
"Jasa sepeda ku tidak senilai dengan ucapan terima kasih yang mungkin tidak akan pernah keluar dari mulut angkuh seperti kamu. Seandainya bukan karena sepeda ini, mungkin kamu akan kehilangan rasa percaya juga kesempatan besar dari klien kamu yang sepertinya sangat penting."
"Permisi. ku harap ini pertemuan kita yang terakhir kali"
Berlian memutar sepedanya, dia sudah muak meladeni kata-kata pedas yang keluar dari mulut lelaki sombong itu.
"Tunggu.." seru seseorang. Yang pasti bukan lelaki sombong itu, itu suara wanita. Berlian terpaksa diam di tempat dan tak jadi menaiki sepedanya.
"Kamu Berlian kan?" Mama Farida mendekat dan bertanya. Bintang hanya bisa bingung kenapa mamanya bisa tahu nama gadis itu. Apa mamanya itu sudah pernah bertemu dengan berlian sebelumnya?.
"Iya, saya Berlian " jawab Berlian dengan raut wajah heran kenapa ibu cantik itu bisa mengenal dia, padahal Berlian merasa belum pernah bertemu dengan ibu itu sebelum-sebelumnya.
"Berlian, cucunya Bu Aminah pemetik teh di perkebunan?"
"Iya?" Berlian makin di buat heran.
"Kamu sudah dewasa dan makin cantik saja" mama Farida memegang lembut pipi kanan Berlian dengan sorot mata yang membuat Berlian merasa begitu damai berada di dekat wanita yang menurutnya sebaya dengan ibunya jika ibunya masih hidup.
"Terima kasih karena kamu sudah mau mengantarkan Bintang. Tante minta maaf, kalau kata-kata dari anak tante tadi menyinggung perasaan kamu"
"Jadi Ibu cantik ini mama nya si sombong yang bernama Bintang itu. Kasihan sekali ibu sebaik ini punya anak belagunya minta ampun" ujar Berlian dalam hati.
"Ma, kita sudah tidak waktu. Kita harus memulai meeting segera" kata Bintang mengingatkan mamanya.
"Berlian, tante tinggal dulu" Mama Farida tersenyum sambil berlalu meninggalkan Berlian.
"Iya, tante" Berlian mengangguk dan membalas senyuman Mama Farida. Senyumannya seketika menghilang ketika Bintang meliriknya.
"Weekkk...." Berlian menjulurkan lidahnya mencibir Bintang. Bintang tanpa sadar tersenyum tipis menanggapi cibiran Berlian dan Mama Farida menangkap jelas senyuman putranya.
"Berlian gadis yg tepat buat kamu,nak. Mama yakin itu" gumam mama Farida dalam hati.
...****************...
__ADS_1
Berlian harus kecewa karena Kartika tidak ada di rumahnya. Sahabatnya itu sedang pergi ke rumah kerabatnya di ibu kota. Berlian terpaksa putar haluan menuju telaga cintanya bersama Rangga. Sudah 5 hari ini, Berlian memendam kerinduannya pada sosok pujaan hatinya. Rangga hanya mengirimkan pesan WhatsApp sesekali karena kesibukan nya. Berlian pun tak ingin mengganggu nya seandainya Rangga tidak menghubungi nya lebih dulu.
Rindu nya pada Rangga, Berlian tuangkan melalui goresan pena dan kertas yang selalu di bawanya kemana-mana. Di tepian telaga, Berlian menuangkan semua yang dia rasakan.
setelah puas , pena pun berhenti menari . Berlian menarik nafas sambil menutup bukunya. Matanya menatap jauh ke depan menantang cahaya matahari sore.
...****************...
"Bin, menurut kamu Berlian itu bagaimana?" Mama Farida bertanya pada putranya dalam perjalanan pulang setelah meeting berjalan dengan lancar dan sukses.
"Apanya yang bagaimana?" Bintang tak paham apa yang di bicarakan mamanya.
"Kamu kan laki-laki. Menurut kamu Berlian itu gadis yang cantik, kan?" Mama Farida memancing respon putranya.
"Biasa saja" jawab Bintang jengah dan sedikit bingung kenapa ibunya tiba-tiba tertarik membicarakan gadis bernama Berlian itu.
