Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 19. Berlian salah menduga


__ADS_3

Mama Farida dan Rangga akhirnya berpamitan pulang. Rangga masuk kedalam mobil setelah mama farida masuk lebih dulu.


"Rangga!. Itu Rangga..." seru Berlian berbinar-binar melihat kekasih hatinya berada tak jauh darinya.


"Rangga...." panggil Berlian dengan suara lantang. Tapi yang di panggil tak mendengar dan terus masuk lalu melajukan mobil meninggalkan pekarangan rumah sederhana itu.


"Rangga, tunggu..." teriak Berlian sambil mempercepat laju sepeda kesayangannya.


"Lian, kamu mau kemana?. Nenek dan kakek mau bicara penting sama kamu" kakek Dharma menghadang laju jalan sepeda cucunya.


"Nanti saja, kek. Lian juga ada urusan penting"


"Apa yang ingin kakek sampaikan jauh lebih penting dari urusan kamu karena ini menyangkut masa depan kamu yang mau di lamar oleh keluarga pratama" jelas kakek dharma.


"Di lamar oleh keluarga pratama?" mata berlian membelalak ,pikirannya langsung tertuju pada Rangga, kekasihnya. Senyumnya mengembang terbit dari bibir Berlian.


"kita bicaranya di dalam saja, nggak enak di dengar tetangga" ujar nenek Aminah mengingatkan suami dan cucunya


"Baik,nek" sahut berlian dengan semangat.


Nenek Aminah dengan suaminya lebih dulu masuk kemudian menyusul berlian yang lebih dulu meletakkan sepedanya. Ketiganya pun terlibat pembicaraan serius di ruang tengah.


"Jadi, tadi tante Farida datang bersama Rangga dan mau melamar lian untuk jadi menantunya?" ujar berlian dengan sorot mata berbinar-binar.


"Ternyata Rangga menepati janjinya mau melamar aku langsung pada kakek dan nenek. Rangga, apa ini alasannya kamu tidak memberikan kabar dan tidak datang menemui aku di telaga?" pikir berlian girang dengan senyum yang tak mau lepas dari bibirnya.


"Lalu bagaimana dengan keputusan kamu?. Kakek dan nenek tidak mau mengambil keputusan tanpa mendengarkan keputusan kamu terlebih dahulu" kata nenek aminah menyerahkan semua pada keputusan cucunya.


"Rangga ... kamu romantis banget..." Berlian senyum-senyum sendiri seperti orang gila.


"Lian, kamu dengar tidak nenek kamu bilang apa?. Jangan cuma senyum-senyum tidak jelas seperti itu" tegur kakek Dharma yang dari tadi heran dan bingung melihat tingkah cucunya seperti orang kasmaran.


"em...Itu kek..." jantung berlian dag dig dug mau menjawab.


"Lian bersedia menerima lamaran dari keluarga Pratama" lanjut berlian dengan jawaban pasti tanpa ragu.

__ADS_1


"Kamu yakin?" kakek dan nenek bertanya bersamaan. Mereka juga cukup kaget kalau cucunya bisa mantap dan secepat itu menjatuhkan keputusan.


"Iya kek, nek. Lian yakin dengan keputusan yang Lian ambil"


"Sebaiknya kamu pikirkan lagi keputusan kamu sebelum kakek menemui ibu farida menyampaikan jawaban atas lamaran mereka" ujar kakek dharma yang tidak mau gegabah menerima keputusan cucu kesayangannya.


...****************...


Biar pun sudah sore, Berlian tetap nekat mau menemui Kartika. Berlian ingin berbagi kebahagian juga ingin meminta pendapat tentang keputusan yang sudah dia ambil.


Berlian mengayuh sepedanya dengan semangat dan ceria. Beda sekali dengan Bintang yang menyetir mobilnya dari arah yang berlawanan.


Bintang tidak konsentrasi menyetir mobilnya karena otaknya masih di hantui soal perjodohan gilanya dengan gadis yang tidak dia kenal.


"Siapa pun gadis itu, dia pasti menyesal sudah mau di jodohkan denganku. Aku sendiri yang akan membuat gadis itu membatalkan perjodohan ini" gumam bintang tetap pada pendiriannya yang terpendam.


Bintang membelokkan setir mobil melewati tikungan. Kakinya mendadak menginjak rem ketika mobilnya mau menabrak seseorang dengan sepedanya.


"Astaghfirullah" ucap Berlian dengan wajah pucat saat dia hampir saja mati di tabrak sebuah mobil sedan mewah. Untung saja Berlian bisa mengendalikan sepedanya yang mau oleng dan dia hamir saja terjatuh ke aspal.


