Kilau Berlian

Kilau Berlian
108. Bintang akhirnya tahu.


__ADS_3

di sebuah Rumah sakit pukul 7 malam, Arya dan Satria datang hampir berbarengan. Keduanya langsung menuju sebuah ruang rawat yang sama. 


"Dasar cewek aneh, kalau mau mengajak ketemuan cari tempat yang lebih romantis sedikit ga ada salahnya, kan?.Ini ngajak ketemuannya di rumah sakit, dasar..." Satria tak berhenti mengoceh sepanjang lorong rumah sakit yang mereka lewati.Arya yang berjalan di sampingnya sengaja mempercepat langkahnya. Dia malas meladeni ocehan temannya yang tidak penting. 


"Kalau di pikir-pikir hidup kamu beruntung juga, Ar. Kamu punya adik yang cantik, terus temannya juga tak kalah cantiknya. Berhubung karna Berlian sudah ada yang punya dan aku sama sekali ga punya kesempatan untuk mendekati dia lagi, bahkan dari dulu karna nasib aku yang malang karna berteman baik dengan kakaknya, ga ada salahnya kalau aku mendekati sahabatnya" cetus satria tersenyum lebar. 


Arya terpaksa menghentikan langkahnya, lalu menatap gerah sahabat karibnya. 


"Kamu jangan banyak bertingkah. Tujuan utama kita adalah menyelesaikan masalah hukumnya Bintang, bukannya mau bersenang-senang seperti yang ada di otak kamu" 


"Masalah hukum Bintang pasti beres. Percuma kan... pengacara ternama seperti aku ga bisa menyelesaikan masalah sepele seperti ini. Masalah hukum yang lebih berat dari ini saja sanggup aku menangkan perkaranya, apa lagi cuma masalah beginian" balasnya penuh percaya diri. 


"Memangnya aku ga boleh dekat-dekat dengan Kartika?" lanjutnya bertanya. 


"Jelas ga boleh" jawab arya cepat. 


"Kenapa?. Apa alasan kamu melarang-larang aku mendekati cewek itu?. Siapa kamu?" satria berjalan mendahului temannya dengan santai. 


"Ya... ya... karna kartika itu sahabat baiknya berlian. playboy kabel seperti kamu ga layak untuk Kartika" ujar arya cari alasan. 


"Sembarangan, enak aja bilang playboy " sergahnya. 


"Aku ini buaya. Buaya itu setia, gak seperti kamu raja gombal" 

__ADS_1


Kedua sahabat itu terus beradu mulut sambil terus berjalan. 


Dari arah belakang, Bintang dan mama Farida tampak cemas melihat keadaan berlian yang belum sadarkan diri dan di bawa oleh beberapa perawat.


Sampai di depan sebuah ruang pemeriksaan, Bintang dan mamanya di larang masuk. Hanya suster dan dokter yang akan memeriksa keadaan Berlian yang masuk. 


"Mama, sebenarnya Berlian kenapa?" Bintang bertanya dengan nada cemas dan ingin tahu pada mama kandungnya. 


"Kamu doakan saja agar istri kamu baik-baik saja dan bisa kuat mempertahankan apa yang di impikannya. Semoga kamu ga akan menyesal nantinya" 


Bukan jawaban yang menenangkan yang di dapat Bintang, dia di buat makin pusing memecahkan teka-teki membingungkan ini. Bintang ingin sekali mendapatkan jawaban pasti. Namun melihat mama nya tengah khusuk berzikir menggunakan tasbihnya mendoakan keselamatan menantunya, Bintang memilih diam tak bersuara sambil terus hilir mudik di depan ruang pemeriksaan dengan wajah cemas.


"Ya Allah, apapun yang terjadi dengan istri hamba, tolong selamatkan dia" pintanya pada yang maha kuasa. 


...****************...


Arya dan satria sama-sama diam dan belum mau mengeluarkan keputusan apa yang akan mereka ambil mengenai batas waktu pencabutan laporan terhadap Bintang sesuai dengan apa yang telah mereka sepakati sebelumnya. 


