
"Selamat malam, Lian. Selamat tidur dan mimpi indah, sayang" ucap Bintang dari balik jeruji sambil memejamkan mata.
"Apapun yang kamu ketahui tentang aku, aku harap kamu ngga benci aku. Dan aku mohon sama kamu, kamu jangan mengambil keputusan apa pun. Aku lebih baik membusuk dalam penjara dari pada aku harus kehilangan kamu. Aku sangat berharap pernikahan kita ngga berakhir sia-sia. Aku ingin kamu selamanya mendampingi aku karna aku sangat mencintai kamu dan aku ngga bisa hidup tanpa kamu" batin Bintang menerawang jauh..
...****************...
"Bintang, kamu di mana?" Berlian berteriak dan bertingkah seperti orang depresi ketika bangun dia tidak mendapati suaminya ada di sampingnya.
"Bi, bibi lihat Bintang kemana?" tanyanya pada bi sumi yang sibuk menyiapkan sarapan di dapur. Bi Sumi jadi iba melihat majikan mudanya yang biasa tegar dan ceria berubah lemah.
"Non, den Bintang kan ga di rumah" jawabnya.
"Enggak bi. Bintang sudah bebas dan semalam dia sudah pulang" bantah Berlian.
Bi sumi tak bisa berkata apa-apa lagi. Melihat majikannya yang sangat ceria dan antusias, membuat wanita paruh baya itu tak sanggup mengatakan kenyataan sebenarnya.
"Itu hanya halusinasi kamu saja" sergah Rangga yang tak hentinya mengawasi gerak-gerik berlian dari dia bangun hingga berlian bertingkah layaknya orang depresi.
"Itu bukan halusinasi, itu nyata" yakin Berlian.
"Semalam Bintang pulang. Dia tidur di samping aku dan memeluk aku seperti biasanya" terangnya.
"Kamu ikut aku" Rangga menarik Berlian dengan paksa menuju taman belakang.
"Lian, buka mata kamu . Bintang itu sampai sekarang masih di penjara. Dia tak mungkin bisa bebas dengan mudah" ujar Rangga berapi.
"Enggak. Bintang sudah bebas" bantahnya.
"Terserah kamu. Kamu lihat sendiri ke penjara dan buktikan perkataan siapa yang benar, aku atau kamu?" sengit Rangga.
Berlian terdiam, dadanya sesak . Air matanya pun lagi-lagi menetes membasahi pipinya.
"Bintang itu seorang pembunuh, dia tak mungkin bisa bebas dari hukuman" kata Rangga penuh kemenangan.
"Lebih baik kamu turuti saja apa maunya om erwin. Kamu tinggalkan Bintang dan kamu kembali padaku. Bintang tak layak buat kamu. Dia seorang pembunuh"
"PLAKKK.."
"PLAKKK.." tamparan keras bertubi-tubi menghentikan ucapan Rangga yang menyakitkan bagi Berlian. Dan dia tak terima, Rangga mengatai suaminya begitu saja.
"Bintang bukan pembunuh. Dia hanya mau membela dan menyelamatkan mamanya. Seandainya aku ada di posisi bintang, aku pun akan melakukan hal yang sama" Berlian membela harga diri suaminya dan percaya pada kata hatinya kalau Bintang adalah laki-laki yang baik.
"tinggalkan Bintang kalau ngga dia akan membusuk selamanya dalam penjara"
Rangga tersenyum sinis penuh kemenangan meninggalkan Berlian dalam kebingungan yang menyakitkan.
...****************...
Sudah siang, baru pengacara yang datang membesuknya. Bintang di buat gundah karena berlian belum juga mengunjunginya. Kalau mamanya tak datang, Bintang bisa paham karna kondisi mamanya saat ini masih kurang sehat dan lemah, sesuai dengan penjelasan pengacara keluarganya.
__ADS_1
Tapi, Kenapa dengan Berlian?. Kenapa dia tak datang?. Tak tahu kah dia, kalau Bintang sangat membutuhkan dukungan juga kepercayaan dari dirinya agar sanggup melalui cobaan yang datang menerpa hidupnya?.
"Sudahlah!. Berhenti memikirkan Berlian. Berlian tak mungkin mau membesuk kamu. Dia pasti sangat membenci kamu karna kamu itu orang jahat dan kamu seorang pembunuh. Mana ada perempuan yang rela hidup dengan laki-laki pembunuh seperti kamu" Bintang bergumam lirih mengingatkan dirinya sendiri dalam tahap keputusasaanya.
