
Aneh,,, Entah apa yang salah dengan kamar yang sudah belasan tahun dia tempati, baru kali ini Bintang merasa gerah dan kepanasan tidur di kamar sendiri. Biarpun suhu pendingin ruangan sudah di atur sedingin mungkin, tetap itu tak mampu menetralisir suhu kamar yang terasa cukup panas bagi Bintang yang membuat keringatnya tak berhenti bercucuran.
Memang, sejak kejadian indah waktu di vila dua hari lalu, Bintang merasa ada yang salah pada dirinya dan dia bingung memikirkan salahnya di mana. Yang jelas tiap kali berdekatan dengan Berlian maka dunia akan terasa lain dan aneh di mata Bintang. Seperti detak jantungnya yang terus berdegup kencang ketika Berlian menyapa atau sekedar tersenyum padanya dan membuatnya ingin cepat pulang ketika berada di kantor, kemudian suhu badannya yang tidak normal tiap mereka berduaan saja di kamar seperti malam ini.
Bintang benar-benar kalang bingung mengatasi persoalan aneh yang membelit konsentrasinya dalam berbagai hal. Berlian benar-benar berhasil membalikkan dunia yang waras jadi kurang normal begini.
"Hufttt...." Bintang menarik nafas dan kembali menyeka keringat yang membasahi dahinya.
"Bin, suhu Ac nya di normalin lagi donk, dingin" protes Berlian saat itu juga. Dia yang tadinya mulai tertidur di buat terbangun karena tak kuat menahan dingin yang menyergap tubuhnya padahal sudah menggunakan selimut tebal.
"Dingin apaan, panas begini" ujar Bintang.
"Apanya yang panas?. Tubuhku sampai mau beku begini menahan dingin" sambar Berlian.
"Sini, remote nya" Berlian bangun dan berniat merebut remote ac dari tangan suaminya.
"Biar aku atur kembali suhunya" Bintang mengelak dan berusaha mempertahan remote tersebut tetap di tangannya.
"Enggak. Kalau remote tetap kamu yang pegang, yang ada aku membeku kedinginan" Berlian ngotot dan terus berusaha merebut remote yang di pegang Bintang.
Bintang tak mau mengalah dan kekeuh mempertahan remote tersebut. Sepasang suami istri itu tak ada yang mau mengalah dan terus memperjuangkan kemauan mereka. -_-'
"Lian ,remote nya biar aku yang pe..." lidah Bintang tiba-tiba kelu, dia terkesima ketika Berlian tanpa sungkan memeluk tubuhnya dengan sebelah tangan demi merebut remote dari tangannya.
"Dapat..." seru Berlian kegirangan bisa merebut remote ac tersebut dari tangan suaminya.
"Berlian di lawan... remote nya dapat ju..." Berlian yang awalnya begitu senang dan membanggakan diri berubah kikuk dan canggung begitu menyadari posisinya. Parasnya memerah seperti kepiting rebus ketika sadar bagaimana teduhnya mata Bintang menatapnya tanpa kedip. Bayang-bayang indah yang pernah mereka lalui di vila melintas nyata di depan mata Berlian yang terpancar lewat sinar mata Bintang.
Mereka sama-sama terdiam. Keduanya tak mengerti apa yang merasuki jiwa masing-masing saat ini. Saat itu, Bintang mulai menggerakkan kepalanya mendekati wajah istrinya. Berlian seakan pasrah dan kehilangan ide bagaimana terlepas dari pesona Bintang yang sedikit banyak mulai menarik perhatiannya. Dengan perasaan yang tak karuan, Berlian menutup mata dan siap-siap menerima apa pun yang mau di lakukan Bintang terhadap dirinya. Toh, sah-sah saja kan Bintang muhrimnya.
"cuppp..."
__ADS_1
"Ma...ma...maaf" Bintang spontan menjauhi bibir istrinya yang sempat di kecup tipis olehnya dengan gugup dan salah tingkah.
Berlian menunduk malu menahan debaran aneh yang meliputi jiwanya ketika merasakan bagaimana manisnya bibir Bintang menempel di bibirnya meski hanya sekilas. Akibatnya, Berlian merasa tubuhnya panas dingin dan keringat juga menetes membasahi keningnya padahal suhu pendingin ruangan belum sempat di kembalikan pada suhu normal.
Di lain pihak, Bintang yang tiba-tiba saja grogi coba curi-curi pandang kearah istrinya dan Bintang sedikit memberanikan diri bergeser mendekati istrinya.
"Bin, aku mau tid...." Berlian menengok kearah suaminya.
"Huaaaa..."(brukkk) Bintang yang tadi siap-siap mau merangkul Berlian di buat kaget dan mundur terlalu jauh hingga terjatuh kelantai.
