
Resmi menyandang gelar sebagai nyonya Pratama, Berlian langsung di boyong pulang ke rumah suaminya dan sebagai seorang istri dia janji akan berusaha untuk mematuhi perintah suaminya yang menurut dia benar.
Meski di rumah mewah yang akan dia tempati nanti bisa di pastikan kalau dia akan tinggal serumah dengan sang mantan kekasih. Laki-laki yang masih sangat dia cintai sampai detik ini. Masih terlalu sulit bagi Berlian melupakan Rangga, meski statusnya kini sudah menjadi istrinya Bintang.
Namun,tekad Berlian sudah bulat untuk mengabdikan sisa hidupnya melayani juga memperhatikan suaminya seorang. Tidak ada laki-laki lain yang bisa mengusik kesetiaan yang sudah dia janjikan untuk Bintang.
Sampai di depan rumah kediaman milik Bintang, perasaan Berlian jadi tak karuan. Jujur saja, Berlian merasa belum siap bertemu dengan Rangga secepat ini. Dia masih butuh waktu menata hatinya menerima sepenuhnya pernikahan dadakannya dengan Bintang. Berlian merasa belum sanggup menatap mata sang mantan jika mereka bertemu.
Syukurlah, dewi fortuna masih berpihak pada dirinya karena Rangga sama sekali tidak ada di rumah. Setidaknya, Berlian masih punya waktu mempersiapkan mentalnya dengan kuat hingga dia bertemu dengan Rangga. Sampai Berlian bisa menguasai dengan baik emosi juga perasaannya.
Malam ini, tinggal bagaimana Berlian menguasai kebingungan juga ketakutannya saat berada satu kamar dengan Bintang. Bintang memang suaminya. Tidak ada yang salah jika mereka berdua dalam satu kamar. Namun, Berlian masih merasa asing dengan suaminya sendiri. Dia sama sekali tidak menduga kalau laki-laki sombong, angkuh dan sering cari gara-gara dengannya ternyata jodohnya. Perkenalan mereka yang singkat dan selalu di warnai percekcokan menjadi ironi tersendiri bagi Berlian, akan seperti apa rumah tangganya nanti.
...****************...
Dalam kamar bercorak khas laki-laki itu, Berlian tidak tahu harus berbuat apa. Di lihatnya Bintang melepaskan peci dan jasnya. Wajah Berlian memucat membayangkan apa yang ingin di lakukan suaminya. Itu memang haknya Bintang sebagai suami dan sudah menjadi kewajibannya melayani suaminya. Tapi, jangan malam ini, karna Berlian belum siap secara lahir atau pun batin. Dia butuh waktu untuk lebih mengenal suaminya lebih dekat.
"Buka kebaya kamu" perintah Bintang tiba-tiba memecah kebisuan di antara keduanya.
"APA?" kaget Berlian. Seluruh sendi tulangnya terasa ngilu mengartikan perintah suaminya.
"Tunggu apa lagi, buka kebaya kamu" perintah Bintang lagi sambil membuka kancing kemeja putih yang di kenakan nya dan tinggal kaos dalaman yang menutupi tubuh tegap berisi itu.
"Ya Allah, bagaimana ini?" gumam Berlian menunduk takut sambil meremas kain songket yang dia pakai.
"Bin, lain kali saja, a...aku belum siap jika harus melakukannya malam ini" jujur Berlian tanpa sanggup melihat kearah suaminya.
"Memangnya kita mau melakukan apa?" Bintang melirik tajam kearah istrinya yang duduk di pinggir tempat tidur dengan sikap canggung juga gelisah.
Berlian yang di beri pertanyaan seperti itu merasa telinganya panas dan memerah menahan malu.
__ADS_1
"Kamu ingin kita melakukan apa malam ini?" Bintang berjalan menghampiri istrinya.
"Bintang... kamu mau ngapain?" Berlian cemas dan merasa terpojok di pinggir tempat tidur saat Bintang makin mendekat.
"Aku mau..." Bintang menunduk seperti hendak merebahkan tubuh istrinya. Berlian pasrah memejamkan matanya. Diam-diam Bintang tersenyum tipis mengamati ketakutan di wajah Berlian.
"Mau tidur..." Bintang merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Berlian membuka mata sambil memegang dadanya dengan tarikan nafas lega. Hampir saja jantungnya mau copot.
