
"Kenapa?. Mau marah?. Kamu bisa berbuat apa melawan ku?" tantang Bintang tersenyum sinis penuh kemenangan.
"Kamu mau tahu apa yang bisa aku perbuat membalas perbutan mu?"
Berlian mengambilkan kembali keranjangnya.
"Rasain nih" keranjang yang ada di tangannya di tangkup kan ke kepala Bintang hingga menutupi wajah tampan itu dari penglihatannya.
"Apa-apaan ini?" seru mandor yang tadi ada bersama Bintang datang membantu dan menurunkan keranjang itu dari kepala nya.
"Hahahahaha....." Berlian beserta ibu-ibu pemetik teh serentak tertawa melihat keadaan Bintang yang di kepalanya terdapat daun teh.
"Diam" bentak Bintang keras dan sangar.
Semuanya diam dan kembali memetik teh , kecuali Berlian yang tersenyum puas bisa mempermalukan Bintang di depan orang banyak.
"Ini semua karena kamu" gertak Bintang.
"Kenapa?. Mau marah?. Atau daun tehnya masih kurang?. Nih, aku tambahin" Berlian menyuap paksa beberapa daun teh yang ada di tangannya ke mulut Bintang, jelaslah bintang mengamuk tak terima.
"Berliaaannn...." teriaknya dengan wajah memerah dan rahang mengatup.
"Saatnya kabur" Berlian langsung berlari menghindar dari amukan Bintang yang ikut berlari mengejarnya.
"Berlian, aku tidak akan membiarkan kamu lepas. Aku akan buat perhitungan dengan kamu" gumam Bintang sambil terus berlari.
"Gila, ternyata lari gadis itu kencang juga" ujar Bintang begitu kesulitan berlari di antara pepohonan daun teh.
"Tampangnya boleh sangar, tapi larinya masih kalah dari bencong. Tangkap aku kalau kamu bisa.....weeekkkk....." cibir Berlian yang berhenti sebentar mengejek pemuda arogan yang mengejarnya.
"Kurang ajar, berani sekali dia meremehkan ku" Bintang mengencangkan larinya menyusul Berlian, dia tak terima di remehkan oleh siapa pun, apa lagi seorang perempuan.
Keasyikan berlari, membuat Berlian tidak sadar di depannya ada tanah landai yang cukup miring. Saat dia mau berhenti, keadaan sudah tak memungkinkan.
"Aaaaaaa..." Berlian berteriak kencang, tubuhnya tak seimbang, tangannya berusaha mencari pegangan.
"Kena kamu" seru Bintang tak sadar posisi Berlian seperti apa.
"Aaaaaaa" Bintang ikut berteriak, tangannya terlanjur di tarik oleh Berlian . Keduanya pun jatuh berpelukan berguling menuruni permukaan tanah yang miring. Berlian sengaja menutup mata saat itu sampai mereka berhenti di tanah yang datar dengan posisi Bintang menindih tubuhnya.
__ADS_1
"Kamu.."
Mata Berlian terbuka, dua pasang mata langsung beradu pandang begitu dekatnya.
"Aaaaaa" Berlian berteriak histeris dan mendorong tubuh Bintang yang menindih tubuhnya . Berlian cepat-cepat berdiri dan menggosok hidungnya berkali-kali karna bibir Bintang tanpa sengaja menempel di hidungnya sekilas.
"Dasar cowok mesum, kamu sengaja kan mencium hidung ku?" protes Berlian .
"Apa? aku sengaja mencium hidung kamu? Hoekkkk...." Bintang berlagak orang yang mau muntah.
"Udah pesek hidung kamu tuh kotor lagi , buat apa aku nyium-nyium. Jangan-jangan, kamu nyosor mau di cium oleh ku" lanjutnya.
"Sembarangan saja kalau ngomong . Hidung mancung gini dibilang pesek dan kotor . Mending hidung ku di tempel ulat bulu dari pada bibir kamu yang pedas itu nempel di hidung ku"
"Ulat bulu,boleh juga"
Bintang mengitari pandangannya di sekitar tempat dia berdiri. Senyumnya mengembang puas melihat makhluk kecil, panjang, berwarna hijau, menempel di rumput liar . Yang penting makhluknya berbulu.
"Ini dia yang kamu mau"
Bintang menakuti Berlian dengan ulat bulu tersebut.
