
Arya salah kaprah, preman yang mengejarnya bukan mau menagih hutang atau pun mau menghabisinya, mereka justru mau menawarkan hutang baru karna tahu dia punya adik ipar yang kaya raya dan sudah melunasi hutangnya sekalian dengan bunganya. Arya merasa harus berterima kasih kepada adik iparnya.
...****************...
"Rangga, jangan" Berlian kembali berteriak melihat Rangga hendak menghantam ulu hati Bintang. Arya datang tepat waktu.
"Kamu..." geram Arya.
Dengan cepat Arya menghantam punggung Rangga, kemudian memelintir tangan laki-laki itu dengan kuat.
"Kak, tolong bawa Rangga keluar dari sini" pinta Berlian pada kakaknya yang ibarat pahlawan baginya.
"Kamu ikut aku" Arya menyeret Rangga keluar dari ruang bercat putih itu.
Bintang cepat-cepat mengunci pintu karna tak mau kecolongan lagi.
"kamu ngga apa-apa kan?" Bintang tak bisa tenang melihat Berlian yang syok.
"pelipis kamu luka" Berlian panik dan menyentuh bagian wajah suaminya yang luka.
Berlian mengajak Bintang duduk di tempat tidur rawatnya. Kemudian dengan sapu tangan miliknya, Berlian membersihkan darah yang keluar dari pelipis kiri Bintang.
"Ahh..." Bintang meringis menahan sakit.
"Maaf... maaf... sakit ya?" ujar Berlian merasa bersalah.
Berlian menarik wajah Bintang, dengan lembut Berlian meniup luka di pelipisnya. Bintang terbuai akan sejuknya terpaan nafas Berlian.
"kamu jangan dengerin omongan Rangga. Kamu laki-laki yang sangat baik. Kamu suami yang sangat luar biasa bagiku" kata Berlian selesai meniup pelipis suaminya hingga darahnya mengering dengan cepat karna lukanya tak begitu parah.
Bintang tersenyum dan menemukan semangat dan tenaganya mendengar ucapan Berlian. Bintang tanpa ragu mencium kening istrinya dan ciumannya merambah turun menguasai bibir Berlian dengan lembut. Berlian tak tinggal diam dan ikut membalas ciuman Bintang. Keduanya tenggelam dan hanyut dalam sentuhan kemesraan yang berakhir dengan senyuman dan pelukan. Dalam pelukan itu wajah Berlian berubah murung mengingat kelakuan Rangga yang mulai berani.
"Bin, aku mau pulang sekarang" pintanya dengan pertimbangan matang.
"Kita pulang setelah keadaan kamu benar-benar sehat" tegas Bintang.
"Bin, aku ga mau kejadian tadi terulang lagi. Aku takut,Bin. Seandainya kamu ngga datang tepat waktu..." Berlian mau menangis dan tak sanggup jika hal memalukan itu terjadi.
"Kamu jangan nangis" Bintang kembali memeluk belahan jiwanya.
__ADS_1
"Kita pulang sekarang tapi aku akan membicarakan hal ini terlebih dulu dengan dokter" Bintang membuat keputusan yang di pikirkan baik buruknya. Berlian pun bisa bernafas lega dalam pelukan suaminya.
...****************...
Teriakan ibu Dewi menyurutkan langkah Arya yang mau menemui adiknya setelah mengusir Rangga. Arya bergegas masuk melihat keadaan Bella. Tak sampai 5 menit, Arya keluar dengan berlari menuju ruang rawat adiknya.
Melihat kakaknya yang datang, Berlian membukakan pintu yang sengaja di kunci sesuai dengan pesan Bintang yang cemas meninggalkannya sendirian lagi.
"dek, kakak mohon bantu kakak sekali ini" pinta Arya yang langsung nyelonong masuk dengan wajah di balut kecemasan luar biasa.
...****************...
Butuh waktu bagi Bintang agar berlian bisa pulang malam itu juga. Setelah semua urusannya selesai, bintang buru-buru kembali ke ruang rawat berlian.
"Dokter mengizinkan kamu pulang. Kamu tunggu sebentar, biar aku kemas-kemas dulu" beritahu Bintang semangat.
"nanti saja..." cegah Berlian cepat.
"Sebelum kita pulang, aku mau mengajak kamu menemui seseorang."
Bintang yang tak mengerti, mau saja menuruti kemauan istrinya.
...****************...
"kamar rawatnya Bella" potong Berlian.
"Kamu ngapain ajak aku kesini?. Kita pulang, sekarang"
Bintang berniat menarik tangan berlian dan mengajaknya pergi, tapi Berlian menolaknya.
