
Pulang dari kantor, pak Erwin langsung di sambut oleh anggota keluarga kecilnya. Ada Bara, anak bungsunya yang sudah bekerja di luar kota juga ikut berkumpul bersama istri juga anak sulungnya, Kartika.
Keluarga lengkap itu lebih dulu makan malam.bkemudian berkumpul di ruang keluarga membicarakan hal penting.
"Pa, Kartika cuma punya ini. Ini semua tabunganku dan ini aku serahkan semua untuk papa" kartika memulai pembicaraan dengan menyerahkan setumpuk uang berjumlah puluhan juta pada ayah kandungnya.
"Ini untuk apa?." tanya pak erwin bingung.
"Dan aku cuma punya ini, pa" Bara ikut menyerahkan sejumlah uang yang nilainya jauh lebih kecil dari punya kakaknya.
"Itu gajiku 3 bulan pertama bekerja dan uang itu untuk papa" jelas laki-laki berkulit sawo matang itu.
Pak erwin makin bingung mencerna maksud dan tujuan anak-anaknya memberinya sejumlah uang.
"Pa, ini sertifikat warisan tanah mama di kampung. Papa bisa jual tanah itu dan ambil semua uangnya. Mama juga masih punya perhiasan yang bisa kita jual"
Laki-laki paruh baya itu makin tak mengerti ketika istrinya menyerahkan sebuah map berisi sertifikat tanah asli atas nama istrinya.
"Ini semua maksudnya apa?. Apa maksud kalian memberikan semua ini pada papa?" tanya pak Erwin penasaran tingkat tinggi.
Kartika dan ibunya melirik pada Bara dan menyerahkan sepenuhnya menjelaskan maksud dan tujuan mereka menyerahkan uang juga sertifikat tanah itu pada pemimpin keluarga mereka. Dada pak Erwin sesak, matanya perih berkaca-kaca mendengarkan penuturan putra satu-satunya.
"Kami tahu pa, jumlah hutang papa sangat besar dan tidak seberapa jika di bandingkan dengan apa yang kami beri. Tapi, kami akan berusaha mencari jalan lain untuk melunasi hutangnya papa. Kak Tika tengah berusaha menjual toko buku miliknya, aku juga akan berusaha cari pinjaman di kantor. Kita semua akan berusaha membantu papa asal papa jangan sampai memaksa kakak menikah dengan Bintang. Bintang sudah beristri, pa. Aku ngga mau kak Tika berkorban sendirian melunasi hutang-hutang papa."
Pak Erwin tercenung, saat-saat tersulit dalam hidupnya, saat di mana orang yang di anggapnya sahabat yang dapat membantunya justru menjauh dan angkat tangan, tapi ada keluarga kecilnya yang selalu ada untuknya. Ada kasih sayang yang nyata juga perhatian yang tulus dari anak-anak serta istri yang dia cintai. Apa yang kurang dari hidupnya?.
...****************...
Malam yang panjang, sepasang suami istri itu mulai lelap dan lena di bawa mimpi setelah seharian ini mereka melalui hari yang indah. Namun, tiba-tiba Berlian membuka mata karna dia mulai gelisah.
"kamu kenapa bangun?" Bintang yang merasakan kegelisahan istrinya ikut membuka mata.
"Dingin..." jawab Berlian manja. Bintang tersenyum lebar menanggapi kemanjaan istrinya.
"Sini, aku peluk. Biar dinginnya hilang"
Berlian sedikit beringsut merebahkan kepalanya di atas dada suaminya yang bidang. Sementara Bintang, merekatkan dekapannya sambil mendaratkan kecupan sayang di kening istrinya.
"Sudah ngga dingin lagi, kan?" tanyanya dengan nada menggoda.
Berlian cuma tersenyum lalu kembali memejamkan matanya dengan tenang. Dalam dekapan suaminya, tidurnya jauh lebih nyenyak di banding saat pelukan bintang tiba-tiba saja terlepas membangunkan tidurnya yang tadinya lelap.
