Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 91. Aku cinta kamu, Bin.


__ADS_3

"tik, aku mau bicara 4 mata sama kamu" tegur sebuah suara yang tak asing begitu Kartika keluar dan mau membuka pintu mobilnya. 


"Lian, kamu sudah lama di situ?" Kartika bertanya setelah dia berbalik dan melihat berlian berdiri tegap di samping pilar rumahnya. 


"Cukup lama untuk mendengar sedikit kebenaran yang kamu simpan selama ini dariku" jawab Berlian dingin. 


"Kita bicarakan hal ini di tempat lain" 


Kartika berusaha tenang.bDia lebih dulu masuk ke dalam mobil, di susul Berlian. 


...****************...


"Busettt... aku pikir kamu minta ketemuan untuk meminta bantuanku mengurus perceraian Berlian dengan suaminya. Tak tahunya kamu minta bantu adik ipar kamu yang tengah bermasalah. Kamu benar-benar sahabat yang ngga pengertian. Payah!" gerutu satria setelah mendengar cerita sahabatnya di sebuah cafe dekat kantornya.


"Aku ke sini bukan mau dengerin keluhan kamu. Lian dan Bintang ga akan pernah bercerai. Jauhkan pikiran gila itu dari otak kamu" tegur arya melototi sahabat karibnya. 


"Susah ya, punya teman preman punya adik cantik tapi ga bisa di dekati. Benar-benar nggak ada untungnya berteman sama kamu. Yang ada aku menderita lahir dan batin cuma bisa memandangi adik kamu yang cantik itu" gerutunya.


"Bawel kamu...." ujar arya jengah meladeni banyolan sahabatnya. 


"Kamu mau ga bantu aku?" lanjut arya menanyakan kesedian satria.


"Kagakkkk!!" jawab satria cepat.


"Yakin?" 


Satria mengangguk pasti. 


"Bagaimana ya, kalau Lian sampai tahu kalau yang menghilangkan novel kesukaannya itu kamu?" arya senyum mengancam dan mengingatkan satria akan ulahnya waktu dulu. 


"Itu..." Satria menelan ludahnya sendiri. Rahasia yang selama ini hanya Tuhan dan Arya yang tahu bisa terbongkar. Terbayang sudah bagaimana nasibnya jika Berlian tahu yang sebenarnya. Jujur saja, dia lebih takut melihat Berlian marah-marah dari pada arya yang punya jiwa tempramental. 


"Ar, kamu jangan kasih tahu ke Lian kalau aku yang menghilangkan novel itu. Lian bisa menggantung aku di pohon rambutan yang ada di halaman rumah kalian. Kamu saja kakak kandungnya di suruh nangkring di pohon itu seharian gara-gara salah paham karna dia menduga kamu yang menghilangkan novel itu." pinta satria sambil mengenang kisah mereka waktu SMA dulu. 


"Semua tergantung kamu" arya tersenyum penuh kemenangan. 


"Lebih baik aku berantem sama kakaknya dari pada di gantung sama adiknya. Kalau Lian mengamuk... sereemm... ihh... " Satria menggelinjang ngeri memikirkannya. 


...****************...


10 menit waktu terbuang sia-sia. Tak ada dari keduanya yang bersuara. Keduanya sibuk mengaduk minuman masing-masing yang mereka pesan. 


"Kamu sekarang sudah tahu kalau Bintang adalah pangeran masa kecil aku. Aku penasaran dengan apa yang akan kamu lakukan setelah kamu tahu tentang ini. Apa kamu akan mempertaruhkan kebahagian kamu dalam hal ini demi persahabatan kita atau demi perasaan kamu terhadap Bintang. Kamu tahu Bintang bagaimana dan kamu juga tahu aku persisnya seperti apa. Jika kamu bimbang, aku bisa dengan mudah merebut dia dari kamu dan kamu akan sadar betapa bodohnya kamu mempertaruhkan perasaan kamu dalam hal ini" Kartika memulai pembicaraan dan langsung pada topik yang sempat mereka bahas dalam perjalanan. 


Berlian meminum hot chocolate pesanannya yang mulai dingin, kemudian dia tersenyum hambar meletakkan gelas nya.


