
Bulir air matanya terus menetes berjatuhan seakan tak ada habisnya. Ungkapan hati Bintang yang lama dia tunggu tak cukup untuk mengikis rasa pilu yang menyergap relung hati Berlian melihat suami yang di cintai meringkuk di balik jeruji besi. Apa harus dia mengorbankan kebahagiannya demi membebaskan Bintang dari penjara?. Apa dia benar-benar sudah siap kehilangan Bintang?. Apa dia benar-benar rela Bintang di miliki oleh sahabatnya sendiri?. Semua pertanyaan itu membuat dadanya sesak.
Ketika taksi yang di tumpanginya sampai di tempat tujuan, Berlian menghapus air matanya dan bergegas turun setelah melakukan pembayaran atas jasa angkutan umum yang di pakainya.
"dek, kamu kenapa ngga bilang sama kakak kalau kamu mau mengunjungi bintang di tahanan?. Kakak kan bisa temani kamu" omel arya yang langsung saja nyerocos begitu melihat adiknya datang setelah menunggu beberapa lama di ruang tamu keluarga Pratama.
"Maaf kak, Lian buru-buru" jawabnya pelan.
"Kakak sudah lama datangnya?" lanjut Berlian bertanya.
"Belum lama juga kok. Kakak ke sini mau lihat keadaan kamu. Dari kemarin nenek ga tenang mikirin kamu"
"Lian baik-baik saja, kak. Nggak perlu cemas" Berlian berusaha tersenyum memperlihatkan ketegarannya. Di mata arya, adiknya justru terlihat sebaliknya. Berlian sangat rapuh menghadapi hal ini.
"Dek, kamu yang sabar ya. Kakak janji, kakak akan membantu kamu mencari jalan keluar membebaskan Bintang dari tuntutan hukum yang mengancamnya" janji arya serius.
"Terima kasih, kak" ucap Berlian haru.
Arya mengangguk dan setelah itu mengacak pelan rambut adiknya penuh kasih sayang.
"Ya sudah, kakak mau pulang dulu. Sebentar lagi mau malam. Kamu juga harus istirahat, kan?" kata Arya.
"Kak, kakak tungguin Lian sebentar" pinta Berlian langsung saja.
"Lian mau berkemas dan mau ikut kakak pulang" jelasnya.
"Kamu yakin?" tanya arya terkejut dan ragu dengan keinginan adiknya.
"Kak, Lian ngga tenang tinggal di rumah ini. Di rumah ini ada Rangga. Kakak kan tahu sendiri Rangga gimana?. Rangga pasti ga akan tinggal diam. Dia pasti akan menggunakan kesempatan ini untuk memperburuk keadaan. Selama Bintang masih di tahan, Lian akan tinggal di rumah kakek" ujar Berlian menjelaskan alasan dia mau keluar dari rumah yang sudah 6 bulan lebih dia tempati.
"Baiklah. Kakak tunggu kamu di luar" arya setuju karna dia memang mengharapkan Berlian keluar dari rumah mertuanya agar dia bisa melindungi adiknya dari gangguan si keparat Rangga.
"Jangan lupa, kamu mesti minta izin dan berpamitan dengan mertua kamu" ingat arya pada adiknya.
Berlian mengangguk pasti dan kemudian melangkah menapaki anak tangga menuju kamar pribadinya.
Air mata Berlian pun kembali mengalir saat memasuki kamar yang banyak menyimpan kenangan manisnya bersama Bintang. Hatinya terasa berat harus meninggalkan kamar tersebut. Namun apa yang di putuskan sudah di pertimbangkan dengan baik.
...****************...
"maafin aku ma. Aku ngga tahu kalau kedatangan polisi waktu itu untuk menangkap Bintang. Rangga ga tahu kalau om erwin ternyata melaporkan Bintang ke polisi atas kasus kematiannya om reza. Kalau saja aku tahu, aku pasti akan mencegah polisi tersebut mencari Bintang" ujar rangga berusaha mengambil hati mama Farida supaya wanita yang mengasuhnya dari kecil itu tidak mencurigai perannya dalam di jebloskan nya bintang ke dalam penjara.
Mama farida yang terbaring lemah hanya bisa tersenyum dan mengangguk.
"mama percaya sama kamu. Kamu ngga mungkin mau mencelakai saudara kamu sendiri" kata mama Farida.
Rangga bernafas lega. Dia semakin semangat mengurut kaki mama farida. Senyum liciknya juga mengembang. Namun tidak sempat di perhatikan oleh mama Farida karna wanita paruh baya itu fokus melihat ke arah pintu kamarnya yang di buka oleh seseorang.
__ADS_1
"Lian.... Masuk Nak..." ucap mama Farida tersenyum dan terbuka menyapa menantunya.
