
Setelah sampai ke Rumah sakit yang di tuju, Berlian langsung di periksa oleh dokter. Bintang menunggu dengan cemas di luar kamar pemeriksaan.
"Ya Allah,sembuhkan Berlian." Bintang tak hentinya berdoa untuk kesembuhan wanita yang sudah berhasil mencuri hatinya.
Tanpa sepengetahuan Bintang, ada sepasang mata mengamati gerak-geriknya dan diam-diam mendekatinya.
"Bintang... kamu akhirnya datang juga"
"Tante Dewi?" cengang Bintang begitu berbalik dan melihat wanita paruh baya yang merupakan ibu kandung dari Bella.
"Bin, tante senang kamu mau datang menemui Bella. Sudah satu bulan ini Bella koma dan selalu memanggil namamu. Tante yakin kehadiran kamu bisa membangkitkan semangat hidup Bella yang tinggal sebentar lagi"
"Maksud Tante apa?" Bintang terkejut mendengar penjelasan ibu Dewi yang terlihat pucat dan kusut tak lagi terawat seperti yang dia kenal dulu.
Keterkejutan Bintang segera beralih ketika dokter yang memeriksa Berlian keluar. Bintang langsung menjauh dari ibu Dewi.
"Dok, bagaimana dengan keadaan istri saya?" Bintang bertanya dengan kecemasan yang tak bisa di sembunyikan.
"Tekanan darahnya sangat lemah dan suhu badannya sangat tinggi. Menurut hasil pemeriksaan , istri anda terserang gejala tipus. Semua di sebabkan oleh faktor kelelahan juga pola hidup yang kurang teratur. Istri anda harus di rawat beberapa hari ini sampai dia benar-benar sembuh. Dan harus istirahat total" terang dokter yang memeriksa keadaan Berlian.
Ada lega, ada rasa bersalah menghantui jiwa Bintang mendengar keterangan dokter tersebut.
"Sebaiknya anda temui istri anda karna sebentar lagi mungkin akan siuman" saran dokter itu sebelum pamit memeriksa pasien lainnya.
Ibu Dewi tidak begitu tahu dan mengerti apa yang di bicarakan Bintang dengan dokter. Wanita paruh baya itu juga tak mau tahu ada urusan apa Bintang dengan dokter berkaca mata itu karna yang terpenting baginya adalah putrinya, Bella.
"Bin, kamu ikut tante menemui Bella,ya?. Kehadiran kamu sangat di tunggu oleh Bella karna kamu adalah satu-satunya alasan Bella mampu melewati masa kritisnya hingga kini"
Bintang diam tanpa kata. Antara Berlian dan bella siapa yang harus dia pilih dan utamakan. Berlian yang terkena gejala tipus dan butuh perhatiannya atau Bella yang sekarang butuh dukungan semangat hidup darinya?. Berlian atau Bella?????.
...****************...
Wajah yang biasanya selalu ceria dan penuh senyum, kini tampak pucat tak berdarah. Tubuh yang biasanya kuat dan lincah, kini terbaring lemah tak berdaya. Melihat keadaan wanita itu mengoyak semangat hidup laki-laki bermata coklat itu.
Melihat keadaan Berlian terbaring tak sadarkan diri seluruh perasaan yang dia miliki tak cukup untuk membuat dia untuk tidak peduli karna wanita yang terbaring itu adalah nyawa hidupnya. Bintang belum bisa bernafas lega sebelum kelopak mata yang tertutup itu terbuka. Bintang juga takkan bisa tenang sebelum bibir merah itu bergerak menyebut namanya. Bintang pun takkan bisa memaafkan dirinya jika jemari yang di genggamnya tak jua bergerak membalas genggamannya.
Harapan Bintang terwujud dan bisa kembali tersenyum saat kelopak mata yang terus di pandanginya bergerak. Telapak tangannya juga menghangat saat jari lentik itu membalas genggaman tangannya.
"Bintang..."
Bibir itu pun bergerak memanggil namanya walau lemah, namun tetap lembut membangkitkan semangat Bintang yang sempat patah.
...****************...
__ADS_1
"Bella..."
Laki-laki itu mendekat menenangkan kegelisahan wanita yang tubuhnya di penuhi alat medis untuk menopang kelangsungan hidupnya dengan membelai rambutnya yang mulai menipis.
"Bintang..." sebut gadis itu lagi untuk kedua kalinya.
Lagi-lagi lelaki bertubuh tegap itu coba menenangkan perempuan yang terus menyebut-nyebut nama Bintang.
"Tante Dewi..." kagetnya ketika seorang perempuan paruh baya masuk dengan terisak.
"Tante kenapa?" lelaki itu bertanya tanpa mau menjauh dari Bella.
"Kamu sudah tahu keadaan Bella seperti ini. Apa kamu akan tetap diam dan tidak mau berbuat lebih untuk memperjuangkan hidupnya?"
...****************...
"Lian...aku di sini" Bintang menyahut lembut tanpa henti membelai rambut istrinya,lalu mengecup keningnya dengan sepenuh hati.
Berlian tersenyum damai matanya terbuka dengan sempurna. Sepasang mata menatapnya teduh penuh arti dengan senyumnya yang menawan. Punggung tangannya di cium mesra oleh suaminya yang berhasil menyempurnakan kesadarannya setelah pingsan beberapa jam lamanya.
