Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 79. Papa kartika marah


__ADS_3

Butuh waktu sekitar 30 menit bagi bintang memacu kendaraannya sampai di tempat tujuan. Tempat yang waktu pertama kali dia datangi dengan Berlian masih berupa hutan belantara, kini jauh berubah menjadi lahan terbuka yang luas dan siap di kelola menjadi sebuah lahan perkebunan teh sesuai dengan rencana awal. 


"mama, ada apa?. Kenapa mama tiba-tiba menyuruhku datang kesini?. Bukannya sudah bilang kalau sementara waktu ini aku ngga bisa di ganggu dan menyerahkan semua urusan kantor dan perkebunan ke mama?" Bintang langsung menyampaikan protes juga keberatannya karena gara-gara permintaan mamanya, acara jalan-jalan dengan Berlian jadi gagal.


Hal berbeda justru di tunjukkan oleh Berlian yang waktu datang langsung menyalami dan menciumi tangan mama mertuanya, lalu bertegur sapa menanyakan kabar masing-masing dan saling melepas rindu layaknya ibu dan anak kandung yang lama tak bertemu. 


"Kalau memang di perkebunan ini ada masalah, mama bisa minta Rangga atau yang lainnya buat menyelesaikannya" ujar Bintang melanjutkan aksi protesnya. 


"Bintang..." Berlian menggeleng memperingatkan suaminya agar tidak meneruskan aksi protesnya. Berlian berusaha menahan kalimat teguran keluar dari mulutnya agar Bintang bisa mengontrol emosi juga menghargai usaha mamanya karna situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, mengingat ada mama mertuanya bersama orang kepercayaan juga beberapa buruh yang sibuk membersihkan tumpukan rerumputan yang masih berserakan.


"Maaf ma, aku ga bermaksud menyalahkan mama. Aku tadi sedikit terbawa emosi" ujar Bintang menyadari kekhilafannya berkat Berlian.


 


Berlian tersenyum lega, Bintang cepat paham maksud peringatannya tanpa harus bersuara dan berdebat. Berlian pun tak ragu menggenggam erat tangan lelaki yang 5 bulan ini menghiasi hidupnya dalam ikatan suci. 


"mama ngerti, nak. mama tak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan pada Flora tentang proyek perluasan lahan perkebunan kita. Flora tetap ngotot mau membuka lahan perkebunan baru di atas tanah pemukiman warga yang dulu. Sebagai investor, Flora berhak mengajukan keberatannya atas keputusan yang sudah kita sepakati untuk memindahkan lokasi lahan perkebunan baru yang akan kita buka." jelas mama Farida dengan nada putus asa. 


"Apa itu artinya, mama dan bintang akan berubah pikiran dan mau menggusur pemukiman warga?" tanya berlian diliputi rasa cemas.


"Lian, kamu jangan berburuk sangka dulu" sergah Bintang. Dari matanya, Bintang bisa membaca ketakutan dalam diri berlian.


"Aku janji sama kamu, pemukiman itu ngga akan pernah di gusur sampai kapan pun. Aku akan bicara dengan Flora dan mempertegas keputusan aku agar ngga mendebatkan masalah pemukiman itu" janji Bintang sungguh-sungguh. 


"Aku ga mungkin merebut dan menghancurkan sesuatu yang berharga dalam hidupmu, termasuk pemukiman warga tempat di mana kamu lahir dan tumbuh dewasa dengan berbagai kenangan hidup yang kamu lalui" lanjutnya makin serius. 


"Aku percaya sama kamu" Berlian kembali tersenyum dan lega mendengar janji suaminya. 


Bintang ikut tersenyum dan merasakan sebuah kebahagian utuh bisa membuat Berlian tersenyum manis seperti itu. 


"Bin, sebaiknya kamu temui Flora yang lagi debat dengan Rangga. Mama khawatir Rangga ga bisa menekan arogansi wanita itu" suruh mama Farida kepada bintang.


"Dia ada di sini?" tanya Bintang.


 


"Iya, dia dan Rangga sedang berkeliling melihat perkebunan ini secara keseluruhan. Paling mereka belum jauh dari sini" tutur mama Farida.


"Lian, aku mau menyusul Flora, kamu tunggu aku di sini sama mama" ujar Bintang.


 


"aku tunggu kamu di sungai itu saja, ya?. Soalnya aku penasaran pengen melihat keindahan sungai itu" Berlian menunjuk kearah depannya. Kurang lebih 300 meter membentang sebuah sungai yang biasanya di jadikan sebagai sumber irigasi bagi sebagian warga untuk keperluan perkebunan atau pun pertanian.


