Kilau Berlian

Kilau Berlian
114. Bintang bebas dari segala tuntutan.


__ADS_3

Sepasang mata coklat itu berbinar-binar penuh semangat. Senyum puas kemenangan tersungging penuh semangat membaca sebuah surat pernyataan yang di sodorkan oleh kuasa hukumnya, yaitu Satria. 


"Semalam Kartika menghubungi ku. Dia menyerahkan surat pernyataan pencabutan laporan tuntutan terhadap kamu atas kesadaran dan keinginan pak Erwin sendiri" ujar Satria memperjelas inti yang tertulis dari kertas yang di pegang kliennya. 


"Akhirnya masalah ini kelar juga. Terima kasih, ya Allah" ucap Bintang lega dan haru. 


"Thank's ya, Sat. Ini semua berkata kerja keras kamu. Berlian benar, kamu memang pengacara yang hebat dan kamu pasti bisa menyelesaikan kasus ku dengan baik" katanya antusias dan penuh kesadaran. 


"Semua berkat bantuan Kartika dan Arya. Mereka banyak membantuku memecahkan teka-teki kematian pak Reza. Begitu juga dengan Berlian. Dia wanita yang sangat hebat. Saat orang-orang pesimis kamu bisa bebas karna anggapan mereka yang buruk terhadap mu, Berlian berdiri paling di depan membela dan percaya kalau kamu sama sekali tidak bersalah. Berlian begitu optimis kamu bisa bebas. Itu alasan ku satu-satunya kenapa mau menjadi kuasa hukum kamu" ujar Satria tetap rendah hati. 


"Sayang, terima kasih. Terima kasih untuk pengorbanan dan kepercayaan kamu" Bintang membatin haru mendengar penjelasan Satria tentang jasa wanita yang di cintainya. Rasanya dia ingin segera pulang menemui istrinya dan menyampaikan sendiri rasa terima kasihnya. 


"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih atas kerja keras juga usaha kamu dalam menyelesaikan kasus hukum ku" Bintang menyalami Satria dan mengucapkan rasa terima kasihnya lagi. 


Satria menyambutnya dengan hangat. Tanpa sengaja satria termangu menatap foto Berlian di atas meja kerja Bintang. Berlian tersenyum bahagia dalam dekapan seorang pria. Pria itu Bintang , bukan dia. 


Satria pamit lalu berjalan keluar hendak menemui sahabatnya Arya.


"Asal kamu bahagia, aku rela mengabaikan perasaanku sendiri, Lian. Kamu ga perlu tahu kalau sampai detik ini rasa cinta aku tetap hidup untuk kamu. Apa yang aku lakukan ini, semua untuk kamu" batin Satria getir.


Setelah kepergian Satria, Bintang langsung membereskan meja kerjanya lalu menyambar tas dan jas nya. Bintang tak sabar ingin segera pulang memberi kabar baik untuk istri dan mama nya di rumah.


...****************...


Laki-laki paru baya yang masih tergolek lemah di atas tempat tidur rawatnya tersenyum penuh kelegaan. Di sekelilingnya berkumpul istri beserta dua buah hatinya. Mereka adalah keluarga yang sangat di cintainya. Harta paling berharga dalam hidupnya. 


"Rasanya sekarang sangat membahagiakan bisa berkumpul bersama kalian. Papa tidak butuh apapun lagi.Papa hidup miskin sekalipun, papa sudah tidak peduli. Ada kalian, hidup papa jauh terasa lebih sempurna dan kaya. Kalian luar biasa" mata pak erwin berkaca-kaca. 


Kartika, adik dan mamanya saling pandang penuh haru. Ketiganya serentak memeluk pak erwin penuh bahagia. 


...****************...


"Sayang... kamu di mana?" Bintang masuk ke rumah dan kelimpungan mencari istrinya kesana kemari. Tak ada jawaban. 


"Mungkin dia ketiduran di kamar" Bintang menapaki tangga menuju kamarnya. 


"Bin, kamu sudah pulang ? ini kan masih jam kantor?" tegur mama Farida keluar dari kamarnya karna mendengar suara putranya.


Bintang turun dan menghampiri ibunya. 

__ADS_1


"Ma, Lian mana, kok dia nggak kelihatan?" Bintang balik bertanya, bukannya menjawab pertanyaan mamanya. 


"Istri kamu ada di taman belakang" 


Bintang langsung berlalu meninggalkan mama nya tanpa memberi jawaban atau penjelasan apa pun. 


"Bintang , Bintang... kalau sudah menyangkut berlian saja kamu bisa puntang panting begitu" mama Farida geleng-geleng kepala dan tersenyum bahagia. Keputusannya menjodohkan Bintang dengan Berlian sangat tepat. Bintang jauh berubah. Senyum putra kandungnya yang dulu sempat hilang, kini bersemi kembali. Sekarang, senyum itu selalu ada dan tak pernah hilang. 


...****************...