Berlian melangkah pelan. Matanya tak lepas mengawasi gerak-gerik Rangga. Terus terang, dia di buat muak dan jijik dengan sikap cari mukanya Rangga. Di hadapan mama farida, Rangga bak anak baik dan penurut , patuh akan segala perintahnya. Tapi di belakangnya Rangga menyimpan siasat yang patut di curigai.
"Lian, aku dengar dari mama katanya kamu pergi menjenguk bintang di tahanan. Bagaimana keadaannya, dia baik-baik saja, kan?" tanya Rangga sok menunjukan perhatiannya.
"Keadaan Bintang sangat baik. Keadaannya juga tak seburuk apa yang kamu bayangkan atau mungkin kamu harapkan" jawab Berlian menyentil Rangga.
"Lian, kamu kok bicara seperti itu ke Rangga?. Rangga ga salah, nak. Dia sama sekali ngga tahu kalau polisi yang datang waktu itu mau menangkap bintang" ujar mama Farida melakukan pembelaan.
Sejenak berlian diam. Dia tak mau berdebat dan menceritakan kecurigaannya terhadap Rangga pada mama mertuanya. Itu sama saja dia membuat kondisi mertuanya makin drop. Lebih baik dia langsung saja pada tujuannya untuk berpamitan. mama Farida yang mendengar itu terkejut dan berusaha menahan agar Berlian tetap tinggal.
"mama, lian minta maaf. Lian ngga bisa menuruti kemauan mama. Ini satu-satunya jalan terbaik bagi kita semua. Kehadiran Lian Disini hanya memperburuk keadaan. maaf kalau selama ini Lian ga bisa menjadi menantu yang baik buat mama. Lian bukan menantu yang bisa di banggakan. Maaf..." suara Berlian bergetar menahan tangisnya.
"kamu jangan tinggalin mama, nak. Bintang pasti sedih jika kamu pergi dari rumah" pinta mama Farida pada menantunya yang kini tengah mencium tangannya.
"Jaga diri mama baik-baik. Lian pergi dulu. Assalamualaikum"
Bukannya menuruti permintaan mertuanya, berlian justru melangkah keluar kamar. Tangis mama Farida pun tak tertahankan.
"mama tenang saja. Rangga akan menyusul dan membujuk agar berlian tetap mau tinggal di rumah ini" kata Rangga yang tak terima jika berlian pergi. Peluang emasnya mendapatkan berlian bisa terhalang oleh perlindungan kakak juga kakeknya yang terkenal sangat ketat menjaga berlian.
Tak perlu menunggu persetujuan dari mama Farida, Rangga keluar dan berlari menyusul Berlian hingga teras. Dan dia berhasil menahan langkahnya Berlian.
"Lian, kamu jangan bodoh. Kamu harusnya memikirkan keadaan mama. Mama itu butuh kamu" cecar Rangga .
"Ingat Rangga, biarpun aku ngga ada di sini, kamu harus memperlakukan mama dengan baik. Kalau kamu memang masih punya hati, jangan lakukan hal kotor untuk menyakiti orang yang sudah merawat dan menganggap kamu layaknya anak kandungnya sendiri. Apa yang kamu lakukan di luar sepengetahuan mama secara ga langsung di rasakan sendiri sakitnya oleh beliau" tambah Berlian memberi peringatan kepada Rangga.
"Lian, kamu jangan pergi" Rangga berusaha menarik paksa Berlian. Arya yang melihat, langsung mendekat.
"Jangan pernah coba menyentuh adikku" kecam arya sambil melayangkan bogem mentah mengenai wajah Rangga sampai dia terjungkal. Saat satu pukulan lagi hendak di layangkan, Berlian cepat menahan pukulan kakaknya.
"Kak, sudah. Lebih baik kita pulang" ajaknya Berlian.
"Ya sudah, kita pulang" Arya menurut dan mengalah.
Nyali Rangga ciut tak melawan, karna dia sudah tahu siapa arya sebenarnya. Arya si preman jalanan sekaligus copet yang di takuti.
"Ini mobil kakak?" Berlian bertanya begitu kakaknya membukakan pintu mobil sedan berwarna hitam untuknya.
"Bukan. Ini mobil kantor" jawab arya.
"Cepetan kamu naik" suruhnya.
Berlian pun naik, sementara arya meletakkan koper di bagasi mobil, kemudian baru menyusul adiknya masuk.
__ADS_1
Saat arya mulai menyalakan mesin kendaraannya, Berlian menatap getir sebuah kamar yang terdapat di lantai dua. Kamar itu adalah kamar yang banyak memberinya kenangan manis bersama Bintang. Air matanya pun kembali menetes mengenang kisah yang terlukis dalam kamar tersebut.
...****************...
Foto Berlian dalam balutan gaun merah adalah satu-satunya pelepas rindu yang di rasakan Bintang. Hanya dengan menatap, membelai juga menciumi foto tersebut Bintang bisa menghilangkan keresahan juga kegundahannya atas pernyataan cintanya yang belum mendapat jawaban pasti.