"Aaaduhhh...." teriak Bintang kesakitan.
"Bin, kamu kenapa?. Kamu baik-baik saja kan?" tanya Berlian kaget dan melihat sendiri keadaan suaminya.
"Enggak, aku enggak apa-apa" kata Bintang sambil berdiri dan memasang wajah baik-baik saja padahal dalam hatinya, Bintang meringis menahan kesakitan di pinggangnya. Lagi-lagi terjatuh dari tempat tidur.
"Kamu yakin, kamu tidak apa-apa?" selidik Berlian curiga. Sebenarnya dia mau menertawai suaminya. Namun di tahannya karena tak mau membuat Bintang tersinggung.
"Iya, aku enggak apa-apa. Kamu tidur lagi sana" ujar Bintang. Pantang sekali baginya terlihat lemah di depan perempuan.
"Iya" jawab Bintang singkat sambil kembali naik ketempat tidur dengan memegang pinggangnya.
"Bin, pinggang kamu sakit ya?. Sini biar aku urut" Berlian menawarkan bantuannya dan mau membuka kaus yang di kenakan Bintang.
"Kamu mau apa?" Bintang spontan menurunkan bajunya kembali.
"Ya,mau urut pinggang kamu lah. Dari tadi di pegangin begitu, pinggang kamu pasti sakit kan?"
"Enggak usah. Pinggang aku nggak sakit kok" tolak Bintang.
Sebenarnya bukan bermaksud menolak, cuma dia takut tidak bisa menahan hasratnya jika tangan Berlian yang lembut membelai pinggangnya. Bisa lembur dia semalaman ini sebab memori di vila masih kerap singgah dan merayunya untuk ingin mengulang kembali romansa indah mereka berdua.
"Sudah, kita tidur"
__ADS_1
Bintang dengan cepat merebahkan tubuhnya dan menutup diri dengan selimut dari ujung kaki hingga kepala menyembunyikan rona mukanya yang memerah.
"Aku pikir kamu orangnya gengsian, eh ternyata bisa malu juga" Berlian tersenyum geli melihat bagaimana Bintang yang angkuh bisa kehilangan rasa percaya diri jika salah tingkah.
"kamu buruan tidur atau suhu kamar ini akan tetap dingin atau bisa lebih dingin dari ini" Bintang membuka bagian selimut yang menutupi wajahnya dan memperlihatkan remote yang di pegang nya sebagai tanda dia serius dengan ancamannya.
"Iya..iya..aku tidur sekarang" sungut Berlian.
Berlian pun merebahkan tubuhnya dan memejamkan matanya dengan terpaksa. Sementara Bintang kembali mengatur suhu ac kembali normal. Namun setelah itu dia tak langsung tidur. Bintang justru tenggelam mengagumi kecantikan paras istrinya ketika tertidur.
" cantik sekali" pujinya dalam hati dengan di iringi senyum tipis menghiasi bibirnya.
...****************...
Selesai sarapan, Berlian selalu menemani suaminya hingga depan pintu ketika mau berangkat kekantor.
"kamu kerjanya jangan terlalu capek dan pulangnya jangan kemalaman" pesan Berlian menunjukkan perhatiannya.
"Tergantung!. Kalau pekerjaan di kantor tidak menumpuk aku bisa pulang cepat" jawab Bintang.
"Aku berangkat dulu" pamitnya. Dan seperti biasanya, Berlian tak lupa mencium tangan suaminya.
"katanya kamu mau berangkat?. Kenapa masih berdiri di sini?" tanya Berlian kebingungan melihat suaminya yang masih berdiri tegap memandanginya.
"I..i..itu" Bintang jadi salting dan tak tahu bagaimana mau menyampaikan maksud hatinya. Bintang hanya bisa menggaruk pelipis matanya yang beralis tebal.
"Itu...apanya?"
"Cuppppp" Sebuah kecupan cepat dan singkat mendarat tepat di kening Berlian . Untuk pertama kalinya selama menjadi istrinya , Bintang baru mau mencium keningnya, membalas perlakuan dirinya yang selama ini tak pernah lupa mencium tangan Bintang jika bepergian.
"Aku berangkat dulu" Bintang langsung buru-buru menaiki mobil dan kabur begitu saja membawa debaran hatinya.
Berlian terpaku memegangi keningnya yang masih terasa hangat setelah di kecup oleh suaminya.
"Ternyata Bintang romantis juga" Berlian senyum-senyum tak jelas mengingat perlakuan Bintang barusan.
__ADS_1
"Tasnya" kaget Berlian begitu sadar tas kerja suaminya dia yang pegang.