
"Tante sama sekali tidak menduga kalau kamu tega menyembunyikan soal pernikahan Bintang dengan wanita lain"
"Tante tahu dari mana kalau Bintang sudah menikah?" Arya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.
"Tadi tante bertemu dengan Bintang di rumah sakit ini. Dia sama sekali tidak mau menemui Bella meski tante sudah memohon dan menceritakan keadaan Bella yang sakit parah. Tapi, dia menolak karna lebih mementingkan menjaga istrinya yang sedang sakit" cerita ibu dewi dengan nada menahan emosi dan kecewa.
"Lian sakit?" gumam Arya baru tahu kalau adiknya sakit dan di rawat di rumah sakit yang sama dengan Bella.
"Tante tahu, istrinya Bintang sakit apa dan di rawat di ruang mana?"
"Bintang ngga cerita istrinya sakit apa. Tapi tante bisa tebak sakit istrinya ngga parah dan ga ada apa-apanya di banding sakit yang di derita Bella. Bintang seharusnya mementingkan Bella karna dia ngga punya banyak waktu untuk bertahan hidup"
Arya tak tahu harus menjawab atau menjelaskan apa pada ibu paruh baya yang terlihat makin tertekan. Ruang rawat Bella pun terasa mencekam baginya.
"Tante tahu istrinya Bintang di rawat di mana?" tanya Arya lagi.
"Untuk apa kamu tanyakan itu?. Memangnya ada hubungan apa kamu dengan istrinya Bintang sampai kamu ngotot ingin tahu di mana ruang rawat inapnya?" selidik ibu dewi curiga.
"Aku hanya ingin bertemu dengan Bintang dan coba membujuk dia agar mau menjenguk Bella" jelas Arya dengan alasan tepat agar kecurigaan ibu Dewi tak menjadi.
...****************...
Mendengar kabar menantu kesayangannya masuk rumah sakit, mama Farida bergegas pergi hendak melihat langsung keadaan menantunya. Sebelum berangkat menuju rumah sakit, Mama Farida lebih dulu singgah ke rumah kakek Dharma memberitahukan keadaan Berlian dan mengajak serta menjenguk ke rumah sakit.
...****************...
"Itu kan kakek sama nenek" Arya terpaksa surut dan bersembunyi di balik tembok begitu melihat kakek dan neneknya datang dan berjalan menuju ruang yang sama dengan yang dia tuju.
"Aku ga mungkin menemui Lian sekarang. Kakek pasti akan mengusir dan melarang aku bertemu dengan Lian" Arya tak mau ambil resiko dan memilih keluar meninggalkan rumah sakit.
...****************...
Berlian baru saja selesai makan dan minum obat di suapi oleh Bintang ketika mama mertuanya datang bersama dengan kakek neneknya.
"Lian... kamu kenapa jadi sakit begini?. Nenek sama kakek jadi cemas mikirin kamu waktu ibu Farida datang dan bilang kamu masuk rumah sakit" nenek Aminah yang cemas langsung menghambur memeluk cucunya. Bintang sengaja berdiri memberi ruang untuk nenek Aminah.
"Lian cuma kecapekan aja kok . Nenek ngga usah cemas" Berlian tersenyum meyakinkan nenek, kakek juga mama mertuanya.
__ADS_1
"Lian, biarpun kamu cuma kecapekan, kamu tetap harus menjaga kondisi kamu jangan sampai drop lagi. Mama ngga mau kamu sampai kenapa-kenapa" mama Farida ikut mencemaskan keadaan menantunya.
"Bin, kenapa istrimu bisa sampai sakit begini?. Kamu kenapa ga bisa menjaga istri mu dengan baik?" kakek Dharma menegur keras cucu menantunya.
"kakek jangan marahi Bintang terus. Bintang nggak salah. Lian sakit karna salah sendiri yang ga bisa menjaga kesehatan." ujar Berlian membela suaminya.
"Tidak ada yang salah dalam hal itu. Sakitnya Berlian itu bagian cobaan dari Tuhan yang ada hikmahnya" mama Farida menanggapi dengan bijak musibah yang menimpa menantunya dengan melirik Bintang yang tak pernah mau jauh dari Berlian.
Kakek Dharma dan istrinya ikut melirik kearah pasangan muda yang tengah bertatapan dengan mesra. Itulah hikmah yang di maksud oleh mama farida. Kedua pasangan muda itu jauh lebih dekat dari sebelumnya.
Berhubung Berlian harus istirahat, Kakek dan nenek pamit pulang. Begitu juga dengan mama Farida yang sebelumnya menitipkan laptop untuk Berlian.
"Laptop ini untuk apa ma?" tanya Bintang bingung.
"kamu ini ya... sudah 5 bulan berumah tangga dengan Lian, masa ngga tahu kalau istri kamu itu hobi menulis" kata mama Farida.
