Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 63. Sikap tak biasa Kartika


__ADS_3

Berlian baru saja mengayuh sepedanya tak jauh dari toko buku milik sahabatnya saat 2 orang preman datang menghadang jalannya. Kedua preman itu adalah preman yang pernah memukuli Arya beberapa waktu lalu.


"Dimana kamu sembunyikan kakakmu?" bentak salah seorang sambil berkacak pinggang dan memasang tampang sangar.


"aku ngga tahu" jawab Berlian berusaha tenang. 


"Jangan bohong" hardik preman satunya lagi yang tak kalah sangar nya menyela jawaban Berlian.


"Aku sama sekali ngga bohong. Selama ini kak Arya ngga pernah mau memberitahu di mana dia tinggal" 


"Kalau begitu kamu ikut kami sebagai jaminan atas utang-utang kakakmu yang belum lunas" 


Tanpa basa-basi kedua preman itu menarik paksa tangan Berlian. Berlian terpaksa turun dari sepedanya dan membiarkan kendaraan tak bermesin itu jatuh ke tanah.


 


"Beri aku waktu untuk melunasi hutang kakakku. Aku janji akan melunasinya tepat waktu" Berlian berusaha bernegosiasi dengan kedua preman yang terus menyeret dan memaksanya ikut. 


"Ahhh..kamu jangan kebanyakan bacot. Dari dulu kakakmu bilangnya juga begitu, tapi tidak pernah di buktikan" ujar si preman.


...****************...


Senyum lelaki tampan itu tak pernah lepas selama mengendarai mobilnya. Perasaannya begitu berbunga-bunga membayangkan sebentar lagi dia akan bertemu dengan pujaan hatinya dan dia sudah siap membawa makanan kesukaan Berlian.


"Lian...!!!" Bintang ngerem mendadak. Senyumnya berubah geram melihat Berlian di tarik paksa oleh dua orang preman. Tak mau buang waktu Bintang segera turun hendak menyelamatkan Berlian.


"Brengsek!!. Lepasin dia... " 


Tanpa aba-aba, Bintang langsung menghantam salah seorang dari preman yang menarik tangan berlian dan satu pukulan pun melayang mengenai pelipis preman yang satu lagi. 


"Bintang... " Berlian bernafas lega dan berlari mendekati bintang saat pegangan preman itu terlepas.


"Kamu ngga apa-apa kan?" 


Bintang meletakkan tangannya di wajah Berlian dengan sorot mata cemas.

__ADS_1


Berlian menyahutinya dengan gelengan kepala dan bersamaan dua preman tadi bangkit dan siap-siap hendak menghunuskan sebilah pisau tajam. 


"kamu minggir dulu" Bintang mendorong tubuh berlian agar menjauh. 


"Terima ini..." 


Preman bertubuh berisi berusaha melukai Bintang dengan pisau yang di pegang nya. Bintang berhasil mengelak. 


"Tolong... tolong... di sini ada pengeroyokan" Berlian berteriak minta bantuan pada siapa saja yang mendengarnya. 


Preman kedua beraksi bersamaan, Bintang tidak berhasil mengelak dan preman tersebut berhasil menyayat tangannya dengan pisau. 


"Aaarrggh..." Bintang meringis kesakitan sambil memegang tangan kirinya yang terluka. 


"Bintang!!" Berlian berteriak histeris dan kembali menghampiri bintang.


"tangan kamu terluka..." Berlian ikut merasa ngilu melihat darah yang keluar dari tangan kiri bintang.


"Aku nggak apa-apa, lukanya sama sekali ngga parah" Bintang berusaha tersenyum menenangkan kecemasan Berlian.


"Bro,kita lebih baik kabur dari pada kita habis di gebukin warga" ucap preman bertubuh tegap itu pada temannya. Kedua preman itu pun melarikan diri dari kejaran warga yang mulai berdatangan begitu mendengar teriakan minta tolong dari Berlian. 


...****************...


"ah..." Bintang meringis kesakitan saat Berlian membersihkan lukanya menggunakan alkohol. 


"Sakit ya? kamu tahan sebentar..." Berlian menengadah dengan perasaan tidak enak. 


"Nggak sakit kok. Cuma perih saja" ujar Bintang.


 


Berlian tak tega melihat Bintang jadi celaka karna menolong dirinya. Dengan penuh kesadaran, Berlian meniup tangannya yang luka. Kesejukan langsung menerpa seluruh tubuh Bintang dari hembusan nafas berlian melalui luka di tangannya. Rasa perih seakan lenyap seketika.


Bintang juga diam-diam tersenyum mengamati Berlian yang serius membalut lukanya dengan perban. 