 


"Sungai?" Bintang melihat kearah yang di tunjuk Berlian. Sungai yang tadinya tertutupi pohon-pohon dan rumput liar, kini terbentang luas setelah lahan di buka dan pohon-pohon di sana ikut di tebang. 


"ngga boleh" larang Bintang tanpa pikir-pikir.


"Kamu ga boleh kemana-kemana. Kamu temani mama di sini" tambahnya. 


"Kenapa?. Nggak ada salahnya kan aku main ke sungai itu?" 

__ADS_1


"Jangan membantah laranganku!!" sela Bintang dengan nada tinggi, membuat Berlian terdiam dan kebingungan kenapa Bintang begitu tegas melarangnya main ke sungai yang mengundang rasa penasarannya sejak mereka melewati perjalanan cukup panjang menuju perkebunan. 


"Lian, kamu nurut saja apa kata suami kamu" kata mama Farida.


"ma, aku titip lian. Jangan biarkan dia mendekat atau pun menghampiri sungai itu" pesan Bintang kepada mamanya. 


"Aku mau menyusul Flora dulu. Kamu ingat pesan aku baik-baik" pamit Bintang setelah menitipkan pesan pada mamanya ,baru Bintang mengecup kening Berlian. kemudian dia berjalan di temani oleh orang kepercayaan mamanya. 


"Ma kenapa sih Bintang ngotot banget melarang lian main ke sungai itu?. Memangnya ada yang salah dengan sungai itu?" Berlian bertanya setelah suaminya sudah jauh dari penglihatannya. 


"Maklum saja, Lian!. Suami kamu kan pernah hanyut di sungai waktu kecil dan dia trauma sekali dengan namanya sungai. Makanya sampai sekarang dia ga bisa berenang karna traumanya itu tak kunjung hilang" jawab mama Farida.


"Hanyut di sungai?. Kok bisa?" tanya Berlian penasaran ingin tahu apa penyebab Bintang bisa hanyut. 


"Itu, Bintang kan.." mama Farida cepat sadar dan diam. Hampir saja dia keceplosan menceritakan kejadian sebenarnya. khawatir Berlian marah dan meninggalkan Bintang jika tahu cerita di balik kematian ibunya yang sebenarnya. 


"Bintang kan dulu anaknya ga bisa diam, ga mau di kasih tahu. Dia ngotot main di sungai sampai dia tergelincir dan hanyut. Beruntung waktu itu ayahnya cepat melihat dan menolong. Kalau ngga, mama ga bisa membayangkan bagaimana nasibnya" cerita wanita paruh baya itu terpaksa berbohong demi keutuhan rumah tangga putranya. 


"Jangan di kenang lagi, mama. Lian mengerti bagaimana perasaan mama saat itu karna lian juga pernah merasakan hal yang sama ketika almarhumah mama hanyut dan meninggal" ucap berlian tersenyum getir mengenang masa tersulit dalam hidupnya. 


"Kamu jangan bersedih terus. Biar pun ibu kamu sudah meninggal... ada mama di sini, nak. mama sudah menganggap kamu seperti anak kandung sendiri" hibur nama farida dengan tulus. 


Berlian tersenyum haru mendengar penuturan mama mertuanya. Dia pun memeluk wanita itu.


 


"Lian, kayaknya mama ga bisa lama-lama di sini. Kepala mama dari tadi pusing sekali memikirkan masalah di perkebunan ini" keluh mama Farida sambil memegang kepala bagian kirinya. 


"Nggak usah, mama pulang di temani mang asep. Kamu tunggu suami kamu saja. Nanti dia bisa marah kalau di tinggal begitu saja" tolak mama Farida halus mengingatkan Berlian.


"Kalau begitu biar lian temani mama sampai ke mobil" 


Berlian merangkul dan membantu mama mertuanya berjalan menuju mobil.


"Nak, kamu sama bintang jangan kelamaan menginap di villa. Mama kesepian ga ada temannya di rumah" kata mama farida begitu masuk kedalam mobil berwarna hitam. 


"kami akan secepatnya pulang, ma" kata Berlian dengan senyum meyakinkan. 


...****************...


Untuk ketiga kalinya Arya hilir mudik di tempat yang sama. Tempat yang tadi dia sempat menolong Kartika dari copet. 


"Surat itu sebenarnya hilang di mana sih?. Sudah 3 kali aku bolak-balik ke jalan ini, tapi tetap saja suratnya ga ketemu" ujar Arya hilir mudir tak tentu sambil melihat sana-sini mencari benda yang dia maksud. Padahal dia sangat yakin, surat itu tercecer di jalan itu bukan di tempat lain. 


"Sial..." umpat lelaki itu menendang kesal botol mineral yang terdapat di pinggir jalan. 


