Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 22. Berlian dalam bahaya


__ADS_3

Di rumahnya, Bintang dan mamanya masih saja berdebat soal perjodohannya dengan Berlian yang kandas dan itu di sebabkan oleh Berlian sendiri yang dengan terang-terangan mempermalukan dia di hadapan semua keluarga dekatnya yang hadir. Bintang tidak habis pikir, kenapa mamanya masih saja membela Berlian dan memintanya untuk tetap menikahi gadis tidak tahu malu itu.


"Mama yakin, nak. Berlian tidak seburuk itu. Dia pasti punya alasan kenapa tiba-tiba pergi pas acara pertunangan kalian" ujar mama Farida tetap berpikir jernih di saat-saat seperti ini.


"Sudahlah ma. Mama tidak perlu membela dia lagi. Dia itu tidak beda dengan wanita lain. Dia itu hanya wanita jahat yang sengaja ingin mempermalukan keluarga kita. Kalau pun terjadi, paling dia juga mengincar harta kekayaan kita" ujar Bintang tak terpengaruh dengan penjelasan mamanya.


"Kalau memang Berlian seperti apa yang kamu tuduhkan, kenapa dia harus menolak bertunangan dengan kamu?. Kenapa Berlian harus kabur begitu melihat kamu?. Bukankah seharusnya dia senang karena bisa mendapatkan kamu dengan mudah?. "


"Paling di belakang kita , dia itu menangis meraung-raung menyesali kebodohannya" jawab Bintang tidak mau memakai perasaannya meraba-raba kebenaran kata-kata ibu kandungnya.


"Nak, buka hati kamu lihat sekeliling kamu. Tidak semua orang sejahat yang kamu kira. Berlian gadis yang baik, beda dengan gadis-gadis yang selama ini selalu mengejar-ngejar mendekati kamu dengan tujuan dan maksud tertentu. Dia gadis yang tepat menjadi pendamping hidupmu."


"Ma...sebaiknya mama akhiri saja rencana perjodohan Bintang dengan Berlian karena sampai kapan pun Bintang tidak mau memiliki istri yang tidak memiliki tata krama . Dia sudah berani melempar kotoran ke mukaku"


Bintang berdiri dari duduknya setelah mengeluarkan semua kekesalan juga kemarahannya.


"Bin, kamu dengerin mama dulu. Mama punya alasan kuat kenapa mama tetap mau menjodohkan kamu dengan Berlian"


"Maaf Ma!. Bintang sudah muak mendengar nama gadis itu. Cukup, ini yang terakhir mama membahas masalah perjodohan karena Bintang sudah memutuskan untuk hidup menyendiri itu lebih baik." Bintang yang keras tak mau lagi banyak berdebat. Laki-laki berpostur tinggi itu segera pergi dan berlalu dari rumahnya.


"Yu, maafkan aku karena sampai hari ini aku belum bisa menyatukan Bintang dengan Berlian seperti janjiku dulu padamu" gumam mama Farida mengenang lirih janji yang pernah di ucapkan dulu pada almarhumah ibu kandungnya Berlian sambil menatap getir buah hatinya yang meninggalkan dia begitu saja tanpa ada kesepahaman.


...****************...


Berlian berjalan lemah tanpa semangat meninggalkan rumah sakit dengan sorot mata kosong tanpa harapan. Saat hatinya masih begitu sakit dengan sikap pecundang mantan kekasihnya, Berlian harus di hadapkan pada kenyataan hutang budi dengan mama Farida. Cerita neneknya tadi siang tak mau pergi dan terus terngiang-ngiang.


"Ya Allah, apa yang harus hamba perbuat?. Tante Farida memang sangat baik. Tapi, apa kebaikan itu harus di balas dengan menerima perjodohan antara aku dan anaknya?. Ya Allah, hamba tidak mencintai Bintang. Bantu hamba mencari jalan keluar terbaik dari semua masalah yang hamba hadapi" doa senja lirih dalam hati sepanjang lorong rumah sakit yang dia lalui.


"Maaf..." ucap Berlian tersadar saat tanpa sengaja menubruk seorang gadis seumuran dia.

__ADS_1


"Mbak, kalau jalan hati-hati donk, jangan kebanyakan ngelamun. Untung saja aku tidak jatuh" sahut si gadis sedikit sewot.


"Sekali lagi saya minta maaf!. Saya benar-benar tidak sengaja" ulangnya.


"Sha, kamu kemana saja, sih?. Di tungguin dari tadi di parkiran" seru seseorang dari belakang punggung Berlian.