"Kak Arya sudah cerita tentang keadaannya Bella yang sebenarnya"
"Apa?" Bintang terkejut.
"Bin, kenapa kamu ga menuruti permintaan ibunya Bella?. Padahal kamu sudah tahu keadaanya bagaimana?"
"Lian, kamu pikir aku gila menemui perempuan lain sementara istriku sedang sakit walaupun sakitnya tak separah perempuan itu. Ga mungkin lah, dia bukan tanggung jawab ku"
Berlian tersenyum bangga mendengarkan jawaban Bintang dan dia makin yakin dengan keputusannya mempertemukan Bella dengan Bintang meski itu terasa sakit baginya.
__ADS_1
"Lian, apa kamu mau suamimu membagi perhatiannya dengan wanita lain?" Bintang menatap getir berlian.
"Jika aku memakai hati sebagai seorang istri, jujur aku ngga pernah bisa melihat kamu dengan wanita lain. Ada saatnya di mana aku harus menempatkan sisi kemanusiaan ku dengan sebuah landasan kepercayaan kalau kamu akan melakukan sesuatu dengan sisi kemanusiaan mu tanpa harus di bayang-bayangi oleh kisah masa lalu kamu dengannya"
Bintang dibuat terkesima dengan naluri kemanusian Berlian tanpa harus menjatuhkan status hubungan suci mereka. Hanya Berlian yang membuat hatinya tergerak mau menemui Bella dan Berlian jualah alasan dia mau bertemu dengan Bella.
...****************...
Air mata Berlian tak tertahan begitu melihat keadaan Bella secara langsung. Bella yang di kenalnya lewat foto yang terlihat elegan dan cantik jauh sekali dengan apa yang di lihatnya kini, Bella terlihat sangat kurus dan rahangnya yang tirus tak lagi berisi.
Bintang tampak ragu mendekat, namun Berlian tetap menyemangatinya tanpa mau melepas genggaman tangannya.
"Bella kamu pasti dengar suara aku dan kamu pasti tahu siapa pemilik suara itu"
Air mata Bella menetes menanggapi suara yang menyapanya.
"Aku ngga tahu ada alasan apa kamu ingin menemuiku sedangkan di sini ada ibu yang sangat luar biasa yang tak pernah patah semangat dengan doanya. Di sini juga ada arya yang punya cinta luar biasa buatmu. Arya laki-laki terhebat yang tak pernah meninggalkanmu dalam kondisi apa pun" ujar Bintang sembari menatap ibu Dewi yang tak kuasa menahan air matanya dalam rangkulan Arya.
"Jika itu ada kaitannya dengan masa lalu kita, aku minta maaf karena aku begitu sering menyakitimu"
Bintang memberanikan diri untuk sekedar menyentuh jemari Bella yang pucat dan kaku.
"Aku sudah melupakan masa lalu kita dan aku sudah memaafkan kesalahan yang kamu perbuat"
"Tittt............" alat pendeteksi detak jantung Bella bergaris lurus usai Bintang menyampaikan kata terakhirnya.
"Tidak....Bella , sayang" ibu Dewi histeris dan menghambur memeluk tubuh putrinya yang terbujur kaku.
Berlian ikut menangis merasakan apa yang di rasakan oleh ibunya Bella karna berlian pernah juga kehilangan orang terdekatnya dan Bintang langsung memeluknya erat.
Tubuh arya merosot dengan tatapan nanar berlinang air mata.
...****************...
Iringan doa dan air mata dari orang tua, saudara dan sahabat melepas kepergian Bella menuju peristirahatan terakhirnya. Ibu Dewi, orang yang paling merasa kehilangan tak hentinya menangis dan meratapi kepergian sang buah hati untuk selamanya. Saat jenazah putrinya di masukkan ke liang lahat, ibu dewi sempat pingsan tak sadarkan diri.
Arya yang turut melepas kepergian pujaan hatinya untuk terakhir kalinya tampak kuat dan tegar menyembunyikan kesedihan juga air matanya.
Dari sekian orang yang datang mengiringi kepergian Bella, tak tampak ada Bintang atau pun Berlian di acara pemakaman tersebut. Hanya ada arya yang setia mengikuti proses pemakaman dari awal sampai akhir.
"Selamat jalan, Bella!. Selamat datang di keabadian. Raga kita yang terpisah tak akan jadi alasan untuk aku melupakan mu. Aku cinta kamu" ucap Arya lirih dengan sorot mata sendu menatap nisan bertulis nama pujaannya.
__ADS_1
"Kamu jangan takut, sayang. Setiap hari aku akan datang menemui mu di sini. Kamu ga akan pernah sendirian" janji arya dengan mata berkaca dan dengan getir mengusap kayu nisan bertulis nama Bella.