"Surat itu pemberian terakhir Bella dan aku belum sempat membacanya" Arya bergumam getir mengingat surat yang di serahkan oleh ibu dewi waktu pemakaman Bella beberapa hari yang lalu. 


"Bodoh... kenapa aku ga baca surat itu dari pertama kali tante dewi menyerahkannya buat ku" umpatnya memaki kecerobohan dirinya sendiri.


 


"Aku harus menemukan surat itu. Aku harus tahu apa yang di pesan Bella dalam surat itu untukku" tekad Arya kuat dan tak mau patah arang menemukan titipan terakhir untuknya. 

__ADS_1


...****************...


Suara ribut dari dalam rumahnya yang biasanya tenang dan damai membuat Kartika bergegas masuk dan mencari tahu ada kejadian apa dalam rumahnya. Dari suara yang dia dengar, Kartika bisa langsung memastikan suara ribut-ribut itu berasal dari kedua orang tuanya yang tengah berselisih.


 


"Papa... papa sudah pulang?" seru Kartika girang melihat sosok lelaki tegap yang dia rindukan berdiri di hadapannya. 


Tanpa banyak kata dan bertanya ada apa, Kartika menghambur memeluk papanya erat. 


"Pa...papa kapan pulangnya?. Kenapa papa ga bilang dulu kalau mau pulang, tika kan bisa jemput papa" cecar Kartika bertubi-tubi. 


"Tika, papa pulangnya mendadak dan ga sempat memberitahu kepulangan papa" ujar lelaki paruh baya yang terlihat masih segar itu.


"tika, kamu masuk ke kamar. Mama masih mau bicara dengan papa kamu" suruh mamanya Kartika pada putri kandungnya. 


"Kamu tetap di sini saja. Papa juga mau bicara sama kamu" sela papa kartika menahan putrinya. 


"Mama dan papa sebenarnya mau bicara apa?." Kartika mengendus hal tak beres di tengah keluarga nya. 


"Tika, kamu jawab pertanyaan papa dengan jujur. Apa benar Bintang sudah menikah dengan perempuan lain ?. Dan perempuan itu tak lain adalah sahabat kamu sendiri?" 


Kartika sontak terkejut dan tak tahu mesti menjawab apa. Usahanya menyembunyikan pernikahan Bintang dari papanya sirna sudah. Dia hanya bisa melirik meminta bantuan mamanya sebab dia tak berani membantah atau pun membohongi papanya karna dia kenal betul karakter papanya yang keras. 


"Jawab pertanyaan papa, apa benar Bintang menikah dengan Berlian?" bentak papa kartika .


 


"Benar pa" jawab Kartika pelan dan tertunduk takut menghindar dari kilatan kemarahan papanya. 


"Keterlaluan!!" bentaknya memukul meja di depannya meluapkan emosi yang tak bisa di tahan lagi, membuat istri dan anaknya terkejut bersamaan. 


"Farida sudah berani mempermainkan keluarga kita. Harusnya dia menjodohkan bintang dengan mu, bukan teman kamu yang ngga tahu diri itu"geramnya. 


"Pa, sudah donk!. Berhenti menjodohkan ku dengan dia. Dia sudah punya kehidupan sendiri. Biarkan Bintang hidup bahagia dengan keluarga barunya bersama Berlian. Berlian bukan orang lain bagiku. Kami itu sahabatan dan dia itu perempuan baik-baik dan pantas jadi pendamping Bintang" ujar Kartika berusaha menenangkan dan memberi pengertian pada orang tuanya yang dari dulu begitu semangat menjodohkannya dengan Bintang. 


"Tidak bisa" bantah papanya. 


"Perempuan yang pantas jadi pendamping Bintang itu cuma kamu. Berlian itu cuma gadis miskin yang selalu jadi benalu dalam kehidupan orang lain. Dari dulu papa sudah larang kamu berbaur dengan dia karna papa tahu bagaimana watak gadis miskin seperti dia. Dan dugaan papa ga meleset, dia sengaja menikam mu dari belakang dan merebut Bintang darimu" 


"Pa, lian ngga seperti itu" bela Kartika.


"Kamu ga perlu membela gadis miskin itu!" sela laki-laki berambut klimis itu tak mau di bantah.


"Papa akan temui Farida dan buat perhitungan dengan dia" 


"Pa...jangan!" cegah istrinya yang dari tadi hanya bisa diam.


 


"Kalian jangan ikut campur!. Ini urusan papa, biar papa yang selesaikan sendiri masalah ini" tekan papa kartika tak surut dengan niatnya. 


kartika dan mamanya hanya bisa diam dan membiarkan pak Erwin pergi menemui mama Farida.

__ADS_1


__ADS_2