"Rangga..." gumam Berlian begitu familiar dengan pemilik suara itu.


"Sayang, maaf ya. Aku tadi harus menebus resep obatnya mama" sahut gadis bernama Sasha itu sambil berjalan mendekati laki-laki yang di duga Rangga oleh Berlian.


"Rangga,kamu..." kata Berlian terkejut tak percaya kalau pria yang berdiri di belakangnya tadi adalah Rangga.


"Berlian" gumam Rangga memucat begitu Berlian membalikkan badan dan melihatnya dengan tatapan nanar.


"Ga, kamu kenal dengan orang itu?" tanya Sasha curiga dengan bahasa tubuh mereka.


"Enggak, aku sama sekali ga kenal siapa dia"


"Apa yang dikatakannya memang benar. Kami sama sekali tidak saling mengenal. Kalau pun kami saling kenal, itu adalah pengalaman terburuk dalam hidup saya karena harus berurusan dengan laki-laki pengecut yang tidak punya nyali memperjuangkan cintanya" ujar Berlian berhasil menguasai kesakitan.


Di hadapan Rangga, Berlian ingin memperlihatkan kalau dia adalah gadis tangguh yang tidak mudah patah hati hanya karena jalinan cinta yang mereka bina selama 2 tahun sia-sia begitu saja.


"Sayang, gadis itu bicara apa,sih?. Sepertinya kata-kata itu di tujukan buat kamu?" Sasha bertanya setelah Berlian pergi meninggalkan mereka.


Rangga hanya diam tidak menjawab , seolah-olah dia tidak mendengar pertanyaan gadis di sampingnya.


...****************...


Air mata Berlian menetes pilu begitu mengayuh sepedanya meninggalkan rumah sakit daerah tempat kakeknya di rawat. Di depan semua orang, dia bisa menunjukkan kalau dia adalah gadis yang tegar. Namun, ketika dia sendiri, dia menjadi sosok yang begitu rapuh.

__ADS_1


Saat ini dia sangat membutuhkan seorang teman yang bersedia mendengarkan curhatannya. Hanya Kartika sahabat yang dia percaya, tapi saat ini Kartika masih di luar kota dan baru minggu depan baru kembali karena ada urusan mendadak yang tidak bisa di tinggalkan.


Berlian mengayuh sepedanya tanpa tenaga karena energinya sudah habis untuk menjaga kakeknya di rumah sakit beberapa hari ini. Energinya juga sudah habis mengenang perih kisah cintanya yang telah usai.


Wajah Berlian pun kian pucat tak berdarah. Pikirannya juga kosong tak tentu sampai dia tak sadar kalau ada 3 orang preman berwajah sangar yang sengaja menghadang jalannya.


"Maaf mas, saya mau lewat" kata Berlian berusaha tetap sopan.


"Benar ini orangnya?" preman bertato itu bertanya pada teman di sampingnya.


"Benar bos, gadis itu adiknya si Arya" jawab preman tersebut.


"Benar, kamu adiknya Arya?" tanya preman yang di panggil boss oleh dua temannya.


"Iya, saya adiknya " jawab Berlian jujur dan bingung bagaimana ketiga preman itu bisa tahu nama kakaknya.


"Kalau begitu, di mana kakak kamu sekarang?" tanya si boss berkacak pinggang.


"Maaf, saya tidak tahu kakak saya ada di mana karena dia sudah lama pergi"


"Jangan bohong" hardiknya.


"Maaf, saya harus pergi karena tidak ada urusan dengan anda semua" Berlian tetap tenang tak mau memperlihatkan ketakutannya.


"Tidak semudah itu" ketiga preman itu mengepung Berlian.


"Kakak kamu punya utang sebesar 25 juta yang belum dia lunasi. Jadi, kamu sebagai saudaranya harus melunasi hutang-hutangnya tersebut. Kalau tidak...."


Dari dalam mobil, Bintang lebih memilih menonton ketimbang turun menolong Berlian yang butuh bantuan ketika mobilnya melintas di jalan yang sama. Namun ada pergulatan batin dalam dirinya antara mau menolong atau membiarkan Berlian di hadang oleh ketiga preman tersebut.

__ADS_1


"Tidak ada gunanya menolong gadis sombong itu. Anggap saja ini adalah balasan karena dia sudah berani mempermalukan aku" ujar Bintang membantah kata hatinya.


"Berlian...." Bintang terlonjak ketika seorang preman mengeluarkan benda tajam dari balik pinggangnya.


__ADS_2