
Rangga berjalan terburu-buru dan menerobos masuk ke salah satu ruangan yang terdapat dalam kantor yang di pimpin oleh Bintang.
"Ok. Nanti kita ketemuan pas jam makan siang. Di mana tempatnya, nanti aku hubungi lagi" Arya terpaksa menyudahi pembicaraannya lewat handphone nya.
"Karina bilang, semua laporan keuangan perusahaan ada padamu?"
"Benar. Kenapa?. Ada masalah?" ujar arya dengan santai duduk berputar di kursi kebesarannya.
"Kalau begitu serahkan semua laporan keuangan itu padaku" mintanya kasar.
"Nanti, setelah semua laporan keuangan ini saya periksa dan menyerahkan hasilnya kepada Bintang" jawab arya ringan tanpa beban.
"Dasar penjilat. Kamu pasti punya rencana busuk di balik semua ini" maki Rangga menuduh sembarangan.
"Jaga mulut kamu, kalau kamu masih sayang dengan nyawa kamu" gertak arya menatap tajam orang yang berani memakinya. Dia pun berdiri menantang lawan bicaranya.
"Sejak awal kamu bekerja di sini, saya sudah curiga kalau kamu mau berbuat curang. Kamu itu seorang copet, kamu pasti mau memanipulasi semua laporan keuangan supaya kamu bisa mengeruk keuntungan yang besar dari perusahaan ini"
"Bukkk..." satu pukulan keras di layangkan oleh arya dan tepat mengenai dagu Rangga.
Belum sempat membela diri, Arya sudah mencengkram dengan kuat krah baju rangga.
"Kamu jangan berani macam-macam dengan saya. Saya pernah hidup di jalanan sebagai pencopet dan saya banyak berhadapan dengan orang dari berbagai kalangan. Dan saya bisa pastikan kamu itu dari kalangan mana?. Kamu itu tak lebih dari seorang pecundang." cecar arya berapi.
"Semua laporan keuangan hampir selesai saya rangkum. Kamu mau tahu bagaimana hasilnya?. Tunggu sampai Bintang tahu hasilnya"
Rangga pucat dan mematung. Keringat dingin pun bercucuran membasahi keningnya.
Arya tersenyum sinis dan terpaksa melepas cengkeramannya karna ponselnya berbunyi.
"Ok. Kamu tunggu aku di luar. Aku segera turun" katanya dari ujung telpon sambil melirik tajam kearah Rangga.
Arya pun menutup pembicaraan dan langsung keluar dari ruang kerjanya.
Tak begitu lama, Rangga yang kalut bergerak cepat mengacak meja kerjanya arya.
"Brengsek, di mana dia menyimpan data keuangan itu" umpatnya.
"Ternyata Berlian benar. Rangga memang punya niat buruk. Tapi dia gampang sekali di bodohi" arya tersenyum puas mengintai mangsa yang masuk dalam perangkapnya.
...****************...
"Gila, di tungguin dari tadi, nongolnya baru sekarang. Sebenarnya kamu serius minta bantuan aku menyelesaikan masalah adik ipar kamu?" semprot satria pada sahabatnya yang baru keluar dari gedung perkantoran berlantai 10 itu.
"Sorry, tadi ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan" ujar arya.
"Alasan..." cibir satria gondok di buat menunggu lama.
"Oh ya, bagaimana dengan hasil penyelidikan nya?. Apa sudah ada titik terang yang bisa membuktikan kalau bintang ga bersalah?" todong arya dengan pertanyaan bertubi-tubi mengenai hasil penyelidikan yang di lakukan Satria sebagai kuasa hukum barunya Bintang.
"Kita bicara di tempat lain saja" kata Satria.
"Ok. Kebetulan aku juga mau menemui seseorang yang mau membantu kita. Dan orang itu katanya sedikit banyak tahu soal kasus ini"
"Siapa?" sambar Satria.
"Nanti kamu juga tahu" jawab arya.
"Kita pergi saja sekarang. Orangnya sudah menunggu di tempat yang aku tentukan" sambungnya.
"Kita pakai mobil aku saja" tawar satria.
"OK.."
...****************...
"aku kangen sama kamu, Bintang" ucapnya lirih sambil menutup laptopnya.
Baru saja siang tadi dia bertemu dengan Bintang, belum juga malam, kerinduan di hati wanita berhidung mancung itu sudah membuncah.
