Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 13. Usaha Berlian


__ADS_3

"Dasar cowok genit" Berlian menggosok bibirnya berkali-kali karena saking kesalnya mengingat kejadian tadi siang.


"Lian, kamu kenapa gosok-gosok bibir kamu kayak begitu?" tanya kakek Dharma heran melihat kelakuan cucunya.


"Itu, tadi ada nyamuk gigit" jawab Berlian sekenanya.


"Kalau tanah ini memang sudah di hibahkan oleh pak Wiguna, berarti kakek punya surat-surat yang menjelaskan tentang penyerahan tanah ini untuk kakek dong?" ujar Berlian kembali pada pokok permasalahan karena hal itu yang terpenting saat ini.


"Itu dia masalahnya. Surat penyerahan tanah hibah itu sudah di buat, namun belum sempat di tanda tangani oleh pak Wiguna karena beliau keburu meninggal dunia" jelas kakek Dharma.


Mendengar penjelasan kakeknya, Berlian terlihat lesu tak bertenaga. Posisi kakeknya sangat lemah di mata hukum jika bukti-bukti kepemilikan tanah saja kakeknya tidak punya.


"Berarti posisi kita lemah, kek. Perusahaan Pratama bisa dengan mudah merebut kembali tanah ini dan mereka bisa menggusur kita kapan pun mereka mau." ujar Berlian.


"Tidak bisa. Sampai kapan pun kakek tidak akan membiarkan siapa pun mengambil tanah milik kita" sambar kakek dharma sangar.


"Kek, secara hukum kita sudah kalah. Kita tidak punya bukti-bukti kuat untuk mempertahankan tanah ini. Keluarga Pratama bisa dengan mudah menuntut kita di pengadilan" jelas Berlian.


"Kakek tidak peduli. Sampai mati pun kakek akan mempertahankan tanah ini karena tanah ini memang milik kita. Kakek yang susah payah membuka tanah ini dari hutan belantara menjadi pemukiman seperti ini. Setelah tempat ini terbuka lalu mereka dengan seenaknya mau mengambilnya dari kakek?. Enak saja!" kata kakek Dharma berapi-api.


"Apa yang di katakan kakek kamu benar. Tanah ini dulunya hutan belantara sebelum pak Wiguna menghibahkannya pada warga sini. Keluarga pratama tidak bisa begitu saja mengambil tanah ini" nenek Aminah ikut nimbrung dengan membawa sepiring singkong rebus yang masih panas dari dapur.


"Biar masalah ini Lian coba bicarakan baik-baik dengan keluarga pratama" ujar berlian memberi solusi agar bisa menenangkan emosi kakeknya yang sulit di bendung.


...****************...


"Dasar gadis kampung. Sial sekali hidup ku berciuman dengan gadis kampungan seperti itu. Apa kata orang-orang kalau mereka sampai tahu kalau seorang Bintang Pratama yang terpandang mencium gadis kampung yang kelasnya jelas jauh di bawah ku" Bintang tak hentinya ngedumel sambil hilir mudik di kamarnya.


"Kenapa aku harus memikirkan masalah ciuman itu sih?"

__ADS_1


"Ahhhh...bodoh ah... mending aku tidur sekarang dari pada energi ku terkuras memikirkan gadis kampung itu" Bintang membaringkan tubuhnya dengan malas di atas kasurnya.


...****************...


Dengan niat baik dan ingin bicara baik-baik, Berlian menemui Bintang hari ini di kantornya. Berlian membuang jauh-jauh gengsinya demi membantu kakeknya. Tapi, Berlian harus bersabar karena Bintang masih sibuk meeting dengan kliennya.


Ketika meeting selesai dan Bintang keluar dari ruangan, kliennya juga sudah berpamitan, berlian segera mendekat.


"Bintang, aku ingin bicara denganmu" katanya langsung.


"Kamu, kenapa kamu ada di kantorku?" ketus Bintang menyambut tamu tak di undang.


"aku kesini karena mau membicarakan masalah penggusuran yang akan kamu lakukan di pemukiman tempat aku tinggal" ujar Berlian.


Bintang menyilangkan kedua tangannya di dada, keningnya juga mengkerut melihat gadis di depannya yang tidak seperti biasanya. Berlian terlihat lebih tenang dan sabar. Beda sekali dengan berlian yang sebelumnya norak dan kampungan.


"Kita bicara di ruangan ku" cetus Bintang setelah berpikir ada untungnya Berlian datang karena bisa mempermudah urusannya dalam percepatan masa penggusuran yang akan dia lakukan.


"Silahkan duduk" Bintang mempersilahkan tamunya duduk dan dia berjalan mendekati mejanya mengambil sebuah file, lalu kemudian duduk berhadapan dengan berlian di sofa ruang kerjanya.


"Ini file yang berisi persetujuan penggusuran yang akan kami lakukan lengkap dengan ganti rugi yang sepadan. Kamu tinggal tanda tangani" Bintang meletakkan file tersebut lengkap dengan pulpennya.