"aku di mana?" Berlian mengedarkan pandangannya lalu bertanya pada Bintang.
"Kamu di rumah sakit. Tadi kamu pingsan, makanya aku cepat-cepat bawa kamu kesini" terang Bintang dengan sorot mata tak lepas menatap mata berlian.
Ingatan Berlian langsung melayang pada kejadian siang tadi di toko bukunya Kartika. Dan pertengkaran Bintang dan kartika menghentakkan kesadaran Berlian. Perasaan bersalahnya pada Kartika pun membuncah.
"kamu jangan terlalu banyak bergerak. Kondisi kamu masih sangat lemah" cegah Bintang cepat dengan menahan tubuh Berlian agar tetap berbaring.
"aku sudah enakkan kok." Berlian ngeyel memaksakan diri.
"Lian, kondisi kamu sedang tidak baik-baik aja. Dokter minta supaya kamu di rawat sementara waktu sampai kondisi kesehatan kamu pulih" nada suara Bintang sedikit meninggi memberi penjelasan pada berlian.
"Memangnya aku sakit apa , sampai harus di rawat?" tanya Berlian ingin tahu.
"Dokter bilang kamu terserang gejala tipus akibat kecapekan." ungkap Bintang.
"Gejala tipus??"
"Iya.." Bintang mengangguk membenarkan.
"maafin aku... aku ngga becus jaga kamu. Seandainya dari awal aku ngga ngeluarin kata-kata yang menyakitimu, semua ini takkan terjadi. Kamu ngga perlu capek kerja hingga jatuh sakit seperti ini" sesal Bintang mengingat kebodohannya yang dulu.
"Bin..." tangan Berlian beralih memegang wajah suaminya yang di rundung rasa bersalah.
__ADS_1
"Ini bukan salah kamu. Aku sakit karna aku yang ngga bisa menjaga kesehatanku sendiri. Aku terlalu semangat bekerja sampai lupa waktu."
"Tapi, semua takkan terjadi jika aku..." kalimat Bintang menggantung karna Berlian menutup gerak bibirnya dengan telunjuknya.
"jangan ungkit masalah itu lagi. Aku sudah maafin kamu dan melupakan masalah itu. Aku mohon, jangan terus-terusan menyalahkan diri kamu seperti ini" kata Berlian dengan senyum yang sangat menyakinkan.
"Ya Allah,terima kasih karna Engkau sudah memilih Berlian menjadi jodohku." rasa syukur tak henti terucap dalam hati. Sifat sabar, lapang dada Berlian yang di balut dengan sikap tegas tapi tetap lembut membuat Bintang makin yakin dengan keputusannya mengutamakan Berlian di atas segalanya. Tak peduli dengan apa yang di katakan ibu dewi tentang kondisi Bella. Apapun yang terjadi dengan Bella, bagaimanapun keadaannya itu bukan urusan dia lagi dan tak ada sangkut pautnya dengan dirinya.
"Bin,,," Berlian menyentuh lembut pundak suaminya.
"Eh...iya . Ada apa?" Bintang tersadar dari lamunannya.
"Harusnya aku yang nanya, kamu kenapa?. Dari tadi kamu melamun. Kamu lagi ada masalah?" Berlian balik bertanya dan membaca ada sesuatu yang di sembunyikan Bintang darinya.
"Aku ngga apa-apa" jawab Bintang dengan senyum merekah.
"Kamu istirahat lagi. Biar cepat pulih" ujar Bintang dengan penuh perhatian menyelimuti tubuh Berlian.
"Bin,aku mau pulang saja. Aku ngga mau di rawat di sini" pinta Berlian.
Bintang menggeleng tegas menolak permintaan Berlian.
"Kamu akan tetap di rumah sakit sampai dokter mengizinkan kamu pulang. Aku ngga mau mengambil resiko yang bisa memperburuk kesehatan mu" tandas bintang mempertegas keputusannya.
"Kalau aku di rawat, siapa yang akan jaga aku?. Aku ngga mau merepotkan kakek, nenek ataupun mama..."
"Ada aku yang akan menjaga kamu" Bintang menyela kekhawatiran Berlian dengan belain lembut di wajah perempuan berhidung mancung tersebut.
"Kamu kan harus ke kantor. Aku ngga mau gara-gara menjaga aku pekerjaan mu jadi terganggu" tolak Berlian dengan alasannya.
"Soal pekerjaan, ada mama yang akan menggantikan . Jadi, aku bisa menjaga kamu sampai sembuh."
"Aku ngga mau membebani kamu dengan keadaan aku.Kamu harus memikirkan pekerjaan kamu juga"
"aku ngga pernah merasa terbebani. Kamu itu tanggung jawabku "
Berlian tak dapat berkata apa-apa lagi. Dia hanya bisa tersenyum haru merasakan kesungguhan Bintang untuk menjaganya. Bintang benar-benar berubah sesuai dengan janjinya.
Bintang ikut tersenyum, kemudian dia membungkuk memeluk istrinya yang terbaring.
"Aku akan menjaga kamu. Aku ngga akan pernah ninggalin kamu" bisik Bintang pasti.
__ADS_1
Berlian membalas pelukan Bintang dan membiarkannya mengecup mesra pipi dan keningnya.