
"Lian, maafkan aku. Selama ini aku begitu egois memikirkan kesenangan aku sendiri. Kamu sudah begitu sabar menghadapi aku dan selalu tahu apa yang aku mau. Tapi aku justru tidak pernah peka mengetahui sesuatu tentang kamu. Maafkan aku" ujar Bintang penuh sesal.
"Mungkin tebakan aku benar, mungkin juga salah. Kamu berias diri secantik ini karna prasangka kamu terhadap Bella. Kamu mau berdandan atau tidak, kamu mau memakai gaun sebagus dan semahal apa pun atau kamu memakai baju biasa saja, bagi aku kamu tetap cantik. Kecantikan kamu tidak bisa di bandingkan dengan Bella atau wanita mana pun" pungkas Bintang yang tanpa bosan membelai lembut wajah istrinya. Dia pun kembali mengecup kening istrinya cukup lama dan turun lagi menyentuh lembut bibirnya.
"Mimpi indah, sayang" bisik nya tepat di depan bibir Berlian sebelum dia memejamkan mata sambil memeluk mesra tubuh Berlian.
...****************...
Pagi yang menyebalkan, meski Berlian terbangun dalam pelukan suaminya. Tetap itu tak mampu mencairkan kekecewaan Berlian terhadap Bintang.
"Dasar Bintang nyebelin" sungut Berlian bangun dari tempat tidur dalam keadaan utuh dengan gaunnya dan itu jadi salah satu pokok kekesalannya selain masalah Bella yang belum terselesaikan.
"Kenapa sih semalam kamu ngga bangunin aku. Padahal aku sudah dandan cantik-cantik buat kamu. Kamu bangunin aku, kasih pujian atau apa kek" oceh Berlian dongkol terhadap suaminya yang nyenyak tidurnya.
"Paling di mata kamu aku tetap jelek biar di dandani secantik apa pun karna di mata kamu hanya Bella wanita yang paling cantik makanya kamu memilih tidur dari pada capek-capek memberi pendapat tentang penampilan istrimu sendiri" ujar Berlian di balut kecewa karna sebagai seorang istri, dia sangat ingin di puji oleh suaminya sendiri.
...****************...
Cahaya matahari begitu kuat menerpa kelopak mata Bintang. Bintang dengan enggan membuka matanya dan kaget melihat terangnya sinar matahari lewat tirai jendela yang terbuka.
"Lian, sudah siang, kamu bangun" Bintang meraba ke sampingnya dan kosong.
"lian sudah bangun, tapi kenapa dia ngga bangunin aku" kesal Bintang. Bintang pun turun dari tempat tidur dengan malas-malasan.
"Jam 7...?!" cengangnya melihat jam dinding di kamarnya. Bintang kalang kabut masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Tidak sampai 10 menit, Bintang keluar dengan keadaan segar bugar dan dia di buat kalang kabut menyiapkan sendiri kemeja, dasi, jas hingga sepatunya karna Berlian tidak menyiapkan semua seperti pagi-pagi sebelumnya.
"Lian, kamu sebenarnya kenapa, sih?. Kenapa semua keperluan aku tidak di siap kan?" Bintang mengomel sendiri sambil susah payah memasangkan dasinya. Dulu sebelum menikah dengan Berlian, memasangkan dasi bukan hal yang sulit baginya. Tapi, sejak menikah dan Berlian selalu memanjakan paginya, semua begitu merepotkan bagi Bintang.
...****************...
Di meja makan, Berlian juga berulah. Bintang kehilangan semangat hidupnya. Berlian yang biasanya melayaninya di meja makan, pagi ini justru cuek dan mengacuhkan dirinya. Tak ada roti isi atau roti panggang di depannya. Bintang melirik kearah Berlian dan berharap dia melayaninya seperti biasa. Tapi Berlian terlihat tak mau tahu dan santai saja mengunyah sarapannya berupa nasi goreng.
"Lian, kamu tidak membuat sarapan buat suami kamu, Bintang nya dari tadi belum makan apa-apa, nak" tegur mama Farida pada menantunya.
"Biarin aja lah , ma. Siapa tahu Lian nya sudah capek melayani kemanjaannya Bintang" sambar Rangga yang dari tadi terlihat senang membaca suasana tidak baik antara kedua pasutri itu.
