
Sampai di rumah, Bintang langsung di protes oleh mama nya yang kaget dan panik melihat keadaan kepala Berlian yang di perban.
"Bin, kamu itu bagaimana sih. Jagain istri kamu saja tidak bisa. Lihat sendiri kan, kepala Lian jadi luka begini?" omel mama Farida pada putranya yang cuma bisa diam saja menanggapi omelan mamanya.
"Ma, Lian ngga apa-apa kok. Lukanya juga tidak terlalu parah. Bintang juga tidak salah. Tadi, Lian yang kurang hati-hati"
Berlian tidak menjelaskan kejadian yang sebenarnya kepada mama mertuanya karena tak mau beliau jadi khawatir, Jika tahu warga sudah mulai bertindak anarkis menolak eksekusi.
"Ya sudah, kamu istirahat dulu. Jangan terlalu banyak beraktivitas sampai luka kamu benar-benar sembuh"
"Bin, antar istri kamu ke kamar"
"Ayo..." ajak bintang singkat.
Berlian mengangguk dan berjalan mendahului suaminya.
"Bintang , kamu pegangin istri kamu dong .Kepala Lian kan masih sakit, dia bisa saja jatuh karena mendadak pusing" seru mama Farida geregetan melihat anak dan menantunya jalan masing-masing.
"Iya..." sahut Bintang menyimpan kesal karena ibunya terkesan selalu membela Berlian dari pada anak kandungnya sendiri. Dengan terpaksa Bintang merangkul pundak Berlian.
"Bin, kamu tak perlu repot-repot. Aku bisa sendiri" tolak Berlian halus.
"Jangan bawel. Kamu begini juga karena aku" jelas Bintang sambil terus melangkah dan menuntun istrinya masuk kamar.
Berlian hanya bisa memperhatikan bagaimana Bintang yang tadinya tidak tersentuh dengan permintaannya justru bisa bersikap lembut seperti ini.
"Baju kamu ada bekas darahnya, lebih baik kamu ganti dulu sebelum istirahat" ujar Bintang begitu sampai di kamar pribadi mereka.
Berlian mengambil baju ganti dan bergegas menuju kamar mandi, Bintang buru-buru keluar dari kamarnya menuju ruang kerjanya yang berada di lantai bawah.
...****************...
Saat makan malam , Berlian bisa makan dengan lahap dan tenang karena Rangga belum pulang. Katanya sih lembur. Selesai makan dan bercengkrama dengan mertuanya, Berlian kembali ke kamar untuk istirahat.
"Bin, kamu belum tidur?" tanya Berlian pada suaminya yang sibuk dengan laptopnya.
"Aku belum ngantuk, lagian masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan" jawab Bintang tanpa menoleh kearah istrinya yang kini duduk manis di sampingnya.
"Apa pekerjaan kamu tidak bisa di kerjakan di kantor saja?. Malam sudah larut, sudah waktunya kita tidur"
"Kamu duluan saja. Aku mau menyelesaikan pekerjaan aku dulu" tolaknya.
Berlian tidak bisa memaksa, dia pun akhirnya tidur lebih dulu. Tak lama kemudian, Bintang mematikan laptop dan menaruhnya. Bintang berpaling menatap lembut istrinya yang mulai terlelap dalam tidurnya. Tak berapa lama Bintang pun ikut tertidur, dengan posisi saling berhadapan.
...****************...
Berlian terbangun tengah malam karena merasa tenggorokan nya kering. Berlian di buat termangu menatap damainya wajah sang suami saat tertidur. Tangan kekar Bintang melingkar memeluk pinggangnya. Dengan pelan dan hati-hati, Berlian melepas tangan Bintang kemudian bergegas keluar dari kamar. Karena air minum yang biasa disediakan di meja habis.
__ADS_1
...****************...
Berlian meminum segelas air putih habis dalam sekali tegukan.
"Sayang..." bisik seseorang manja dan tiba-tiba memeluk Berlian dari belakang.
"Rangga..." Berlian memucat dan cepat melepas tangan tersebut dari pinggangnya. Tanpa menoleh dan hanya mendengar suaranya saja , Berlian yakin dengan tebakannya.
"Rangga, lepasin . Kamu sudah lancang memeluk istri kakak kamu" kecam Berlian tak terima di perlakukan tidak sopan oleh mantannya.
"Lian, sudahlah!. Kamu jangan munafik. Kita itu masih saling mencintai. Tidak ada salahnya kalau kita saling melepas rindu, biar pun caranya harus diam-diam kayak gini" ujar Rangga tanpa malu.
"Tidak ada lagi cinta di antara kita. Kisah kita sudah usai dan kamu jangan pernah berpikir kalau aku akan mengkhianati suamiku. Aku ngga akan pernah berpaling dari dia" tegas Berlian.
