
Hubungan Bintang dan Berlian tak lagi harmonis. Waktu berkumpul mereka pun sedikit. Pagi hari Berlian sudah berangkat setelah semua perlengkapan kerja suaminya di sediakan, begitu juga dengan sarapan. Berlian hanya menyiapkan, dia tidak turun tangan membantu Bintang mengenakan dasi atau pun jasnya. Dunia benar-benar terasa tak berwarna bagi Bintang tanpa senyuman juga keceriaan yang selalu terpancar dari keindahan mata Berlian.
Saat malamnya pun, saat dia pulang kerja, Berlian sudah tidur. Berlian tidak menyambut kedatangannya seperti hari-hari sebelumnya. Kehidupan Bintang terasa kacau tanpa pegangan yang jelas.
Dua hari sudah keadaan seperti ini berlangsung. Bintang merindu akan perhatian dan kasih sayang Berlian.
Bintang tak tahu harus berbuat apa, saat ada kesempatan berhadapan dengan Berlian lidahnya terasa kelu. Saat di tempat tidur pun, Bintang tak berani menyentuh istrinya yang selalu membelakanginya.
Bintang beranjak turun dari tempat tidur dan berjalan menghampiri Berlian. Bintang berjongkok demi memandangi wajah Berlian yang tengah tertidur.
"Hmmm..."
Baru saja Bintang mau membelai wajahnya, Berlian sudah membalikan badan dengan posisi tidur terlentang.
"Lian, kamu pasti begitu bencinya denganku. Dalam tidur pun kamu tak sudi memberi peluang bagi aku sedikit saja menjelaskan betapa menyesalnya aku sudah menyakitimu. Mungkin dalam mimpi pun kamu tak sudi melihat wajahku" ujar Bintang bergumam getir dengan sorot mata lirih dan sendu.
...****************...
Pamit dengan mertuanya, Berlian buru-buru berangkat kerja. Harusnya dia juga berpamitan dengan Bintang. Namun, batang hidung laki-laki yang sudah menikahinya beberapa bulan yang lalu justru tak terlihat sejak semua keluarga berkumpul di meja makan untuk sarapan.
"Bintang maunya apa sih?. Berangkat kerja bukannya pamit, main pergi gitu saja" kesal Berlian keluar dari rumah mewah milik Bintang.
"Bintang" kaget Berlian begitu menutup pintu, suaminya berdiri tegap di belakangnya.
"Lian, kamu mau berangkat kerja ya?" senyum Bintang menawan menyapa Berlian. Senyum yang begitu sulit menghiasi bibir laki-laki berparas dingin itu justru tampak merekah dan sangat tulus. Berlian berusaha menghalau keterpukauannya akan senyum terindah yang pernah dia lihat.
"Iya" jawab Berlian singkat.
"Kita berangkat bareng ya?. Aku akan mengantarmu sampai tempat kerja" ujar Bintang semangat dan sangat berharap Berlian tidak menolak permintaannya.
"Aku bisa berangkat sendiri" tolak Berlian sambil berjalan menghampiri sepedanya.
Penolakan Berlian mengecewakan Bintang. Tarikan nafasnya pun begitu berat.
__ADS_1
"Apa kamu ngga capek tiap hari berangkat kerja naik sepeda?. Biar aku yang antar kamu" Bintang tak patah arang membujuk berlian.
"Dari kecil aku sudah biasa pergi kemana-mana menggunakan sepeda, nggak pernah ada kata capek" ucap Berlian.
"Aku pergi dulu"
Berlian meraih tangan Bintang mencium punggung tangannya seperti biasanya meski hatinya masih di balut rasa kecewa.
"Lian..." panggil Bintang begitu lembut menahan langkah kaki Berlian yang mau menjauh.
Berlian berhenti, dan Bintang berjalan mendekat, lalu menangkup wajah Berlian mengecup keningnya sepenuh hati.
"Kamu hati-hati mengayuh sepedanya. Tenaganya jangan terlalu di porsir, jaga kesehatan ya"
Berlian diam di tempat menikmati kejutan yang baru saja di terimanya. Sebuah kecupan hangat dan pesan semangat yang biasanya dia lakukan, kini terbalik.
"Kamu ngga perlu bersikap manis seperti ini karna sikap kamu tidak akan bisa merubah pendirianku untuk memaafkan mu" sengit Berlian yang membuang jauh-jauh keterpanaannya.
"Lian..." wajah Bintang lesu tak berdarah karna Berlian masih saja bersikap dingin padanya.
