
"Bin, kamu mau kemana?"
Pertanyaan itu sering meluncur dari bibir berlian setiap kali Bintang beranjak dari sisinya. Entah itu Bintang mau ke toilet, mengangkat telpon atau ada urusan dengan dokter, pertanyaan itu tak pernah absen keluar dari bibir Berlian. Semua bermula semenjak Berlian tahu Bella di rawat di rumah sakit yang sama dan bintang juga di ketahui pernah menjenguk Bella di luar sepengetahuannya. Sejak saat itu Berlian selalu di hinggapi rasa ketakutan. Takut Bintang akan menemui Bella lagi diam-diam seperti kemarin.
Namun,sebenarnya yang paling dia takutkan adalah Bintang kembali pada Bella dan memilih meninggalkan dia untuk selamanya. Bukannya dia tidak mempercayai suaminya, tapi rasa takut kehilangan bintang begitu nyata terasa. Berlian juga tak rela bintang membagi perhatiannya untuk wanita lain. Bintang miliknya. Tak ada satu orang pun yang boleh merebut Bintang dari sisinya.
"Bin, kamu mau pergi, ya?" Berlian tampak murung dan sedih melihat suaminya membereskan beberapa file yang di serahkan Karina , sekretarisnya Bintang belum lama ini dan harus di tanda tangani oleh Bintang sendiri.
Bintang meninggalkan file-file tersebut dan duduk di samping Berlian yang masih harus di rawat hingga 3/2 hari ke depan.
"aku ada sedikit keperluan di kantor. Mama minta aku kesana karna ada pekerjaan penting yang harus aku selesaikan"
"Jadi pekerjaan kamu jauh lebih penting dari pada aku?" ujar Berlian merajuk.
Bintang tersenyum tipis kemudian mendekap Berlian kedalam pelukannya.
"Tak ada hal yang lebih penting dari kamu" ucapnya yakin.
"Aku akan telpon mama dan bilang kalau aku ngga bisa datang" Bintang melanjutkan ucapannya sambil mengeluarkan handphone dari kantong celananya dan hendak menghubungi nomor mamanya.
Berlian yang diam dan memperhatikan keseriusan suaminya membuktikan ucapannya jadi merasa bersalah. Sudah hampir seminggu ini Bintang selalu menemaninya di rumah sakit dan pekerjaannya semua di tinggal demi menjaga dirinya. Berlian merasa dirinya begitu egois menahan agar Bintang selalu ada di sisinya.
"Kamu jangan telpon mama!!" dengan cepat Berlian mengambil handphone suaminya dan mematikannya.
"Loh kok di matiin?"
"kamu ngga boleh mengecewakan mama. Kamu harus pergi dan selesaikan pekerjaan kamu dengan baik" Berlian membuat keputusan yang menurutnya tepat.
"Pekerjaanku bisa di serahkan pada orang lain. Kamu jangan khawatir akan hal itu"
"Bin, mama pasti punya alasan sendiri kenapa meminta kamu datang kekantor. Aku ngga apa-apa kok "ucap berlian memberi pengertian.
"Aku akan hubungi nenek meminta beliau menjaga kamu" Bintang mengambil handphone nya kembali dari tangan Berlian.
"Sebaiknya jangan. Aku ngga mau merepotkan nenek. Nenek sudah tua, nanti beliau bisa kecapekan dan jatuh sakit kalau di suruh jaga aku di sini" tolak Berlian dengan alasannya.
"Kalau begitu aku minta bibi yang menemani kamu di sini"
__ADS_1
Bintang tak habis akal. Meski di cegah oleh Berlian, Bintang tetap menghubungi rumah dan meminta bi sumi segera datang ke rumah sakit.
"Sebentar lagi bi sumi datang. Baru habis itu aku berangkat ke kantor" kata Bintang setelah percakapan lewat sambungan telpon dengan pembantu rumah tangganya selesai.
