagi terhadapmu. Aku juga ga mau melihat dia dulu karna aku bisa saja khilaf jika aku melihat rupanya" ungkap bintang membeberkan alasannya yang bisa di tangkap baik oleh nalarnya Berlian karna dia benar-benar merasa terlindungi oleh Bintang. Dan secara pribadi, Berlian memang tak mau bertemu dengan Rangga lagi.
"Mama tahu kan kalau kita ada di sini?" tanya Berlian tanpa mau menjauh dari pelukan suaminya.
"Semalam aku sudah menghubungi mama dan aku sudah minta beliau menyiapkan beberapa baju ganti untuk kita. Nanti, bi sumi akan mengantarnya kesini" jawab Bintang.
"Lalu pekerjaan kamu gimana?"
"Pekerjaan aku akan tetap berjalan karna beberapa hari ke depan aku harus mengurus pembukaan lahan baru perkebunan dekat villa ini. Aku bisa menghemat waktu dan tenaga jika kita untuk sementara waktu tinggal di sini"
Berlian sedikit lega mendengar penuturan suaminya.
"Aku mau mandi dulu. Habis itu kita shalat subuh" kata berlian beranjak turun dari tempat tidur.
...****************...
"Yaah... Bin, di kulkas ga ada bahan yang bisa di masak buat sarapan kita. Aturan semalam kita mampir ke supermarket dulu" Seru Berlian pada Bintang yang tengah menonton televisi.
"Kamu tenang saja, bi Sumi sebentar lagi sampai. Aku sudah pesan semua kebutuhan kita selama di sini" jawab Bintang sambil berjalan mendekati Berlian.
"Kok kamu nyuruh bibi ,sih?. Kan aku juga bisa menyiapkan semuanya" sungut Berlian memprotes keputusan suaminya.
Bintang tersenyum menatap Berlian.
"Kamu tuh baru keluar dari rumah sakit. Aku ngga mau kamu kecapekan lagi. Kamu harus benar-benar sembuh baru aku izinkan kamu melakukan aktivitas lagi"
Berlian yang tadinya merajuk mulai tersenyum lagi mendengar alasan Bintang yang begitu memperhatikan kesehatannya.
Bintang terpukau dan terhipnotis dengan kecantikan paras Berlian jika tersenyum. Perlahan tangan Bintang bergerak mendekatkan wajah Berlian dengan wajahnya dan tinggal sekejap lagi bibir ranum Berlian sempurna dalam penguasaannya. Namun bunyi bel membuyarkan semuanya.
__ADS_1
"Siapa sih, pagi-pagi sudah bertamu. Gangguin orang saja" gerutu Bintang kesal niatnya mencium bibir Berlian tak kesampaian.
"Mungkin bi sumi yang datang" tebak Berlian dengan senyum di kulum.
...****************...
Berlian benar, bi sumi datang membawa pesanan Bintang di antar mang asep. Dan mama Farida menitipkan sarapan khusus untuk anak dan menantunya. Jadi Berlian tak perlu repot-repot memasak.
Selesai sarapan, Berlian terlihat damai menikmati hamparan perkebunan teh yang mengelilingi villa. Dari taman belakang villa, keindahan itu tampak begitu sangat mengagumkan.
Berlian yang asyik mengagumi lukisan alam yang terbentang indah di depan matanya, di buat terkejut dengan tangan Bintang yang tiba-tiba melingkar di lehernya.
"Bintang, kamu..." ujar Berlian tersentak kaget. Bintang langsung mencium mesra pipi berlian.
"Oh ya...aku punya sesuatu buatmu" Tanpa berkata Berlian pun memutar badan nya menghadap bintang. Bintang menggenggam tangan Berlian.
"Lian, aku sudah membuat kesalahan besar yang membuat kamu marah dan mengembalikan semua barang pemberian dariku. Hari ini aku menebus kesalahanku. Aku mau kamu memakai cincin pernikahan kita, dan menerima perhiasan dariku" kata Bintang bernada sungguh-sungguh dan berharap Berlian mau menerima pemberiannya lagi.
"Aku mohon.... jangan menolak. Kamu terima ya" pinta Bintang dengan wajah memelas.