"Gadis kampung,kamu lagi... kamu lagi..."bentak bintang balik.


"Heh, kamu sebenarnya bisa nyetir ga sih?. Sudah dua kali kamu mau mencelakai aku dengan mobil butut kamu ini" ujar Berlian sambil memukul kap mobil dengan kesal.


"Jangan asal tuduh, justru sudah dua kali kamu yang cari masalah dengan sepeda butut mu. Benda rongsokan kayak begini cocoknya jalan di pematang sawah bukan jalan beraspal seperti ini" Bintang tak mau diam, laki-laki bermata tajam itu menendang roda sepeda berlian dengan kasar.


"Kamu itu bukan hanya angkuh, sombong, songong, kasar juga iya. Aku yakin tidak ada wanita yang mau jadi pacar laki-laki seperti kamu"


Ucapan Berlian menyambar perih luka Bintang terhadap Bella menganga lagi. Apa yang baru saja di katakan berlian mengingatkan bintang atas kata-kata menyakitkan yang pernah di lontarkan Bella padanya.


"Kenapa kamu diam?. Apa yang aku katakan memang benar,kan?"


"Kamu tidak tahu apa-apa tentangku. Aku tidak butuh cinta atau pun perempuan karena cinta dan perempuan itu hanya menjadi benalu yang akan merusak kehidupanku" sambar Bintang dengan sorot mata menakutkan.


"Aduh, Tuan yang terhormat. Berhubung hari ini hari paling membahagiakan dalam hidupku. Aku jadi malas berdebat panjang denganmu. Kalau memang kamu trauma dengan namanya cinta atau perempuan, aku doakan supaya kamu tetap tabah dan tetap jadi lelaki normal pecinta lain jenis" kelakar Berlian seenaknya.

__ADS_1


"Berlian..." tangan bintang melayang mau mencekik wanita di hadapannya karena emosinya benar-benar di permainkan oleh ejekan pedas yang keluar dari mulut gadis itu.


"Eitttss... coba saja kalau kamu berani menyentuhku. Aku akan berteriak minta tolong biar kamu di keroyok warga" ancam Berlian serius.


"Dasar cewek kampung" dengus Bintang menahan kemarahannya sambil kembali menendang sepeda berlian hingga terlepas dan terjatuh dari tangannya.


"Kamu..." Berlian geram. Dia bergegas membenarkan letak sepedanya, sementara Bintang kembali masuk kedalam mobil.


"Dasar cowok angkuh" Berlian yang jengkel melempar kerikil yang sempat dia pungut saat membenarkan letak sepedanya tadi.


"Aduhhh..." Bintang meringis kesakitan sambil memegang bagian kepalanya yang terkena lemparan.


"Kamu..." geram bintang berapi-api.


"Gawat"ujar Berlian.


Berlian menaiki sepedanya dengan cepat putar haluan menghindari kemarahan Bintang.


"Kamu mau kemana?" Bintang lebih dulu mencekal tangan Berlian dari samping.


"Lepasin... aku mau pulang" Berlian berusaha menarik tangannya.


"Tidak bisa" Bintang ngotot dan terus menarik paksa tangan Berlian hingga tidak bisa lagi menguasai keseimbangannya dan terjatuh.


"Bintang..." pekik Berlian terjatuh di pelukan bintang yang coba menahan tubuhnya. Tapi keduanya tetap terjatuh dan tumpang tindih di tepian aspal yang di tumbuhi rerumputan liar.


Dua pasang mata pun beradu dengan makna yang sulit di artikan. Bintang seakan terbawa pada gambaran saat di tepian telaga waktu Berlian memberinya nafas buatan. Tanpa sadar tangannya bergerak menyentuh bibir merah milik Berlian.


"Kamu?" wajah Berlian merah padam, melihat Bintang sedekat ini mengingatkannya pada kejadian di tepi telaga. Rasa sesal dan bersalah pada Rangga kian membesar, apa lagi Rangga sudah menunjukkan keseriusan dengan melamarnya.


Berlian dengan kasar menepis tangan Bintang dari bibirnya dan dia berdiri tanpa kata menjauhi Bintang dengan sorot mata menahan marah dan malunya.


"Mulai hari ini sebaiknya kamu belajar sopan santun menghargai wanita" ujar Berlian sambil menaiki sepeda dan mengayuhnya.


Bintang berdiri dan diam di tempat. Ada hal aneh yang membuat dia tidak pernah bisa melupakan saat bibirnya menyatu dengan Berlian waktu kejadian di telaga . Ada hal lain yang belum bisa dia pahami dengan hati mau pun logikanya. Apa Bintang mulai jatuh cinta???

__ADS_1


__ADS_2