"ngga ada yang harus di pertaruhkan dalam hal ini. Baik perasaan aku maupun persahabatan kita. Aku akan berdiri pada tempatnya, sebagai seorang istri, juga sebagai sahabat kamu. Ga ada yang berubah" kata Berlian tenang. Tapi siapa yang tahu apa yang di rasakannya kini. 


"Lantas apa yang akan kamu lakukan?. Apa kamu membenci aku karna aku mencintai Bintang?" tanya Kartika khawatir. 


"Harusnya aku yang bertanya seperti itu, apa kamu membenci aku karna aku menikah dengan lelaki yang kamu cintai?. Apa kamu marah, aku mencintai lelaki yang ternyata adalah pangeran masa kecil kamu?" 


Tak ada jawaban yang keluar dari mulut kartika. Hanya helaan nafasnya yang terdengar berat. 


"Aku jahat ya, Tik?" desah Berlian lirih. 


"Posisi kamu sangat menguntungkan, Tik. Dan seperti yang kamu katakan tadi, kamu bisa dengan mudah merebut Bintang dariku. Tapi kendali ada di tanganku, bukan Bintang. Aku sudah memutuskan untuk mempertahankan rumah tanggaku . Apa pun taruhannya. Aku yakin pasti ada jalan keluar menyelesaikan kasus yang menimpa suamiku." ujar Berlian tegas dan yakin. 


"Kamu sudah tahu apa yang akan kamu perbuat, ga ada lagi gunanya kita memperdebatkan masalah ini. Perasaan aku padanya hanya masa lalu. Mungkin rasanya ini ga adil bagiku, kamu,juga bintang. Tapi, lebih ga adil lagi bagi hubungan yang baru kamu bina dengan dia karna hubungan kalian tak ada sangkut pautnya dengan kasus ini" jelas kartika menerangkan isi hatinya dan meyakinkan sahabatnya. 


"Jangan korbankan apa pun dalam hal ini, Lian " sambungnya sambil menggenggam tangan teman karibnya. 


"Dulu, aku pernah minta kamu agar mau mencintai bintang dan membahagiakan dia. Sekarang rasa itu sudah tumbuh, dan aku senang mengetahuinya. Sekarang aku minta sama kamu, pertahankan hubungan kamu dengan Bintang. Jangan pernah ragu dan berniat meninggalkan bintang" 


Mata Berlian berkaca-kaca terharu. 


"kita tetap bersahabat,kan?" 


"Nggak..."selanya. 


Wajah Berlian murung tak berseri. 

__ADS_1


"Ya iya lah Lian , kita tetap sahabatan" tawa kartika berderai senang. 


"Persahabatan kita ga akan terganggu hanya karna masalah ini" yakinnya. 


Berlian pun lega dan bisa tersenyum lepas. 


"Kamu itu ya, paling bisa ngerjain orang" protes Berlian manyun. 


...****************...


Satria bersedia membantu Bintang. Masalahnya dengan kartika juga sudah clear. Kartika juga sudah menyatakan sikapnya akan membantu dirinya menyelesaikan konflik antara papanya juga Bintang. Tinggal bagaimana Berlian meyakinkan bintang agar mau menerima bantuan kakaknya. Sebab Arya ragu kalau Bintang mau menerima niat baiknya. 


"Kak arya tenang saja. Tentang mas satria , biar lian yang bicara langsung sama Bintang" kata Berlian pada kakaknya waktu mereka berkumpul di ruang keluarga pada malam harinya. 


"Kalau sudah kamu yang minta, kakak ga perlu khawatir. Bintang pasti setuju saja" balas arya yang di tanggapi senyuman lebar oleh adik kesayangannya. 


"Oh ya, kak. Bagaimana keadaan kantornya ?. Rangga nggak macam-macam, kan?" tanya berlian tiba-tiba mencemaskan keadaan perusahaan suaminya. 


"Memangnya ada apa dengan rangga?" 


"Sebenarnya nggak ada apa-apa, sih. Lian cuma ga mau dia mengambil kesempatan di tengah kondisi bintang dan mama yang ngga bisa memantau langsung keadaan perusahaan" jelasnya. 


"Kamu tenang saja. Selama ada kakak, Rangga ga akan bisa berbuat macam-macam" Arya menjawab pasti.


"Tolong ya, kak. Lian yakin, dia punya niat buruk mau menjatuhkan Bintang" 


"Iya, adikku yang bawel" kata arya geregetan dan mengacak rambut adiknya dengan gemas. 