Berlian langsung berhenti sarapan dan melirik jengah pada Rangga yang menurutnya sengaja memancing di air keruh dan Berlian tidak suka ada orang lain yang masuk dalam persoalannya dengan Bintang. Apa yang dia lakukan hanya semata-mata ingin Bintang jujur mengenai perasaannya ke Bella.
"bin, kamu mau sarapan sama apa?. Biar aku ambilkan" Berlian mencoba bersikap manis lagi terhadap suaminya dan terkesan terpaksa. Bintang bisa merasakan itu dan dia tak nyaman dengan sikap istrinya pagi ini.
"Aku berangkat dulu" pamit Bintang seperti biasanya.
"Iya" sahut Berlian singkat tanpa ada pesan apa pun seperti hari-hari sebelumnya, lalu mencium tangan suaminya.
Bintang berdiri di tempat menunggu kata-kata semangat keluar dari mulut Berlian dan percuma, Berlian diam saja. Bintang terpaksa pergi dengan seribu kecewa akan sikap istrinya.
...****************...
Kurang lebih 15 menit dalam perjalanan menuju kantor, Bintang memutuskan kembali pulang, karna jiwanya tak tenang di acuhkan oleh Berlian. Paginya seakan tak ber mentari tanpa di lepas dengan senyuman menawan dan pesan-pesan semangatnya. Bintang benar-benar kehilangan separuh nafasnya pagi ini.
...****************...
__ADS_1
"Hei, Lian " sapa Rangga begitu ceria dan berani mendekati Berlian yang mau menyiram tanaman sepeninggal Bintang.
"Rangga" ucap Berlian terkejut melihat Rangga mendekatinya di saat Bintang tak di rumah dan mertuanya sibuk menerima telpon di dalam rumah.
"Kamu ngapain di sini?. Kamu tidak berangkat ke kantor?"
"Aku kangen sama kamu, aku ingin sekali berduaan dengan kamu" Rangga dengan berani meraih tangan Berlian.
"Rangga, lepasin tanganku. Kamu tidak punya hak apapun untuk menyentuhku" Berlian coba menarik tangannya yang di genggam kuat oleh Rangga.
"Aku tidak akan melepaskan kamu karna aku masih men..."
"BINTANG..." ucap Berlian terpukul mendapati sorot mata yang menatap tajam kearahnya.
"Bintang" gumam Rangga.
"Lepasin tanganku" Berlian menyentak kuat tangannya hingga terlepas dan Berlian berniat mendekati suaminya. Tapi, Bintang keburu pergi dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Bintang, tunggu. Dengarkan dulu penjelasanku" panggil Berlian. Tapi Bintang tak menggubris dan langsung menaiki mobil dan melajukannya dengan kencang. Rangga tersenyum puas bisa memperuncing masalah antara Bintang dan Berlian.
...****************...
Semua terasa menyakitkan. Melihat Rangga menggenggam tangan istrinya dengan sorot mata misterius membuat Bintang berada pada posisi menakutkan. Tumbuh besar bersama Rangga, Bintang banyak melewati hal menyakitkan dan selalu di nomor duakan oleh ayah tirinya. Rangga selalu mendapatkan apa yang dia inginkan dan merebut apa yang di miliki melalui pembelaan om Reza (ayah tiri Bintang). Apa Rangga sengaja ingin merebut Berlian darinya?. Atau Rangga dan Berlian memang memiliki hubungan di luar sepengetahuannya mengingat Rangga pernah merekomendasikan Berlian bekerja di kantornya. Selama ini sikap Rangga juga sangat mencurigakan tiap berdekatan dengan Berlian. Dari gerak tubuh, cara pandang Rangga ke berlian benar-benar patut di curigai.
"Bintang, sebenarnya ada apa denganmu?. Jangan cuma karna masalah Berlian kamu jadi kehilangan semangat hidup begini. Kamu tidak boleh lemah hanya karna masalah wanita yang tidak penting" Bintang menyemangati dirinya sendiri dan menghalau rasa cemburu dan takut kehilangan Berlian.
__ADS_1
Namun, sekuat apa pun Bintang menghalau semua itu, tetap saja bayang-bayang Rangga mendekati Berlian datang menyambangi dan itu lebih menakutkan dari sekedar bayangan.