Kilau Berlian

Kilau Berlian
109. Merasa ditampar berkali kali


__ADS_3

Bintang menunduk penuh sesal. Penjelasan dokter tadi ibarat cermin bagi dirinya, kalau dia bukan suami yang baik untuk istrinya. Dia bukan laki-laki yang pantas untuk wanita sebaik Berlian. Selama ini dia selalu berkoar tentang cintanya yabg dalam untuknya. Kenyataannya, Berlian hamil saja dia tidak tahu. Bahkan selama ini dia selalu bersikeras menolak kehadiran anak dalam rumah tangganya tanpa peduli betapa berlian begitu mendambakan kehadiran sosok bayi melengkapi kebahagian yang mereka untai bersama. Bintang merasa dirinya begitu bejat karna dia merasa hanya memikirkan kesenangannya dan tidak peka dengan kondisi istrinya.


Harusnya dia ada di saat Berlian membutuhkan semangat, perhatian juga curahan kasih sayangnya melewati kehamilannya seperti apa yang di lakukan Berlian selama ini yang selalu setia menemaninya saat dia terpuruk karna terbelit kasus hukum. Berlian selalu ada untuknya tanpa memperdulikan omongan orang tentang dirinya. Tapi apa yang sudah dia perbuat terhadap Berlian?. Apa dia pernah berkorban sedalam itu untuk wanita yang sangat dia cintai?.


Pengorbanan Berlian tak sebanding dengan apa yang sudah dia perbuat untuk membahagiakan Berlian. Dia sendiri hampir membunuh impian indah istrinya tanpa dia tahu kalau Berlian tengah mengandung darah dagingnya. Berlian pasti akan sangat membencinya jika janin yang di kandungnya tidak bisa di selamatkan. Di tambah lagi dengan rahasia kematian ibunya yang baru diketahuinya. 


"Bodoh..." Bintang tiba-tiba memukul tembok rumah sakit dengan keras. 


"Bodoh... bodoh... bodoh..." ulang Bintang berkali-kali tanpa peduli tangannya luka.


"Lian, kenapa kamu ga bilang dari awal kalau kamu tengah mengandung anak kita" ujarnya penuh penyesalan. 


"kamu kenapa, nak?" mama farida yang baru keluar dari ruang rawat menantunya dibuat terkejut. mama Farida dengan cepat menghampiri putranya dan memeluknya. Tangis Bintang pecah dalam pelukan mama kandungnya. mama Farida diam dan membiarkan bintang menenangkan jiwanya yang berkecamuk. 


Setelah tenang, mama farida mengajak putranya duduk di kursi tak jauh dari ruang rawat berlian.


"kenapa mama ga bilang kalau Berlian lagi hamil?. Mama pasti tahu soal kehamilan berlian." cecarnya langsung.  Mama Farida menghela nafas berat. 


"Ini bukan waktunya kamu bertanya kenapa?. Kamu sudah tahu kalau istri kamu sedang hamil. Mama mau tahu apa yang kamu rasakan setelah kamu tahu akan menjadi seorang ayah. Apa kamu akan tetap mempertahankan keegoisan kamu dan siap kehilangan istri sekaligus calon anak kamu?" 


"aku sudah gagal menjaga Bulan dengan baik. Aku juga sudah gagal menjadi kakak yang baik . Aku gak mau mengulangi kesalahan lagi. Aku gak mau kehilangan berlian juga calon anak kami. aku mungkin gagal menjadi kakak yang baik, tapi aku gak mau gagal menjadi ayah yang baik untuk darah dagingku sendiri" 

__ADS_1


Mama farida tersenyum haru mendengar kesungguhan putranya. 


"Temui istri kamu. Saat ini dia butuh semangat nyata dari kamu. Berlian butuh dukungan moral, perhatian juga pengertian dari kamu" 


Bintang mengangguk pasti dan berdiri. 


"Ar,, itu bukannya Bintang dan mamanya?" satria menunjuk lurus ke depan. Arya mengedarkan pandangannya ke arah yang di maksud satria.


"kenapa mereka ada di rumah sakit ini?. Terus, adik kamu mana, kok nggak kelihatan?" 


"Jangan-jangan Lian kenapa-kenapa lagi" cemas Arya.


Arya pun mempercepat jalannya menghampiri bintang dan ibunya. satria mengikuti dari belakang. 


"Arya , satria, kalian di sini?" tanya bintang heran. 


"kamu ada keperluan apa di rumah sakit ini?. Terus, Berlian mana?. Dia baik-baik saja, kan?" tanya arya bertubi-tubi. 


Bintang melirik kearah mama nya. Dia bingung harus mengatakan yang sebenarnya atau diam saja. Dia tak mau arya salah paham dan itu bisa merugikan dirinya sendiri. 


"Lian baik-baik saja. Dia cuma kecapekan " jawab mama Farida. 

__ADS_1


"Berlian sakit?" Arya panik.


"Dia cuma kecapekan, kamu jangan panik begitu" ujar mama Farida. 


"Apa ini ada kaitannya dengan kehamilan Berlian?" cetus satria. 


Serentak ketiga pasang mata langsung mengarah padanya. 


"Kamu tahu dari mana kalau Lian hamil?" tanya bintang di tengah keterkejutannya. 


"Jadi, Lian hamil ?!" Arya langsung girang. 


"Sat, bagaimana kamu bisa tahu kalau istriku sedang hamil?" tanya bintang lagi. Dia dibuat tak tenang memikirkan kenapa satria lebih dulu tahu berlian hamil dari pada dia suaminya. 


"4 atau 3 hari yang lalu aku sempat bertemu dengan berlian di rumah sakit ini. aku ga sengaja mendengar penjelasan dokter mengenai kondisi istri kamu" cerita satria tanpa ada yang dia sembunyikan. 


"Waktu berlian datang sendirian karna waktu itu kamu sedang menjalankan wajib lapor" sambungnya. 


Bintang merasa terlempar jauh mendengar ceritanya satria. Bintang merasa pipinya di tampar berkali kali membayangkan dia tidak ada di saat berlian memeriksakan diri ke dokter. Dia juga merasa malu pada dirinya sendiri , satria yang bukan siapa-siapa lebih dulu tahu tentang kehamilan istrinya.


Dia juga tak peka membaca isyarat yang di tunjukan berlian waktu malam itu. Waktu di mana berlian makan dengan lahap dan mengatakan dia makan bukan untuk dirinya sendiri. Malam itu juga Berlian pernah meminta meraba perutnya dan bertanya apakah dia merasakan sesuatu di perutnya?. Tapi dia begitu bodoh dan tidak peka. Berlian sudah berusaha menunjukkan kepadanya kalau dia tengah hamil. Tapi dia justru sibuk menegakkan arogansi juga penolakannya ingin memiliki anak. Tidak terbayangkan olehnya, betapa Berlian terluka saat itu.

__ADS_1


"Sat, aku bakal punya keponakan" Arya bersorak girang dan mengapit leher sahabatnya dengan pergelangan sikunya, membuat satria sulit bernafas. 


Bintang tersenyum getir menyaksikan reaksi kebahagian kakak iparnya. Kehadiran calon jabang bayi di rahim istrinya di sambut penuh suka cita oleh orang-orang terdekatnya. Harusnya dia pun begitu dan dia harusnya jauh lebih bahagia dari siapapun itu. Sebab, benih yang tertanam di dalam rahim Berlian adalah hasil kasih sayang mereka, buah cinta mereka. 


__ADS_2