Kilau Berlian

Kilau Berlian
118. Akhirnya makan rujak....


__ADS_3

Letak pasar yang di tuju Berlian dan Bintang lumayan jauh dari tempat tinggal mereka. Butuh waktu tempuh 25 sampai 30 menit untuk mereka bisa menapaki pasar tradisional yang akan mereka datangi. Pasar tradisional tersebut letaknya lebih berdekatan dengan rumah kakek dan neneknya Berlian. Di pasar itulah Berlian sering belanja kebutuhan harian sebelum menikah dengan Bintang. Tak heran banyak orang yang mengenali Berlian dan menyapanya. Dari sekian orang yang menyapanya, Bintang paling tidak suka dengan lelaki penjual buah yang ternyata teman Berlian waktu SMP dulu. Laki-laki itu lumayan ganteng juga dan terus tersenyum memandangi Berlian yang tengah memilih buah jualannya tanpa berkedip. 


"Kita cari buahnya di tempat lain saja" bisik Bintang sambil menarik paksa tangan istrinya. 


"Tapi sayang...di sini buah yang paling bagus kualitasnya" 


"Orangnya apa buahnya?" sentil Bintang berlebihan. 


"Sayang, kamu cemburu sama teman aku?" tanya Berlian.


"Cemburu sama tukang buah?. Enggak banget" bantah Bintang memasang muka masam dan berjalan mendahului istrinya. 


Berlian menyusul dan mengapit lengan suaminya. 


"Aku sangat mencintai kamu dan aku ngga mungkin berpaling dari kamu" ujar Berlian pelan. 


Bintang tersenyum bahagia dan merangkul mesra pinggang istrinya. 


"Aku percaya sama kamu" balasnya dengan tatapan mata penuh arti. 


Keduanya pun lanjut berburu buah-buahan segar yang baru di petik kemarin sore oleh para petani dan paginya dibawa ke pasar untuk di jual. Mereka juga tak lupa membeli bumbu rujak yang lengkap. Selama belanja, Bintang tak mau melepaskan pegangannya dari tangan istrinya dan dia tak mengizinkan Berlian membawa barang belanjaan mereka. 


Selesai belanja, merekapun pulang. 


...****************...


Sesampainya di rumah, Berlian langsung beraksi membuat rujak untuk suami tercinta. 


"Sayang, sebaiknya kamu sarapan dulu. Baru setelah itu aku siapin rujaknya buat kamu" ujar Berlian sebelum mulai mengulek bumbu rujaknya berupa cabe rawit, garam, gula merah, terasi asam jawa dan tak lupa kacang tanah yang sebelumnya sudah di goreng.


"Aku maunya sarapan sama rujak" katanya keras pada kemauannya. 


"Tapi nanti kamu sakit perut lho" 


"Kan ada kamu yang bakal merawat aku..." senyum Bintang menggoda istrinya. 


Berlian cuma bisa pasrah dan siap membuat rujak. Namun sebelumnya, Berlian memasang celemek dan mengikat rambutnya kebelakang. Bintang yang duduk di sampingnya, di buat terkesima mengagumi aura kecantikan yang terpancar alami. 

__ADS_1


"Sayang, kamu kok cantik sekali sih" pujinya. 


"apaan sih..."


Muka Berlian merona. Bintang memang paling pintar mengambil hatinya. Tapi, Berlian bisa menguasai perasaannya dengan baik. 


"Sayang... dari pada kamu bengong, mending kamu tolongin aku mengupas buahnya. Biar pekerjaannya cepat selesai." Berlian menyerahkan sekantong buah berisi aneka ragam buah segar yang pas untuk di rujak dan sebuah pisau yang cukup tajam. Setelah itu, Berlian mulai mengulek bumbu rujaknya.


"Aku mau saja bantuin kamu mengupas buahnya. Tapi, jangan lupa nanti malam upah nya ya "goda Bintang pamrih. 


Berlian langsung melotot dan menghentikan pekerjaannya. 


"Ntar malam kok, sayang." Bintang ngeyel.


"Papa mesti ingat, di dalam perut mama ada dede bayinya. Jadi papa mesti banyak bersabar dan mengalah sama dede bayi. Ga boleh sering-sering di tengok" terang Berlian balas menggoda suaminya. 


"Dasar mama pelit" bintang manyun. 


"Biarin" cibir Berlian. 


Bintang memalingkan muka. Berlian cuek saja dan lanjut mengulek bumbu rujak yang hampir siap. Diam-diam Bintang kembali mengamati istrinya yang mulai asyik dengan kerjaannya. Bintang berdiri pelan, lalu memeluk istrinya dari belakang. 


