Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 58. Menerima tantangan pihak penerbit.


__ADS_3

Rangga turun dari mobilnya dalam keadaan kusut seperti habis begadang semalaman. Matanya tiba-tiba segar melihat sosok cantik keluar dari rumah. 


"Lian ku ternyata makin cantik saja" gumamnya terkesima melihat sang mantan. 


"Lian... pagi-pagi begini kamu mau kemana?" sapa Rangga dengan gaya di buat se akrab mungkin. 


"Aku mau kemana, itu bukan urusanmu" jawab Berlian sinis dan acuh. 


"Judes banget sih?" Rangga memberanikan diri mencolek dagu Berlian.


 


"Rangga... jaga sikapmu" tegur Berlian keras dan tak suka Rangga bersikap nakal dengan mencolek-colek dia sesukanya. 


"halah... begitu saja marah" 


Rangga berusaha mencolek lagi, tapi Berlian dengan sigap menepis tangan itu.


 


"wajah kamu pucat sekali. Kamu sakit?" panik Rangga mengamati wajah Berlian yang tak biasa.


"Tapi, kamu tetap cantik sih.Selalu ... " lanjut Rangga menggombal sambil menaik turunkan alisnya. 


"Ishhh..." Berlian jadi jijik sendiri melihat kelakuan Rangga yang alay. 


"kamu pergi, ya?. Biar aku antar?" Rangga menawarkan bantuannya dan membukakan pintu mobil, mempersilahkan Berlian untuk naik. 


Berlian ngeloyor begitu saja dan tak menggubris tawaran Rangga. Dia sudah cukup muak meladeni sikap Rangga yang terus mendekatinya. 


"Brengs*k, awas kamu Berlian" Rangga membanting pintu mobilnya di acuhkan Berlian.


Berlian berjalan ke garasi mengambil sepeda nya yang belum sempat dia pakai lagi setelah menikah dengan Bintang. Terakhir kali Bintang membawa sepeda itu saat Berlian pingsan di pinggir jalan setelah dihadang preman. Entah siapa yang membetulkan ban sepeda nya. Berlian tak mau ambil pusing, kemudian dia menaikinya dan pergi meninggalkan rumah mewah itu menuju ke rumah kakeknya.


...****************...


"Kenapa mama tiba-tiba mengizinkan Berlian untuk bekerja?. Bukannya dari awal mama lebih suka kalau dia menjadi ibu rumah tangga saja?" Bintang langsung menanyakan sikap mamanya yang menurutnya plinplan. 

__ADS_1


"Kamu mau mama bagaimana?" sela mama Farida.


"Kamu mau mama melarang Berlian bekerja dan berdiam diri saja di rumah supaya kamu punya alasan kuat untuk menghina istrimu sendiri dan menganggap dia wanita gila harta, begitu?" 


Bintang kaget bagaimana mamanya tahu dengan permasalahannya dengan Berlian. Bintang bingung bagaimana menjelaskan akar permasalahannya. 


"Kamu jangan bingung kenapa mama bisa tahu permasalahan yang menimpa kamu dan lian" ujar mama Farida membaca jalan pikiran putranya. 


"Melihat kamar kamu yang berantakan semalam, mama sudah bisa menyimpulkan kalau hubungan kamu dan berlian sedang ada masalah. Mama kecewa sekali saat mendengar pertengkaran mu tadi. mama tidak menduga kalau kamu bisa begitu tega menginjak-injak harga diri istrimu" 


"Mama tidak mengerti inti permasalahannya. aku sama sekali tidak bermaksud menghinanya. Aku khilaf karna terlalu terbawa emosi" 


"Kamu masih berani membela diri!!" sela mama farida membentak Bintang. Sedetik kemudian, beliau berubah lembut karna sebagai wanita yang sudah melahirkan dan membesarkan Bintang, mama farida tidak bisa menyudutkan Bintang karna dia terlihat tertekan dengan pertengkarannya dengan Berlian.


"Ketahuilah nak, mama menjodohkan mu dengan berlian bukan hanya karna masalah hutang nyawa, tapi mama tahu bagaimana Berlian. Mama selalu memantau perkembangannya dari kecil hingga dewasa. Berlian tidak seburuk yang kamu kira. Sejak kalian menikah, mama berusaha memberikan fasilitas yang kita punya untuk dia, mulai dari mobil, tabungan pendidikan, perhiasan, tapi semua di tolak. Berlian benar-benar tulus menikah dengan mu tanpa di embel-embel nama besar keluarga kita. Lian tulus menikah dengan pria angkuh, dingin dan arogan seperti mu, bukan karna kamu hidup berlebih dengan kekayaan berlimpah" 


Bintang merasa terjatuh sejatuh-jatuhnya mendengar penjelasan mamanya. Penilaiannya terhadap Berlian sungguh tidak ada benarnya. Bintang merasa dirinya sangat bejat menuduh Berlian berdasarkan emosi saja.


