Kilau Berlian

Kilau Berlian
115. Penuh Syukur.


__ADS_3

Bintang melepaskan diri pelukan istrinya, lalu lanjut mengecup kening sang istri dan menangkup wajahnya. 


"Lian, masalah hukum aku selesai secara damai tak lepas dari doa, semangat dan dukungan dari kamu. Kamu yang membuat aku bisa berdiri dan mampu melewati salah satu cobaan terberat dalam hidup ku. Aku tak tahu akan seperti apa aku melalui cobaan ini tanpa semangat juga kepercayaan kamu. Terima kasih, sayang. Terima kasih untuk kepercayaan , pengorbanan juga kerja keras kamu membangkitkan rasa percaya diri aku" 


Berlian tersenyum bahagia,tangannya terulur meraba pipi suaminya. 


"Sayang, kamu jangan berterima kasih padaku karna aku hanya menjalankan peran aku sebagaimana mestinya seorang istri harus berbakti pada suaminya. Ucapan terima kasih itu lebih layak kamu ucapkan pada orang-orang yang dengan setia dan tanpa putus asa mencari sebab kematian ayah tiri kamu. Dan juga ada mama, kakek dan nenek yang tak hentinya mendoakan kamu. Ada kak arya dan mas satria yang terus mencari dan mengumpulkan data-data akurat dengan bukti-bukti kuat yang menyatakan kalau kamu sama sekali tidak bersalah. Kartika, pak Yadi juga bersedia membantu memberikan keterangan yang mereka ketahui , fakta di balik kematian om reza tanpa pamrih. Mereka sangat berjasa dalam penyelesaian kasus hukum kamu. Tanpa mereka, apa yang aku lakukan tidak ada apa-apanya. " 


"Mereka memang punya peran besar dalam membantu aku. Aku tidak akan pernah melupakan jasa kebaikan mereka. Tapi kamu punya peranan terpenting menyadarkan aku tentang pentingnya arti menghargai kebaikan orang lain. Dari kamu, aku banyak belajar membuka mata menerima kehadiran orang lain dengan cara yang lebih bersahabat. Kamu menghilangkan pikiran negatif ku kalau ga semua orang itu jahat dan punya niat terselubung . Kamu membuat aku bisa menerima kekurangan dan mengakui kelebihan orang lain tanpa harus merendahkan harga diri sendiri. Kamu membuat aku sangat luar biasa memiliki cinta dan kehidupan kamu" 


Air mata Berlian menetes, hatinya terenyuh mendengar kalimat yang keluar dari mulut suaminya. Suaminya yang dulu sinis, dingin dan tak pintar dalam mengolah kata, sekarang jauh lebih sabar dan pengertian juga peka akan sekitarnya. Dan sedikit lebih nakal dan romantis tentunya. 


Sepenuh hatinya, Bintang menyeka lembut air mata Berlian yang menetes. 


"Mata kamu terlihat indah jika tidak mengeluarkan air mata" 


Ucapan Bintang mengembalikan senyuman manis tambatan hatinya. Bintang pun tergoda untuk memiliki bibir merah milik belahan jiwanya. Dia pun mulai menunduk dan kian menunduk mendekati wajah Berlian yang sudah siap menerima perlakuan romantis suaminya. 


"ehem...." 


Suara deheman memaksa Bintang menjauhkan wajahnya dari wajah istrinya sebelum sempat menyentuh bibir nya itu.


"ma...mama sejak kapan berdiri di sana?" Berlian salah tingkah. Mukanya merona malu karna kemesraannya dengan Bintang tertangkap basah oleh mama mertuanya. Sementara Bintang bersikap santai saja seolah tidak terjadi apa-apa dan tanpa beban merangkul pinggang istrinya dengan mesra. 


Wanita paru baya itu tersenyum geli melihat salah tingkah menantunya yang tegang dan menghampirinya. 

