
Nafsu makan Berlian jadi menghilang begitu mendengarkan pendapat suaminya yang begitu tidak menyukai anak kecil dan Berlian baru tahu hari ini.
Apa itu artinya Bintang tidak mau punya anak, meski secara pribadi Berlian sudah ingin dan siap menjadi seorang ibu. Menu yang di hidangkan pun tak jadi di cicipi nya.
"Bagaimana nanti jika aku hamil anak kita , Bin?" tanya Berlian sendu dan berharap ada keajaiban yang bisa menyentuh hati Bintang.
"uhuk...uhuk...uhuk..." Bintang tersedak meminum kopi pesanannya mendengar pertanyaan Berlian.
"Kamu habiskan makananmu, setelah itu kita pulang" ucap Bintang enggan berkomentar dan menanggapi dingin pertanyaan Berlian.
"Aku enggak lapar..."
Berlian kecewa dengan tanggapan suaminya. Dia berdiri dan beranjak dari resto. Bintang cepat menyusul setelah membayar tagihan menu yang di pesannya tadi.
...****************...
"Bin, apa kamu tidak ingin menjadi seorang ayah?" pertanyaan itu meluncur dari mulut Berlian saat dia dan Bintang dalam perjalanan pulang.
"Kamu diam dulu. Aku lagi nyetir dan aku butuh konsentrasi" sahut Bintang yang terlihat tidak nyaman dengan pertanyaan Berlian.
"Iya , maaf " kata Berlian lemah tak bersemangat.
Keduanya pun diam tak ada yang bersuara. Hanya tarikan dan hembusan nafas Berlian yang terdengar berat menahan kecewa. Bintang yang sibuk menyetir, meliriknya diam-diam. Dan ada rasa tidak enak melihat kekecewaan di wajah Berlian. Apa dia sudah keterlaluan mengabaikan pertanyaan Berlian tadi?.
"Lian, kita masih muda. Usia pernikahan kita juga baru 3 bulan. Jalan kita masih panjang dan kita masih butuh waktu untuk saling mengenal. Kita nikmati saja waktu yang ada tanpa harus di pusingkan soal anak" ujar Bintang berusaha memberi penjelasan yang lebih masuk akal agar dia tidak salah paham dan larut dalam keinginannya.
Berlian tersenyum hambar karna bukan kelegaan yang dia dapat atas penjelasan suaminya. Baginya apa yang di jelaskan Bintang hanya sebuah alibi untuk bisa menghindar dan menyembunyikan ketidaksukaan bintang kalau suatu saat dia hamil.
"Kamu kenapa diam?. Kamu mengerti kan apa yang aku katakan tadi?"
"Katanya suruh diam, iya, aku diam" sewot Berlian.
...****************...
"Bagaimana keadaan Bella, dok?. Apa keadaannya sudah membaik?" tanya Arya pada dokter yang memeriksa keadaan Bella yang tergeletak di bangsal rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri.
"Maaf pak Arya, keadaan Bella sangat memprihatikan. Sel-sel kanker hatinya sudah menjalar kebagian syaraf lainnya. Harapannya untuk bertahan sangat tipis" jelas dokter itu berat menyampaikan hasil pemeriksaannya.
"Lalu, apa yang harus kami lakukan dok, agar Bella tetap bisa bertahan hidup. Bella putri saya satu-satunya, saya tidak mau putri saya meninggal" ujar wanita paruh baya dengan tangis tak terbendung.
__ADS_1
"Hidup matinya seseorang ada di tangan Tuhan, bukan kami selaku dokter. Baiknya pak arya juga ibu Dewi banyak berdoa dan kalau boleh saya sarankan, coba datangkan laki-laki yang selalu di sebut Bella dalam alam bawah sadarnya. Sepertinya laki-laki itu sangat penting baginya. Siapa tahu dengan kehadiran laki-laki itu di sampingnya bisa memicu semangat untuk bertahan hidup"
"Bintang..."
Baru saja sang dokter memberikan sarannya mengenai laki-laki yang di sebut-sebut pasiennya, Bella mengigau memanggil nama yang di maksud dokter tersebut.
"Bella..." ibu dewi menghampiri putrinya dan membelai rambut sang putri penuh kasih sayang.
"Kamu mau bertemu dengan Bintang , nak?"
Bella menggerakkan jari telunjuknya memberi isyarat yang bisa di mengerti oleh ibu Dewi.
