
Tiga hari sebelum kematian almarhum meminta saya datang menjenguknya ke rumah sakit. Ketika saya datang, saya melihat Rangga ada di sana tengah menjaga pak Reza. Saat itu pak Reza lagi beristirahat dengan nyenyak dan saya mendengar pengakuan Rangga yang mengejutkan"
"Pengakuan apa?" potong Arya.
"Ar, biarkan pak yadi menyelesaikan ceritanya" tegur Satria pada sahabatnya.
"Maaf..." ujar Arya.
Pak yadi mengangguk dan terdengar helaan nafas yang berat keluar dari hidungnya.
"Rangga mengakui kalau dia adalah penyebab kematian Bulan sebenarnya. Ketika Bintang meninggalkan Bulan sendirian dalam mobil, pintu mobil di biarkan terbuka. Saat itu Rangga mau mengambil mainannya yang tertinggal di dalam mobil. Mainannya ternyata di rusak oleh Bulan. Rangga tak terima, dia marah dan dengan sengaja mengunci pintu mobil. Bulan terkurung seharian hingga nyawanya melayang. Ternyata pak reza mendengar semua pengakuan rangga, pak Reza marah besar dan mengusirnya pergi. Kemudian saya masuk, pak reza langsung meminta saya membuat surat pernyataan minta maaf terhadap Bintang juga ibu Farida. Beliau juga meminta agar kasus kecelakaan yang menimpanya jangan pernah di permasalahkan lagi termasuk kematian bulan karna pak reza ingin menikmati sisa hidupnya dengan tenang karna penyakit yang bisa menyebabkan kematian yang di idap dan sengaja dia sembunyikan dari siapapun"
"Brengsek, ternyata Rangga penyebab dari semua ini" geram Arya mendengar cerita dari pak Yadi.
...****************...
"Mama, jangan laporkan Rangga ke polisi. Rangga mengaku salah. Rangga akan pergi ke kalimantan asalkan mama mencabut laporan " pinta Rangga memohon dan berlutut di depan kaki mama Farida.
"Terlambat!. Mama sudah tidak bisa lagi percaya sama kamu. Kamu sudah mencoba mencuri semua dokumen rahasia perusahaan juga semua aset kekayaan keluarga . Apa yang kamu lakukan sudah tidak bisa di maafkan lagi"
"APA??. Rangga mencoba mencuri dokumen beserta aset kekayaan keluarga kita?" bentak suara lantang dan berat yang datangnya dari arah pintu masuk.
"Bintang, Lian..." ujar mama Farida sulit menyembunyikan keterkejutan juga fakta yang di dengar langsung oleh putranya.
Rangga berdiri, hidupnya makin terjepit, jalan keluar pun terasa sempit karna kehadiran Bintang yang tak terduga. Ada juga Berlian yang menatapnya jijik atas kelakuannya.
Bintang melangkah tegap dan berani. Sorot matanya tajam dan siap menerkam mangsanya. Kemarahannya di buat menjadi-jadi begitu tahu kelakuan busuk Rangga lainnya selain mencoba mencelakai Berlian.
"Dasar bajingan kamu"
__ADS_1
Tangan kekar Bintang memukul keras perutnya Rangga hingga terjungkal ke lantai. Dua satpam yang tadinya di tugaskan mama Farida berjaga-jaga agar rangga tak bertindak di luar batas coba melerai.
"Kalian jangan ikut campur, ini urusanku" hardiknya pada dua satpam tersebut. Satpam itu pun tak berani melawan.
Rangga coba melawan, tapi Bintang terlalu tangguh. Berkali-kali mukanya jadi sasaran kepalan tinju Bintang yang keras.
"Bintang, cukup. Jangan main kekerasan seperti ini. Aku mohon, tahan emosi kamu" ucap Berlian coba menarik lengan suaminya.
"jangan, nak" suara mama Farida tertahan suara tangisnya.
"Lian,lepasin aku. Biar aku beri pelajaran orang tak tahu diri ini. Dia mau mencuri semua harta kekayaan keluargaku, bagi aku itu ga ada masalah. Tapi, dia sudah coba mau membunuh kamu, dan aku ga akan pernah terima itu"
Mama Farida menutup mulutnya. Beliau semakin syok mengetahui kejahatan lain anak angkatnya yang di luar batas kemanusian.
"aku mengerti kamu marah pada nya ,kamu kecewa, tapi jangan melampiaskannya menggunakan cara kekerasan seperti ini" Berlian tak bosan terus mengingatkan suaminya.
"kamu nggak apa-apa kan, Bin?" Berlian memeluk dan membantu suaminya berdiri.
"Aku nggak apa-apa " kata Bintang sambil menahan sakit di perutnya.