Berlian pun beranjak keluar dari kamar menuju halaman rumah dan berdiri tepat di bawah pohon rambutan milik kakeknya yang mulai berbuah dan masih berwarna hijau.
Berlian menengadah ke atas, senyumnya mengembang geli mengenang kejadian lucu waktu dia dan bintang belum menjadi sepasang suami istri. Saat itu mereka belum saling kenal dan setiap bertemu selalu ribut. Tak pernah ada akurnya. Dia bahkan sempat mengerjai bintang dan meneriakinya maling.
"Seandainya kamu ada di sini, aku ingin sekali bernostalgia bersama kamu. Aku ingin kita kembali mengenang kisah kita sebelum kita menikah. Pasti sangat lucu mengingat tingkah kita dulu" gumam Berlian di sertai senyuman getir.
"Lian, kamu sudah siap?" sapa seorang wanita tua yang keluar dari rumah berpakaian rapi menyadarkan lamunannya.
"Memangnya kita mau kemana, nek?" tanya Berlian heran.
__ADS_1
"Lho, bukannya kamu sendiri yang minta di temani menemui mama mertua kamu. Katanya kamu kangen" ingat nenek Aminah.
"Maaf nek, lian lupa" katanya.
"Nenek tunggu sebentar, Lian mau ganti baju dulu"
Berlian buru-buru kembali masuk ke dalam rumah.
"Lian... Lian belum juga seumuran nenek, kamu sudah pikun"omel nenek Aminah.
...****************...
Dalam perjalanan, satria bercerita banyak tentang hasil penyelidikan awalnya yang menyimpulkan ada rekayasa dalam kasusnya Bintang. Salah satu faktor pendukungnya adalah soal perusahan pak Erwin yang terancam bangkrut dan aset-asetnya akan di sita oleh bank.
"Kamu bisa menarik kesimpulan dari mana kalau pak erwin sengaja mau menjodohkan kartika dengan Bintang agar pak Erwin bisa mendapatkan dana untuk menyelamatkan perusahaan milik keluarganya?. Pak erwin bisa saja kan meminta bu farida melunasi hutang-hutangnya dengan jaminan ngga akan membuka kasus kematiannya pak reza. Aku yakin, bu Farida pasti mau mengeluarkan kocek besar supaya kasus kematian suaminya tak lagi di permasalahkan?" tanya arya yang tak mengerti dengan jalan pikirannya pak Erwin. Satria yang sibuk menyetir, melirik sahabatnya sekilas.
"Kamu tahu orang cerdik jika di suruh memilih di beri alat pancing atau satu ekor ikan besar, maka dia akan memilih alat pancing. Kamu tahu kenapa?"
"Karna dengan alat pancing itu dia bisa memancing dan mendapatkan ikan yang lebih banyak" cetus arya brilian. Dia pun paham tujuan pak erwin sebenarnya.
"Kalau pak Erwin bisa mendapatkan sesuatu yang lebih dari apa yang dia harapkan, kenapa tidak" timpal satria.
Arya dan satria lalu tersenyum memaknai usaha mereka yang mulai menemui titik terang.
"Tumben sekarang kamu pintar?." ledek arya pada sahabatnya.
"Sudah dari dulu juga kali pintarnya" ujar satria tak mau kalah.
"Cafenya yang itu, kan bro?" tanya satria ragu mau memarkirkan mobilnya di mana.
"Iya"
Mereka berdua pun masuk, seorang gadis cantik tengah duduk gelisah menunggu mereka.
"Hei tika, kamu sudah lama menunggu?" sapa Arya pada gadis yang sudah menunggu di meja.
"Belum, baru saja sampe" jawab Kartika tersenyum.
"Ar, kamu kenapa ngga bilang mau bertemu dengan cewek cantik. Kalau tahu dari tadi, kita bisa datang lebih awal. Cewek cantik ini ga perlu menunggu lama" cerocos Satria tak lepas mengamati Kartika dengan tatapan nakal.
"Cantiknya..." lanjutnya memuji gadis berbusana feminim warna biru muda.
"Kenalin, saya Satria tama. Satria tama.sh." gema dengan percaya diri mengulurkan tangan dan memperkenalkan siapa dia mendahului arya.
"Kartika" balasnya menyebut nama saja tanpa mau bersalaman. Satria terpaksa menarik tangannya.
