
Kedatangan Kartika tak lama setelah Bintang dan berlian pergi, membuat mama Farida bisa bernafas lega dan tidur dengan nyenyak setelah beberapa hari ini di buat tertekan oleh ancaman pak erwin.
Kartika dengan berbesar hati meminta maaf atas sikap orang tuanya yang memaksa perjodohannya dengan Bintang. Kartika dengan tegas menolak perjodohan tersebut. Dia pun berjanji akan membicarakan penolakannya terhadap perjodohan tersebut langsung pada orang tuanya.
Rangga yang ikut menemani mama Farida berbincang dengan Kartika, di buat gusar atas keputusan Kartika menolak perjodohannya itu. Rangga takut kalau pak erwin berubah pikiran dan menuruti apa mau putrinya. Rencananya untuk memisahkan berlian dari bintang yang tinggal selangkah lagi bisa hancur berantakan.
"Bodoh!. Kenapa kamu menolak perjodohan itu?. Bukannya dari dulu kamu sangat berharap bisa memiliki bintang?" Rangga langsung menumpahkan kegusarannya begitu mama Farida kembali ke kamar dan dia hanya berdua dengan Kartika di teras rumah.
"Terserah aku donk!. Aku mau menolak atau menerima perjodohan itu, itu hak ku. Kamu ngga perlu ikut campur" balas Kartika.
"Tik, jangan mempersulit keadaan. Tinggal selangkah lagi kita akan mendapatkan apa yang kita impikan. Berlian akan kembali padaku dan kamu akan mendapatkan Bintang . Dan semua akan semakin mudah jika kamu mau berkerja sama dengan ku untuk memisahkan mereka" bujuk Rangga. Kartika menganga lalu tersenyum sinis.
"Tidak semua orang punya pikiran picik seperti mu. Bagiku Bintang hanya imajinasi masa kecil yang membuat ku berkhayal terlalu dewasa dari usiaku yang seharusnya. Seiring berjalannya waktu, aku sadar dunia masa kecilku terlalu di cekoki cerita fantasi dongeng antara putri dan pangeran. Kini, aku sudah dewasa dan hidup bebas. Otak dan perasaan ku berkembang melihat kenyataan yang ada kalau dia bukan sosok cinta nyata yang aku dambakan"
"Kamu itu bodoh karna sudah menyia-nyiakan kesempatan emas" seringai Rangga.
"Bukannya sebaliknya?" sambar kartika.
"Yang bodoh itu kamu, karna kamu begitu mudahnya melepas wanita secantik dan sebaik Berlian hanya demi tetap bisa hidup mewah. Bukankah kamu sudah mendapatkan apa yang kamu inginkan?. Lalu untuk apa lagi kamu mengharapkan Berlian kembali?"
"Karna aku masih sangat mencintai dia" sela Rangga sengit.
"Cinta?" senyum Kartika sinis.
"Kamu hanya terobsesi ingin memiliki Berlian. Cinta yang kamu ucap itu sudah lama mati dan berganti obsesi kamu yang busuk untuk menghancurkan bintang melalui berlian"
Rangga mengepal tinjunya. Seandainya Kartika bukan anak pak erwin, mungkin saja amarahnya sudah dia lampiaskan.
"aku harus pergi. Permisi" kata Kartika berpamitan dengan ketus.
"Dasar perempuan bodoh!. Kamu pikir aku serius meminta kamu untuk bekerja sama?. Aku bisa mewujudkan keinginan ku tanpa bantuan siapa pun" makinya dalam hati.
...****************...
Bintang tersenyum kecut. Wanita di sampingnya membuat beberapa pasang mata lelaki melirik nakal kearah wanita yang di gandeng nya dengan mesra. Bintang tak tenang dan tak mau melepas berlian jauh darinya walau sekedar bertutur sapa dengan teman-teman bisnis yang di perkenalkan nya. Mereka terkejut begitu Bintang mengenalkan Berlian adalah istrinya. Sebagian dari mereka menganggap Bintang hanya bercanda dan tak serius dengan ucapannya.
