
"Sebenarnya aku sudah punya calon istri yang ingin aku perkenalkan sama mama. Tapi, wanita itu justru berkhianat dan memilih menikah dengan laki-laki lain yang lebih kaya" sentil Rangga mengarah pada Berlian yang nafsu makannya jadi hilang gara-gara ucapannya barusan. Bukan kah sebaliknya?... Kalau Rangga lah yang tergiur dengan harta dan dengan gampang memintanya menerima pinangan Bintang. Kenapa sekarang Berlian yang malah di pojokan.
"Keterlaluan sekali gadis itu. Lebih baik kamu cari gadis lain saja. Mama juga tidak sudi mempunyai calon menantu gila harta" ucap mama Farida terbawa emosi mendengar cerita Rangga.
Berlian yang di pojokan, menatap dingin mantan kekasihnya yang di balas dengan senyum puas penuh kemenangan oleh Rangga.
Bintang yang baru saja menggigit rotinya menatap tajam dan curiga mengartikan perkataan sepupunya yang menggebu seolah menyudutkan salah seorang di antara mereka.
"Lian, kamu habiskan makanan kamu, habis itu kita jemput kakek kamu di rumah sakit" kata Bintang.
"Aku sudah kenyang, aku mau siap-siap dulu. Maaf ma, Lian permisi dulu" ucap Berlian tak betah berlama-lama berhadapan dengan sang mantan yang tak puas menyudutkannya.
Berlian tak mau merusak suasana hati mama mertuanya yang terlihat begitu ceria dan semangat pagi ini.
"Bin, istri kamu kenapa?. Baru makan berapa suap sudah bilang kenyang?" tanya Mama Farida pada putranya setelah Berlian beranjak pergi.
"Biasalah ma. Namanya juga cewek kampung, mana biasa memakan makanan seperti ini" sambar Rangga dengan nada sedikit tinggi.
"Jaga bicara kamu..." sela Bintang membela Berlian.
Perkataan Rangga yang menyakitkan terdengar jelas di telinga Berlian yang baru mau menaiki anak tangga. Dia tak menduga jika Rangga tega menghinanya. Tapi, dia juga di buat heran mendengar pembelaan suaminya karena selama ini Bintang paling suka mengatainya dengan sebutan cewek kampung.
"Lho, kenapa kamu tiba-tiba marah begini?. Bukannya dulu kamu pernah mengatai Berlian begitu?" (note : saat Berlian melamar kerja di Perusahaan Bintang)
"Itu dulu sebelum dia menjadi istriku. Mulai hari ini dan selamanya, jangan pernah kamu mengatai istriku dengan sebutan apa pun yang menjatuhkan harga diri Berlian di hadapanku" jelas Bintang menekan sepupunya dengan tegas dan tatap mata yang tajam tanpa berkedip.
"Sial!. Kenapa Bintang tiba-tiba membela Berlian mati-matian begini?" umpat Rangga dalam hati sambil menggenggam kuat sendok dan garpu di tangannya, bentuk dari sebuah ketidak kesukaannya pada Bintang yang tidak terlampiaskan.
Mendengar alasan pembelaan suaminya, membuat Berlian yakin kalau Bintang adalah laki-laki yang sangat baik dan bertanggung jawab. Mungkin ada satu hal yang membuat dia terkesan begitu arogan dan angkuh bagi siapa saja yang mengenalnya secara sepintas. Tapi, Berlian juga tidak tahu ada misteri apa di balik sikap keras suaminya itu.
"Rangga, mama harap kamu tidak melontarkan kata-kata seperti tadi lagi. Bagaimana kalau Berlian dengar?. Dia pasti sedih. Bagaimana pun juga Berlian sudah resmi menjadi bagian dari keluarga kita. Kamu harus bisa menghormati kakak ipar kamu." tegur mama Farida pada keponakannya yang hanya bisa diam setelah di beri sedikit teguran dan nasihat.
"Sudah,kalian habiskan makanannya"
"aku sudah kenyang"
__ADS_1
Bintang beranjak setelah meneguk sedikit susu yang di tuangkan istrinya tadi, lalu bergegas menuju kamarnya menyusul Berlian.
...****************...
"Kamu sudah siap?" tanya Bintang begitu mau membuka pintu kamar, Berlian sudah keluar dengan berpakaian rapi.
"Sudah" Berlian mengangguk lemah.
