
Kesabaran Berlian sudah habis dan tak ada toleransi lagi berlapang dada . Nalarnya sudah tak bisa membiarkan harga dirinya di injak-injak oleh suaminya sendiri, Berlian mengayunkan tangan mau menampar Bintang. Namun, Berlian masih sadar posisi Bintang sebagai suaminya. Berlian menahan tangannya yang tinggal beberapa inchi melayang tepat di pipi kanan Bintang.
"Mau tampar aku?. Tampar..." tantang Bintang. Tapi Berlian masih berusaha menahannya.
"Kenapa kamu tidak tampar?" sengit Bintang.
"Oh, aku tahu. Kamu tidak mungkin sanggup menampar aku karena kamu sadar kalau apa yang aku katakan memang benar adanya kalau kamu memang menikah denganku hanya karna harta"
"PLAKK.." tamparan keras dari Berlian menyudahi kalimat Bintang yang menyakitkan.
"PLAKKK.." satu tamparan lagi menyusul tepat di pipi kiri Bintang.
"Berani kamu ya..." hardik Bintang sekuat tenaga begitu pipinya jadi persinggahan kerasnya tamparan Berlian. Tatapannya tajam menahan amarahnya.
"Kamu sudah sangat rendah menilai aku tuan Bintang Pratama" ujar Berlian tak bisa lagi meredam emosi dan rasa sakit hatinya yang teramat dalam.
Berlian pun berjalan menghampiri lemari pakaiannya dan mengeluarkan semua pakaian yang beberapa hari yang lalu di belikan Bintang. Tak lupa dengan kotak perhiasan juga kartu ATM nya.
"Ini semua barang pemberian kamu aku kembalikan semua dengan utuh" Berlian melempar baju-baju tersebut dengan kasar ke wajah Bintang.
"Ini kartu ATM, perhiasan, pemberian darimu. Kamu ambil kembali semua pemberianmu . Aku tidak butuh semua ini"
Berlian benar-benar membuat Bintang geram di lempari dengan pakaian, lalu kartu ATM, dan perhiasan yang di serahkan dengan kasar ke tangannya.
"Kamu boleh cek kartu ATM mu, aku sama sekali tidak menyentuh uang kamu sepeser pun" kata Berlian menggebu.
__ADS_1
"Sekarang aku baru mengerti, kenapa Bella bisa jatuh ke pelukan kakakku. Semua tak lepas dari sikap arogan dan ucapan kamu yang tidak kenal tata krama. Tidak akan ada satu orang wanita pun yang sanggup bertahan hidup dengan laki-laki tak punya hati seperti kamu meski di iming-iming dengan kekayaanmu yang tak terhitung itu. Kakakku jauh lebih baik dari pada kamu dan kamu tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan kakakku yang kamu cap bajing*n" cerca Berlian meluapkan kemarahan yang dia tahan dari tadi.
"Jaga bicara kamu" bentak Bintang tak terima dengan cercaan istrinya dan tangannya mengepal seolah mau memukul sesuatu apa saja, asal bukan Berlian.
"Kenapa?. Kamu tidak terima dengan perkataan ku?" sengit Berlian.
"Kamu mau pukul aku, pukul..." Berlian balik menantang suaminya tanpa takut, tanpa air mata.
"KAMU..." gerta Bintang dengan rahang mengatup menahan kemarahannya yang sebentar lagi tak bisa di tahan.
"Jangan mentang-mentang kamu orang kaya dan terpandang, kamu bisa dengan seenaknya menginjak-injak harga diriku. Bukan hanya kamu yang kaya dan bisa menghasilkan uang sendiri. Di luar sana, banyak orang yang berhati tulus bersedia membantuku tanpa pamrih. Aku lebih rela mengemis pada mereka di banding dengan kamu suamiku sendiri, tapi tak punya perasaan sedikitpun mengatai istrinya dengan kata-kata kotor yang tidak bisa di maafkan"
"Kalau bukan karna mama dari awal melarang ku bekerja, mungkin aku sudah bisa menghasilkan uang sendiri dan aku tidak harus di hina serendah ini oleh suamiku sendiri. Kamu juga harus tahu Bin, aku bertahan dan bersabar mendampingi dan mempertahankan rumah tangga kita, bukan demi kamu. Aku bertahan karna aku sangat menyayangi mama seperti ibu kandungku sendiri dan aku juga sangat menyayangi kakek juga nenekku. Aku bertahan meladeni arogansi juga ego kamu karna aku tidak mau mengecewakan mereka. Kalau bukan karna mereka, dari awal aku sudah ingin mengakhiri pernikahan ini" ujar Berlian panjang lebar mengeluarkan apa yang selama ini dia rasakan, membuat Bintang terdiam seribu bahasa dan bagai di cambuk berkali-kali oleh penuturan Berlian yang melempar jauh harga dirinya.