Berlian saat itu juga merasa tersinggung dengan perlakuan Bintang yang tanpa basa-basi. Ingin rasanya Berlian melempar file dan pulpen tersebut ke wajah angkuh Bintang. Tapi semua di tahan karena Berlian sadar posisinya saat ini lemah secara hukum.


"Maaf, aku kesini bukan untuk menyetujui keinginan kamu. Aku datang menemui kamu untuk meminta supaya kamu memikirkan ulang rencana penggusuran yang akan kamu lakukan. Tanah yang kami tempati sekarang adalah tanah yang sudah di hibahkan oleh kakek kamu terhadap warga sana juga kakekku. Otomatis tanah tersebut memang milik mereka"


"Apa kamu punya bukti yang menyatakan kalau tanah ini memang pemberian dari kakek ku?" sela Bintang dengan sorot mata dingin.


"Surat penyerahan tanah sempat di buat tapi belum sempat di tanda tangani oleh kakek kamu karena kakek kamu keburu meninggal sebelum menanda tangani surat tersebut" kata Berlian sesuai dengan apa yang di ceritakan kakeknya.

__ADS_1


"Omong kosong. Orang miskin seperti kalian hanya bisa mengarang cerita agar bisa menguasai tanah itu dengan seenaknya. Apa tidak ada alasan lain yang lebih masuk akal untuk mengelak kalau selama ini kalian memang sudah menempati lahan perusahaan yang kalian curi diam-diam?!"


Berlian tersentak dan berdiri begitu mendengar tuduhan pedas yang keluar dari mulutnya Bintang . Dia mati-matian membuang gengsinya hanya untuk meminta pengertian Bintang dan yang dia dapat hanyalah sebuah hinaan.


"Kamu sudah sangat keterlaluan merendahkan kami. Aku datang kesini baik-baik menyampaikan penjelasan warga yang akan kamu gusur. Kamu bukannya menanggapi dengan baik, tapi justru menghina niat baik warga seperti ini"


"Niat baik" sengit Bintang yang kini juga berdiri.


"Selama ini justru perusahaanku yang sudah begitu baik membiarkan kalian menempati tanah perusahaan sesuka hati tanpa seizin Perusahaan. Sebagai pemilik sah secara hukum, aku berhak mengambil kembali apa yang sudah menjadi milikku, termasuk menggusur rumah penduduk kampung sekalian" tandas bintang kuat.


"Kamu terlalu sombong Tuan Bintang dan kamu juga terlalu muda untuk tahu sejarah dari kepemilikan tanah itu makanya kamu dengan mudah berkoar semau hatimu" balas Berlian tak mau di sudutkan.


"Kamu tidak perlu banyak bicara. Tanda tangan file ini. Masalah selesai, kamu mendapat ganti rugi yang cukup besar. Kurang baik apa coba perusahaan pada warga kampung yang sudah dengan jelas merampas tanah milik perusahaan keluargaku"


Bintang meraih file juga pulpen tadi dan menyerahkannya ke tangan Berlian.


"Tanda tangan" perintahnya seenaknya.


"Kamu mau aku menanda tangani ini" Berlian membuka file ber map merah itu dengan sorot mata tak lepas menatap keangkuhan di matanya.


"Krekk..krekk..krekk" Berlian merobek file tersebut menjadi beberapa bagian.


"Kamu..." Bintang menggertak geram dengan sorot mata tajam berapi. Tinjunya mengepal menahan amarah atas penghinaan yang dia terima.


"Ini jawaban ku atas permintaanmu" Berlian menyerahkan robekan kertas perjanjian ke tangan Bintang, lalu beranjak keluar dari ruang kerja milik pemuda angkuh tersebut.


"Di dunia tidak ada seorang pun yang boleh merendahkan ku" Bintang geram sambil meremas kuat robekan kertas yang dia pegang. Bintang spontan menyusul dan menarik lengan Berlian sebelum keluar dari ruangannya.


"Kamu sudah berani mencari perkara denganku. Robekan kertas ini ibarat puing-puing rumah mu yang akan hancur." ujar Bintang sambil menurunkan satu persatu potongan kertas tersebut di depan mata Berlian.

__ADS_1


"Kamu orang yang berkuasa Tuan Bintang. Kekayaan kamu akan membuat siapa pun tunduk dengan mau mu. Tidak dengan aku. Kemiskinan ku adalah harga diriku. Jangan kamu pikir aku akan takut menghadapi ancaman mu" Berlian menyentak tangannya namun Bintang menahan hingga tubuh Berlian terhenyak merapat dengan tubuh Bintang. Tatapan mata Bintang yang tajam tiba-tiba saja luluh ketika dia dan Berlian beradu pandang cukup dekat. Kekuatan yang di milikinya melemah, pegangan tangannya terhadap lengan berlian terlepas begitu saja. Berlian pun dengan mudah bebas dan melenggang keluar. Berdekatan dengan Bintang tadi mengingatkan dia atas insiden kemarin siang yang menimbulkan rasa bersalahnya pada Rangga.


__ADS_2