"Dasar cewek belagu" ocehnya pelan.
"Makanya jadi cowok jangan kepedean" bisik arya sengaja menertawai sahabatnya.
"Dia satria, sahabatku sekaligus kuasa hukumnya bintang yang baru" ujar arya menjelaskan siapa satria sebenarnya. Satria pun tersenyum membanggakan diri.
"OH... begitu" Kartika mengangguk paham, tapi dia sama sekali tak terkesan dengan sahabatnya arya itu.
"Oh, kalian duduk dulu" ujarnya pada dua sahabat tersebut.
"Kalian mau makan apa?. Biar aku pesankan"
"Nanti saja" tahan arya.
"Kita langsung saja pada inti pembicaraan kita. Katanya kamu mau beritahu hal penting tentang kematian om kamu"
"Ar, aku lapar. Kita bicaranya setelah kita makan saja" protes satria.
"Lumayan kan, bisa lama-lama dekat dengan cewek cantik" senyumnya nakal kearah Kartika. Kartika sendiri buang muka.
"Gila, itu cowok bikin ilfil banget. Ganteng juga nggak. Lebih ganteng kak arya kemana-mana" gerutunya dalam hati.
"Kalau kamu mau makan, ntar di rumah aku ada nasi basi. Kamu bisa makan sepuasnya" sembur arya pada temannya.
"Kalau Berlian yang menghidangkan, aku nggak keberatan makan nasi basi di rumah kamu sepuasnya." celetuk satria. Hampir saja arya mau menjitak kepalanya kalau tidak ingat ada hal penting yang harus di bicarakan dengan kartika.
"Kamu cerita apa yang kamu ketahui tentang kematian om kamu?"
Kartika mengatur nafasnya terlebih dahulu. Matanya serius menatap dua laki-laki yang duduk di hadapannya.
"Seingat aku waktu om reza di rawat di rumah sakit, dokter yang memeriksa keadaan almarhum hampir selama 2 minggu bilang kalau kondisinya sudah mulai membaik dan beliau sudah di perbolehkan pulang waktu itu" cerita Kartika.
__ADS_1
"Kamu tahu dari mana?" tanya satria dengan muka serius.
"Karna waktu itu aku ada saat dokter tersebut menjelaskan kondisi terakhir om reza. Selama di rawat, aku sering di ajak mama membesuk beliau. Keadaannya nggak separah apa yang di bayangkan orang-orang. Tapi, pihak keluarga papa seolah menutupi kebenaran ini dari Tante Farida"
"Kalau boleh tahu, waktu itu umur kamu berapa?" tanya satria lagi.
"Antara 11 dan 12 tahun"
"Bagus. Keterangan dari kamu bisa mempermudah aku membebaskan bintang dari penjara. Penangguhan penahanan yang aku ajukan bisa dengan cepat di kabulkan" kata satria penuh keyakinan.
"Ar, kita harus bergerak cepat meminta keterangan langsung dari dokter yang bersangkutan. Kalau perlu kita minta medical checkup terakhirnya almarhum" sambung satria.
"Ok. Kita pergi sekarang" sahut satria semangat dan antusias.
"Kalian juga harus menemui pak yadi. Karna pak yadi sedikit banyak tahu tentang ini" seru Kartika menahan gerak arya dan satria.
"Pak yadi?" dua sahabat karib itu saling pandang, lalu menatap kartika hampir bersamaan dengan sorot mata meminta penjelasan
siapa itu pak yadi.
...****************...
Mama Farida senang kedatangan tamu spesial, yaitu menantu kesayangannya. Biarpun berlian tak bisa berlama-lama, wanita paruh baya itu cukup puas bisa melepas rindu dengan menantunya juga sempat berbincang dengan nenek Aminah mengenai perkembangan penyelidikan kasus Bintang. Dan mereka berharap penangguhan terhadap Bintang bisa di kabulkan segera.
Setelah Berlian dan nenek Aminah pamit pulang, mama Farida melanjutkan kegiatannya memeriksa berkas yang di serahkan arya bersama satria siang tadi. Dia sama sekali tidak mengerti maksud arya menyerahkan berkas tersebut. Namun, setelah memeriksa sendiri sebagain dari berkas itu,mama farida jadi mengerti.
mama Farida mengurut kepalanya yang terasa pening membaca laporan keuangan perusahaannya yang membengkak.