"Kamu habis menangis?" tebak Bintang yakin melihat mata istrinya yang memerah .
"Siapa yang nangis?. Mataku habis ke masukkan sesuatu jadi mataku merah dan berair" bohongnya.
"Aku paling tidak suka dengan orang yang berbohong" sela Bintang menyentil Berlian dengan jelas.
"terserah.... kamu mau percaya atau tidak " balas Berlian yang kemudian berjalan mendahului suaminya . Sedangkan Bintang masuk ke kamarnya untuk mengambil kunci mobil, dompet dan ponselnya.
...****************...
Berlian dan Bintang langsung berpamitan dengan mama Farida sebelum berangkat menuju rumah sakit menjemput kakek Dharma yang sudah di perbolehkan pulang hari ini.
Berlian sengaja mengapit tangan suaminya untuk sekedar menegaskan pada Rangga yang terus mengamatinya kalau dia sepenuhnya milik Bintang.
"Kamu tidak perlu bertingkah manis jika kamu tidak bisa nyaman dengan suami kamu sendiri" Bintang menurunkan tangan Berlian dari lengannya begitu mereka berjalan menuju halaman rumah.
"Aku hanya belum terbiasa, bukan tidak nyaman" Berlian meralat sangkaan suaminya.
Bintang tak mau berdebat lagi dan buru-buru masuk kedalam mobil silver yang terparkir di halaman rumah.
Berlian menurut saja dan membuka pintu mobil bagian belakang lalu duduk dengan manis.
"Kamu ngapain duduk di belakang?. Kamu pindah ke depan!. Memangnya aku sopir kamu apa?" semprot Bintang kesal.
"Maaf,aku pikir kamu tidak akan membolehkan aku duduk di samping kamu" jelas Berlian.
"Jangan cari-cari alasan!. Cepetan kamu pindah ke depan"
__ADS_1
"Iya, sabar dikit,napa?" sungut Berlian mulai beranjak lewat belakang suaminya tanpa keluar dulu melewati pintu.
"Lian... kamu kan bisa pindah lewat pintu, enggak usah bertingkah norak kayak gini" tegur Bintang menahan kekesalannya.
"Katanya suruh cepetan. Ya udah, aku lewat belakang saja. Tunggu apa lagi ayo buruan jalan " cuap Berlian begitu sudah duduk di samping suaminya.
"pasang sabuk pengamannya" perintah Bintang.
"iya...iya... bawel" jawab Berlian manyun.
...****************...
"Terima kasih nak Bintang sudah bersedia menjemput kakek" ucap nenek Aminah saat cucu menantunya sudah datang bersama cucunya.
"Iya." jawab bintang singkat saja.
"Lian, kamu bereskan semua barang-barang kakek, lalu kita pulang mengantar kakek ke rumah" perintah Bintang pada istrinya yang sibuk bercengkrama dengan kakeknya , setelah dia pergi menyelesaikan administrasi.
"Sudah, semua barang-barang kakek sudah nenek masukkan ke dalam tas. Kita tinggal pulang saja" beritahu nenek Aminah.
"Kita pulang, sekarang. Kakek sudah tidak tahan lama-lama di rumah sakit. Kakek sudah kangen suasana rumah" ujar kakek Dharma.
"Iya,kek" Berlian membantu kakeknya turun dari tempat tidur.
"Nek, biar Lian yang bawa tasnya" Berlian cepat beralih mengambil tas yang di jinjing neneknya.
"Biar nenek saja" tolak nenek Aminah.
"Nenek pasti capek kan dari kemarin jaga kakek, biar Lian saja yang bawa" paksa Berlian. Nenek Aminah pasrah saja.
Berlian dan neneknya mengapit kakek Dharma di tengah, sementara Bintang mengikuti dari belakang berjalan keluar dari rumah sakit tanpa banyak bicara.
...****************...
Setelah mengantar nenek Aminah dan kakek Dharma ke rumahnya, di perjalanan pulang mobil yang di kendarai Bintang di hadang oleh puluhan orang yang di dominasi ibu-ibu.
__ADS_1
"Sial,mereka siapa,sih?. Berani sekali mereka menghadang ku" geram Bintang.
"Bin, mereka itu warga pemukiman yang mau kamu gusur" ujar Berlian cukup mengenal beberapa di antara mereka yang menghadang jalan mobil yang merupakan tetangga dekatnya.