"khusus cincin, aku beli sepasang. satu buatmu satu lagi buatku. disana juga ada nama kita berdua" Bintang menunjukkan sepasang cincin yang terbuat dari emas putih. Lalu mengeluarkan Cincin bertabur permata yang indah untuk Berlian.
Berlian bingung dan diam . Dia juga tak tahu mesti bagaimana saat bintang memasangkan cincin di jari manisnya. Setelah cincin terpasang Bintang mencium tangan istrinya penuh perasaan, membuat Berlian memejamkan matanya meresapi aliran yang datang menyentuh hatinya. Berlian di buat lumpuh oleh perlakuan Bintang yang berubah romantis.
"Kalau gitu sini aku pasangkan cincin punyamu" kata Berlian sambil tersenyum. Berlian pun memasangkan cincin di jari manis Bintang. Senyum bahagia terpancar dari keduanya. Bintang menautkan keningnya pada kening Berlian.
"Kamu cantik sekali, Lian "puji Bintang sejujurnya.
Untuk pertama kalinya Berlian mendengar Bintang melontarkan pujian untuknya. Pujian itu membuat Berlian terbang melayang.
Air matanya yang sempat menetes di hapus lembut oleh Bintang dengan jarinya. Dengan pasti, Bintang menunduk menyentuh bibir ranum Berlian dengan lembut. Beberapa saat bibir wanita pujaannya sempurna jadi miliknya dan Bintang pun sempurna merasakan kebahagiannya karna Berlian yang awalnya diam mulai membalas sentuhannya dengan lembut pula. Dan kemesraan itu berakhir dengan pelukan. Berlian dan Bintang sama-sama tenggelam dalam pelukan masing-masing sambil mengatur nafas mereka yang memburu.
__ADS_1
"BINTANG..." pekik Berlian kaget tubuhnya di angkat Bintang dengan ringan.
"Waktunya kamu istirahat" kata Bintang dengan senyum menawannya.
"a...aku masih mau di luar" rengek Berlian.
"Langit terlihat mendung, sebentar lagi akan turun hujan. Besok, kalau hari cerah aku akan mengajak kamu jalan-jalan ke perkebunan" janji Bintang.
"Beneran?" mata Berlian membulat senang, membuat kecantikannya makin mengagumkan bagi lawan jenis yang melihatnya.
"Iya, istriku" jawab Bintang pasti sambil terus membopong tubuh istrinya hingga kamar dan merebahkan tubuh belahan jiwanya dengan lembut.
"Aku mau menyusun pakaian kita kedalam lemari dulu" Berlian berniat bangun lagi. Namun cepat di cegah oleh Bintang.
"Biar aku saja. Kamu istirahat dengan tenang biar kondisi kamu makin sehat dan besok kamu sudah kuat menemani aku ke perkebunan" kata Bintang sambil mengusap mesra pipi Berlian.
Bintang kemudian bergerak meraih koper dan membukanya. Kemudian satu persatu pakaian yang di bawa bi sumi tadi di masukkan dalam lemari. Berlian melihat dengan senyum haru bagaimana Bintang begitu memanjakan dan menjaganya sepenuh hati.
"Brakkk.."
Berlian di kagetkan dengan suara benda yang jatuh dari tangan Bintang. Bintang tak sadar mengangkat sebuah buku bersamaan dengan pakaian yang dia keluarkan dari dalam koper.
"Buku aku..." Berlian kaget bukan main mengenali buku tersebut. Berlian berniat mau mengambil, tapi Bintang lebih dulu mengambilnya.
"Lian, ini buku apa?" Bintang memperhatikan buku dan penasaran apa isinya.
"Ini buku aku. Isinya juga ga penting" Berlian menyambar bukunya dengan cepat. Namun ada lembaran yang tercecer dan Bintang membungkuk meraihnya.
#Mimpi#
Dalam jiwa yang setengah mati, rapuh di terpa badai waktu yang datang menerjang tanpa waktu.
Menghempaskan kemampuanku pada gelombang yang menjaring sisa nafas terakhirku dan merampas yang aku punya, lalu melemparnya jauh, sejauh mungkin sampai aku tidak bisa menggapai... Menggapai sesuatu yang disebut mimpi..
Mimpiku tlah terampas...
__ADS_1
(Goresan pelangi)