"aku mau ke toilet sebentar" bisik Berlian pada suaminya yang tengah berbincang dengan temannya.
"Biar aku temani" balasnya.
"Ngga usah. Aku bisa sendiri." tolak Berlian halus.
"Jangan lama-lama ya"
Berlian menangguk dan tersenyum meninggalkan suaminya.
Bintang melanjutkan perbincangannya dengan teman nya yang juga sudah berkeluarga. Tak sampai 10 menit dia di buat gelisah karna Berlian belum jua kembali. Bintang pun menyusul mencari Berlian ke toilet.
...****************...
"Maaf, saya ga sengaja" ucap seorang lelaki yang tanpa sengaja memutar tubuh dan menumpahkan sisa minumannya membasahi gaun merah seorang gadis manis.
"Oh, Nggak apa-apa mas. Saya yang salah karna jalannya kurang hati-hati" ujar gadis bergaun merah itu sambil membersihkan gaunnya yang terkena minuman.
"Biar saya bantu"
Pria muda berwajah lumayan tampan dengan rambut yang sedikit gondrong mengeluarkan sapu tangan dari kantong celananya.
"Biar saya saja" Berlian dengan cepat menolak dan menahan tangan pria di depannya agar tak melakukan tindakan apa pun.
"Kamu... Berlian ,kan?" tanya pria itu tampak ragu mengamati gadis itu dari ujung kaki hingga rambut.
"Kamu Berlian adiknya arya, kan?" tebaknya pasti.
"Benar. Maaf, mas ini siapa ya?"
"Lian, kamu masak lupa sama aku. Aku Satria , temannya kakak kamu" seru pria itu mengingatkan Berlian siapa dia.
__ADS_1
"Mas satria tama."kata Berlian mengingat-ngingat.
"Iya, benar sekali" pastinya.
"Apa kabar mas?. Maaf aku tadi sempat ga mengenali mas." Berlian mengulurkan tangan bersalaman dengan satria.
"Maklum saja. Kita kan sudah lama ga ketemu" satria menjabat tangan berlian dan tak mau melepasnya.
"Lama ga ketemu, ternyata kamu makin cantik saja" pujinya terkesima melihat penampilan Berlian yang dulu sederhana kini tampak anggun dan elegan.
"ahem..." deheman keras membuat Berlian sadar dan cepat menarik tangannya.
"Kamu sudah ke toiletnya?" Bintang bertanya dengan pandang mata yang tak lepas mengamati pemuda murah senyum yang berhadapan langsung dengan istrinya.
"Udah. Oh ya... Kenalin ini mas satria, sahabatnya kak arya" Berlian dengan cepat mengenalkan bintang dengan Satria.
"Mas,kenalin ini Bintang, suamiku"
"Suami?" kening satria mengkerut dan tawanya meledak seketika.
"kenapa tertawa?"
"Lian, aku itu kenal kamu cukup lama. Arya ga mungkin ga kasih tahu aku kalau adiknya sudah menikah. Bukannya dulu kamu juga berjanji akan mengundang aku jika kelak kamu menikah. Dan kamu akan menikah dalam gelaran pesta yang meriah mengenakan gaun pengantin yang cantik sesuai dengan impian mu. Lama ga bertemu, ternyata kamu banyak berubah. Kamu jadi suka bercanda begini" tawa satria tak mau berhenti.
"Ngga ada yang lucu. Berlian ini memang istri saya" tandas Bintang serius, membuat satria berhenti tertawa.
"Kita kan sudah lama ga ketemu dan aku ngga tahu di mana keberadaan mas satria. Wajar kalau mas ga tahu mengenai perihal pernikahan kami. Kami sudah menikah 6 bulan yang lalu"
Satria terdiam dan serius mendengarkan cerita Berlian.
"Lian, sebaiknya kita pulang"
Bintang menarik istrinya meninggalkan pesta.