"Aku bukannya mau mangkir dari janji , aku hanya mau meminta waktu lagi untuk mencabut laporan itu sampai keadaan papa benar-benar membaik" 


"Apa?" arya sontak terkejut, namun nada suaranya tetap di tahan. Bagaimanapun arya sadar dia di mana sekarang. 


"tik, kamu jangan main-main. Berkas kasus penyelidikannya bintang sudah sudah hampir rampung dan sebentar lagi pihak kepolisian akan menyerahkan berkas tersebut ke pihak kejaksaan. Aku ingatkan kamu, jika sampai kasus ini di sidang, Bintang akan menang dengan mudah dan aku akan dengan sangat mudah juga menjebloskan papa kamu ke penjara dengan hukuman kurungan yang cukup lama karna kamu sudah berani memperolok profesi ku sebagai pengacara" satria naik pitam. Usahanya yang tinggal selangkah lagi membebaskan Bintang di buat rumit. 

__ADS_1


"Jangan-jangan ini cuma akal-akalan kamu menghambat proses penyelesaian kasusnya bintang?" selidik arya curiga. 


"Demi Allah, aku ga punya niat buruk sedikitpun menghalangi-halangi penyelesaian kasus hukum antara papa dengan Bintang. Kuasa hukum papa sudah mundur dan angkat tangan menangani kasus ini. Apa mungkin aku berani berbuat curang dan mempertaruhkan kebebasan papa " Kartika yang tersudut tetap tenang dan tegar. 


"Nak arya, nak satria, saya mohon, beri kami waktu sampai keadaan suami saya sedikit membaik" mama kartika yang dari tadi hanya jadi pendengar yang baik, akhirnya turut angkat bicara. 


Arya melirik satria meminta pendapatnya. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia hukum, satria pasti lebih tahu keputusan apa yang harus di ambil dalam kondisi pak erwin yang masih dalam perawatan akibat terkena serangan jantung. 


"Ok, saya beri waktu 2 hari lagi untuk menyelesaikan kasus ini secara kekeluargaan. Ini adalah kesempatan terakhir kalau kalian tidak mau pak erwin menghabiskan sisa hidupnya di penjara" ujar satria memberi solusi sekaligus peringatan tegas pada Kartika dan ibunya. 


"Kamu dengar sendiri satria bilang apa?" Arya menatap tajam ke arah mata kartika yang sendu. Entah dari mana, ada perasaan tidak tega menggerogoti hatinya melihat wajah cantik di depannya memendam kesedihan yang dalam. Arya cepat-cepat menepis rasa tidak tega itu dan kembali pada tujuannya. 


"Saya harap semua bisa bekerja sama dengan baik" ucapnya mengakhiri pertemuannya dengan Kartika dan ibunya.


...****************...


Bintang menarik bagian depan rambutnya ke belakang dengan sorot mata yang sulit di tebak begitu mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi istrinya. 


"Istri saya hamil" katanya seolah tak percaya. 


"Benar pak. Usia kehamilan istri anda sudah memasuki minggu ke 7. Kehamilannya masih sangat muda dan rentan keguguran. Saya harap kejadian seperti ini tidak terulang lagi jika anda ingin janin yang di kandung istri anda selamat." 


"Maksud dokter?" tanya Bintang cemas dengan maksud penjelasan dokter di depannya. 

__ADS_1


"Istri anda baru saja mengalami kontraksi pada kehamilannya. Harusnya ini tidak perlu terjadi jika anda bisa menjaga stabilitas emosi istri anda. Istri anda kelihatannya sangat tertekan dan banyak pikiran. Hal itu sangat tidak baik untuk perkembangan janin. Saya harap anda bisa mengontrol dan memantau langsung kondisi kejiwaan istri anda. Jangan sampai hal ini terjadi lagi. Anda masih sangat beruntung calon anak anda masih bisa di pertahankan dan istri anda baik-baik saja, dan beliau harus istirahat total dari segala aktivitasnya sampai janinnya benar-benar kuat" jelas dokter lebih terperinci. 


__ADS_2