
Malam menjelang, Bintang sendirian menjaga istrinya setelah arya dan satria pamit pulang. Begitu juga dng mama farida yang pulang di antar oleh Arya.
Bintang menatap Berlian yang terbaring lemah tanpa berkedip. Rasa bersalah dan sayangnya campur aduk menjadi satu.
"Maafkan aku, Lian" desahnya penuh sesal menatap istrinya yang tengah istirahat.
Bintang coba memberanikan diri mengecup kening Berlian meski ada rasa tak pantas untuk melakukannya mengingat kesalahan yang sudah dia perbuat. Dia sudah lalai menjaga istri dan calon anaknya sendiri. Karna keegoisannya, dia hampir saja mencelakakan istri juga calon anaknya.
"Maafkan papa, nak" Bintang beralih menatap perut istrinya. Tangannya terulur ingin meraba perut istrinya. Bintang sangat ingin menyapa calon buah hatinya.
"Kamu pasti sangat membenci papa karna sudah jahat sama kamu juga mama kamu" Bintang menarik tangannya kembali. Dia merasa tak pantas untuk di maafkan.
"Kamu kenapa masih di sini?. Harusnya kamu pulang dan temani mama" Berlian membuka mata dan menatap suaminya dengan tatapan kosong.
"Kamu sudah bangun" Bintang tersenyum lega.
"Bagaimana keadaan kamu?. Apa ada yang sakit?" lanjutnya bertanya sebagai bentuk perhatiannya.
Berlian tersenyum getir.
"Untuk apa kamu tanyakan itu?. Kamu berharap sesuatu yang buruk terjadi padaku?"
Bintang menggeleng lembut dan berusaha menunjukkan kesabarannya.
"Lian, aku benar-benar menyesal sudah membuat kamu seperti ini?. Aku ga akan pernah bisa memaafkan diri aku sendiri jika sampai hal buruk terjadi dan menimpa kamu juga calon anak kita"tuturnya penuh kesadaran.
"Kamu sudah tahu kalau aku hamil?"
Bintang mengangguk.
"Dokter sudah menceritakan semuanya" katanya.
"Kamu sudah tahu kalau aku hamil, Bagaimana perasaan mu?" Berlian tersenyum getir dan menatap hambar laki-laki yang sudah membuat dia sempurna menjadi seorang perempuan.
__ADS_1
Bintang memilih diam dan memberi kesempatan pada istrinya untuk meluapkan segala kekecewaan juga kemarahannya. Bintang tak mau berlian memendam rasa itu terlalu lama agar dia bisa memperbaiki diri lebih baik lagi. Cukup ini yang terakhir kalinya dia menyakiti hati wanita yang sangat dia cintai.
"apa yang ingin kamu lakukan setelah tahu aku hamil?" tanyanya.
"Kamu mau meninggalkan aku atau kamu mau meminta aku menggugurkan janin yang aku kandung?"
"Aku sangat mencintai kamu Lian. Aku ga mungkin meminta kamu melakukan tindakan keji seperti itu" bantah Bintang.
"Apanya yang tidak?. Kamu hanya mencintai sebagian dari ku. Kamu ga bisa menerima aku utuh sebagai perempuan. Aku ingin menjadi ibu dari anak-anak kita. Apa kamu bisa terima itu?" Berlian tak mau menangis. Dia berusaha tegar dan menunjukkan siapa dirinya pada suaminya.
"Apa kamu akan memaksa aku untuk memilih antara kamu juga janin yang aku kandung?"
"Lian, tolong kamu dengarkan aku dulu"
"Kamu yang harus dengarkan aku!" sela Berlian.
Bintang diam membisu.
"Aku bisa memilih antara kamu dengan janin yang ada di rahim ku. Kamu bisa menebak dengan pasti keputusan apa yang akan aku ambil. Itupun kalau kamu mengerti aku melakukan itu karna aku begitu sangat mencintai kamu"
Perasaan juga detak jantung Bintang kacau mendengarnya. Jiwanya kalut, raganya lemah tak bertulang, sorot matanya menandakan sebuah ketakutan yang besar.
"Lian, jangan lakukan itu. Aku mohon" Bintang menggenggam jemari berlian.
Berlian menarik tangannya, air matanya menyerah juga dan tumpah menggenangi kedua bola matanya.
"Aku ga bisa memaksa kamu untuk menerima aku apa adanya. Aku pun ga bisa membohongi diriku sendiri kalau aku ga bisa menerima kekurangan kamu yang tak mau mempunyai anak. Jika di paksakan, bukan aku atau kamu yang akan jadi korbannya, tapi calon anak kita. Dia yang akan menanggung beban keegoisan orang tuanya. Aku ga mau itu terjadi"
"Lian, jangan lakukan itu. Aku mohon dengarkan aku kali ini saja" pinta Bintang penuh harap.