"Saudara Bintang, ada tamu yang datang berkunjung " sipir penjara datang membukakan pintu tahanan.
"Siapa pak?. Apa dia istri saya?" tanyanya penuh harap.
"Saya tidak tahu" jawab sipir penjara sambil mengawal ketat perjalanan bintang menemui tamu yang datang berkunjung.
...****************...
Wanita berambut panjang itu hilir mudik tak tenang menunggu seseorang.
"Lian..." panggil suara berat yang khas di telinga gadis berambut panjang itu. Suara yang teramat dia rindukan.
Berlian berbalik, tatap matanya langsung berbentur pada sosok tegap dan tetap gagah walau memakai baju tahanan.
"Bintang..." sebutnya tertahan oleh tangisnya yang mau pecah. Sebab dia tak tega melihat keadaan suaminya yang tak bergairah.
Tak tahan menahan kerinduan, keduanya lantas berpelukan dengan erat membebaskan kerinduan masing-masing seperti orang yang lama tak bertemu. Berlian mencoba tegar dan tak mau mencoreng pertemuan mereka yang berharga dengan air mata.
Bintang seakan tak puas memeluk Berlian. Berkali-kali bibirnya mengecup ubun-ubun istrinya tanpa bosan. Berlian pun menikmati itu sebagai obat kerinduannya.
"bagaimana keadaan kamu?. Kamu baik-baik saja, kan?" Berlian bertanya sambil menangkup wajah suaminya dengan senyum getir yang coba dia paksakan.
"Sangat baik saat kamu ada di dekat aku seperti ini" senyum Bintang mengembang. Seolah tak ada beban berat yang tengah di pikul nya.
Senyum Bintang kian mengembang memperlihatkan lesung pipitnya yang menawan. Kehadiran Berlian membuat semangatnya hidup lagi.
"Aku juga kangen sama kamu" balasnya, setelah itu Bintang lanjut mengecup kening istrinya. Berlian berusaha sekuat mungkin untuk tidak menangis.
"Kamu pasti belum makan siang, kan?. Aku bawa makanan kesukaan kamu. Aku masak sendiri khusus hanya untuk kamu" kata Berlian penuh semangat walau hatinya teriris perih. Istri mana yang tega melihat suaminya jadi pesakitan.
"Kamu duduk dulu" Berlian meminta suaminya duduk di bangku panjang yang khusus di sediakan bagi tamu yang datang membesuk.
"Kamu makannya biar aku yang suapin"
Bintang seolah ingin menangis. Dia terharu melihat perhatian Berlian yang tulus untuknya. Bahkan Berlian tak mengungkit masalah penahanannya dan hati kecilnya tahu kalau Berlian sebenarnya sudah tahu perihal mengenai penangkapannya.
"buka mulut kamu dan coba masakan aku, enak nggak?"
Bintang membuka mulutnya dan menerima suapan pertama langsung dari tangan Berlian.
"Enak" katanya dengan mulut terisi dan mata berbinar-binar.
"Beef teriyaki bikinan kamu memang paling enak" tambahnya.
"Kalau memang enak, kamu makan lagi... habiskan ya" Berlian kembali menyuapi sendokan kedua dan seterusnya. Tiap sendokan, Berlian terus tersenyum menyembunyikan kesakitannya. Namun, akhirnya dia menyerah dan tangisnya pun tak bisa di tahan lagi.
"kamu kenapa nangis?" Bintang cepat merengkuh pundak istrinya dan memeluknya. Dalam pelukan suaminya, tangis Berlian makin menjadi.
__ADS_1
Bintang tak tenang, lalu menangkup wajahnya, kemudian menghapus air mata yang berlinangan.
"Jangan nangis. Aku ngga sanggup melihat kamu bersedih seperti ini" pintanya getir.
"Kenapa kamu ngga menyetujui syarat yang di ajukan oleh om erwin?. Kalau kamu setuju, kamu ga perlu di tahan seperti ini?"
"Ternyata benar dugaan aku kalau kamu sudah tahu semuanya dan kamu pasti punya anggapan yang sama dengan orang lain kalau aku ini seorang pembunuh"
Bintang tak dapat menyembunyikan kekecewaannya.
"Kamu salah" kata Berlian.