...****************...


"Karin, tolong kamu bawa semua laporan keuangan keruangan saya" perintah Rangga pada sekretarisnya Bintang setelah dia sampai di kantor lebih pagi dari biasanya. 


"Maaf pak, semua laporan keuangan perusahaan ada di tangan pak arya sesuai dengan permintaan pak Bintang sendiri" jelasnya Karina.


"Apa??" Rangga tercengang. 


"Sialan, si copet itu pasti punya niat terselubung" duganya buruk. 


...****************...


"Kamu kenapa?. Kamu ga mau menerima bantuan kakakku?" 


Bintang diam saja. Bintang pun mereeemas lembut jemari suaminya dan menatap laki-laki yang di cintainya itu luruh. 


"Bin, mas satria itu pengacara yang handal dan dia bersedia membantu kamu jika kamu menyetujuinya. Dia juga pernah menangani kasus seperti yang kamu alami dan dia berhasil mengatasinya" 


"kamu suka ya sama dia?" tanya Bintang bernada cemburu. 


"Kamu kenapa tiba-tiba bertanya seperti itu?" Berlian balik bertanya. 


Helaan nafas Bintang terdengar berat. Gejolak jiwanya di buat tak tenang mendengar Berlian sempat-sempatnya memuji laki-laki lain di hadapannya. 


"Kalau kamu ga suka, kamu pasti ngga akan memuji-muji sahabat kakak kamu itu" 


"Bin, kamu cemburu ?" tebak Berlian terarah. 


"Wajar kan, kalau aku cemburu?" 


Berlian tersenyum manis menanggapi pertanyaan suaminya. 


"Kamu sudah tahu kalau aku mencintai kamu, sedangkan aku ga tahu bagaimana isi hati kamu yang sebenarnya. Setiap detik, setiap waktu, aku di buat tak tenang memikirkan perasaan kamu yang sebenarnya. Hampir setiap malam aku ngga bisa memejamkan mata karna hari-hari aku di penjara selalu di hantui rasa takut. Takut kalau di luar sana ada laki-laki lain yang berani mendekati kamu, memperhatikan kamu, bahkan berharap lebih dari kamu, sementara aku ga bisa melakukan apa pun menunjukkan bagaimana cintanya aku sama kamu" 


"Kamu ga percaya sama aku?" tanya Berlian lirih. 


"Bukan. Aku sama sekali ga meragukan kesetiaan kamu" kata Bintang. 


"Aku hanya takut kamu bosan dan lelah mendampingi aku, Lian." Bintang menunduk lemah. 


"kamu lihat aku" Berlian mengangkat wajah suaminya dan menatap mata sendu.


"Kamu ga perlu menunjukkan apa pun untuk membuktikan cinta kamu ke aku. Apa yang kamu lakukan kini, sudah lebih dari cukup membuktikan cinta kamu. Kamu tahu, betapa beruntungnya aku di cintai sedalam ini oleh kamu. Orang yang dulunya aku anggap arogan, ga punya hati, juga rasa cinta, ternyata justru sebaliknya. Kamu laki-laki berhati lembut dan punya hati yang tulus. Kamu punya cinta besar yang tak pernah terbayangkan olehku. Aku manusia paling bodoh, jika aku lelah dan bosan mendampingi lelaki yang memiliki cinta luar biasa seperti kamu" tutur Berlian sepenuh hatinya dan tak terasa air matanya jatuh menetes. Bintang dengan cepat menghapus air matanya. 

__ADS_1


"Aku gak suka dengan perempuan cengeng" katanya dengan senyuman. Berlian pun berusaha membalas senyuman suaminya. 


"Kamu harus tahu, Bin. Kalau sebenarnya aku..." 


"Kamu ga perlu mengatakan apa-apa lagi. Aku percaya sama kamu" potong Bintang. 


"Tapi aku harus mengatakan ini" selanya cepat. 


"Aku cinta kamu, bintang" katanya penuh rasa. 


Bintang termangu dan terhipnotis. Pengakuan Berlian dengan suara sendu, menggetarkan hatinya dengan indah. 


"Kamu mengatakan itu hanya untuk menyemangati aku kan. Kamu pasti ga tega melihat keadaan aku, kan?" Bintang menunda kebahagian yang dia rasakan, sebab dia tak mau Berlian mencintainya karna terpaksa. 