"Maafkan aku, Lian .Maafkan aku" sesal Bintang sesak memenuhi dadanya. 


"Lian pasti benci sekali denganku, dia pasti tidak mau memaafkan aku"


"Semua tergantung kesungguhan kamu. Jika kamu benar-benar mencintai lian, pertahankan dia, jangan biarkan dia makin jauh darimu" 


"Hmmm..ternyata semalam ada kejadian indah di rumah ini" Rangga tersenyum licik menguping pembicaraan bintang dan mamanya. 


"Hanya tinggal menunggu waktu, Lian akan kembali ke sisi ku dengan sendirinya" gumam Rangga penuh kepuasan melihat bagaimana hancurnya Bintang. 


"Lian , aku akan mempertahankanmu seumur hidupku. Aku akan berjuang mendapatkan hati dan cintamu" tekad Bintang penuh semangat. 


...****************...


Tidak ada kecurigaan dari raut wajah kakek Dharma dan nenek Aminah menyambut kedatangan cucunya yang hanya sebentar singgah, sarapan bareng, datang menggunakan sepedanya untuk keperluannya bekerja karna Berlian sudah menyiapkan jawaban yang masuk akal agar kakek dan neneknya tidak cemas memikirkan keadaannya yang sebenarnya. 


"Nek, kek, Lian pamit dulu. Lian harus ketempat Kartika" 


Berlian menyalami nenek dan kakeknya bergantian. 

__ADS_1


"Hati-hati" pesan kakek Dharma dan istrinya bersamaan. Berlian pun pergi dengan sepedanya.


"Cucu kita benar-benar aneh yah, kek?. Punya suami kaya, tapi tak mau di manja. Berlian bisa saja kan minta di beliin mobil sama suaminya " ujar nenek Aminah mengingat alasan cucunya menggunakan sepedanya demi alasan kesehatan juga tak mau di manja dengan fasilitas mewah keluarga suaminya. 


"Bukannya bagus!. Berarti cucu kita anaknya mandiri dan tak mau memanfaatkan siapa pun, biarpun suami atau mertuanya sendiri. Benar kata Lian, pakai sepeda lebih menyehatkan" kata kakek Dharma mendukung sikap cucunya. 


...****************...


"Beneran kamu mau menerima tantangan dari pihak penerbit untuk menulis novel baru?" Kartika bertanya pada sahabatnya dan dia cukup bingung dan penasaran apa yang membuat Berlian berubah pikiran secepat itu. 


"Iya, Tika. Aku sudah mempertimbangkan dengan matang dan aku sudah punya panduan kuat untuk menulis novel yang bisa aku pertanggung jawabkan" jawab nya optimis.


"Maksudnya?" Kartika tak paham. 


"Kamu masih ingat alasan aku kemarin menolak tantangan dari penerbit?" 


"Iya,aku ingat" Kartika mengangguk. 


"Lalu apa hubungannya dengan keputusan kamu sekarang?" tetap saja dia tak paham. 


"Aku sudah punya ide cerita yang akan aku tulis berdasarkan kisah nyata langsung dari tokohnya dan aku akan berusaha sebaik mungkin menuangkan cerita aku secara nyata tanpa melupakan prinsip aku dalam menulis" 


"Kalau boleh tahu, siapa tokoh inspirasi yang akan kamu jadikan tokoh dalam novel mu?" tanya Kartika penasaran. 


"Ada deh...Ra... ha... si... a..." kata Berlian bermain rahasia. 


"Yee... senang banget main rahasia" sungut Kartika.


 


"Nanti kamu juga tahu" Berlian senyum-senyum tak pasti memainkan rasa penasaran sahabatnya. 


"Tika, aku boleh menulis novel di sini, aku tidak mungkin menulis di rumah, aku takut ketahuan sama Bintang. Bintang bisa saja melarang ku jadi penulis. Aku tidak mau itu" pinta Berlian lengkap dengan alasannya tanpa memberi tahu alasan sebenarnya yang ingin menghindar dari Bintang. 


"Kalau kamu mau, kenapa ngga. Kebetulan di ruangan ku ada komputer yang tak di pakai, kamu boleh pakai untuk mengetik" Kartika setuju saja dan selalu bersedia menolong temannya tanpa pamrih. 


"Terimakasih,Tika. Kamu memang sahabat terbaik ku" kata Berlian dengan senyum tulus dan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


__ADS_2