Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 24. Hutang nyawa


__ADS_3

#Flashback


"Bintang ngga salah, om. Jangan pukul Bintang" pinta bocah berusia 9 tahunan itu ketakutan tersudut di sebuah ruangan ketika seorang pria tanpa kasihan mau mencambuk tubuh kecilnya itu dengan sabuk pinggangnya.


"Mas, jangan pukul Bintang lagi. Dia tidak salah mas. Aku yang sudah membiarkan Bintang pergi bermain dengan temannya hingga dia sampai terlambat pulang" bela mama muda itu dengan linangan air mata berusaha menahan lengan suaminya agar tidak lagi memukul putranya.


"Farida, lepas... Anak kamu sudah melanggar aturan dariku" laki-laki bertubuh tinggi tetap bersikeras menghukum Bintang dengan alasan yang di buat-buat.


"Kamu lari,nak..." suruh mama Farida sambil terus menahan lengan suaminya.


"Ma... Bintang takut, Bintang tidak salah" kata bocah itu ketakutan melihat ayah tirinya yang suka sekali melakukan tindakan kasar jika marah.


"Kamu kabur sekarang, kamu jangan takut, mama akan selalu melindungi kamu"


"Farida, minggir kamu" laki-laki itu dengan kasar menyikut wajah mama farida hingga tersungkur di lantai Villa tempat mereka menghabiskan masa liburan sekolah Bintang.


"Om, jangan sakiti mama" Bintang berlari menghampiri mamanya.


"Bintang, kamu jangan pikirkan mama. Kamu lari, sekarang..." mama Farida dengan paksa mendorong tubuh anaknya yang bermaksud menolongnya.


"Bintang, pergi nak...." perintahnya lagi karena suaminya hendak mengayunkan sabuknya mencambuk Bintang.


"Mau kemana kamu?" teriak si ayah tiri begitu melihat Bintang lari keluar rumah. Dia pun bermaksud mengejar, namun di hadang oleh istrinya.


Karena ketakutan, Bintang kecil berlari tak tentu arah dari villa sampai melewati batas perkebunan menuju sebuah anak sungai berarus deras.


"Aaaaaa....." Bintang terpeleset dan jatuh ke sungai.


...****************...


"Kamu tunggu ibu di sini ya nak. Ibu mau memanggil kakek sama kakak kamu yang lagi memancing di sungai" ujar seorang ibu pada putri cantiknya yang berusia 6 tahun itu saat mau pulang setelah seharian bekerja memetik teh.


"Bu, Lian ikut" rengek gadis kecil itu.


"Sayang, kamu di sini saja. Ibu cuma sebentar kok" ibu muda itu berusaha meyakinkan putrinya dengan membelai wajah polos itu dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Jangan lama-lama, ya bu!. Lian takut sendirian" kata Berlian kecil yang akhirnya mau di tinggal ibunya.


"Iya, kamu jangan kemana-mana, tunggu ibu di sini" pesannya.


Ibunya Berlian pun meninggalkan putrinya di bawah pohon rindang yang tidak jauh dari sungai di mana biasanya bapak dan anaknya suka memancing.


"Bapak, Arya...sudah sore, kita pulang yuk" seru ibunya Berlian sambil menuruni pinggir sungai yang landai.


"Lho,bapak sama Arya mana?. Mereka kan biasanya memancing di daerah sini?" ibu Ayu jadi bingung sendiri tidak melihat orang yang dia cari.


"Mungkin mereka sudah pulang duluan" tebaknya.


Ibu Ayu pun berbalik arah. Namun langkahnya tertahan ketika telinganya sayup-sayup mendengar permintaan tolong dari arah sungai.


"Tolong...tolong..." pinta seorang bocah terbawa arus sungai.


Tanpa pikir panjang, ibu Ayu segera berenang membantu bocah tersebut. Namun naas, ketika dia berhasil menyelamatkan bocah malang itu sampai kepinggir sungai, derasnya arus dari hulu tiba-tiba datang menerjang dan ibunya Berlian tidak bisa menyelamatkan diri dan terbawa derasnya arus sungai.


Warga sekitar yang mengetahui hal itu segera melakukan pencarian sampai larut malam dan ibu Ayu di temukan dalam keadaan kritis dan di larikan ke puskesmas terdekat.


"Ibu...jangan tinggalin Lian..." tangis seorang gadis kecil di samping ibunya.