Berlian menggeleng, di raihnya tangan suaminya, lalu menciumi kedua tangan suaminya bergantian. Kemudian dia menatap suaminya dengan lembut. 


"kamu masih ingat waktu kita bertengkar dan kamu menghina aku sebisa kamu?" 


Bintang mengangguk getir. 


"Dan aku sangat menyesali itu, Lian " katanya pelan. 


"Aku tahu itu" balas Berlian dengan sorot mata tak pernah lepas menatap suaminya. 


"Waktu itu aku sempat berfikir mau meninggalkan kamu karna aku kira aku bisa hidup tanpa kamu. Tapi kenyataannya, saat aku baru melangkahkan kaki keluar dari kamar kita, aku justru merasa nyawa aku melayang. Aku memilih bertahan dan bersembunyi di sekitar rumah. Karna aku sadar kalau aku sangat mencintai kamu dan berharap rumah tangga kita bisa di selamatkan" 


"Kamu tahu, kenapa wktu itu aku minta kamu mau menerima syarat yang di ajukan oleh om erwin agar kamu bisa bebas dari segala tuntutan?" 


Laki-laki bertubuh atletis itu menggeleng. 


"Karna aku sangat mencintai kamu. Aku ga mau melihat laki-laki yang aku cintai meringkuk dalam tahanan. Aku rela tersakiti asal kamu bisa bebas" 


Tak tahan, air mata menetes dari sela pelupuk matanya Bintang. 


"Aku mencintai kamu, bintang" senyum Berlian merekah. 


"Aku juga sangat mencintai kamu. Sangat..." balas Bintang. 


Dengan cepat dan penuh kasih sayang, Bintang mendekap dan memeluk wanita yang di cintainya sepenuh hati. Berlian balas memeluk dan menciumi pipi suaminya penuh cinta. 


"Terima kasih, karna kamu sudah mau mencintai aku" kata bintang penuh rasa bahagia. 


Berlian tersenyum penuh makna. Perempuan berhidung mancung itu menikmati setiap detik yang tersisa dalam pelukan suaminya. Di nikmati setiap kecupan mesra dari laki-laki yang di cintainya menyapa kening dan ubun-ubunnya berkali. 


"aku sudah ga sabar ingin bebas dari penjara. Aku sangat ingin menghabiskan waktu berdua dengan kamu seperti ini" ujar Bintang merekatkan pelukannya. 


"Aku juga" kata Berlian yang makin manja memeluk tubuh suaminya. 


"kamu mau ya, menerima bantuannya kak arya? " berlian menengadah dan memasang muka memelas.


"Kalau kamu maksa, apa boleh buat" pasrahnya karna tak tega mengecewakan istrinya. 


"Gitu donk" Berlian senang dan tanpa melihat keadaan, dia langsung mengecup bibir suaminya sekilas. 


Seketika Berlian menunduk malu menyadari ada sepasang mata menangkap basah ulahnya tadi. Bintang justru senyum-senyum nggak jelas mendapat kejutan manis dari istrinya. 


"Oh ya. Bagaimana dengan novel kamu?. Sudah sejauh mana ceritanya?" Bintang mengalihkan pembicaraan pada kesibukan istrinya sebelum dia di jebloskan dalam penjara. 


"Sampai sekarang aku belum sempat mengetik lagi" jawabnya dalam pelukan suaminya yang tanpa bosan membelai rambut panjangnya. 


"Kenapa?. Bukannya novel kamu harus terbit akhir tahun ini?" 


"Sejak kamu di tahan, aku kehilangan semangat dan inspirasi " jelasnya. 


Bintang melepas pelukannya dan menatap pujaan hatinya dengan serius. 


"aku ngga mau karna kasus aku, kreativitas kamu jadi terhambat. Bagaimanapun keadaannya, aku mau kamu tetap menulis. Aku ga mau dengar alasan kamu jadi patah semangat menyalurkan ide cemerlang kamu. Aku ga suka, kamu jadi lemah begini" 


"Iya,,, nanti aku lanjutin menulis novel aku lagi" ujar berlian yang semangat menulisnya bangkit lagi berkat dukungan suaminya. 


"Aku cinta kamu" 

__ADS_1


Berlian menghadiahkan kecupan sayangnya pada kedua pipi suaminya.  Bintang tersenyum dan memeluk istrinya kembali. 


__ADS_2