"Apapun yang terjadi dengan hubungan kita ke depan, aku harap kamu mau untuk sekedar melihat wajah anak kita begitu dia lahir. Aku ingin kamu mau meng azani nya, memberi dia nama yang indah. Aku gak mau anak kita merasakan kehadirannya tidak di inginkan oleh papa nya sendiri"
"Lian, maafkan aku"
__ADS_1
Bintang kembali meraih tangan istrinya dan meletakkan di wajahnya. Bintang kemudian menangis seperti anak kecil.
"Maafkan aku" katanya dengan tubuh berguncang. Air matanya meleleh membasahi telapak tangan istrinya. Berlian sendiri tak kuasa menghapus air mata suaminya. Inilah kali pertama dia melihat Bintang menangis seperti ini.
"kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Kamu jangan cengeng begini" ujar Berlian tak tahan melihat suaminya tertekan sedemikian rupa.
Bintang berusaha menenangkan jiwa dan air matanya.
"Saat ini kamu pasti berpikiran kalau aku manusia paling jahat . Aku bukan hanya sudah membunuh adik dan ayah tiri ku. Tapi aku juga pembunuh ibu kandung kamu. Dan mungkin kini kamu berpikiran kalau aku mau membunuh darah dagingku sendiri"
Berlian terhenyak, dia tak menduga kalau Bintang akan berpikir sesempit itu.
"Aku akui, aku memang lalai menjaga adikku. Setiap saat aku selalu di hantui rasa bersalah tiap kali melihat anak kecil. Aku takut jika kelak aku punya anak, aku tidak bisa menjaga anakku sendiri. Aku takut, aku tidak sanggup menyentuh ataupun menggendong anakku sendiri. Aku takut nasibnya akan sama seperti bulan"
Berlian merasa hatinya teriris mendengar jeritan hati suaminya. Penyesalan dalam hatinya timbul begitu tahu apa yang selama ini di pendam sendiri oleh suaminya. Dia yang picik, dia yang egois. Sebagai istri dia tak peka meraba penderitaan suaminya yang terpendam bertahun-tahun lamanya. Benar kata mama mertuanya kalau dia yang terlalu di hantui rasa takut jika bintang menolak kehamilannya.
"Setiap hari aku harus mendengar makian om reza yang mengatai aku seorang pembunuh. Aku di pukuli, aku di cambuk, dikurung di gudang tanpa sebab. Semua apa yang menjadi milik ku, dan apa yang aku inginkan tak pernah di penuhi. Semua di serahkan pada Rangga. Aku pasrah dan terima aku di perlakukan secara tidak manusiawi oleh ayah tiri ku karna aku anggap itu sebagai penebus dosa aku terhadap Bulan. Namun ketika, om reza bertindak kasar terhadap mama, Aku tidak terima dan aku..." Bintang tak sanggup melanjutkan cerita perih masa lalunya. Dada nya sesak mengenang kesakitannya.
"Aku... aku... aku memb..."
"Bin, jangan di lanjutkan lagi" Berlian cepat bangun dan merengkuh pundak suaminya, kemudian memeluknya. Dia biarkan Bintang menumpahkan air mata di pelukan nya. Berlian mengusap lembut muka suaminya, mengecup penuh kasih sayang pipinya. Hanya itu yang bisa dia lakukan untuk menenangkan gemuruh yang menerjang jiwa suaminya. Berlian seolah ikut terlempar hadir menyaksikan bagaimana berat dan sakitnya hari-hari yang di lewati bintang dulu.
"Aku seorang pembunuh Lian. Aku sudah membunuh orang-orang terdekat ku. Aku juga yang menyebabkan ibu kamu meninggal. Dan bahkan aku hampir saja membunuh calon anak kita. Aku manusia paling jahat. Aku layak di benci oleh kamu"
"Kamu bukan pembunuh, Bin. Kamu bukan orang jahat" sergah berlian yang berusaha menyeka air matanya, kemudian dia menangkup dan menengadahkan wajah suaminya agar mau menatap matanya.
"Maafkan aku, Bin" Berlian menghapus air mata suaminya penuh rasa bersalah.
"Hidup mati seseorang itu sudah ada yang mengatur. Berhenti menyalahkan diri kamu sendiri. Kamu hanya akan membuat Bulan dan om Reza tak tenang di sana. Aku yakin, mereka pasti mengerti dan sudah memaafkan kesalahan kamu. Bulan pasti sangat menyayangi kamu dan dia ga akan suka melihat kakaknya masih menyalahkan dirinya atas kematian yang merenggut nyawanya. Jangan hukum aku, calon anak kita, juga diri kamu sendiri dengan trauma masa lalu kamu. Kamu harus bangkit demi aku juga demi buah cinta kita"
"Tapi bagaimana dengan kematian ibu kamu?. Kamu pasti tidak bisa memaafkan aku" Bintang belum sepenuhnya bisa tenang mengingat kesalahan dia yang lainnya.
Berlian diam dan menarik nafas sejenak. Tatapannya jauh merenungkan beban yang masih di pikul oleh suaminya. Bintang menahan nafas dan menunggu dengan harap-harap cemas seperti apa pendapat istrinya.
__ADS_1