Bintang tak menghiraukannya, tangannya yang kanan bergerak memegang tangan istrinya yang memegang ulekan dan satunya tetap berada di pinggang Berlian. 


"Kalau di kerjakan sama-sama, pasti rujaknya cepat jadi" 


"Kalau cara kerjanya begini, rujaknya nggak bakalan jadi-jadi, sayang. Karna kamu pasti banyak maunya" 


"Tahu aja" Bintang mencium pipi istrinya dengan gemas. 


"Baru juga di bilangin" omel Berlian dan omelannya langsung berbuah kecupan di lehernya. 


"Sayang, kamu itu susah banget di bilangin" Berlian kewalahan menanggapi tingkah manja suaminya. 


"Tapi kamu suka, kan?" godanya. 


"Enggak" sambar Berlian pura-pura kesal dan mulai mengulek bumbu rujaknya lagi. Bintang tetap pada posisinya memegang tangan dan pinggang Berlian. Tangannya bergerak searah mengikuti gerak tangan Berlian menggoyangkan batu ulekan. 

__ADS_1


"Rasa rujaknya pasti enak karna kita membuatnya dengan cara romantis begini" bisik Bintang tepat di telinga istrinya, membuat darah Berlian yang dari tadi tak mau berhenti berdesir, makin berdesir dan hangat. Berlian pun membiarkan Bintang membantunya dengan caranya, dengan sikap curi-curi kesempatan yang menyebalkan tapi menyenangkan. 


Akhirnya rujak pun jadi. Bintang tak tahan untuk segera mencicipi rujak yang di sajikan di atas piring beralas daun pisang, membuat penyajian rujak tersebut terlihat sangat menarik. 


"Sekarang kamu cobain rujaknya, enak nggak?" pinta Berlian. 


"Pasti enaklah, Yank. Apalagi kalau disuapin kamu" 


Berlian paham mau suaminya apa, diapun duduk di samping suaminya dan mulai menyuapi satu persatu potongan buah segar yang sudah di campur dengan bumbu rujak.


"Bagaimana, rujaknya enak,nggak?" Berlian meminta pendapat suaminya. 


"Mantullll....." Bintang mengacungkan dua jempolnya sebagai bentuk pujiannya. 


"Lagi..." pintanya sambil membuka mulutnya setelah potongan pertama berupa Jambu air habis di makan.


Berlian menyuapi potongan kedua berupa mangga muda dan seterusnya ada kedondong juga Bengkoang. Bintang memakannya dengan lahap. 


"Wah, ada yang lagi pesta rujak rupanya. Mama mau donk" mama Farida datang bergabung dan di buat ngiler melihat rujak buatan menantunya. 


"mama duduk saja dulu, biar lian siapin" Berlian menarik kursi buat mertuanya dan dia mengambil satu buah piring. 


"Mama kalau mau rujak, beli saja di luar. Rujak ini buat Bintang semuanya"cerocos Bintang dengan mulut terisi. 


"Sayang, rujaknya masih banyak. Nggak ada salahnya mama juga ikut mencicipi. Ga boleh ajarin pelit Adek ya " ujar Berlian menegur Bintang yang seperti anak kecil saja.


"Itu tandanya, Bintang sayang sekali sama kamu dan calon anaknya, makannya dia juga ikutan ngidam" mama Farida balas berbisik. Berlian tersenyum bahagia mendengarnya. 


"Sayang, kamu dari tadi bisik-bisik apa sih sama mama?. Bikin curiga saja" 


"Enggak, mama cuma mau bilang sama istri kamu, kalau kamu nggak mau mama ikut makan rujak, nggak usah di paksa. mama bisa beli sendiri" terang mama Farida berbohong. 


Bintang jadi tak enak hati dan tak tega dengan mamanya. 


"mama nggak usah capek-capek beli di luar. Mama makan saja rujak yang sudah di bikin Lian. Enak lho dari pada rujak beli di luar" 


Mama farida dan Berlian senang mendengarnya. Berlian dengan antusias mengisi piring yang kosong dengan rujak bikinannya. 

__ADS_1


"Tapi, nggak boleh banyak-banyak, sedikit saja. Soalnya aku mau nambah makan rujaknya. Ntar perut mama mules lagi kebanyakan makan rujaknya"


Berlian dan mama mertuanya cuma bisa melengos dan terpaksa banyak bersabar menghadapi tingkah aneh Bintang.


__ADS_2