"Menurut mama, Berlian itu gadis yang cantik" ujar wanita paruh baya itu memberikan pendapatnya. Bintang hanya diam dan melemparkan pandangan nya keluar kaca mobil. Pandangan matanya langsung tersita mengamati seorang gadis yang sedang mengayuh sepedanya. Bintang terus menatap gadis itu ketika mobil yang di kendarai sopirnya mendahului gadis bersepeda itu. Mata Bintang tak mau lepas sampai mobil yang membawanya makin jauh meninggalkan Berlian.
"Cantik,bukan?" goda Mama Farida yang dari tadi mengamati tingkah berbeda dari putranya.
...****************...
Sesuai kesepakatan dengan pihak investor . Perluasan lahan perkebunan juga penambahan area pabrik , Bintang sebagai Presdir sepakat untuk menggusur beberapa pemukiman penduduk yang selama ini memakai tanah perusahaan.
Keputusan ini di buat di luar sepengetahuan Mama Farida. Karena bisa di pastikan, mamanya akan menolak habis-habisan rencana itu. Sebab ibu satu anak itu terkenal sangat dekat dan baik dengan penduduk kampung. Untuk melancarkan misinya, Bintang meninjau langsung pemukiman mana yang akan di gusur bersama seorang rekannya.
...****************...
Halaman rumah Berlian ramai dari biasanya. Beberapa bocah berseragam putih merah berebutan ingin mengambil buah rambutan yang memerah. Berlian yang datang bersama Kartika langsung heboh melihat ada yang mau ambil buah rambutannya.
"Nih bocah, bukannya pada pulang ke rumah habis sekolah, malah mau nyolong rambutan di halaman rumah orang" omel Berlian pada tiga bocah laki-laki yang memang terkenal badung di sekitar tempat tinggalnya.
"Kita bukannya mau nyolong, kak Lian. Kita sudah minta langsung kok sama pohonnya" jawab si alif seenak jidat.
__ADS_1
"Kalau minta itu sama yang punya, bukan pohonnya" sela Berlian berkacak pinggang menggertak ke tiga bocah badung tersebut.
"Lian udah, nggak usah di ladeni. Namanya juga anak-anak" kata Kartika mengingatkan sahabatnya.
"Biarpun anak kecil, mereka harus di ingatkan kalau salah" sergah Berlian.
"Mau minta sama siapa lagi,kak?. Minta sama kakek kak Lian, kita nggak berani. Kakek kak Lian kan pelit" bocah paling gendut di antara dua sahabatnya setengah berbisik ketika mengatakan kakek Dharma pelit. Bisa di dilempar sandal kalau kakek dharma dengar.
"Sembarangan saja kalau ngomong" gertak Berlian menyurutkan nyali ketiga bocah itu. Tapi melihat wajah polos itu Berlian tidak tega juga.
"Begini saja. Kalian pulang ke rumah masing-masing, ganti baju, makan, pamit sama orang tua, habis itu kalian boleh ambil tuh buah rambutan" ujar Berlian mengajukan syarat.
"Baik,kak" sahut ketiganya senang.
"Kak Lian baik deh. Mau donk jadi pacarnya" goda si alif .
"Ini anak minta di jewer yah" Sebelum jari Berlian mengenai telinganya, alif dan teman-temannya segera kabur.
"Anak zaman sekarang, kecil-kecil sudah tahu pacaran, sekolah saja belum benar juga" oceh berlian yang di tanggapi cekikikan oleh Kartika.
"Lian, panas-panas gini, kayaknya segar banget kalau makan rambutan. Apalagi rambutannya ranum-ranum gitu" ujar Kartika sambil melihat ke atas. Melihat buah rambutan yang berbuah lebat dan merah, membuat Kartika tergoda ingin mencicipinya.
"Kamu kedalam rumah, ambil bakul atau kantong kresek, biar aku yang ambilkan buah rambutannya buat kamu"
"Bagaimana caranya, pohon rambutannya tinggi gitu?"
"Gampang" Berlian memainkan alis dan senyumnya.
"Jangan bilang kalau kamu mau memanjat?" tebak Kartika.
"Udah, sana masuk" Berlian mendorong bahu Kartika dari belakang. Mau tak mau, Kartika pun masuk kedalam rumah sederhana itu.
"Saatnya beraksi" ujar Berlian tersenyum lebar.
__ADS_1
Dengan keahlian manjat memanjat yang menjadi hobinya, Berlian dengan mudah menaiki cabang demi cabang pohon rambutan yang tumbuh di pekarangan rumahnya. Meskipun pakai rok, Berlian tidak menemukan kendala menaklukan pohon yang lumayan tinggi itu.