
Berlian tertawa puas bisa mengerjai Bintang di toko tadi. Rangga yang menemuinya di telaga di buat heran dengan sikap nya.
"Lian kamu kenapa?. Dari tadi senyum-senyum terus, kayak orang gila saja"
"Ish, kamu jahat banget sih bilang aku gila" protes Berlian.
"Makanya jangan senyum-senyum sendiri " sela Rangga.
"Iya...iya..." ucap Berlian mengalah.
"Lian , 10 hari ini aku harus bertugas keluar kota. Untuk sementara waktu kita tidak mungkin bisa bertemu" ujar Rangga lirih.
Wajah Berlian yang ceria seketika jadi murung dan sedih membayangkan akan berpisah dengan Rangga.
"Aku pasti akan sangat merindukan kamu " kata Berlian dengan tatapan sendu.
"Hanya 10 hari, sayang. Lagian kita kan masih bisa video call atau WhatsApp an kalau aku lagi senggang. Habis itu aku dan mama akan segera menemui kakek juga nenek untuk melamar kamu" ungkap Rangga menenangkan kegelisahan Berlian.
"Beneran?" tanya Berlian ragu.
"Iya,sayang. Aku tidak mungkin bohong" jawabnya.
Berlian tersenyum dan memeluk hangat kekasih nya. Dua insan itu seolah sulit untuk di pisahkan.
...****************...
Hari-hari Berlian tanpa Rangga terasa hampa dan sepi. Setiap kali datang ke telaga , Berlian pulang tanpa semangat, karena tidak ada Rangga yang biasa menunggunya di tempat rahasia pertemuan mereka. Berlian mengayuh sepedanya tanpa semangat.
Dari arah belakang , Bintang mengamati seseorang yang sedang mengayuh sepeda.
"Bukannya itu Berlian?" gumam Bintang dari dalam mobil yang melewati jalan yang sama dengan Berlian.
"Bagus. Saatnya balas dendam" Bintang tersenyum licik. Akal bulusnya bekerja cepat ketika melihat ada genangan air yang ada di depannya. Bintang sengaja melindasnya saat tepat melewati Berlian.
"splash......" genangan air itu menyiprat mengenai baju Berlian yang berwarna putih.
__ADS_1
"Woiii, bawa mobil hati-hati dong. Enggak lihat apa, ada genangan air di depan" protes Berlian keras. Tapi mobil itu tetap melaju dan sepertinya memang sengaja mengerjainya karena laju mobil nya tidak begitu kencang. Berlian tak terima, kemudian memungut batu yang tidak begitu besar , lalu melemparnya kearah mobil tersebut. Naas batu itu mengenai kaca bagian belakang mobil.
"Prannggg"
"Ups...." seru Berlian Sambil menutup mulutnya.
"Bunyi apaan tuh?" Bintang menghentikan laju kendaraannya, lalu bergegas turun melihat bagian belakang mobilnya.
"Sial" Bintang menggertak geram melihat kaca bagian belakang mobilnya retak.
"Ini pasti ulah kamu kan ?!" Bintang membentak dan mendekati Berlian.
"Ya ampun, kenapa Dia lagi sih " gumam Berlian bosan berurusan dengan cowok angkuh juga sombong yang dari awal bertemu selalu bermasalah.
"Kamu sudah merusak kaca mobil ku. kamu harus tanggung jawab Ganti rugi 10 juta" sengit Bintang tanpa mau berkompromi.
"10 juta?. Enak saja. Di kamar ku ada kaca besar. Kamu pakai saja, gratis, nggak pakai bayar"
"Kamu pikir kaca mobil ku , kaca rias?. Pokoknya aku tidak mau tahu, kamu harus ganti 10 juta atau kamu aku laporin ke polisi" ancam Bintang serius.
"Baju kamu di cuci di sungai juga bersih. Kaca mobil ku di ganti 10 juta, belum tentu juga cukup. Sekarang kamu ikut aku. Kita selesaikan semua di kantor polisi" Bintang menarik paksa tangan Berlian.
"Enggak mau" Berlian menahan tubuhnya dari kuatnya tarikan Bintang.
"Baik kalau kamu tidak mau" Bintang berhenti memaksa Berlian. Akal cerdiknya kembali berjalan melihat sepeda milik Berlian.
