Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab. 36 Rangga Mabuk


__ADS_3

Makan malam baru saja selesai. Mama Farida dan Berlian sibuk bercengkrama di ruang tengah. Sedang Bintang sibuk dengan laptopnya. Ketiganya di kejutkan dengan kepulangan Rangga dalam keadaan mabuk dan di papah satpam rumah. 


"Rangga, kamu mabuk?" sentak Mama Farida.


"Eh mama,,, Rangga enggak mabuk, cuma pusing aja" katanya. 


"Sudah jelas mabuk masih saja berbohong" sela mama Farida.


Berlian hanya bisa bingung kenapa Rangga bisa sampai mabuk-mabukan. Beda sekali dengan Rangga yang dia kenal dulu.


 


"Kamu tidak seharusnya menginjak rumah dalam keadaan mabuk seperti ini. Kamu lupa dengan peraturan yang ku buat di rumah ini??" tegur Bintang dengan nada suara tinggi. 


"Perset*n dengan peraturan yang kamu buat" 


"Bukkk" Rangga melepaskan pukulan keras mengenai tengkuk sepupunya. Satpam yang memegangi Rangga kewalahan menahan tubuh salah satu majikan mudanya. 


"Bin, kamu tidak apa-apa?" Berlian yang kaget Rangga main kasar berjalan mendekati Bintang.


"Aku tidak apa-apa" jawabnya. 


"Brengks*k kamu Rangga" 


"Bintang, jangan!" Berlian menahan lengan suaminya yang mau membalas pukulan Rangga.


"Bin, tahan emosi kamu,nak" lerai mama Farida.


"Hehehe... Lian kamu belaian aku,ya?" Rangga nyengir penuh kesenangan. 


"Sayang...aku kangen sama kamu" 


"Bukk" pukulan keras tangan kanan Bintang tepat mendarat pada rahang kiri Rangga saat mau lancang memeluk Berlian di hadapan mata kepalanya. 


"Jangan pernah sentuh istriku" lanjutnya membentak sepupunya yang terhuyung jatuh kelantai. 


"Lian, kita ke kamar sekarang" 


Bintang menyentak kuat tangan istrinya. Berlian menurut meski hatinya tak tega melihat Rangga terluka. Tapi, dia juga tak suka Rangga memukul suaminya dan hendak memeluknya. 


"kamu kenapa jadi mabuk-mabukan begini, nak?" mama Farida membantu Rangga berdiri. 


"Ini semua karena Mama. Mama tak usah sok memperhatikan Rangga" sentak Rangga menolak pertolongan wanita yang sudah merawatnya dari kecil. 


"YA Allah, sebenarnya apa yang terjadi dengan Rangga?. Kenapa sejak Bintang menikah dia berubah kasar seperti ini?" rintihan mama Farida lirih. 


...****************...

__ADS_1


"Sebenarnya ada hubungan apa kamu dengan Rangga?" 


Pertanyaan bernada curiga di lontarkan Bintang begitu mereka berada dalam kamar pribadi mereka. 


Berlian diam saja karena bingung mau menjawab apa. Dia tak mau membohongi suaminya tapi dia juga belum siap menceritakan bagaimana hubungannya dengan Rangga sebelum bintang resmi mempersuntingnya. 


"kenapa kamu diam?" 


"Bin, hari sudah malam, sebaiknya kita tidur dan kita bahas masalah ini lain waktu" Berlian berusaha mengelak dan mengulur waktu untuk siap mengatakan yang sebenarnya.


"Rangga sudah mulai terang-terangan bersikap lancang ingin memeluk bahkan memanggil kamu sayang di depan mata kepalaku sendiri. Apa kamu tidak punya niat untuk meluruskan pemahaman aku tentang kejanggalan hubungan antara kamu dan Rangga?" 


"Bin, Rangga itu mabuk. Dia melakukan hal itu karena dia berada di bawah pengaruh minuman beralkohol. Jangan memojokkan aku hanya karena perlakuan Rangga tadi" 


"Kamu pikir aku bodoh tidak bisa membandingkan mana perbuatan orang mabuk dan mana perbuatan orang yang memendam rasa?" sengit Binatang membungkam pembelaan istrinya. 


"Aku kenal dia dari kecil. Aku sangat mengenal bagaimana watak dia ketika tertekan dan menghindar dari segala masalah. Dia mabuk-mabukan seperti ini karena lebih dari sebuah dorongan kegalauan yang dirasakan saat ini. Aku harap itu tidak ada hubungannya dengan kamu" 


"Aku harap kamu juga bisa mengenal istri kamu dengan baik, bahkan lebih baik dari kamu mengenal dia" Berlian mendesah getir sebelum menjawab kecurigaan Bintang dengan lirih. 


Bintang bungkam tak membalas pernyataan istrinya. 


"aku lelah,aku mau tidur" 


Nada suara Berlian terdengar sangat lemah dengan sorot mata sayu. 


Bintang juga tak tahu harus berbuat apa. Dia bukan tipe pria romantis yang pandai menyusun kata menghibur wanita yang diam-diam mulai menarik perhatiannya.