__ADS_1


"Sudah ... muka kamu jangan tegang begitu, anggap saja mama tidak melihat apa-apa" 


Berlian berusaha rileks dan ceria seperti biasanya. 


Wajah mama Farida berubah serius menatap anak dan menantunya silih berganti. Lalu.mama Farida memeluk putra semata wayangnya penuh kasih sayang. 


"Selamat, nak. Akhirnya kasus kamu bisa di selesaikan secara damai. Mama sudah dengar pembicaraan kamu dengan Lian tadi" 


Bintang membalas pelukan mama kandungnya itu. Berlian bahagia melihat ikatan ibu dan anak yang kembali dekat dan hangat itu. 


"Ini semua tak lepas dari doa mama untuk aku. Terima kasih, Ma" 


Mama Farida mengangguk dan menghapus air matanya yang sempat jatuh. Lalu, melepas pelukannya dengan senyuman. 


Bintang meraba perut istrinya dan sepasang suami istri itu salin tatap penuh cinta. 


"Jaga baik-baik Amanah yang sudah di percayakan Allah untuk kalian" nasihat mama Farida pada dua orang yang di kasihinya. 


"Insyaallah, kami pasti akan menjaga buah cinta kami sebaik mungkin" jawab keduanya serempak. Mama Farida senang mendengarnya. 


"Bin, mumpung hari masih siang, kita pergi menemui seseorang, ya?" ajak Berlian pada suaminya. 


"Menemui seseorang, siapa?" tanyanya .


"Dia salah satu orang yang sangat berjasa membantu menyelesaikan masalah hukum kamu. Dia itu pak Yadi" 

__ADS_1


"Pak Yadi?" ulang Bintang menyebut nama yang cukup di kenalnya. 


"Tapi apa mungkin pak Yadi mau bertemu dengan ku setelah apa yang pernah aku lakukan terhadap beliau" desah Bintang kurang percaya diri. 


"Sayang, pak yadi orang yang baik. Niat kita berkunjung juga baik. Pak Yadi rela mengundurkan keberangkatannya keluar kota demi membantu kamu. Lusa, beliau akan pergi. Apa kamu bisa tenang jika pak yadi pergi sementara kamu menyia-nyiakan kesempatan untuk menyampaikan langsung niat baik kamu?" ujar Berlian memberi gambaran dan pengertian pada suaminya. 


"Nak, apa yang di katakan istri kamu benar. Kamu pasti tahu, pak Yadi adalah orang yang sangat berjasa membantu ayah kamu mengelola dan mengembangkan perusahaan sekaligus perkebunan keluarga kita menjadi sukses begini. Jujur mama tidak enak dengan pak yadi karna kamu membuat keputusan sepihak tanpa meminta pertimbangan mama waktu itu" mama farida mendukung rencana menantunya. 


"Baiklah, aku akan menemui pak Yadi hari ini" putusnya dengan pertimbangan matang. 


Berlian dan mama nya sama-sama senang dan bahagianya. 


"Tapi kamu mau kan temenin aku , yank?" harap Bintang pada istrinya. 


"Tentu sayang, aku pasti akan menemani kamu" 


Bintang jadi lega dan semangat mau menemui pak Yadi. 


"Aku siap-siap dulu, kamu tunggu aku" Berlian berjalan meninggalkan suami dan mertuanya. Bintang menatap kepergian istrinya tanpa berkedip. Setelah Berlian menghilang, dia beralih menatap mama kandungnya. 


"mama... terima kasih karna telah memilihkan wanita yang sangat memahami dan mengerti aku. Terima kasih karna telah menjodohkan aku dengan Berlian" ucap Bintang tulus dan penuh kesadaran. 


"Semua karna kemurahan hati Allah, nak.Bukan mama. Bersyukurlah pada Allah dengan sungguh-sungguh menjaga Berlian juga calon buah hati kalian. Bahagiakan mereka seumur hidup kamu" 


"Pasti ma...."

__ADS_1


__ADS_2