"mama sudah cerita semua ke aku. Apa yang kamu lakukan bukan sebuah kesengajaan. Kamu hanya mau menyelamatkan mama kamu tanpa bermaksud ingin mencelakai om reza, apa lagi sampai ingin membunuhnya. Kamu bukan pembunuh, Bintang. Bukan...." ujar Berlian memberi pandangannya yang membuat Bintang makin beruntung memiliki istri yang bijaksana.
"Tapi, dia sudah meninggal, lian. Om erwin dan keluarganya pasti mau menuntut balas dengan memenjarakan aku seperti ini" ujar Bintang pelan dan patah semangat.
"Ngga akan, kalau kamu mau menceraikan aku dan menikah dengan Kartika"
"APA?" Bintang seakan tak percaya kalau perkataan menyakitkan itu keluar dari mulut Berlian. Bak di cambuk besi panas mendengarnya.
"Bukan hal yang sulit buatmu untuk berpisah dariku. Bukan kah dari awal kamu begitu membenci aku dan tak sudi memiliki pendamping norak dan kampungan seperti aku?. Pernikahan kita hanya di landasi sebuah perjodohan yang dari awal ngga kita setujui. Dengan kita berpisah, kamu akan mendapatkan gadis yang sepadan dengan kamu. Kartika gadis yang cantik dan baik. Dia juga dari kalangan keluarga terhormat seperti kamu" Berlian berkata melawan hatinya. Itulah kalimat terperih yang pernah dia ucapkan.
"Begitu?" Bintang menyeringai sinis.
"Setelah 6 bulan menikah, pendapat kamu tentang aku masih saja sama. Kamu pikir saat aku meminta kamu menjadi istri aku di depan kakek dan nenek kamu itu tanpa ada alasan. Kamu pikir saat pertama kali aku berani menyentuh kamu, aku melakukannya karna apa. Setiap malam, saat kamu tertidur, aku tak pernah bosan memandangi dan membelai wajah kamu, kamu pikir aku melakukannya karna apa?. Saat aku memeluk kamu, menghapus air mata kamu dan menciumi kamu, kamu pikir aku berbuat seperti itu karna apa?. Aku memilih di penjara dari pada harus hidup bebas dan kehilangan kamu, kamu nilai pengorbanan aku itu apa?"
Berlian diam tak bersuara, air matanya merebak keluar dan hatinya tak karuan saat bintang menyentuh halus jari-jarinya, kemudian mengecupnya.
"Semua aku lakukan karna aku cinta kamu. Bahkan sangat cinta"
Pengakuan itu akhirnya keluar juga dan sangat melegakan bagi Bintang bisa mengungkapnya.
"Aku juga cinta kamu , bintang " balas Berlian dalam hati. Dia tak sanggup berterus terang dan mempertaruhkan masa depan lelaki yang di cintainya. Bintang bisa saja tetap bersikeras memilih di tahan jika tahu kebenaran isi hatinya. Hukuman yang akan di tanggung bintang juga tak main-main.
"Aku sangat mencintai kamu, Lian . Bagaimana dengan kamu?. Apa kamu juga memiliki perasaan yang sama denganku?"
"Iya. Aku juga sangat mencintai kamu. Tapi, aku ngga mau egois. Aku ngga mungkin tega membiarkan kamu meringkuk dalam penjara" rintih Berlian dalam hati, hanya matanya yang bicara lewat tatapan dan air mata.
"Lian, bagaimana dengan kamu?" desak Bintang berharap banyak.
"A..a..ak..aku,,,"
"Maaf, jam berkunjung sudah habis. Sudah waktunya tahanan kembali ke sel" ujar sipir penjara datang dan mengingatkan.
"Bin, jaga diri kamu . Jika kamu bebas nanti, kamu harus semangat menjalani hidup kamu dan kamu harus janji membahagiakan mama meski tanpa aku" kata Berlian meninggalkan pesan yang menusuk perih di lubuk hati Bintang.
Berlian mencium punggung tangan suaminya dengan segenap perasaan yang dia miliki. Tak terasa air matanya menetes membasahi tangannya Bintang.
"Mengetahui kamu mencintai aku, itu sudah lebih dari cukup. Maafkan aku, jika aku tak mampu bertahan" Berlian bergumam lirih meninggalkan kantor polisi tempat suaminya di tahan.
Air mata Bintang tumpah. Tubuhnya merosot dan bersandar pada dinding sel yang dingin. Pesan Berlian tadi seperti sebuah pertanda kalau Berlian akan meninggalkannya.
__ADS_1