Bintang hanya bisa mengamati istrinya yang merebahkan diri di atas kasur dan memiringkan tubuh membelakanginya.


 


"Kak Arya, kakak di mana?. Kenapa kakak tadi tega meninggalkan Lian. Lian kangen sama kakak. Lian butuh kakak" rintih Berlian perih mengenang saudara satu-satunya yang dulu selalu menjadi tempat dia mencurahkan segala beban hidupnya.


"Bintang..." Berlian terkejut ketika tangan suaminya memutar bahunya hingga mereka berhadapan. Keduanya sama-sama diam. Bintang tidak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya matanya yang tak lepas dari wajah istrinya yang mulai berani dia belai dengan lembut. Mata Berlian yang tadi sulit terpejam seakan terhipnotis dan mulai lena di buai alam mimpi yang datang merayu lewat belaian juga tatapan suaminya yang terasa begitu teduh dari biasanya. Berlian sempat sedikit membuka mata ketika merasakan hangatnya kecupan Bintang di keningnya. Namun mata itu kembali tertutup tanpa bisa memastikan apa yang dia rasakan memang nyata atau mimpi.


Bintang bisa tersenyum tenang melihat istrinya sudah tertidur lelap tanpa beban setelah mengumpulkan segenap keberaniannya mengecup keningnya. 


...****************...


Semua sudah berkumpul di ruang makan. Tinggal menunggu Rangga yang belum ikut bergabung.


"Rangga, kamu mau kemana?. Kamu enggak sarapan dulu" seru mama farida begitu melihat keponakannya siap-siap mau pergi. 


"Rangga mau ke kantor ma, sarapannya di luar saja" sahut Rangga sambil melirik jengah ke arah Berlian yang sibuk melayani suaminya di meja makan tanpa menghiraukan keberadaan dia.


 

__ADS_1


"aku berangkat dulu" pamitnya kemudian berlalu dengan kesal karna Berlian sama sekali tidak mengajaknya sarapan atau pun menanyakan bagaimana keadaannya setelah mabuk-mabukan dan di pukuli suaminya. 


"Bin, mama harap kamu dan Rangga cepat baikan. Mama tidak mau melihat kalian perang dingin begini" kata mama farida.


"Semua tergantung dari niat baiknya Rangga , bukan Bintang" jawabnya singkat. 


"Nak,kamu itu lebih tua dari Rangga, apa salahnya kamu mengalah" 


"Bukannya selama ini aku selalu mengalah?" sentil Bintang, membuat bingung Berlian. Setahunya, selama berpacaran dengan Rangga, menurut dari ceritanya Rangga lah yang selama ini banyak mengalah dari sepupunya. Kenapa Bintang mengatakan sebaliknya dan kenapa mama mertuanya diam saja tanpa memberi pengertian atau pun penjelasan pada bintang?. 


"aku berangkat ke kantor dulu" pamit nya kepada Berlian.


"Sarapannya di habisin dulu"pinta Berlian.


"Aku sudah kenyang" jawabnya. 


"Ma, Bintang ke kantor dulu" lanjutnya berpamitan dengan mamanya. 


Bintang beranjak dari meja makan dan berjalan di iringi istrinya hingga depan pintu dan Berlian tak lupa mencium tangan suaminya sebelum pergi.


Pemandangan itu sangat menyakitkan bagi seorang perempuan yang baru datang dan keluar dari mobilnya. 


"Tika..." Berlian tersenyum girang menyambut kedatangan sahabatnya. 


Kartika tersenyum hambar dan berjalan kikuk menghampiri sahabatnya. Hatinya di buat tak karuan di tatap sedemikian oleh Bintang. Sebuah tatapan rasa terganggu atas kehadirannya. 


"Hei Bin, kamu mau kerja ya?" Kartika coba berbasa-basi dengan gaya santai yang di paksakan. 


"aku pergi dulu. Kamu jangan terlalu lama menerima tamu. Ingat,tangan kamu masih belum sembuh" Bintang bukannya membalas sapaan Kartika dia seperti sengaja membatasi ruang gerak pergaulan istrinya dengan Kartika.


 


"Kamu aneh banget, sih?. Tangan aku lukanya juga nggak parah. Enggak ngaruh juga kalau aku menerima tamu lama-lama, apa lagi yang bertamu kan Kartika sahabatku" sergah Berlian.


 


"Terserah kamu" Bintang malas berdebat dan langsung bergegas menaiki mobil miliknya.


 


"Hati-hati,jangan ngebut" pesan Berlian sedikit berteriak mengingatkan suaminya. 


"Tika, kita ngobrol di dalam yuk. Ada banyak hal yang pengen aku ceritain sama kamu" ajak Berlian pada sahabatnya. 


"Tika, ayo...." ajak Berlian lagi sambil menarik paksa tangan Kartika yang termangu menatap kepergian Bintang. 


"Eh..iya...." Kartika sedikit gugup dan terkejut. 

__ADS_1


__ADS_2