
"lian, kamu ngapain di sini?"
Berlian yang mau membuka pintu rawat inap Bella di kagetkan dengan teguran seseorang yang cukup dia kenal.
"Tika..." girang Berlian setelah memutar tubuhnya melihat sahabatnya berdiri di belakangnya.
"kamu itu lagi sakit bukannya istirahat malah keluyuran. Pantesan di cariin di ruangannya nggak ada." tegur Kartika.
"Siapa yang keluyuran, aku cuma mau jalan-jalan soalnya aku sudah bosan di kurung terus" ujar Berlian membela diri.
"Hhhmmm... bagaimana kalau aku ajak kamu ke taman rumah sakit" cetus Kartika.
"Boleh" Berlian tak menolak dan terlihat sangat senang.
"Ayo...." Kartika memapah tubuh sahabatnya demi menghindari hal yang tidak di inginkan karna kondisi berlian belum benar-benar fit.
Diam-diam bi sumi menghubungi majikan mudanya tanpa sepengetahuan Berlian.
...****************...
"maaf ya lian, aku baru sempat jenguk kamu sekarang, soalnya toko nggak ada yang jaga" ujar Kartika merasa bersalah.
"Aku ngerti kok, tik" Berlian tersenyum penuh pengertian.
"Bintang kemana ?. Dia nggak jagain kamu?" tanya Kartika.
"Bintang lagi ada urusan mendadak di kantor. Biasanya dia yang setia jagain aku siang malam di sini" jawab Berlian dengan senyum yang tak pernah lepas. Kartika ikut tersenyum walau perih.
"Kenapa ya, aku tiba-tiba jadi kangen sama Bintang, padahal dia perginya belum lama ini?" celetuk Berlian mengungkapkan apa yang dia rasakan sekarang.
"Hhmmm... sepertinya ada yang lagi jatuh cinta nih" Kartika menggoda temannya dengan menyenggol bahunya.
"Siapa yang lagi jatuh cinta?. Kamu?" Berlian belum juga mengerti perasaannya, membuat kartika geregetan sendiri melihat tampang lugu sahabatnya.
"Yang jatuh cinta itu kamu. Kamu jatuh cinta sama Bintang! " kata Kartika pasti.
"Aku jatuh cinta sama bintang??" gumam Berlian terdiam merenungi apa yang di katakan sahabatnya.
"Apa benar, aku jatuh cinta?" Berlian ragu-ragu meraba perasaannya dan sesuatu indah menyergap hatinya mengingat bayangan Bintang melintas dalam benaknya.
"Sudah cukup main-mainnya?" tegur suara lantang datang mendekat, menyadarkan Berlian dari lamunannya.
"Bintang? kerjaan kamu sudah kelar?. Kok cepat banget ?" Berlian berdiri dari bangku taman yang dia duduki, begitu juga dengan Kartika.
"Bintang denger ga ya apa yang kami obrolin barusan?" Berlian cemas campur malu kalau sampai Bintang mendengar nya.
"Kita kembali ke ruangan mu"
__ADS_1
Tanpa aba-aba, Bintang langsung mengangkat tubuh Berlian ala Bridal style. Berlian spontan mengalungkan tangannya memeluk leher Bintang. Hatinya saat itu berdebar tak karuan.
"kita nanti saja ya ke kamarnya?. Aku masih mau ngobrol dengan tika" pinta Berlian memelas.
"Lian, ini sudah siang. Sudah waktunya istirahat" jawab Bintang tak mau menuruti kemauan Berlian.
"Lagi pula Tika juga mau pulang. Iya kan?" Bintang melirik kearah Kartika.
"Iya" Kartika terpaksa membenarkan karna secara tak langsung Bintang sebenarnya mengusirnya. Lagi pula dia juga tak tahan berlama-lama menyaksikan bagaimana sayangnya Bintang terhadap Berlian.
"Lian, aku pulang dulu ya. Jaga kesehatan kamu dan istirahat yang cukup" Kartika berusaha tetap tersenyum saat berpamitan.
"Hati-hati ya, tik " pesan Berlian yang di balas dengan anggukan oleh Kartika.
Setelah kartika berlalu, bintang mengayunkan kaki menuju ruang rawat Berlian melewati lorong rumah sakit.
"Papa..." anak kecil berumur 4 tahunan berteriak kegirangan menghampiri laki-laki yang memakai jas putih lengkap dengan stetoskop yang menggantung di lehernya.
Langkah Bintang terhenti saat itu. Matanya bermain memperhatikan keakraban bocah kecil itu dengan papanya.
"Bin, apa kamu benar-benar tak ingin menjadi seorang ayah?" pertanyaan itu kembali meluncur dari bibir berlian setelah melihat perubahan raut wajah suaminya yang terkesan melihat bocah menggemaskan itu.
"Kita tidak perlu membahas hal yang sudah pernah kita bicarakan sebelumnya" Bintang mengelak memberi jawaban dan kembali melangkah. Berlian diam dan tak bisa menyembunyikan kekecewaannya.
...****************...