Mama Farida segera mendekat dan menenangkan gadis kecil tersebut.


"Yu, terimakasih karena kamu sudah menyelamatkan anakku" ucap mama Farida dengan linangan air mata yang di respon dengan anggukan lemah oleh ibu ayu yang keadaannya makin kritis.


"Ber...li..an..." ibu ayu menyebut nama putrinya terbata-bata.


"Berlian? dia anak kamu" mama Farida melirik kearah bocah kecil yang di gendongnya.


"I..ya" jawab ibu ayu tanpa tenaga.


"Yu, kamu sudah menyelamatkan nyawa anakku. Aku janji akan merawat anak kamu dan aku akan menjodohkan Berlian dengan Bintang jika mereka dewasa nanti"


Mata ibu Berlian langsung tertutup setelah mendengar janji dari mama Farida. Namun sebelum mata itu terpejam selamanya, Mama Farida bisa membaca sinar harapan dari mata orang yang sudah menyelamatkan buah hatinya.

__ADS_1


"Ayu...." seru sepasang suami istri datang bersama seorang bocah laki-laki.


"Kek, nek... ibu kenapa tidur, bangunin ibu, kek" ujar Berlian terisak pada kakek dan neneknya yang langsung menangis histeris melihat putri mereka sudah tak lagi bernyawa.


"Kak Arya, ibu kenapa?. Kenapa ibu diam aja?. Kakek dan nenek kan sudah datang menjemput Lian dan ibu pulang" kata gadis kecil itu tidak paham dengan apa yang dia lihat. Berlian pun turun dari gendongan mama Farida dan berjalan mendekati kakaknya yang berusaha menyembunyikan air matanya.


"Kita sudah tidak punya ibu, dek. Ibu sudah meninggal" jelas Arya dan tangisnya pun pecah.


"Kak Arya bohong, ibu hanya tidur, bukan meninggal" bantah Berlian kecil terisak.


"Ibu...bangun... ibu bilang cuma pergi sebentar, ibu jangan bohong sama Lian" Berlian mengguncang tangan ibunya dengan sekuat tenaga bersama tangisannya.


Mama Farida yang melihat kejadian memilukan itu tidak sanggup menahan air matanya dan bertekad menunaikan janjinya menjodohkan Bintang dengan Berlian juga akan membiayai semua kebutuhan kedua anak Ayu. Karena itu mama Farida menutup rapat penyebab kematian Ayu dari orang tuanya karena takut pak dharma dan istrinya menolak niat tulusnya.


#flashback off


...****************...


"Jadi, yang menolong Bintang waktu hanyut itu adalah ibunya Berlian?" Bintang tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dadanya sesak, sebuah gelombang bergemuruh menghantam sanubarinya ketika sang ibu menceritakan kronologis kejadian yang hampir merenggut nyawanya dulu.


"Iya nak!. Itu sebabnya mama begitu gigih memaksa kamu agar mau menikah dengan Berlian" mama Farida menarik nafas berat setelah lega menceritakan kejadian memilukan beberapa tahun silam.


"Kamu sudah tahu kebenarannya. Maafkan mama, jika sudah memaksa kamu berkorban terlalu jauh menunaikan janji mama pada ibunya Berlian. Jika memang kamu tetap tidak mau menikahi Berlian, mama tidak akan lagi memaksa kamu. Mama juga tidak mau melihat kamu tertekan karena paksaan dari mama"


Bintang memegang keningnya yang pusing memikirkan masalah ini. Dulu ibunya Berlian sudah menyelamatkan nyawanya dan belum lama ini Berlian sendiri yang menyelamatkan dia waktu tenggelam di telaga karena trauma hanyut di sungai dulu muncul lagi. Sudah dua kali nyawanya di selamatkan oleh anak dan ibu. Apa harus dia menunaikan janji mamanya demi menebus hutang nyawa?.


"Maaf nyonya, den Bintang, non Berlian sudah sadar" seorang pelayan di rumah itu datang mengabari keadaan gadis yang di jaganya sesuai perintah majikannya.


"Alhamdulillah"ucap mama Farida lega.


"Bin, mama mau melihat keadaan Lian dulu, kamu mau ikut?" Mama Farida bertanya sambil berdiri dari duduknya.


"Ma, Bintang mau bicara sebentar dengan mama"


"Bicara apa?" kening mama Farida mengkerut heran dengan sikap putranya yang tak biasa.

__ADS_1


__ADS_2