"Bagaimana tidak?. Kamu menikah dengan dia hanya karena terpaksa dan kamu juga tidak mencintainya. Besar kemungkinan pernikahan kalian tidak akan berlangsung lama"
"Itu menurutmu" sela Berlian.
"Bintang dengan gentle meminang aku pada kakek, beda dengan kamu yang justru datang melamar aku untuk pria lain. Bintang jauh lebih bertanggung jawab dari pada kamu yang ngakunya mencintai aku. Apa yang di lakukan Bintang sangat terhormat dan aku jauh merasa di hargai sebagai perempuan dari pada sekedar bualan kamu soal cinta tapi tidak punya nyali memperjuangkan cintanya" cerca Berlian menyulut emosi Rangga.
Berlian beranjak meninggalkan Rangga, tapi tangan kirinya cepat di tarik oleh Rangga dan berniat menciumnya.
"PLAKKK" sebuah tamparan keras lebih dulu melayang mengenai pipi Rangga hingga memerah.
"Jangan pernah kamu coba mendekati atau pun menyentuh aku" kecam Berlian berapi sebelum bergegas kembali ke kamarnya.
"Munafik kamu Lian!!. Munafik" makinya tak terima di perlakukan kasar oleh mantan kekasihnya.
...****************...
Bintang membuka matanya saat meraba-raba tempat di sampingnya kosong.
"Lian" panggilnya. Tapi tidak ada jawaban. Bintang pun beranjak dari tempat tidur.
Bintang lega saat melihat Berlian muncul dari balik pintu kamarnya.
"Bintang..." Berlian menghambur memeluk suaminya, melepaskan beban dan rasa bersalahnya sambil menahan air mata yang mau tumpah.
Bintang terdiam dan tertegun saat tubuhnya di peluk erat oleh Berlian. Jantungnya jadi berdetak kencang serasa mau melompat keluar.
"Lian, kamu kenapa?" tanya Bintang tanpa berani membalas pelukan istrinya.
"Maafin aku Bin..." sesal Bintang sambil melepas pelukannya.
"Maaf?. Untuk apa?" Bintang tak mengerti.
"Bukan apa-apa. Aku mau tidur lagi" Berlian mengelak.
__ADS_1
"Lian, kamu kenapa?"
Bintang menahan tubuh istrinya dan menatap curiga ke senduan wajah istrinya.
"Aku baik-baik saja" jawab Berlian singkat.
"Jangan bohong"sela Bintang.
"aku ngantuk"
Berlian terus mengelak dan coba menghindari suaminya. Berlian sendiri bingung kenapa tadi dia bisa spontan memeluk Bintang begitu melihatnya.
"Kita tidur lagi sekarang"
Bintang menuntun istrinya menuju tempat tidur. Keduanya pun memejamkan mata dengan beribu gelisah yang menggelayuti jiwa mereka.
...****************...
"Bin, tunggu..." panggil Berlian setengah berlari mengejar suaminya yang mau berangkat kerja pagi itu.
"Ada apa lagi sih?. Aku sudah telat" ujar Bintang menahan kesal.
"Dasi kamu belum di pasang" kata Berlian sambil memperlihatkan dasi berwarna biru Dongker milik suaminya.
"Oh.Sini,biar aku pasang"
"Biar aku saja" kata Berlian sambil tersenyum.
Bintang tidak dapat berbuat banyak, saat Berlian dengan cepat dan rapi memasang dasinya. Dia menatap tak berkedip wanita dihadapannya.
"Bin, kamu belum berangkat?" Rangga tiba-tiba saja sudah berdiri di belakang Berlian dengan sorot mata menahan cemburu melihat perhatian Berlian pada Bintang.
"Sudah, suamiku sudah ganteng sekarang" Berlian tersenyum lebar tanpa menghiraukan keberadaan Rangga di antara mereka. Melihat pun tidak.
"Ya,sudah. Aku berangkat dulu" ucap Bintang menahan sesuatu getaran yang di timbulkan senyuman Berlian tadi.
Berlian mengangguk dan meraih tangan sang suami dan mencium punggung tangannya.
Bintang cukup kaget dan tidak mengerti maksud istrinya melakukan itu.
"Setiap kakek berangkat atau pun bepergian,nenek selalu mencium tangan kakek. Kata nenek itu sebagai tanda bakti seorang istri pada suaminya" jelas Berlian menjawab kebingungan suaminya.
"Alah...Paling itu cuma mitos" sela Rangga makin terbakar cemburu. Bintang melirik tajam Rangga.
"Aku pergi dulu..." Bintang pamit sambil memegang pipi istrinya.
Berlian mengangguk dan melempar senyumannya meski Bintang belum pernah membalas senyumannya. Rangga hanya bisa melengos di acuhkan oleh Berlian.
__ADS_1