
Bintang berniat menemui Berlian. Gara-gara telpon masuk dari kantornya memaksa dia harus berubah haluan karna ada pertemuan penting dengan klien yang harus dia hadiri dan tidak bisa di wakilkan oleh siapa pun.
"Nanti siang aku akan kemari. Aku harap kamu tidak mengusirku jika aku datang" harap Bintang yang melajukan kendaraan roda empat nya dengan berat hati.
"Bagus, akhirnya Bintang pergi juga. Aku bisa dengan mudah bertemu dengan Lian"
Seorang pemuda begitu senang melihat mobil putih meninggalkan area pertokoan yang menjual berbagai macam buku dan alat tulis . Dia pun menuju parkiran untuk memarkir kan mobilnya setelah Bintang menghilang bersama mobilnya.
Dengan penuh rasa percaya diri, pemuda itu turun dari mobilnya dan melangkah masuk kedalam toko buku milik Kartika.
"Lian,mana ya?" dia melihat kesana sini melewati beberapa rak buku.
"Kok nggak ada?" herannya. Dari sekian pengunjung yang datang dan beberapa orang karyawan berseragam tidak ada Berlian yang di carinya.
"Ngapain kamu kesini?" tegur seseorang dari belakang punggung pemuda itu. Dia pun terpaksa membalik.
"Kartika... ternyata kamu. Aku pikir siapa"
"Oh ya, Berlian mana?" tanyanya tanpa malu.
"Ngga ada" jawab Kartika ketus.
"Jangan berbohong. Tadi aku lihat sendiri Berlian masuk ke toko ini"
"Kalau memang Lian ada di toko ini, kamu mau apa?"
"Ya aku mau ketemu lah. Mau apa lagi" jawab pria berpostur sedang itu enteng.
"Kamu masih punya muka mau bertemu dengan Lian setelah kamu menyakiti dia?" Kartika menekan nada suaranya yang mulai terbawa emosi agar pengunjung yang datang tidak terganggu. Kartika benar-benar jengah melihat sendiri bagaimana gampangnya pria itu ingin bertemu dengan Berlian setelah apa yang dia perbuat menyakiti sahabatnya.
"Rangga, aku saranin lebih baik kamu pergi dari sini karna Berlian tidak akan mau bertemu dengan mu dan aku tidak akan pernah membiarkan kamu menemuinya" tegas Kartika.
"Kamu jangan coba main-main dengan ku. Niat ku datang kesini baik-baik. Kamu mau toko buku kamu ini di cap memilik pelayanan yang buruk karna berani mengusir pengunjung yang datang?!"
"Ancaman seperti itu sudah basi di sini"sela Kartika.
"Kemarin ada dua anak SMA laki-laki yang ku usir dan di seret satpam keluar dari toko ini karna berani menggoda pengunjung ku di sini. Karna bagiku kenyamanan pengunjung lebih penting dari apa pun. Kamu mau bernasib sama seperti mereka karna berani mengganggu salah satu karyawan ku?!. Apalagi karyawan ku itu adalah perempuan bersuami. Kamu mau di hakimi seisi pengunjung di sini karna di anggap menggangu rumah tangga orang lain?" Kartika balik mengancam dan ancamannya membuat ciut nyali Rangga.
"aku kesini bukan mau menganggu apalagi menggoda Lian, aku hanya mau bertemu dengan dia!" Rangga masih saja ngotot.
"Kamu angkat kaki dari sini atau aku panggilkan satpam buat menyeret kamu dari sini?" Kartika tak menggubris pembelaan Rangga. Dia sudah muak melihat muka lelaki yang tak punya hati itu.
__ADS_1
"Atau kamu mau aku hubungi tante Farida dan kasih tahu kalau keponakannya yang tersayang sudah berani menggoda kakak iparnya sendiri"
Kartika memainkan handpone nya pertanda kalau dia serius dengan ancamannya. Rangga sangat paham kalau Kartika adalah orang yang setia kawan dan selalu membela Berlian dari dulu.
"Ok, aku pergi" Rangga terpaksa mengalah.
"Tapi, aku pasti akan kembali lagi kesini. Aku akan pastikan kalau aku bisa bertemu dengan Berlian. Kalau perlu, aku akan bujuk supaya dia keluar kerja dari sini" ujarnya tetap nekat dan percaya diri.
"Lihat muka kamu saja Lian mah ogah, apalagi menuruti kata-kata mu. Nggak tahu diri banget jadi cowok" sinis Kartika.