"Kamu istirahat ya. Aku mau keluar sebentar"
Bintang mengecup kening Berlian dan menyelimuti tubuh sang istri setelah memintanya untuk istirahat.
"Memangnya kamu mau kemana?. Baru juga balik?"
"Aku hanya mau menemui salah satu staf di rumah sakit ini untuk meminta memindahkan kamu keruang lain"
"Pindah? Untuk apa?" Berlian cukup terkejut dan tak mengerti mau suaminya apa memindahkan dia keruang lain.
"Ruangan ini sudah ga aman lagi buat kamu"
"Maksud kamu ga aman?" kening Berlian berkerut tanda kalau dia makin tidak mengerti lagi alasannya yang di layangkan bintang.
"Kamu jangan bawel" sembur Bintang.
"Apa pun yang aku lakukan semua demi kebaikanmu" Bintang kembali bersikap lembut dengan membelai rambut Berlian tanpa henti.
"Kamu istirahat, ya" kata Bintang sambil terus membelai rambut istrinya dengan senyum yang menyungging menawan dan sorot mata teduh yang menghipnotis. Dalam sekejap, Berlian pun tertidur pulas. Bintang kemudian keluar setelah mengecup keningnya.
__ADS_1
Tak berselang lama dari kepergian Bintang, seorang pemuda dengan gerak gerik mencurigakan masuk dan memandangi wanita yang tengah tertidur itu dari ujung kaki sampai rambut dengan tatapan kurang ajar.
"Lian ku, kamu ngga hanya cantik tapi kamu sangat menggoda sayang" ujar pria itu dengan bahasa yang tak pantas di ucapkan. Laki-laki itu pun tak tahan mengabaikan godaan dalam dirinya untuk menyentuh bibir ranum yang lama dia pendam untuk di miliki.
Bintang tak mau berlama-lama, selesai dengan urusannya, dia bergegas kembali. Bukan main terkejutnya Bintang melihat pemandangan menggeramkan ketika dia membuka pintu.
"Rangga!!" bentak Bintang.
Rangga kaget, niatnya mencium Berlian tak kesampaian. Padahal hanya tinggal beberapa centi lagi, bibir berlian ada dalam penguasanya.
"Brengs*k!. Berani sekali kamu bertindak kurang ajar"
Bintang yang murka, tak memberi ampun pada sepupunya. Dengan satu tarikan menjauhi Rangga dari muka Berlian, Bintang menghadiahi pukulan keras di wajah dan tendangan di perut.
Mendengar suara ribut-ribut, Berlian pun terbangun dan kaget mendapati Bintang dan Rangga lagi baku hantam.
"Bintang, Rangga... berhenti. Jangan berkelahi seperti ini" Berlian turun dari tempat tidur dan berusaha melerai perkelahian yang terjadi di depan matanya.
"Bin, aku mohon tahan emosi kamu" pinta Berlian memohon.
Bintang yang semula di atas angin, menjadi lengah mendengar permohonan Berlian. Hal itu di manfaatkan Rangga untuk membalik keadaan.
"Rangga, jangan!!" teriak Berlian melihat Rangga mengayunkan tangannya mau memukul wajah Bintang.
Berlian berhasil mencekal lengan Rangga yang mengayun di udara.
"Lepas!" Rangga menyentak tangannya dengan kuat, membuat Berlian yang masih lemah terhuyung dan terjerembab jatuh ke lantai.
"Lian!!!" teriak Bintang panik dan segera menolong istrinya dan membantunya kembali berdiri.
"Kamu ngga apa-apa ?. Ada yang sakit ga?" Bintang bertanya dengan menangkup wajah Berlian dan memastikan keadaannya baik-baik saja.
"Aku nggak apa-apa, kok" jawab Berlian.
Biarpun demikian, Bintang tak terima.
"Kamu sudah coba mau mencium istriku, sekarang kamu mau coba melukai dia. Aku harus buat perhitungan!"
Bintang kian murka dan memukuli Rangga kembali. Sementara Berlian merasa terhempas mendengar kemarahan Bintang tentang kelakuan bejat Rangga. Berlian tak lagi punya tenaga melerai suaminya. Dia pun terlanjur sakit hati dengan kelakuan Rangga di luar batas.
Rangga tersudut di cekik bintang.
"Sudahlah. Untuk apa kamu memukuli aku sampai sebegitnya?. Apa kamu mau terlihat hebat di depan Berlian?" ejek Rangga memainkan emosi sepupunya.
"Usaha kamu itu hanya sia-sia. Ga akan ada perempuan yang tertarik dan menganggap kamu pahlawan karna kamu itu hanya laki-laki angkuh yang ga kenal namanya cinta. Apa yang kamu lakukan hanya akan jadi bahan tertawaan seluruh perempuan"
__ADS_1
"Kamu harus tahu, Berlian ga mungkin mencintai kamu" ujar Rangga setengah berbisik.
Cekikan di leher Rangga terlepas. Bintang mendadak tak bertenaga. Rangga tersenyum licik mengetahui kelemahan Bintang ada pada Berlian. Tak buang waktu, pelipis kiri Bintang jadi sasaran dan Bintang terjungkal jatuh.