...****************...
Pagi sekali, Rangga sudah bergegas pergi dan belum sempat sarapan. Mama Farida hanya membiarkan saja karna hari ini dia juga ada kegiatan lain mau menemani bintang wajib lapor.
Rangga bukannya menuju kantor terlebih dahulu. Dia lebih dulu menemui seseorang di sebuah cafe sambil sarapan. Selera makan juga semangat paginya buyar mendengar penuturan orang yang di temuinya dan itu sangat membuatnya marah.
"Om sudah pertimbangkan ini matang-matang. Om ngga akan lagi mengungkit masalah kematiannya mas reza. Om juga ngga peduli kalau om harus bangkrut dan jatuh miskin. Om juga berencana mau mencabut tuntutan yang om layangkan buat bintang" tegas pak erwin setelah semalam berfikir matang dan bijak.
"Om, tinggal selangkah lagi impian kita akan terwujud. Semua harta kekayaan mama akan jadi milik kita. Om, jangan gegabah mengambil keputusan"
"Harta kekayaan om adalah keluarga . Om ga mau menyia-nyiakan mereka" tandas pak Erwin.
"Bodoh" Rangga berdiri menggebrak meja.
"Om jangan berani macam-macam. Tunggu sampai aku bisa mendapatkan apa yang di inginkan. Setelah itu terserah om mau apa. Kalau tidak, aku ga akan segan-segan menghancurkan keluarga om" gertak Rangga mengancam.
...****************...
"kamu kenapa belum siap-siap?" tanya berlian pada suaminya yang sibuk membersihkan sepeda kakek .
"Memangnya kita mau kemana?" Bintang berdiri menyudahi kesibukannya.
"kamu lupa ya, kalau hari ini kamu harus wajib lapor?" ujar berlian mengingatkan bintang.
"Oh... iya... aku lupa"
__ADS_1
"Sekarang kamu siap-siap ganti baju, sebentar lagi mama mau datang menjemput kita"
"kamu temani aku ya" pinta Bintang.
"Tanpa kamu minta, aku pasti akan menemani kamu" ujar Berlian menatap mesra suaminya.
Helaan nafas Bintang lega dengan sorot mata yang sama mesranya menatap tambatan hatinya.
"Kamu juga mau kan temani aku ganti baju?" godanya setelah itu.
"Apa sih yang enggak buat suami aku yang ganteng ini"
Berlian menarik tangan suaminya masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya. Di dalam kamar, Berlian dengan telaten membantu bintang mengenakan kemejanya. Dalam sekejap, penampilan suaminya berubah rapi.
...****************...
Jam sembilan pagi, mama Farida datang. Ketiganya pun berangkat menuju kantor polisi. Di sana, satria sudah menunggu kedatangan mereka. Proses wajib lapor pun di mulai. Berlian dan mama Farida menunggu dengan sabar.
Dua jam kemudian Bintang selesai menunaikan kewajibannya sebagai warga negara yang baik.
Bintang keluar dari ruang penyidik dan di sambut pelukan hangat dari wanita yang di cintainya. Itu sangat membuatnya tenang.
"Sayang, semua baik-baik saja, kan?"
bintang mengecup kening istrinya dengan sayang.
"Semua baik-baik saja. Kamu tenang saja. Satria tadi di dalam cukup membantu aku" ujarnya sambil melirik kearah satria yang pura-pura membuang muka begitu melihat kemesraan pasangan suami istri tersebut.
"Mas satria, terima kasih sudah banyak membantu suamiku menyelesaikan perkaranya" ucap berlian tulus.
"Itu sudah menjadi kewajiban aku selaku kuasa hukumnya" jawabnya diplomatis dan dia tak mau terganggu bagaiman mesranya bintang merangkul pinggang istrinya. Sepertinya Bintang sengaja melakukan itu untuk menegaskan pada pria mana pun kalau berlian adalah miliknya.