...****************...
"Kenapa kamu ga pernah cerita sama aku kalau kamu memiliki impian menjadi pengantin seperti yang di katakan pria tadi" kata Bintang pelan dan lirih memandangi wajah istrinya yang tertidur pulas di sampingnya.
"Sayang, aku janji, aku akan mewujudkan mimpi kamu. Aku akan menggelar pesta pernikahan kita sesuai dengan impian kamu. Aku juga ingin seluruh dunia tahu kalau Berlian Oktaviani milik Bintang Pratama seutuhnya. Aku ingin orang-orang mengenal kamu sebagai istriku"
Bintang menunduk dan menyapa hangat kening istrinya. Lantas ciuman itu turun menyapa lembut bibir tipis istrinya yang merah.
...****************...
"Apa??. Kamu mau menggelar acara resepsi pernikahan kita?" bukan main terkejutnya Berlian begitu Bintang menyampaikan niatnya.
"Iya" jawabnya membenarkan.
"Aku sudah bicara dengan mama tentang ini. Ternyata mama sudah lama mau mengadakan pesta resepsi pernikahan kita. Kita hanya tinggal mengatur ulang semua jadwal yang sebelumnya di janjikan oleh mama pada pihak WO yang mengurus acara resepsi pernikahan kita" cerita Bintang antusias dan semangat. Beda sekali dengan Berlian yang terlihat murung duduk di pinggir tempat tidur.
"kamu ngga setuju kalau aku mau mengadakan resepsi?" Bintang ikut murung dan semangatnya pun jadi kendor.
Berlian diam tak menjawab. Bintang menarik nafas berat dan duduk berdampingan dengan Berlian.
"Lian, resepsi pernikahan ini khusus aku gelar buat kamu. Aku ingin mengenalkan kamu kepada semua orang kalau kamu adalah istri ku, milik aku seorang. Aku ngga mau ada orang yang salah menduga dengan hubungan kita"
"Bin, menikah dengan kamu sah secara hukum dan agama itu sudah cukup bagi ku. Pernikahan kita di restui oleh mama, kakek dan nenek sudah membuat aku tenang mengarungi bahtera rumah tangga kita. Aku ngga perlu mendapat pengakuan dari luar siapa aku dalam hidup kamu, karna yang terpenting bagiku, kamu menganggap aku sebagai istri kamu, itu sudah membuat aku merasa berarti bagimu dan aku akan menjaganya dengan utuh tanpa ada niat sedikit pun berpaling darimu" Berlian bersuara mengemukakan pendapat dan apa yang di rasakannya.
"Tapi aku ingin semua orang tahu kalau kamu dan aku saling memiliki, Lian. Aku ngga mau ada laki-laki lain yang berani mendekati kamu karna menganggap kamu perempuan single"
"Aku juga ngga mau ada wanita yang coba mendekati kamu karna menganggap kamu itu pria lajang" balas berlian.
"Artinya?" Bintang tersenyum mendekati wajah istrinya hingga kening keduanya beradu.
"Apa ya?" Berlian ikut tersenyum menggoda suaminya.
__ADS_1
"Pasti kamu setuju, kan?" yakin Bintang.
"Belum tentu" goda Berlian.
Wajah bintang berubah kecewa. Hanya sebentar saja, karna senyuman Berlian yang menggoda memberi petunjuk.
"Artinya, aku harus membicarakan ini dengan keluarga ku"
"Mereka pasti setuju. Nanti siang kita temui kakek dan nenek membicarakan masalah ini" kata bintang yakin.
"Kita perginya sekarang saja" ajak Berlian berdiri dan menarik tangan suaminya dengan semangat.
Bintang tak beringsut dari duduknya dan malah dengan sengaja menyentakkan tangannya dengan kuat. Berlian terperanjat dan terduduk dalam pangkuan Bintang.
Keduanya beradu pandang dan saling melempar senyum terindah yang mereka miliki. Perlahan wajah keduanya mendekat hingga bibir keduanya bertemu dan bercerita dengan indah.