...****************...
Arya pulang kemalaman. Di ruang keluarga, dia mendapati adiknya tengah melamun.
"dek, kamu belum tidur?" tegur arya lembut menyadarkan lamunan adiknya.
"Kakak sudah pulang?"
Berlian berdiri dan menyalami kakaknya. Kemudian duduk lagi bersamaan dengan kakak kandungnya itu.
"Kamu lagi mikirin bintang, ya?" tebak arya yakin. Berlian mengangguk pelan.
"Kak, kasus bintang kapan selesainya?. Sudah hampir 2 minggu Bintang di tahan, belum juga ada kepastian hukuman tentang status Bintang"
"Dek, kamu jangan cemas. Satria sudah berjanji akan membebaskan suami kamu secepatnya. Sebelum berkas penyelidikan lengkap dan di serahkan kepada pihak kejaksaan, bintang sudah bisa di bebaskan. Bintang ga akan pernah di sidang dan statusnya takkan pernah jadi terdakwa. Kamu doakan saja usaha kakak dan satria bisa mendapatkan bukti kalau bintang ngga bersalah" kata arya meyakin adiknya.
"Satria sedang memperjuangkan penangguhan penahanan terhadap bintang. Mudah-mudahan bisa di kabulkan"
...****************...
Lantai penjara biasanya terasa dingin menusuk tulang, tak lagi terasa oleh Bintang. Ungkapan cinta dari berlian membuat suasana hatinya begitu hangat. Rasa dingin yang biasa menyergap tak lagi jadi lawan dan berubah jadi kawan. Kondisi fisiknya jauh lebih fit. Mungkin karna pengaruh semangat untuk bebas jadi berlipat ganda berkat curahan hatinya yang berbalas. Bintang jadi tak sabar menunggu matahari datang membawa sang pujaan menemuinya kembali seperti hari-hari biasanya.
"Aku cinta kamu" bisiknya sebelum menutup mata. Foto berlian di cium dan di peluknya.
...****************...
Rangga di buat kebingungan. Sikap mama Farida tak sehangat biasanya. mama angkatnya itu tak banyak bicara saat mereka tengah sarapan.
"Ma, hari ini ada perwakilan dari dinas perkebunan mau mengadakan pertemuan dengan perusahaan kita. Apa mama mau menemui mereka atau Rangga saja?"
"Biar arya saja yang menemui mereka. Hari ini mama mau membesuk bintang di penjara" kata mama Farida.
Rangga tercengang dan tak jadi mengunyah roti panggang nya.
"mama gak salah?" tanyanya.
"ma, Arya itu orang baru di perusahaan kita. Kita belum tahu apa arya itu bisa di percaya atau tidak"
"Arya bekerja di perusahaan kita atas tawaran Bintang. Kamu tahu sendiri kalau bintang sangat teliti menerima pegawai baru di kantor. Bintang pasti punya tujuan sendiri kenapa mau mempekerjakan arya. Bahkan menempatkannya pada posisi yang strategis" terang mama Farida dng tenang.
Nafsu makan rangga hilang dan hatinya mengutuk geram dengan apa yang di katakan mama angkatnya tersebut.
...****************...
Sebuah rumah asri berlantai 2 jadi tujuan awal Berlian sebelum menemui Bintang di penjara. Rumah itu adalah, rumah miliknya pak yadi. Berlian sengaja datang menemui pemilik rumah untuk meminta kesedian pak yadi menjadi saksi kunci akan kasus yang menimpa suaminya sesuai dengan cerita kakaknya semalam. Berlian tak mau berpangku tangan, semalam kakaknya dan satria gagal menemui pak yadi. Kini, gilirannya yang datang bertamu. Namun, pemilik rumah tengah berada di luar kota. Berlian,terpaksa meninggalkan rumah itu tanpa hasil.
...****************...
Jam besuk sudah habis dan Berlian baru saja datang. Jalanan yang macet jadi penghalang bagi Berlian untuk datang tepat waktu. Dan sepucuk surat permintaan maafnya pada sang suami di titipkan pada sipir.
"bin , aku harap kamu mengerti kenapa aku ngga bisa menemui kamu. Semua aku lakukan demi kamu" Berlian bergumam lirih meninggalkan kantor polisi dengan berat hati.
"Aku janji, besok akan datang lagi menemui kamu"
__ADS_1