"Maaf, aku harus pergi karna dua jam lagi ada sidang" ujar satria berpamitan.
"Terima kasih satria, kamu begitu banyak membantu keluarga saya" ujar mama Farida.
"Sama-sama"
"kapan kalian akan pulang ke rumah?. Mama sudah kangen kumpul-kumpul lagi sama kalian?" tanya mama Farida sepeninggalan satria.
"Mungkin dalam 3 hari ini. Aku masih mau menikmati kebersamaan dengan berlian di rumahnya" bintang melirik istrinya dengan mesra. Yang di tatap membalasnya dengan senyuman penuh makna.
"Trus kantor bagaimana?. Apa kamu masih mau istirahat?"
"Aku akan secepatnya kembali mengurus pekerjaan di kantor" jawabnya pasti.
"Ya sudah kalau begitu. Mama mau pulang duluan. Hari ini mama ada arisan. Kamu pulang pakai mobil ini aja, mama sudah suruh mang Asep balik kesini bawa mobil lain buat jemput mama. Kamu pasti butuh kendaraan selama menginap di rumah istri kamu"
"Terima kasih, ma " ujar bintang tak menolak tawaran baik mama kandungnya.
...****************...
"Karin, yang lainnya pada kemana?. Kenapa kantor bisa sepi begini?" tanya Rangga pada sekretarisnya bintang begitu dia mau istirahat makan siang.
"Yang lain sedang makan siang, pak. Tapi, pak arya sama pak rizal tengah meeting di luar"
Peluang emas terpampang di depan mata. Saatnya dia beraksi tanpa di ganggu oleh arya.
"Lalu, kamu sendiri ga mau istirahat makan siang seperti yang lainnya?"
"Ini juga mau pergi, pak. Cuma saya mau meletakkan berkas-berkas ini ke mejanya pak arya"
"Biar saya bawa. Kamu istirahat saja" Rangga merebut paksa berkas tersebut dari tangannya Karina.
"Tapi, pak..."
"Ini perintah!. Kamu mau saya pecat?" Rangga menyela penolakan Kartika dengan sebuah ancaman yang membuat karina tak berkutik dan langsung pergi meninggalkan dia sendirian.
Rangga bergegas menuju ruangannya dan menutup pintu dengan rapat. Dia memastikan tidak ada orang yang mencurigai gerak-geriknya.
__ADS_1
"Hmmm... ternyata laba di dapatkan perusahaan selama ini lebih besar dari apa yang aku ketahui dan aku cuma dapat ampasnya. Dana keuangan yang aku gelapkan selama ini tak sebanding dengan laba yang di keruk perusahaan dari hasil perkebunan juga expor teh. Selama ini aku sudah di bohongi mentah-mentah oleh bintang dan dia hanya menjadikan aku sapi perahannya" geram rangga begitu selesai membaca berkas itu dan membandingkannya dengan laporan yang dia pegang selama ini.
...****************...
Selesai shalat dzuhur, Bintang dan Berlian sampai di rumah kakek Dharma. Berlian sigap menyiapkan makan siang lalu makan bersama suami ,kakek,dan neneknya. Selesai makan siang Berlian pamit pada suaminya dengan alasan mau menemui Kartika selaku penghubung antara dia dan pihak penerbit yang mengontrak hasil karyanya guna membicarakan kelanjutan novelnya.
"kamu yakin ga mau aku temani?" tanya bintang.
"Ga usah. Nanti kamu bosan. Aku juga akan segera pulang kalau urusan nya sudah selesai."
"Tapi, yank. Aku ga bisa membiarkan kamu sendirian menemui dia" Bintang tampak cemas melepas istrinya pergi sendirian.
Berlian tersenyum, dia paham arti kecemasan suaminya. Dia pun menggenggam tangan bintang.
"kamu sudah tahu kan, kalau Kartika sangat berperan besar membantu kita menyelesaikan perkara kamu. Kartika orang yang baik" Berlian dengan sabar memberi pengertian juga menanamkan rasa percaya pada suaminya terhadap orang yang punya hati tulus mau membantunya.
