Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 95. Bernostalgia


__ADS_3

Seperti apa yang di katakan bintang semalam, saat berlian terbangun maka dia akan melihat kalau Bintang tengah memeluknya dengan erat. Berlian pun bernafas lega. Dia pun menunduk menyapa kening suaminya dengan mesra. 


Sebelum beranjak turun dari tempat tidur, Berlian menyentuh lembut bibir suaminya lebih dulu. Baru kemudian dia turun mencuci muka dan gosok gigi lalu keluar menyiapkan sarapan untuk keluarganya. 


...****************...


Selesai sarapan, Berlian menepati janjinya mau menemani Bintang jalan-jalan keliling perkebunan dengan menggunakan sepeda milik kakek. Udara pagi yang sejuk dan cuaca yang mendukung, membuat keduanya tak sabar untuk memulai perjalanan mereka. 


Berlian duduk dengan manis di depan dan bintang dengan semangat mengayuh sepeda tersebut. Dan dia tak pernah lepas menciumi aroma rambut Berlian yang wangi dan berterbangan menutupi sebagian wajahnya. 


Pasangan muda itu pun terlihat begitu ceria melewati perjalanan mereka menuju area perkebunan teh yang di tempuh selama kurang lebih 20 menit. Senyum dan tawa menghiasi bibir keduanya. Kemesraan keduanya jadi bahan perbincangan ibu-ibu pemetik teh. 


"yank kamu tahu, apa tujuan aku yang sebenarnya mengajak keliling perkebunan hari ini?" tanyanya bintang ketika menghentikan jalan sepedanya pada sebuah tikungan. 


"anggap aja kita lagi healing hahaha " jawab Berlian polos. 


"Kamu ingat tempat ini?" tanyanya sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar tempat mereka berdiri kini. 


Berlian ikut mengedarkan pandangannya. Kemudian senyumnya merekah dengan indah. 


"Ya jelaslah aku ingat sama tempat ini" ujarnya. 


"Ini kan tempat di mana aku di serempet mobil sampai aku jatuh dan kaki aku luka. Parahnya lagi, si pengemudi itu sangat angkuh, arogan dan sombong, jelek lagi." urai Berlian sambil memutar wajahnya dan memicingkan mata meledek Bintang.


"Yah, yang salah kan si gadis bersepeda itu sendiri, ngapain bawa sepedanya ngga hati-hati" 


"Kamu kenapa jadi nyalahin aku?. Jelas-jelas kamu yang salah." sela Berlian.


 


"Kamu yang mulai. Ngapain juga kamu ngatain aku angkuh, arogan dan sombong. Pakai bilang aku jelek lagi" protesnya. 


"Memang kenyataannya kamu jelek, kok" cibir Berlian.


"Biar jelek begini, kamu cinta.kan" goda bintang dengan mencolek dagu berlian.


"Apaan sih!" Berlian buang muka dan diam-diam tersenyum. 


"Benar kan... apa yang aku bilang?" ujar bintang tak puas menggoda Berlian.


"Udah ah... kamu lanjut lagi mengayuh sepedanya. Kalau kamu terus-terusan menggoda aku, waktu kita cuma habis bernostalgia di sini saja, masih banyak tempat kenangan kita yang harus di datangi" 


Bintang tersenyum lebar dan dengan semangat yang menggebu kembali mengayuh sepedanya. Disela kesempatan, Bintang mencium pipi Berlian dari belakang. 


"kamu ishh... jangan macam-macam, nanti bawa sepedanya nggak konsen lagi" 

__ADS_1


Mereka sampai di tengah-tengah perkebunan teh yang terhampar luas. Perjalanan pun di lanjutkan dengan berjalan kaki dan sepeda yang mereka gunakan di titipkan pada seorang warga yang rumahnya tak jauh dari perkebunan. 


Keduanya jalan beriringan dan bergandengan menikmati panorama hijau yang menakjubkan. Di tengah perjalanan, Bintang tiba-tiba membungkuk mengambil sesuatu yang terselip pada sebatang rumput liar. 


"Kamu ngapain, sih?. Kamu kecapekan?" Berlian khawatir.


Bintang berdiri dan menggeleng sambil tersenyum jahil. Tangannya pun seperti menyembunyikan sesuatu dari balik punggungnya. 


"Yank, kamu ingat nggak sama ini?" 


"Huaaaa,,, ulat bulu" Berlian berteriak kaget dan lari ketakutan melihat bintang hijau yang di perlihatkan Bintang.


Bintang tertawa terpingkal-pingkal saking senangnya bisa mengerjai berlian.


"eh ... kamu jangan lari" Bintang berteriak sambil mengejar Berlian. Kali ini dia bisa dengan mudah menyusul Berlian ketimbang waktu mereka belum saling mengenal dengan baik. 


"kamu buang ulat bulunya, aku takut" pinta Berlian sambil menutup mukanya dengan kedua belah tangan begitu Bintang berhasil memeluknya. 


"Sayang, kamu turunkan tangannya, lalu buka mata kamu dan lihat apa yang aku pegang" 


"Nggak mau. Kamu pasti mau menakuti aku dengan ulat bulu, kan" tolaknya. 


Tak mempan di bujuk, Bintang bertindak sendiri menurunkan tangan Berlian. Dalam hitungan detik, wangi semerbak merayu indra penciuman Berlian.


"buka mata kamu pelan-pelan dan lihat apa yang aku pegang" 


"Bunga yang cantik" pujinya. 


"Bunga yang cantik untuk wanita paling tercantik" ujar bintang lalu menyelipkan setangkai bunga berwarna putih yang dia petik ketika mengejar berlian tadi. Bunga berwarna putih itu di pasang di telinga kanan berlian.