"Bin, kalau kerjaan kamu sudah selesai, kamu langsung pulang ke rumah dan istirahat. Aku ngga mau kamu kecapekan dan ikutan sakit seperti aku"
"memangnya Kenapa? bosan ya lihat aku setiap saat"
"Aku ngga pernah bosan berada di dekatmu. Ngga sama sekali!" ujar Berlian sambil mendekap tubuh atletis Bintang.
Bintang balas memeluknya dan tak lupa mengecup mesra ubun-ubun wanita yang banyak membawa perubahan dalam hidupnya.
"Setelah pekerjaanku selesai, aku akan langsung kesini menjaga kamu lagi"
"Terserah kamu saja" ujar Berlian mengalah dan tak mau berdebat dengan Bintang.
"Gitu donk" senyum Bintang senang dan semangatnya pun kembali.
...****************...
...****************...
Bintang pergi, Berlian berniat menemui Bella. Dia ingin sekali berkenalan langsung dengan mantan suaminya. Dan Berlian juga penasaran, Bella sebenarnya sakit apa.
Bi sumi tak bisa berbuat apa-apa, dia hanya bisa menurut kemauan istri majikan mudanya dan mengikuti nya dari belakang.
...****************...
"Bintang... tunggu!!" panggil seorang pemuda.
"Arya...?" Bintang menutup kembali pintu mobilnya yang hendak dia naiki.
Arya sedikit berlari menghampiri adik iparnya.
"Aku dengar Lian sakit dan di rawat di rumah sakit ini. Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Arya setelah dia berhadapan dengan Bintang.
__ADS_1
"Apa peduli kamu jika Lian sakit?" cecar Bintang dengan tampang dinginnya.
"Lian itu adikku, jelas aku peduli dengan keadaan dia" sela arya.
"Kakak macam apa kamu yang selalu membuat adiknya menderita. Gara-gara ulah kamu, Berlian hampir saja kehilangan nyawanya" sengit Bintang dengan tatapan sinis nya.
"Memangnya apa yang terjadi pada lian?" Arya makin cemas memikirkan keadaan adiknya.
"Jangan sok peduli dengan keadaan Lian. Kamu kesini bukan dalam rangka ingin menemui dia tapi kamu ingin menemui Bella kan?"sentak Bintang.
"Bin, kamu sudah tahu Bella sakit dan mungkin kamu sudah tahu bagaimana keadaanya kini. Apa yang akan kamu lakukan setelah itu?"
"Bella bukan urusanku. Kamu urus saja dia sendiri dan jangan pernah melibatkan aku seperti ibunya" tegas Bintang.
"Memangnya tante Dewi bilang apa sama kamu?" Arya di buat penasaran.
Bintang tak mau menjawab dan buang waktu lagi. Dia pun menaiki kendaraan roda empatnya.
"Berlian sudah di rawat hampir seminggu ini dan kamu belum pernah menampakkan batang hidung kamu di hadapannya. Jika kamu bisa jaga etika, kamu boleh temui dia. Tapi, saat aku kembali aku ga mau melihatmu ada di dekat istriku" ucap Bintang sebelum melajukan mobilnya.
Arya hanya bisa berkacak pinggang dan tersenyum kecut membiarkan Bintang pergi begitu saja.
"Bagaimana cara membujuk Bintang supaya mau merawat Bella sedangkan dia begitu ngga pedulinya dengan keadaan bella meski dia sendiri sudah tahu bagaimana kondisinya " gumam arya pusing sendiri memikirkan jalan keluar menolong wanita yang di cintainya.
"Itu dia sia arya" seru pemuda bertampang sangar menunjuk kearah pemuda berjaket levis biru.
Dua sekawan yang ikut dengan pemuda itu memutar penglihatannya kearah yang di tunjukkan sahabatnya.
"Arya!!!!" teriaknya serentak.
Mendengar namanya di panggil, Arya pun menoleh kearah suara.
__ADS_1
"Gawat!!. Mereka pasti mau menagih utang. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini"
Arya yang ketakutan ancang-ancang kabur meninggalkan parkiran rumah sakit. Tiga orang preman itu pun mengejarnya.