Sejenak Bintang diam, tak lama kemudian dia tersenyum dan mengangguk memberi izin. Berlian tanpa ragu memeluk tubuh kekar suaminya.
"Kamu perginya jangan lama-lama. Kalau ada apa-apa kamu cepat hubungi aku"
"Sudah, sudah... biarkan saja istri kamu pergi sebentar. Lebih baik kamu temani kakek main catur" seru kakek Dharma dari dalam rumah.
Berlian melepaskan pelukannya dan tersenyum melirik suaminya yang garuk-garuk ga gatal kepalanya.
"Kamu harus menang melawan kakek" ujarnya sembil mencium tangan suaminya.
"Kalau aku menang, jangan lupa jatahnya malam ini dobel ya " bisiknya menggoda setelah mengecup kening istrinya.
"Kita lihat aja nanti malam" Berlian balas menggoda suaminya.
...****************...
Sebuah panggilan masuk pada ponselnya, membuat mama Farida mencari tempat aman dan jauh dari suara berisik teman-teman arisannya.
mama Farida di buat kaget dengan nomor call center sebuah bank ternama yang menghubunginya. Dia pun pamit pulang begitu selesai bicara melalui sambungan telepon itu.
Dalam perjalanan pulang, mama farida menghubungi arya dan memintanya menyelidiki pemilik sebuah rekening penerima aliran dana mencurigakan dari rekening perusahaan.
...****************...
"tik, terima kasih ya, kamu sudah mau menemani aku menemui pak yadi" ujar Berlian begitu dia dan sahabatnya sampai di tempat tujuan mereka yang sebenarnya.
"Aku kan sudah janji mau bantu kamu. Kamu nggak perlu sungkan meminta bantuan sama sahabat kamu sendiri" ujar kartika di selingi senyum tulus.
"Tapi, kenapa kamu ngga jujur sama bintang kalau sebenarnya mau menemui pak yadi untuk meminta bantuan pak yadi agar mau bersaksi membela suami kamu?"
"Aku cuma mau menjaga perasaan bintang. Aku mengerti kalau dia saat ini masih belum sepenuhnya bangkit dari keterpukurannya. Bintang masih belum bisa percaya diri menemui orang-orang yang pernah di buatnya sakit hati. Aku tahu Bintang sudah menyadari kesalahannya, tapi dia masih malu pada kesalahan yang pernah dia perbuat pada orang yang ternyata sangat di butuhkan . Aku harap pak yadi bisa memakluminya dan mau menemui kita dengan tangan terbuka" ujar berlian lirih.
"Semoga, Lian " harap kartika. Di balik harapannya terbesit rasa kagum atas sikap dewasanya Berlian. Wajar kalau bintang sampai cinta mati pada sahabat karibnya itu.
"Kalian siapa dan ada maksud apa mau menemui saya?"
Seorang laki-laki paruh baya berdiri tegap di depan pintu masuk rumah berlantai dua.
Berlian dan Kartika bergegas berdiri dari kursi teras yang mereka duduki dari tadi. Tampak jelas berlian begitu lega karna akhirnya orang yang ingin dia temui menampakkan batang hidungnya.
"Maaf pak yadi kalau kedatangan kami menganggu. Saya kartika"
"Iya, saya tahu siapa kamu" ujar pak yadi sambil melirik Berlian yang tidak dia kenal.
"Kenalkan pak , dia Berlian ,teman saya"
Berlian mengulurkan tangan.
"Saya Berlian, istrinya Bintang Pratama"
Begitu nama Bintang di sebut, raut muka pak yadi berubah tak suka dan beliau enggan menjabat tangannya berlian.
"Saya lagi sibuk dan tak ada waktu menerima tamu. Saya harus membantu istri saya berkemas karna besok kami sekeluarga akan pindah keluar kota"
__ADS_1
Sontak saja Berlian terkejut.