"Arya... apa tante bisa meminta bantuan kamu lagi?" ibu dewi menatap arya penuh harap yang sulit di tolak olehnya dan arya terpaksa mengangguk.
"Apa kamu bisa menemui Bintang dan minta dia datang menjenguk Bella?"
Arya kaget mendengar keinginan ibu dewi. Bintang memang mantannya Bella dan Arya tahu Bella masih sangat mencintai pria tersebut meski ada dia untuk Bella. Tapi Bintang kini bukan orang lain, Bintang adalah suami dari adik yang sangat dia sayangi. Dia memang mencintai Bella dan bersedia berkorban apa pun, tapi dia tak ingin menyakiti adiknya.
"Bagaimana , kamu bersedia?" tanya ibu Dewi.
"Aku akan coba mencari Bintang dan berusaha bicara dengannya" ujar arya terpaksa menuruti kemauan wanita paruh baya tersebut.
"aku melakukan ini karna aku sangat mencintai Bella" ucap arya pelan tak terdengar dengan jelas oleh ibu Dewi.
...****************...
Sampai di rumah dan berada dalam kamar pribadi mereka, Berlian segera beres-beres dan menata semua baju-baju yang di belikan Bintang untuk disimpan di tempat baju kotor agar di cuci terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam lemari pakaian.
"Ini apa?"
Berlian tertegun menatap sebuah kotak yang dia keluarkan dari sebuah tas belanjaan.
"Bin,ini apa?. Perasaan tadi kita cuma belanja baju-baju saja, tidak ada benda beginian" tanya Berlian pada suaminya yang baru selesai mandi.
"Itu..." Bintang tiba-tiba gugup dan merebut kotak beludru itu dari tangan Berlian.
"bukan apa-apa" lanjutnya.
__ADS_1
"Oh..." sahut Berlian singkat tanpa curiga dan kembali menyibukkan diri beres-beres belanjaan tadi.
"Bagaimana cara ngasihnya, ya?" Bintang garuk-garuk kepala dan bingung harus memberikan perhiasan yang dia belikan khusus untuk Berlian.
Cukup lama juga Bintang diam dan kebingungan sampai di lihatnya Berlian beranjak ketempat tidur dan mau merebahkan diri.
"Ini buat kamu"
Bintang memberanikan diri memberikan kotak beludru itu pada istrinya dengan gaya kaku dan jauh dari kesan romantis.
"untukku?. Memangnya ini apa?" Berlian heran dan bingung sendiri mau menerima atau menolak.
"Ambil..." desak Bintang terus menyodorkan kotak itu.
"Memangnya ini apaan, sih?" Berlian menerimanya dengan penasaran.
"Buka saja, nanti kamu juga tahu"
Dengan ragu berlian pun membuka kotak itu.
"Tidak mungkin" Berlian spontan menutup kotak tersebut setelah melihat dengan jelas isi dalam kotak tersebut. Isi dalam kotak itu sungguh tak bisa di percaya dan seumur hidup baru kali ini Berlian melihat benda berkilauan dan itu mengagumkan juga sangat indah.
"Bin, kamu ambil lagi kotak ini. Aku tidak bisa menerimanya" Berlian mengembalikan kotak tersebut ke tangan Bintang.
"ini aku belikan khusus buat kamu. Kamu terima" Bintang memaksa Berlian menerima pemberiannya.
"kamu jangan bercanda. Dalam kotak itu banyak perhiasannya. Aku tidak mungkin menerimanya. Perhiasan itu pasti harganya sangat mahal. Aku tidak bisa menerimanya" tolak Berlian.
"Lian, perhiasan ini aku belikan buat kamu. Jangan menolak pemberianku"
"Aku tidak pantas menerimanya, Bin"
"Dengerin aku" Bintang menangkup wajahnya, kemudian mengecup pelan kening Berlian.
"Sejak kita menikah aku belum pernah memberikan apa pun untukmu. Aku memberikan perhiasan ini untukmu sebagai hadiah pernikahan kita. Kamu jangan menolaknya karna itu akan membuat aku sangat kecewa"
Berlian diam dan tak memberi tanggapan. Dia lebih menikmati sentuhan tangan Bintang di wajahnya ketimbang perhiasan lengkap yang di berikan suaminya untuknya.
"Kamu mau kan menerimanya?"
__ADS_1