Berlian menaiki sepedanya, mengayuh meninggalkan Bintang yang tidak bisa berbuat apa pun untuk meluluhkan hati Berlian.
"Aku merindukan kehangatan mu yang dulu" desah Bintang menatap sendu kepergian istrinya.
"Aku akan berusaha merebut kamu yang dulu lagi. Lian ku yang penuh perhatian dan kasih sayang. Biarkan aku menebus semua kesalahanku, Lian" tekad Bintang.
...****************...
Setelah dirasa Berlian menjauh, Bintang menaiki mobilnya, menjalankannya dan membuntuti Berlian dari belakang. Bintang sengaja menjaga jarak agar Berlian tidak tahu kalau dia mengikutinya dari rumah hingga tempat kerja. Selama perjalanan, rasa cemas kerap menyinggahi perasaan Bintang kalau-kalau Berlian kecapean mengayuh sepeda dengan jarak tempuh lumayan jauh menurutnya.
Bintang bisa bernafas lega saat Berlian berhenti di sebuah toko buku, kemudian memarkirkan sepeda. Berlian selamat sampai tujuan, itu yang paling penting baginya. Dan Bintang masih jaga jarak, melihat dan mengamati dari dalam mobilnya.
"Jadi kamu kerja di toko buku Kartika ?!" Bintang tak asing dengan toko buku tempat Berlian berhenti dan mengakhiri perjalanannya.
Ada rasa kecewa dan khawatir memayungi Bintang mengetahui Berlian bekerja di toko buku miliknya Kartika.
__ADS_1
"Lian, aku lebih suka kamu bekerja dengan orang lain dari pada kamu harus bekerja dengan dia" gumam Bintang kecewa.
...****************...
"kamu datangnya sendirian lagi?. Suami kamu mana?"
Tiap pagi saat Berlian datang, Kartika selalu menanyakan hal yang sama, kadang Berlian bosan untuk menjawab karena jawaban yang keluar dari mulutnya tetap sama.
"Dia lagi sibuk, pekerjaannya di kantor menumpuk" jawab Berlian seperti biasanya sambil meletakkan tasnya dan mulai memainkan komputer yang di pinjamkan Kartika untuk keperluan dia mengetik naskah novelnya.
"Dari kemarin alasannya sibuk terus?. Apa dia nggak ada waktu buat nganterin kamu sebentar saja, kemudian baru kekantor?. Kamu nggak capek apa naik sepeda terus?" tanya Kartika mencium gelagat aneh hubungan Bintang dan Berlian seperti sedang di terpa masalah.
"Toko buku kamu sama kantornya Bintang kan berlawanan. Bintang bisa terlambat ke kantor jika harus mengantarku lebih dulu" Berlian mencari-cari alasan menutupi kisruh rumah tangganya.
"Kamu lagi nggak berantem sama dia, kan?" selidik Kartika yang mengendus ada yang di sembunyikan Berlian darinya.
"Hubungan kami baik-baik saja" Berlian berusaha tersenyum meyakinkan Kartika. Kartika manggut-manggut mempercayai kata sahabatnya. Tapi kecurigaannya tetap berjalan.
"Eh... Aku tinggal dulu ya, soalnya aku harus turun tangan langsung melayani pengunjung yang datang ke toko" ujar Kartika bangkit dari kursinya yang bersebrangan dengan Berlian.
"Maaf ya Tika, aku nggak bisa bantu soalnya hari ini banyak sekali ide cerita yang harus aku ketik." ucap Berlian merasa bersalah dan tidak enak karna kali ini dia tidak bisa membantu temannya.
"Santai aja kali !. Kemarin-kemarin kamu kan sudah banyak menolongku melayani pengunjung yang datang ke toko.
Kamu fokus pada ketikan mu. Jangan sampai novel mu tidak selesai tepat waktu karna kamu keseringan nolongin aku di sini. Nanti aku yang di somasi oleh pihak penerbit gara-gara naskah novel mu tidak di serahkan tepat pada waktunya" kelakar Kartika.
"Bukan di somasi, paling suruh bayar ganti rugi 1M" canda Berlian.
"1 M...eMber..."balas Kartika.
"hahaha..." keduanya pun tertawa bersamaan.
"Sudah, kamu lanjutin sana .Aku mau keluar dulu"
Kartika keluar dari ruangannya. Tinggal Berlian sendiri memulai aktivitasnya mengetik novel karya barunya.
__ADS_1