"Aku bisa hidup tanpa kamu dan aku juga bisa hidup tanpa menyentuh sepeser pun kekayaan kamu"
Berlian melepas alas kaki yang dia pakai, karna itu sandal pemberian Bintang sebelum keluar dan berlari meninggalkan Bintang yang termangu di tampar oleh kata-kata Berlian.
"Brengs*k..." umpat Bintang berteriak keras begitu Berlian menghilang. Kotak perhiasan, kartu ATM yang di kembalikan Berlian tadi di banting dengan keras kelantai. Perhiasan berserakan disana sini mengotori lantai bersama dengan baju-baju yang di lempar oleh Berlian tadi.
"Aaaaaarrrggghh...." tak puas, Bintang menarik ujung sprei tempat tidur hingga bantal dan guling berjatuhan.
"Keterlaluan kamu Berlian....keterlaluan..."
__ADS_1
"Prang... prang... prang..."
Perlengkapan make up milik Berlian juga berjatuhan di libas oleh Bintang yang seperti kerasukan. Kursi meja rias pun di hantam bertubi-tubi olehnya. Lukisan yang menggantung pun di copot dan di lempar begitu saja. Jadilah kamar tersebut seperti kapal pecah.
Nafas Bintang pun tersengal-sengal dan dia sudah kehabisan tenaga. Tubuhnya pun merosot lemah dengan tatapan kosong.
...****************...
Berlian terus berlari dan meringkuk di suatu tempat tanpa alas kaki. Dia yang tadinya begitu kuat dan tegar di hadapan Bintang kini justru terlihat lemah dan rapuh. Berlian menangis sejadi-jadinya setelah tadi mampu menahan air matanya agar tak menetes di hadapan Bintang. Berlian yang kuat, kini lemah. Berlian yang tegar, kini menangis.
"Apa salah aku sama kamu Bintang?. APAAA???" teriak Berlian histeris di iringi tangisnya yang tak mau berhenti menetes. Segala hinaan dari Bintang, sungguh sangat menggoreskan luka yang menyayat hati.
...****************...
"Lebih baik lukaku membusuk dari pada aku menerima uang pemberian kamu"
Penolakan Berlian akan setumpuk uang yang dia beri waktu pertama kali mereka bertemu terngiang jelas di telinga Bintang. Gambaran bagaimana Berlian melempar uang ke mukanya juga teringat jelas olehnya.
"Satu baju ini saja cukup, aku kan tidak mau morotin kamu" ucapan Berlian di mall pun hinggap.
"ini semua kamu yang beri, bukan aku yang minta, lho ya"
Air mata Bintang menetes tanpa sadar saat ia di ingatkan atas sikap-sikap Berlian yang selama ini tidak pernah menunjukkan kalau dia gila harta seperti apa yang dia tuduhkan.
Baju-baju yang berserakan , perhiasan yang belum sempat di pakai oleh Berlian masi utuh, tak ada yang hilang, juga kartu ATM yang di katakan Berlian belum di sentuh uangnya sepeser pun mengoyak kesadaran Bintang akan kebodohannya yang teramat sangat karna begitu mudahnya termakan emosinya.
"Kalau bukan karna mereka, sudah dari awal aku mau mengakhiri pernikahan ini"
__ADS_1
"Aku bisa hidup tanpa kamu,Bin"
"TIDAK..." teriak Bintang begitu sadar dari ingatannya akan perkataan Berlian tadi. Ketakutan pun menghinggapi hatinya memaknai kata-kata tersebut.