__ADS_1


"kamu ini tadi seharusnya ga perlu melawan mereka. Ngapain sih pake bantuin aku segala ? Harusnya kamu memikirkan keselamatanmu dan pastinya ngga akan celaka seperti ini kan?" 


Berlian kembali menengadah setelah selesai membalut lukanya dan dia tak bisa menghindar manakala Bintang yang dari tadi berusaha menunduk mencium bibir nya dengan lembut. Pertemuan bibir Bintang dengan bibir ranum Berlian ibarat sebuah jawaban yang tadi dipertanyakan berlian.


 


Bintang terus memainkan bibir Berlian dengan indah di penuhi rindu yang lama di pendam. Berlian tak kuasa menolak karna naluri membawanya menikmati ciuman suaminya yang menggetarkan. Sebesar apa pun berlian ingin menyudahi ciuman mereka, sebesar itu juga hasrat dalam diri Bintang untuk memilikinya. Tak ada jalan baginya untuk menghindar dan terus menikmati sensasi hangat yang di tebarkan Bintang .


"Brakkkkk..." 


Buku yang di pegang Kartika jatuh dan menimbulkan suara berisik. Kartika sama sekali tak menduga akan menyaksikan sendiri pemandangan yang teramat menyakitkan dengan mata kepalanya sendiri. Harusnya dia tidak pergi ke ruangan Berlian. Seandainya dia tetap di ruangannya, mungkin saja hal seperti ini tidak terjadi. 


"Tika,," Berlian spontan mendorong tubuh Bintang dan dia segera bangkit dan menolong sahabatnya. 


"Kamu ngga perlu bantu aku. Aku bisa sendiri" Kartika menolak niat baik temannya yang mau menolong memungut kembali buku-buku yang jatuh. Berlian sempat bingung dengan perubahan sikap sahabatnya yang tiba-tiba ketus. 


"biar aku bantu" Berlian tetap mau membantu Kartika yang mulai berdiri dan meletakkan buku-buku itu di mejanya. 


"Lian, kamu bisa suruh Bintang keluar dari ruangan ini karena aku mau bicara 4 mata denganmu" 


"Tidak bisa!" sela Bintang menolak permintaan Kartika. Kartika sudah mengganggu kemesraannya dengan Berlian dan sekarang mengusirnya?.Enak saja!. Memangnya dia siapa berani mengusirnya, pikirnya. 


"Bin,sebaiknya kamu keluar dulu. Siapa tahu ada hal penting yang mau di bicarakan Kartika denganku" pinta Berlian.


"aku mohon kamu tinggalkan aku berdua dengan Kartika ya?" pinta Berlian lagi melihat Bintang masih saja berdiam diri di tempat. 


"Baik, aku keluar dan aku tunggu kamu di mobil" Bintang keluar dengan terpaksa. Bagi Kartika yang mengenal bintang dari kecil, sikap mengalah sangat tabu di lakukan Bintang. Tapi dengan Berlian ,Bintang dengan mudahnya mengalah. 


...****************...


"Lian aku harap ini yang terakhir kalinya kamu bermesraan dengan Bintang di tempat usahaku. Aku tahu kalian itu suami istri, wajar saja jika kalian bermesraan. Tapi bukan di sini tempatnya" 


"Bagaimana jika pengunjung atau pelayan tokoku melihat kejadian tadi?. Mereka bisa mencap buruk toko ini. Pengunjung di toko buku ini sebagian masih berseragam sekolah dan masih di bawah umur. Apa yang aku lihat tadi tak layak untuk mereka lihat" Kartika langsung memberi teguran keras tanpa terlebih dahulu mendengar cerita atau pun pembelaan sahabatnya. 


"Tik, kamu pasti marah ya sama aku?. Aku minta maaf dan aku janji tidak akan mengulangi kejadian tadi" 

__ADS_1


Meski merasa ada yang janggal dengan teguran Kartika karna kejadiannya ada di ruang kerja yang tertutup dan tidak sembarangan orang yang bisa masuk, waktunya juga pas jam belajar, dimana pengunjung mulai sepi, menurut Berlian alasan Kartika terlalu di buat-buat dan mencurigakan. Tapi itu tak mengurungkan niat Berlian untuk tetap meminta maaf dan tak mau berburuk sangka dengan sahabat yang sudah banyak membantunya selama ini. 


Kartika hanya mengangguk tapi tak mau melihat wajah Berlian karena yang ada hatinya akan semakin terasa sakit mengingat kejadian barusan. Berlian tersenyum tawar tak mengerti apa yang di sembunyikan Kartika kepadanya.


__ADS_2