 


"Sempurna" ujar Bintang dengan sorot mata memuji dan dia menangkup wajah istrinya dan melayangkan kecupan hangat di keningnya. Perlahan bintang menunduk dan kian menunduk. 


Berlian tersenyum nakal dan sengaja mendorong dada suaminya hingga menjauh dan tersandar pada hamparan tanaman teh yang tumbuh rapat. 


"Itu balasan karna sudah menakut-nakuti aku sama ulat bulu" 


"Lalu, balasan buat bunganya mana?" tagih bintang tak mau kalah. 


"Kamu usaha saja sendiri" cibir berlian sambil berlari dengan senyum bahagia.


 


"kamu nantangin aku, ya?. Awas saja, kalau kamu sampai tertangkap" 

__ADS_1


Bintang berlari dengan semangat mengejar istrinya di tengah-tengah perkebunan teh yang luas. Dari jauh terdengar pekikan berlian dan juga suara tawa keduanya yang bahagia.


...****************...


Jam lima sore, Rangga pulang lebih cepat dari biasanya. Sejak arya masuk dan bergabung bekerja di kantor yang sama dengannya, dia jadi malas berlama-lama di kantor tersebut. Dia selalu merasa gerak-geriknya di awasi oleh kakak kandung dari mantannya itu. Meski dia sudah mendapat kepercayaan penuh dari mama Farida untuk mengendalikan perusahaan untuk sementara waktu sampai kasusnya Bintang tuntas, laki-laki berambut cepak itu tetap tidak bisa bergerak bebas. Penyebabnya cuma satu, Arya.


Arya ibarat kamera pengintainya bintang dari jauh. Rangga yakin, Bintang memang sengaja mempercayakan arya khusus untuk mengawasinya. Entah sudah berapa kali arya menggagalkan rencana busuknya. Seperti kejadian saat meeting 2 hari yang lalu. Arya dengan mudah mematahkan presentasinya untuk proyek pembukaan lahan perkebunan lainnya di depan para investor juga staf lainnya. Dana besar yang seharusnya bisa di cairkan justru di bekukan menunggu persetujuannya Bintang .


"Keterlaluan, sampai kapan si pencopet itu bekerja di kantor?. Aku harus cepat mencari akal agar si pencopet itu secepatnya keluar dari kantor. Sebelum bintang kembali ke kantor, pencopet itu harus keluar dan dana itu juga harus segera cair bagaimanapun caranya" batin rangga menggebu meloloskan niat buruknya. 


"Aku harus bicara lagi dengan mama. Aku harus bisa meyakinkan beliau kalau arya itu jahat dan punya niat buruk mau menghancurkan perusahaan. Aku yakin, mama percaya dengan apa yang akan aku katakan nanti" 


Rangga pun bergegas turun dari mobil dan berjalan tergesa-gesa menuju kamar mama Farida.


Langkah kaki Rangga berubah pelan. Kamar yang dia tuju, pintunya sedikit terbuka. Rangga mengendap dan mengintip dari luar. Senyumnya puas mengintai gerak-gerik wanita paruh baya yang sibuk di dalam kamar. 


"Oh, ternyata mama menyimpan semua rahasia data perusahaan di sana" gumamnya senang dan puas. 


"Tinggal menunggu waktu yang tepat, aku akan mencuri data-data itu dan aku akan pergi sejauh mungkin tanpa ada orang yang tahu dengan membawa semua aset kekayaan keluarga Pratama yang akan jadi milikku. Mampus kamu bintang" 


"Den Rangga, ngapain di sini?" sapa seseorang mengagetkan Rangga.


"Bi sumi ini apa-apaan, sih?. Bikin orang kaget saja" sembur Rangga begitu tahu siapa yang menyapanya. 


"Maaf den, bibi mau nganterin teh permintaan nyonya besar" 


"Biar saya aja yang bawa minumannya masuk" Rangga berniat mau merebut gelas antik yang berisi teh hangat dari tangannya bi sumi. 


"Rangga, kamu sudah pulang?" tegur mama farida yang baru keluar dari kamar karna mendengar suara berisik dari luar kamarnya. Rangga pun tak jadi merebut gelas tersebut. 


"Kok cepat banget?. Tumben?" 


"Iya ma, kebetulan pekerjaan di kantor ga terlalu padat. Jadi, Rangga bisa cepat pulang" jawab Rangga tersenyum. 


"O..oo"tanggap mama Farida singkat saja. 


"Sudah, kamu istirahat dulu" suruh mama farida biasa saja. Biasanya beliau tak lepas menasehati Rangga ini itu. Tapi kali ini, mama Farida lebih kalem dari biasanya. Perubahaan sikap mama Farida itu sangat terasa oleh Rangga.


"Baik mama" Rangga mundur dan balik menuju kamarnya. 


 


...****************...


Di jam sama, dari tempat yang berbeda, di bawah naungan langit senja yang merona jingga dengan sinaran matahari yang memerah lembut, di atas pijakan rumput liar yang tumbuh bebas di atas daratan yang letaknya cukup tinggi. Rumput-rumput tersebut bergoyang pelan menuruti arah angin yang bertiup sepoi-sepoi, perlahan dua bibir yang menyatu mesra itu menjauh. 

__ADS_1


"kita pulang sekarang, ya?. Sebentar lagi mau maghrib. Kasihan kakek dan nenek menunggu lama" 


Bintang melepaskan pelukannya dan mengangguk. Keduanya lalu jalan bergandengan. 


__ADS_2