"Kamu jangan GR... Aku meminta kamu membuka kebaya kamu bukan karena ingin menyentuh kamu. Kamu sama sekali tidak bisa membuat aku bergairah untuk menyentuh seseorang yang belum bisa ikhlas menjalankan kewajibannya" ujar Bintang berupa sentilan yang tepat menohok jiwa Berlian.
"Sudah larut malam, kamu ganti kebaya kamu. Memangnya kamu mau tidur mengenakan baju kebaya seperti itu?"
"Ganti pakai apa?. Baju aku semuanya ada di rumah." sungut Berlian.
"Benar juga..." gumam Bintang sambil memperhatikan istrinya. Dia pun bangkit lalu berjalan mendekati lemari pakaiannya.
"Malam, non Berlian" sapa wanita paruh baya yang bekerja sebagai pembantu di rumah itu.
"Malam, bi" balas Berlian sopan.
"Maaf non, malam-malam bibi mengganggu. Bibi di minta nyonya besar memberikan ini sama non Lian" si bibi menyerahkan sebuah paper bag yang berisi pakaian yang masih terlipat rapi.
"Terimakasih ya bi" kata Berlian.
"Sama-sama, non" jawab wanita paruh baya itu lalu pamit.
"Bagus lah, kamu sudah punya baju ganti, berarti aku tidak perlu meminjamkan baju aku buat kamu" . Padahal tanpa sepengetahuan Bintang, Mama Farida sudah menyimpan beberapa pakaian untuk Berlian di dalam lemari Bintang.
__ADS_1
"Siapa juga yang mau memakai baju kamu" sambar Berlian sambil ngeloyor masuk ke kamar mandi.
Bintang mengoceh tak jelas begitu istrinya menutup pintu kamar mandi.
...****************...
Di dalam kamar mandi, Berlian terlihat gelisah dan ragu mengganti kebayanya dengan baju pemberian mertuanya. Bukan karena kualitas baju tersebut jelek. Baju yang di pegang nya kini malah lebih bagus dari baju yang dia punya. Yang jadi masalahnya adalah model baju tersebut terlalu seksi menurut Berlian.
"Apa iya, aku harus memakai baju ini?" Berlian hilir mudik kebingungan.
"Keenakan banget si Bintang, kalau aku memakai baju ini" gerutu Berlian.
"Tapi, enggak mungkin juga kalau aku memakai kebaya ini, sempit dan bikin gerah begini"
Berlian terus menimbang-nimbang apa harus memakai baju tidur berwarna krem agak transparan dan seksi itu atau tetap bertahan memakai baju kebaya yang membalut ketat tiap lekuk tubuhnya. Apa dia minta ganti baju yang lain saja?. Tapi, dia takut menyinggung perasaan mertuanya dan tidak enak malam-malam begini menganggu semua penghuni rumah yang mungkin sudah beristirahat.
...****************...
"Tuh orang ganti bajunya lama banget, sih?. Jangan-jangan dia ketiduran di bathtub lagi. Dasar, norak" oceh Bintang di tempat tidur.
"Bagus juga kalau begitu. Aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa ada gangguan apa pun seperti biasanya"
Bintang merentangkan tangan dan menguap lebar-lebar dan tanpa sengaja menoleh kearah kamar mandi yang di buka. Mulut Bintang tiba-tiba saja tidak bisa di tutup, tangannya juga tidak bisa di turunkan, matanya membesar, jakunnya turun naik melihat pemandangan menggoda iman di depan mata.
"Kamu lihat apa?. Biasa saja kali...." Berlian spontan menutup dadanya menggunakan sebelah tangan dan sebelahnya lagi menarik bagian bawah baju karena sedikit terbuka di bagian lutut keatas. Bahannya yang halus dan agak transparan membuat lekuk tubuh Berlian terlihat oleh Bintang.
Bintang masih saja terpaku pada apa yang dia lihat. Matanya menari-nari memandangi istrinya dari ujung rambut hingga kaki tanpa berkedip.
Berlian yang merasa di telanjangi oleh tatapan Bintang, bergerak cepat menaiki tempat tidur dan langsung menarik selimut menutupi tubuhnya.
__ADS_1
"Tidak perlu di tutupi juga kali... aku juga tidak bernafsu melihat kamu berpakaian seseksi apa pun" Bintang kembali bersikap dingin menjaga gengsi juga harga dirinya, termasuk melawan godaan iman seorang lelaki. Kita lihat saja sejauh mana Bintang bisa menahan godaan. (✿^‿^)