"Sayang..."panggil Bintang begitu melihat istrinya tengah sibuk mengetik di gazebo yang kelilingi tanaman hijau nan rindang juga bunga-bunga yang mulai bermekaran. Tempat yang sangat bagus untuk mencari inspirasi bagi Berlian yang hobi menulis. 


"Bintan...?" Berlian cepat-cepat berdiri dan menutup laptopnya. 


"Sayang, kamu sudah pulang?" 


Dengan semangatnya Bintang memeluk tubuh istrinya dan berputar-putar meluapkan kebahagiannya. 


"Bintang... aaaaaaaa" pekik Berlian kaget. 


Tawa Bintang berderai bahagia dan terus berputar-putar tanpa jeda. 


"Sayang, turunin aku." pinta Berlian. 


"Aku bebas Lian.... Semua itu berkat kamu" katanya. 


"Sayang, kamu bicara apa?. Kamu turunin aku dulu biar jelas. Kamu ga kasihan sama dede bayi nya?. Dia bisa pusing lho, di ajak berputar-putar terus sama ayahnya" Berlian mengingatkan suaminya dengan nada manja.  Bintang sadar dan cepat menghentikan aksi putar-putarnya. 


"Maaf yank lupa... Terus kamu ga apa-apa kan?" cemasnya langsung sambil meraba perut Berlian. Berlian tertawa kecil memperhatikan kecemasan suaminya yang terlihat lucu. 


"Sayang dede bayinya baik-baik saja kok. Cuma, mama nya sempat pusing di putar-putar terus sama papanya" 


"Syukurlah...hehe maaf yank" Bintang menghembuskan nafas lega. Namun tak berapa lama, wajahnya kembali panik mengingat penjelasan istrinya barusan. 


"sekarang kamu masih pusing?" 


"Pusingnya akan hilang kalau sudah di beri obat sama kamu" senyum Berlian menggoda. 


"Kamu tunggu di sini, aku akan kedalam dan carikan obat pusing buat kamu. Biar pusing kamu cepat hilang" 

__ADS_1


"Bukan obat itu maksudnya" sela Berlian manyun karna Bintang tak mengerti maksudnya apa. 


Bintang yang mau melangkahkan kakinya terpaksa mengurungkan niatnya. 


"Lalu obatnya apa, Yank?. Pusing-pusing kamu ga boleh di biarin, nanti bisa berdampak buruk bagi kandungan kamu" 


Berlian merapat dan menengadahkan kepala menantang ketajaman mata coklat milik suaminya. Nuansa tatapan sepasang mata coklat itu sangat indah. 


"Obat paling mujarab menghilangkan pusing-pusing aku cuma satu" 


Berlian diam sejenak, Bintang di buat bingung. 


"Ini" Berlian tersenyum manja menunjuk keningnya.  Tawa Bintang berderai.


"Kamu tuh makin lama makin gemesin, tahu nggak?!" Bintang geregetan sendiri, lalu mencium kening istrinya penuh perasaan. Berlian tersenyum bahagia menerima kecupan tersebut. Saat bibir Bintang menjauh dari keningnya, Berlian membenamkan diri dalam dekapan suaminya yang hangat. 


"Sayang, ini kan masih jam kantor. Kamu kok sudah pulang?" Berlian kembali menengadah meminta penjelasan dari suaminya. 


Bintang kembali ingat alasan kenapa dia segera pulang. Dia pun menyerahkan lembaran kertas yang dari tadi dia pegang dengan memasang raut muka bahagia. Berlian menerimanya. 


"apa ini?" tanyanya. 


"Coba kamu baca dulu" suruhnya. 


Berlian pun mulai membaca kertas yang terdapat logo kepolisian di bagian atas kertas. Berlian membaca dengan seksama dari awal sampai titik akhir berupa tanda tangan pak Erwin juga tanda tangan pimpinan kepolisian. Air matanya menetes haru. 


"Bin,kamu..." Berlian menutup mulutnya. Dia tak tahu harus berkata apa untuk meluapkan bahagianya saat ini setelah membaca surat pernyataan itu.


"Sayang, kamu bebas" Berlian menghambur memeluk tubuh suaminya dengan erat. Bintang balas memeluk. 


"Iya, sayang. Semua berkat kamu" ujar Bintang bisa merasakan kebahagian istrinya sama persis dengan apa yang dia rasakan. 


"ini bukan mimpi, kan?. Kamu benar-benar bebas dari segala tuntutan hukum ?" Berlian melepaskan pelukannya, lalu menggenggam kedua tangan dan menatap suaminya penuh harap. 


"Ini kenyataan sayang, bukan mimpi" ujar Bintang meyakinkan istrinya. 


"Beneran?" Berlian lompat-lompat kegirangan.


"Yank, jangan lompat-lompat ih, ingat kandungan kamu" tegur Bintang.

__ADS_1


"Maaf" Berlian cepat diam dan kembali memeluk suaminya penuh suka cita. 


"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Akhirnya engkau mendengarkan doa hamba selama ini" ucapnya penuh syukur.


__ADS_2