"Kamu dan Lian itu sama saja. Sama belagunya"
"Baru tahu ya?" Kartika tersenyum mengejek dan lega ketika Rangga akhirnya pergi juga dengan raut muka menahan emosinya.
...****************...
Siangnya setelah selesai pertemuan, Bintang memacu kendaraannya menuju tempat Berlian kerja. Bintang sempat memesan makan siang yang dipesannya lewat sebuah aplikasi pesan antar makanan khusus untuk dia dan berlian.
Dengan semangat Bintang kembali memacu mobilnya. Setelah sampai, dia pun bergegas turun dan masuk.
"Itu kan Bintang"
"Mila, kamu lanjutin ya, aku mau kesana dulu"
"Baik, mbak" sahut Mila, salah satu karyawan yang bertugas sebagai kasir.
Kartika berjalan mendekati Bintang yang kebingungan mencari Berlian di mana.
"Bin, kamu cari Lian ya?"
Bintang menoleh kearah suara.
"Iya" jawabnya singkat sambil matanya melirik sana-sini.
Kartika tahu diri, Bintang memang begini adanya. Cuek dan tak mau tahu dengan orang sekitarnya.
"Lian bekerja di ruangan ku. Kamu bisa ikutin aku kalau kamu mau menemuinya"
Kartika berusaha tenang mengatur jiwanya yang menggebu tiap kali menatap mata Bintang yang tajam. Perempuan sebaya dengan Berlian itu mencoba tetap berusaha tersenyum.
"Selama kerja dengan mu,Lian baik-baik saja, kan?" tanya Bintang sambil mengikuti langkah Kartika.
__ADS_1
"Bin , aku tahu kamu begitu antipati dengan keluargaku karna ketidak sukaan mu terhadap om Reza. Kamu tidak bisa menyamakan semua orang dengan om ku" Kartika berhenti menatap jengah lawan bicaranya.
"Saya kesini bukan untuk membahas masalah om kamu. Aku kesini mau menemui istriku. Dan aku harus memastikan kalau dia bekerja dengan orang yang tepat dan keselamatannya terjamin"
"Apa maksud ucapan mu?" Kartika mulai tersinggung dan terbawa emosi mendengar penuturan Bintang yang terkesan menilai buruk dirinya.
"Apa kamu pikir aku mau mencelakakan sahabatku sendiri?"
"Aku jauh mengenal Berlian sebelum kamu mengenal dia. Kami bersahabat dengan baik, bahkan sangat baik. Jangan hanya karna aku keponakannya almarhum om Reza, lalu kamu mencurigai aku seperti ini"
"Aku sama sekali tidak mencurigai mu. Aku hanya ingin melindungi istriku dari orang-orang sekitar mu yang selalu berusaha mengusik ketenangan hidupku" sinis Bintang.
"Aku tidak mau memperpanjang masalah. Kamu bilang saja, ruang kerja Lian di mana?. Biar aku sendiri yang menemuinya."
"Kamu tinggal lurus saja. Nanti kamu akan lihat ruangan ku di sebelah kanan" jawab Kartika jengah dan membiarkan Bintang berjalan sendirian
...****************...
Berlian masih sibuk dengan komputernya sambil mengunyah makanan di mulutnya. Sampai Bintang masuk mengucapkan salam tidak di dengarnya.
"Kerjanya serius banget. Sudah siang, Lian. Kamu harusnya istirahat dulu" tegur Bintang.
"Bintang!!"
Berlian hampir tersedak melihat siapa yang datang. Berlian cepat-cepat mematikan komputernya setelah menyimpan naskah ketikannya.
"Dari mana kamu tahu kalau aku kerja di sini?" Berlian penasaran bagaimana Bintang tahu tempat kerjanya sedangkan dia belum sempat cerita apapun.
"Gampang, aku ikutin kamu tadi pagi" jawab Bintang jujur.
"Sudah ku duga" Berlian sama sekali tidak terkejut. Dari awal dia berangkat tadi, dia memang sudah merasa ada yang mengikuti.
"Ngapain kamu ikutin aku?. Ngga ada kerjaan banget"
Bintang tersenyum penuh kharisma dan menarik kursi, lalu duduk berhadapan dengan Berlian yang wajahnya di tekuk sejak kedatangannya.
"Aku kesini mau mengantar makan siang buat mu" Bintang meletakkan goodie bag yang berisi dua kotak makan di atas meja dan membukanya.
"Kebetulan aku juga belum makan siang. Kita makan siang bareng yuk?!"
Bintang tampak semangat dan senyumnya tak pernah lepas menghiasi bibirnya. Sebuah pemandangan langka melihat Bintang murah senyum seperti itu.
__ADS_1