"Sebagai gantinya, sepeda kamu aku sita sebagai jaminan sampai kamu bisa melunasi hutang kamu" Bintang dengan paksa mengambil sepeda Berlian, meski berlian tidak mau melepasnya.
"Balikin sepeda ku" pinta Berlian.
"Nanti ku kembalikan, setelah kamu sanggup membayar hutang nya" jawab Bintang sambil menaikan sepeda ke atas mobil lalu berlalu melajukan mobilnya. Tanpa mempedulikan berlian yang sendirian terpaku menatap sepedanya di rampas bintang.
"Bagaimana caranya aku pulang kalau begini?. Nenek sama kakek pasti cemas mikirin aku" gumam Berlian cemas dan panik , hari yang semakin sore dan langit nampak mendung.
"Dasar cowok kaya belagu" umpat Berlian kesal.
__ADS_1
...****************...
Rintik hujan mulai turun satu persatu dan semakin lama hujan turun makin deras. Bintang mulai resah dan merasa bersalah dengan Berlian. Bagaimana cara gadis itu pulang kalau sepedanya di sita olehnya?. Sedangkan jalan yang dilalui bukanlah pemukiman yang kanan kirinya merupakan perkebunan teh.
"Ngapain juga aku harus mikirin gadis itu?. Salah sendiri cari perkara dengan ku. Biar dia tahu rasa" Bintang mengoceh sendiri dalam mobilnya.
...****************...
Di bawah sebuah pohon besar, Berlian berteduh. Tubuhnya menggigil menahan terpaan angin juga hujan yang merasuk hingga ke tulang. Badannya juga sudah basah kuyup di siram air hujan.
"Berlian "gumam Bintang.
Setelah menimbang-nimbang dengan matang, Bintang memutuskan balik arah. Dia di buat terkejut melihat keadaan Berlian. Bintang pun turun dari mobilnya.
"Berlian, kamu naik mobil ku saja, biar aku antar kamu pulang" seru bintang sambil memayungi gadis itu dengan jaketnya.
Berlian seketika menengadah. Dunia berhenti berputar saat dua pasang mata beradu pandang dengan dekat. Berlian seolah terbawa dalam dimensi lain menatap sendunya tatapan Bintang . Sampai suara petir datang menggelegar dua insan itu baru tersadar.
"Aku tidak butuh bantuan kamu. Aku bisa pulang sendiri" tolaknya terang-terangan.
Berlian melangkah lagi meninggalkan Bintang yang terdiam di tempat memperhatikannya.
"Hei, awas" Bintang menarik kuat tangan Berlian. Sebuah ranting pohon yang lumayan cukup besar, patah dan jatuh ke tanah. Seandainya, Bintang tidak cepat-cepat menolongnya entah apa yang akan terjadi.
Lagi-lagi dua pasang mata beradu pandang. Berlian terjebak dalam pelukan erat Bintang yang tubuhnya tersandar pada batang pohon tempat berteduh tadi. Tubuh mereka yang bergesekan membawa aliran hangat dan berhasil mengusir rasa dingin yang tadi menyeruak.
"Terima kasih sudah menolong ku. Tapi kamu tidak perlu memeluk aku seperti ini" Berlian tersadar dan cepat menarik tubuhnya kembali, kemudian dia kembali berjalan.
"Hei, tunggu dulu" panggil Bintang yang kemudian mendahuluinya berjalan.
"Kamu ambil kembali sepeda kamu. Aku tidak butuh barang rongsokan seperti ini" Bintang menurunkan sepeda milik Berlian yang di sita nya.
"Tapi, ingat kamu tetap punya hutang 10 juta kepadaku" sambung bintang menjaga arogansinya agar tidak terlihat lemah oleh Berlian. Meski dia sendiri juga bingung, kenapa dia tiba-tiba bisa lemah begini. Bintang pun kembali menaiki mobilnya.
"Gayanya saja yang arogan, ternyata dia lumayan baik juga" gumam Berlian setelah mobil itu berlalu dari pandangannya.
__ADS_1
Berlian kemudian mengayuh sepedanya melalui jalanan yang mulai gelap dan sepi. Di pertigaan jalan pinggir perkebunan, seorang pemuda tersenyum mengamatinya dari dalam mobil kesayangannya.