"Hei kamu, jangan lari, tepati janji kamu sama ulat bulu ini" Bintang pun berlari menyusul Berlian.
Dari tempat yang lebih tinggi, Mama Farida tersenyum bahagia bisa menyaksikan putranya yang sempat tertawa lepas, setelah bertahun-tahun tawa itu hilang.
Berlian terus berlari menghindari kejaran Bintang yang terus menakutinya dengan ulat bulu. Sampai di ujung jalan keluar dari kawasan perkebunan, keduanya masih kejar-kejaran.
"Lian,kamu ngapain lari-larian di pinggir jalan?. Seperti di kejar setan saja" tegur Kartika yang kebetulan lewat menggunakan sepeda motornya.
Kartika datang tepat pada waktunya .Dia ibarat pahlawan bagi Berlian yang kondisinya kian terjepit karena Bintang terus mengejarnya.
"Tika,,,kebetulan kamu lewat. Dari tadi aku di kejar sama orang gila" jawab Berlian ngos-ngosan .
"Orang gila,mana?" Kartika mengedarkan pandangan. Tapi, orang gila yang di maksud sahabatnya tidak kelihatan.
"Jangan kebanyakan nanya. Lebih baik kamu anterin aku pulang sebelum orang gila itu mendekat dan mengamuk"
Seperti kebiasaannya, Berlian langsung menaiki sepeda motor temannya tanpa harus menunggu persetujuan Kartika.
__ADS_1
"Berlian, kamu jangan kabur" teriak Bintang mulai mendekat.
"Tika, cepetan" berlian menepuk bahu temannya. Kartika yang awalnya ingin memastikan siapa yang dari tadi mengejar temannya terpaksa menjalankan motornya kembali.
"Sial,dia kabur lagi" umpat Bintang sambil menyeka keringat di dahinya.
"Huaaaa..ulat bulu" teriak Bintang spontan melihat hewan melata yang masih di pegang nya bersama sehelai daun. Bintang melonjak kaget dan membuang ulat tersebut.
"Hahahaahaa....ternyata cowok songong seperti kamu takut juga sama ulat bulu" ledek Berlian tertawa geli melihat aksi spontan Bintang dari atas motor yang terus melaju.
"Dasar cewek norak, kampungan. Awas saja kalau kita ketemu lagi. Aku pastikan ulat bulu itu nempel di hidung kamu. Kalau perlu nempel di bibir kamu sekalian" teriak Bintang keras.
"Wekkk" balas Berlian mencibir.
"Lian ,kamu lagi ngetawain siapa,sih?" tanya Kartika penasaran.
"Bukan siapa-siapa . Itu cuma cowok angkuh yang belagunya minta ampun" jawab Berlian dari belakang.
"Sepertinya aku kenal dengan suara tadi" gumam Kartika mengingat sesuatu hal.
"Bukannya tadi itu, Bintang "ingatnya dalam hati. Seulas senyum pun melengkung indah dari sudut bibir Kartika.
...****************...
Bintang menghempaskan tubuhnya di atas kasur tempat tidurnya. Ingatannya melayang pada kejadian tadi siang di perkebunan.
"Gadis itu ternyata lucu juga "gumam nya. Tanpa sadar dia tersenyum sendiri mengingat wajah Berlian yang ketakutan ketika di takuti dengan ulat bulu.
"Lucu apanya?. yang ada norak dan kampungan" bantahnya sendiri sambil bangkit dan duduk. Matanya langsung tertuju pada sebuah buku yang terletak di nakas kecil di samping tempat tidurnya. Bintang jadi penasaran dengan buku yang dia temukan waktu pertemuan pertama kalinya dengan Berlian.
"Goresan Pelangi" gumam Bintang membaca bagian depan sampul bergambar bunga mawar merah.
"Di lihat dari sampulnya, sepertinya isi buku ini menarik" ujarnya. Dia pun mulai membuka lembar demi lembar halaman buku.
Bintang tertegun menutup buku tersebut. Ada persamaan dalam tiap bait kata yang tersusun rapi dan indah.
"Ada lain hati dengan cinta sejatinya untukmu" gumam Bintang mengulang bait terakhir novel tersebut.
"Tidak mungkin!. Di dunia ini tidak ada namanya cinta sejati, yang ada hanya kepalsuan" batin Bintang bergejolak membantahnya. Tapi, kenapa dia jadi memikirkan isi novel itu?. Apa istimewanya coba?.......
__ADS_1