"mama tahu dari mana lian hobi menulis?" Bintang makin bingung mendengar penjelasan mamanya.
"Makanya kamu jangan sibuk mengurus pekerjaan saja" semprot mama Farida.
"mama sering memergoki istrimu menghabiskan waktu senggangnya di rumah dengan menulis" lanjut mama Farida menceritakan apa yang dia lihat selama ini.
"mama tahu Lian menulis apa?" Bintang tiba-tiba jadi penasaran dengan cerita mamanya.
"mama kurang tahu juga. Mungkin lian suka bikin cerita novel atau puisi" tebak mama Farida tak pasti.
"Puisi...?" pikiran Bintang langsung melayang pada buku goresan pelangi yang selama ini ada padanya dan selalu dia baca dan dia sangat mengagumi tata bahasa isi novel tersebut.
"Apa goresan pelangi itu ada hubungannya dengan lian?" gumam bintang kian penasaran dan ingin tahu siapa penulis sebenarnya.
"Mama pulang dulu, nggak enak pak Dharma nunggu mama kelamaan."
"Kamu jaga berlian dan jangan lupa kasih laptopnya biar istrimu ada kegiatan buat mengurangi stress selama di rawat. Nggak baik juga membatasi kegiatan istrimu selama itu tidak menguras tenaga dan memperburuk kesehatannya" ujarnya panjang lebar sebelum beliau pergi.
...****************...
Sepeninggalan mamanya , Bintang kembali masuk menemani Berlian. Berlian nampaknya sudah tertidur dengan pulas. Sepertinya reaksi obat yang di minum tadi beraksi dengan baik.
__ADS_1
"Lian, apa benar goresan pelangi itu adalah kamu?" rasa penasaran itu tak mau hilang dari benak Bintang.
"kenapa aku jadi memikirkan siapa penulis goresan pelangi?. Lian ya lian. Dan aku mencintai dia apa adanya" batin Bintang mengingatkan dirinya sendiri.
"aku ngga peduli siapapun kamu. Baik kamu penulis novel itu atau bukan, aku tetap mencintaimu apa adanya" ungkap Bintang menatap Berlian tanpa bosan.
Bintang menunduk mengecup kening istrinya sepenuh hati kemudian turun mencium bibir ranum Berlian.
...****************...
Kebahagian penuh di rasakan oleh Berlian karna Bintang begitu memperhatikannya. Bintang yang selalu menyuapinya makan, membantu minum obat. Bintang pun tak segan membantu berlian mandi dan mengganti pakaiannya. Semua di lakuan Bintang . Bintang tak pernah mengeluh sedikitpun.
Mungkin karna perhatian itu yang membuat keadaan berlian makin membaik. Berlian merasa begitu banyak perubahan positif pada diri suaminya. Bintang tak lagi banyak mengekang atau menuntut. Saat berlian mau mengetik dengan laptop pemberian mertuanya, Bintang tak melarang dan hanya memperingatkan dan memberi batas waktu untuk dia menyibukkan diri dengan laptop tersebut. Sebenarnya Bintang sangat penasaran dengan apa yang di lakukan Berlian dengan laptopnya. Tapi Bintang memilih diam sementara waktu.
"Bin, kamu ngga capek apa, tiap hari kamu selalu menjaga aku?. Kamu ngga bosan tiap hari harus menyuapi aku makan, meminumkan aku obat, tiap malam kamu juga begadang menemani aku?" rasa bersalah dan tidak enak itu di ungkapkan Berlian setelah 4 hari dia di rawat.
Bintang tersenyum dan mengecup kening istrinya. Hal itu begitu sering dia lakukan semenjak Berlian masuk rumah sakit. Berlian tak pernah protes, dia sangat menikmati sikap manis Bintang.
"Aku justru sangat senang bisa menghabiskan banyak waktu denganmu"
"Kenapa?" tanya Berlian singkat.
"Karna aku..." lidah Bintang kelu untuk meneruskan kata-katanya.
"Karna apa?" Berlian kian penasaran. Sebuah harapan pun menyelip dalam hatinya. Sebuah jawaban indah yang tidak dia tahu dari mana asalnya.
"Karna aku mencintaimu..." kata-kata nya hanya terucap dalam hati saja.
"Bintang.." panggil berlian lembut menggetarkan segenap relung hati Bintang.
"Kamu istirahat dulu. Aku mau menemui dokter untuk menanyakan perkembangan kondisi kesehatanmu" Bintang mengalihkan topik pembicaraan dan beranjak menjauhi Berlian.
"Bintang ..." Berlian mencekal tangan suaminya.
"Kamu perginya jangan lama-lama"
Bintang mengangguk dan melemparkan senyumannya. Berlian pun balas tersenyum. Senyum Berlian semakin lebar karna sebelum pergi bintang tak lupa mengecup keningnya.
__ADS_1