"Lepasin... lepasin aku... Biar ku Habisi si pembunuh itu" Rangga meronta minta di lepaskan dari cekatan satpam-satpam bertubuh kekar di samping kanan dan kirinya.
"Hutang nyawa di bayar nyawa. Karna kamu aku harus kehilangan orang-orang yang aku cintai. Gara-gara mengikuti kemauan kamu untuk merayakan hari ulang tahun kamu, aku harus kehilangan mama dan papa angkat ku. Mereka berdua adalah malaikat penyelamat ku, orang tua yang selalu aku mimpikan setelah sekian lama hidup di panti asuhan. Tapi, kamu mengambil mereka dariku. Kamu juga mengambil om Reza dari ku. Satu-satunya orang yang menyayangiku setelah mama dan papa meninggal. Bahkan kamu kembali merebut semua perhatian mama setelah om Reza meninggal. Semua kasih sayang mama tercurah buat kamu, sedangkan aku hanya di jadikan bayang-bayang kamu" koar Rangga meluapkan apa yang di rasakannya selama ini.
Bintang terhenyak, dia di buat tak bertenaga jika masalah kematian ayah tirinya di ungkit termasuk acara liburan ulang tahun sesuai atas kemauannya dulu.
"kamu tidak bisa menyalahkan Bintang atas kematian orang tua angkat kamu juga kematiannya om reza. Hidup dan matinya seseorang itu Tuhan yang tentukan" ujar Berlian berusaha memberi pengertian pada Rangga.
"Bukan hanya kamu yang merasa kehilangan atas kematian om reza juga orang tua angkat kamu. Bintang juga merasakan hal yang sama karna dia sendiri juga kehilangan ayah kandungnya" tutur mama Farida berusaha melunakkan hati putra angkatnya.
__ADS_1
Dari depan pintu masuk terlihat bi sumi membimbing tamu berseragam masuk yang jumlahnya ada 5 orang. Rangga di buat lunglai seketika.
"Permisi, kami dari kepolisian. Kami baru saja mendapat laporan bahwasanya di rumah ini terjadi perampokan" ujar salah seorang pihak kepolisian yang datang.
"Benar pak, dan itu orangnya" mama Farida menunjuk tegas kearah Rangga.
"Orang itu juga coba melakukan pembunuhan terhadap istri saya" tambah Bintang.
"Kami tunggu laporan anda di kantor polisi" balas polisi yang pangkatnya lebih tinggi dari 4 rekannya.
"Sersan , tangkap orang ini"
"Siap, laksanakan"
Polisi itu sigap memborgol kedua tangan rangga, di bantu rekan lainnya. Rangga menatap Bintang penuh dendam dan tersenyum licik kearah Berlian yang dari tadi setia merangkul suaminya. Berlian dapat membaca skenario yang akan di mainkan Rangga. Dia siap untuk itu.
"Kamu pikir, kamu sudah menang melawanku?. Wanita yang kamu cintai setengah mati sama sekali ngga pernah mencintai kamu. Selama ini dia hanya pura-pura bilang sayang dan cinta sama kamu. Karna sayang dan cintanya Berlian hanya untukku. Sebelum kamu menikahi Berlian, dia adalah kekasihku. Kami saling mencintai dan sudah berencana mau menikah. Tapi kamu dan mama sudah menghancurkan rencana bahagia kami"
"Asal kamu tahu, Berlian mau menikah dengan kamu atas permintaan ku. aku yang membujuk agar dia mau menerima lamaran kamu. Kasihan sekali kamu Bintang Pratama, karna selama ini kamu sudah di bohongi olehnya" Rangga tertawa puas setelah membuka rahasia hubungannya dengan Berlian di masa lalu.
Mama Farida dan Bintang sama-sama terkejut mendengar pengakuan Rangga.
"Kamu itu hanya seorang pembohong besar. Tidak akan ada orang yang percaya mendengar cerita kamu" Bintang lebih percaya kata hatinya.
"Maaf pak, lebih baik bapak bawa orang ini" lanjut Bintang bicara pada pihak kepolisian.
"Kamu boleh ga percaya padaku. Tapi, kamu pasti percaya dengan Berlian. Kamu boleh tanyakan langsung pada istri kamu yang cantik ini. Atau, kalau perlu kamu periksa lemari pakaianku. Di sana masih tersimpan foto kenangan waktu kami pacaran. Dan aku masih menyimpan surat cintanya Berlian yang mengatakan betapa besarnya cinta dia buat ku" Rangga terus berkoar menantang Bintang membuktikan perkataannya sambil di bawa pihak kepolisian. Rangga pun hilang.
Keadaan yang tadi ramai , kini hening. Tantangan dari Rangga juga kecurigaannya selama ini terjawab sudah.
__ADS_1