"Aku sadar, Aku ga pantas mendapatkan cinta kamu. Aku sudah begitu sering menyakiti hati kamu dengan sikapku. Aku juga bukan lelaki yang baik, aku seorang pembunuh, dan aku seorang narapidana saat ini. Tapi apa aku salah jika aku berharap akan cinta kamu?" ujar Bintang pada foto yang tak henti dia pandangi.
"Aku mencintai kamu, Lian. sangat cinta..." katanya dengan air mata yang jatuh membasahi foto yang dia pegang.
...****************...
"Aku cinta kamu Bintang. Sangat... sangat cinta . Aku harap kamu bisa merasakan itu meski aku belum mengakuinya secara langsung" lirih Berlian dalam kamar yang dia tempati sejak lahir.
"Aku rindu sama kamu" desah Berlian seraya mendekap baju kaos yang terakhir di pakai suaminya dan belum sempat di cuci. Berlian sengaja membawanya untuk sekedar pelepas rindunya.
Berlian tak bosan menciumi baju kaos berwarna putih tersebut. Wangi aroma tubuh Bintang yang tertinggal terasa nyata ada di dekatnya. Memeluknya, menciumnya seperti biasa.
...****************...
"Ar, nenek tak tega melihat keadaan adik kamu. Apa tidak ada jalan lain membebaskan Bintang secepat mungkin?"
Kesedihan nenek Aminah tak jua hilang. Meski waktu tiba tadi Berlian memperlihatkan wajah cerianya.
"aku akan pikirkan jalan terbaik untuk membebaskan bintang tanpa syarat nek" kata arya.
"Kenapa kamu ngga coba minta bantuan pada sahabat kamu satria. Bukannya dia sudah jadi pengacara yang hebat ?. Kakek sering baca beritanya di koran kalau satria kerap menangani masalah hukum dan selalu menang di pengadilan. kenapa kamu ngga coba hubungi dia saja?" cetus kakek dharma mengingat sahabat cucunya.
"Kakek kamu benar. Siapa tahu, satria bisa membantu kita membebaskan Bintang" ujar nenek aminah menimpali kata suaminya.
"Satria...." Arya tersenyum cemerlang mengingat sosok teman lamanya itu.
"Kakek dan nenek benar juga. Besok arya akan temui dia di kantornya" ucapnya. Tak sia-sia dia bertukar pikiran dengan nenek dan kakeknya di ruang tengah di temani sepiring singkong rebus.
"Sat,,awas saja kalau kamu menolak permintaanku. Kamu akan aku kunyah seperti singkong ini" batinnya dalam hati.
...****************...
Melihat putranya jadi pesakitan, mama Farida tak kuasa membendung air matanya menyaksikan sendiri bagaimana tampang anak semata wayangnya yang kusut dan tak terurus. Mama Farida berusaha tegar menghibur hati putranya dan berjanji akan melakukan segala upaya terbaik untuk membebaskannya dari penjara. Dan mama Farida tak bisa berbohong ketika Bintang menanyakan perihal Berlian.
Bintang tak berdaya melawan kepungan air matanya. Tanpa Berlian hidupnya tak ada gunanya lagi. Percuma juga kalau dia bebas, tapi dia harus kehilangan wanita yang sangat dia cintai. Dia tak tahu kenapa berlian pergi dari rumah. Hanya prasangkanya saja yang menduga-duga kalau Berlian tidak mencintai dia dan ingin berpisah dari dirinya.
"mama ga perlu capek-capek meminta pengacara untuk membela dan membebaskanku. mama juga ga perlu meminta om erwin mencabut tuntutannya . aku udah memutuskan untuk membuat surat pengakuan kalau aku memang sengaja mendorong om reza hingga mati. aku juga akan membuat pernyataan kalau memang sudah berencana mau membunuh om reza dari dulu. Aku ngga peduli, mau di hukum mati sekali pun. Aku bebas pun tak ada artinya lagi karna Berlian sama sekali sudah ga peduli . Lian bahkan sudah pergi dari rumah tanpa memberitahu aku terlebih dulu. Harapan untuk terus hidup bersama nya sudah pupus. Lian ga mungkin mau memiliki suami narapidana seperti aku" Bintang sampai pada titik terendah semangat hidupnya. mama Farida yang mendengarnya di buat lunglai tak bertenaga . Baru kali ini dia melihat bintang begitu rapuh menghadapi cobaan hidupnya.
"Kamu jangan lakukan itu, nak. Itu hanya akan memperberat hukuman kamu" tangis mama Farida memohon para putranya.
"Memang itu yang aku harapkan" jawabnya dingin dan datar.
"Maaf ma. aku mau kembali ke sel . Mama sebaiknya pulang saja karna sudah ngga ada lagi yang perlu kita bicarakan"
__ADS_1
Bintang beranjak dari duduknya dan meminta sipir kembali membawanya ke sel. Mama farida terisak.