...****************...
Tanggapan dari kakek dan nenek sesuai dengan apa yang di harapkan oleh Bintang. Semua urusan dan keperluan pesta resepsi di serahkan pada Bintang dan Berlian. Setelah itu mereka hendak pamit pulang.
"Kak arya!" ucap Berlian melihat kakaknya berdiri tegap di depan pintu begitu dia dan bintang mau keluar.
Segera saja Berlian memeluk tubuh kakaknya. Sementara kakek Dharma kaget melihat cucu laki-lakinya sudah berdiri di depan matanya. Emosi dan kecewanya yang tertahan bertahun-tahun, siap meledak.
"Dasar anak kurang ajar!. Masih berani kamu menapaki kaki kamu di rumah ini" geram kakek Dharma.
"Pergi kamu dari sini" usirnya menarik Berlian dan mendorong arya dengan kasar. Nenek Aminah, segera merangkul arya ke dalam pelukannya.
"Kek, jangan usir kak arya" pinta Berlian mengiba. Bintang berusaha menenangkan Berlian.
"Kek, arya itu cucu kita. Jangan di perlakukan seperti itu" ujar nenek Aminah menyadarkan suaminya.
"Kakek ngga pernah punya cucu yang tak tahu diri dan sukanya bikin malu keluarga" ucap kakek Dharma termakan emosi.
"Kek, maafin arya" arya bersimpuh di depan kakeknya.
"Arya tahu salah. Selama ini Arya selalu membangkang perkataan kakek. Arya juga sering membuat kakek malu dengan ulah arya. Arya menyesal, kek"
Arya terus bersimpuh biarpun kakeknya mendiamkannya dan tak merespon segala sesalnya.
"Kek,Lian mohon, kakek bersedia memaafkan kak arya. Berlian rela berlutut agar kakek mau memaafkan kak arya"
Berlian berlutut sama seperti kakaknya, membuktikan perkataannya.
"jangan..." cegah bintang dan arya hampir bersamaan. Tapi berlian tetap berlutut.
Bintang tak tega melihat berlian begitu sebab kakek Dharma seperti tak tersentuh hatinya.
"Kek, aku mohon. Maafkan arya. Sebentar lagi kami akan segera melangsungkan resepsi pernikahan. Aku mau semua keluarga berkumpul. tak ada yang terpisah. Kakek pasti tahu kalau Lian begitu menyayangi kakaknya dan kakek pasti bisa merasakan kesedihan Berlian ketika kami menikah ngga ada kakak yang mendampinginya. Apa kakek juga mau melihat berlian bersedih ?" ujar bintang panjang lebar berusaha melunakkan kerasnya hati kakek mertuanya.
Berlian yang menangis bersimpuh di buat tersentuh atas perhatian suaminya. Dia sama sekali tak menduga kalau bintang bisa tahu apa yang dia rasakan.
"Kek, ingat pesan almarhumah putri kita. Ayu sudah menitipkan arya dan berlian untuk kita jaga. Ayu pasti sangat sedih melihat putra putrinya terpisah" tambah nenek Aminah.
"Kalian berdiri" ujar kakek Dharma dengan suara bergetar setelah berdiam diri mencerna nasihat istri dan cucu menantunya.
"Arya ngga akan berdiri sebelum kakek mau memaafkan" tolak arya ,begitu pun dengan Berlian.
"Kamu mau tetap berlutut atau kamu mau memeluk kakek"
Arya menatap adiknya. Berlian mengangguk memberi isyarat. Keduanya lantas berdiri.
"Kakek sudah lama memaafkan kamu " ucap kakek Dharma lirih.
Arya tanpa ragu memeluk kakeknya. Sementara bintang menarik berlian ke dalam pelukannya.
Kakek Dharma juga meminta istrinya mendekat dan memeluknya. Tak ketinggalan dengan bintang dan berlian.
__ADS_1