
Sarapan selesai tanpa ada keributan lagi. Bintang bisa mengunyah sarapannya dengan tenang. Selesai sarapan bintang dan berlian pamit berangkat kerja.
"Lian, mulai hari ini dan seterusnya aku yang akan antar jemput kamu kerja. Kamu ngga boleh berangkat kerja sendiri menggunakan sepeda" ungkap Bintang sebelum mereka berangkat kerja.
"Kamu mau kan berangkat kerjanya bareng aku, trus pulangnya aku jemput?"
"kamu jangan terlalu memaksakan diri mau antar jemput aku setiap waktu. Kalau memang ada waktu luang dan pekerjaan kamu ngga mendesak aku sama sekali ngga keberatan " Berlian berusaha bijak menanggapi kemauan suaminya.
"Kamu tenang saja. Aku akan mengatur waktu sebaik mungkin. Pekerjaanku akan tetap berjalan dengan baik biar pun setiap hari aku mengantar jemput kamu"
"Beneran?" tantang Berlian.
"Iya..." balas Bintang dengan senyuman dan dekapan hangat memeluk Berlian dengan rona bahagia.
...****************...
"Ar, apa kamu sudah bertemu dengan Bintang?. Apa dia mau menemui Bella?" ibu dewi langsung melayangkan pertanyaan yang membuat Arya kelimpungan.
"Aku sudah berusaha menemuinya, tan. Tapi dia saat ini sulit di temui karna jarang berada di kantor atau pun di rumah karna pekerjaannya banyak menyita waktu di luar kota" arya terpaksa harus pintar-pintar cari alasan agar ibu dewi tak terus mendesaknya menemui bintang di tengah kondisinya yang pelik.
"Bagaimana dengan Bella, Ar?. Dia sangat membutuhkan kehadiran Bintang untuk memacu semangat hidupnya?" ibu Dewi tak bisa berhenti menangis memikirkan keadaan putrinya yang makin memburuk.
Arya tak tahu harus menjawab apa. Dia hanya bisa menatap sendu wanita yang tak sadarkan diri di bangsal rumah sakit.
"Bel, apa kehadiran aku tidak berarti buatmu?. Apa kamu ngga bisa lihat bagaimana pengorbananku demi kesembuhan kamu. Aku rela jadi copet, hutang sana-sini agar aku bisa mendapatkan biaya pengobatan mu" rintih Arya perih dalam hati.
"Kalau memang hanya Bintang yang kamu inginkan, aku janji akan mempertemukan kamu dengan dia secepatnya" janji arya tak kuasa lagi melihat keadaan Bella yang makin parah.
"Maafin kakak,Lian. Kakak harap kamu mengerti dengan keputusan yang kakak ambil"
Arya berusaha tegar dan tersenyum menatap belahan jiwanya yang koma sudah hampir sebulan yang lalu.
...****************...
Berlian turun dari mobil dengan senyum merekah.
"kamu kerjanya jangan terlalu capek. Kamu harus jaga kesehatan agar selalu tetap fit seperti ini" pesan Bintang sebelum dia berangkat menuju kantornya.
"Kamu juga. Kamu kan baru sembuh dan luka di tangan kamu belum benar-benar sembuh. Tenaganya jangan diporsir ya" Berlian balas memberi pesan pada bintang. Keduanya melempar senyum bersamaan dan berpelukan tanpa dapat di cegah.
Dari dalam mobil , kartika menatap perih kemesraan pasangan muda yang tengah berbunga-bunga itu. Kartika membuang muka ketika ritual cium tangan dan kening Bintang dan Berlian berlangsung.
"Aku pergi dulu" Bintang menaiki mobilnya dengan senyum yang tak pernah lepas.
"Kamu hati-hati, jangan ngebut" pesan Berlian.
__ADS_1
Bintang mengangguk pasti sebelum menjalankan mobilnya meninggalkan Berlian. Baru ketika mobil putih itu melaju Karika turun dari mobilnya. Dia berusaha santai dan bersikap seperti biasanya.
"Cieee.. pagi-pagi udah mesra aja, nih" goda Kartika menyapa sahabatnya.
"Tika , apaan sih? "sungut Berlian.
"Pagi aku belum afdol rasanya kalau belum godain kamu" kelakar Kartika yang di balas dengan tawa renyah Berlian.
"Kita masuk, yuk"
Kartika merangkul sahabatnya dengan akrab. Keduanya lantas melangkah bersamaan di iringi canda tawa melupakan ke salah pahaman mereka kemarin.
...****************...
Di perempatan jalan yang mengarah ke kantornya, Bintang melihat dua preman yang kemarin mau mencelakai Berlian tengah mengendara sepeda motor menempuh jalan menuju tempat kerja Berlian.
"Jangan-jangan mereka mau mengganggu Berlian lagi"
Bintang tak mau kecolongan dan berinisiatif mengikuti preman tersebut. Bintang putar balik dan tancap gas. Di sebuah jalanan sepi, Bintang berhasil memotong. Sempat terjadi adu mulut antara Bintang dan dua preman tersebut sampai Bintang mengeluarkan sebuah cek dan menanda tanganinya.
"Segini cukup?" Bintang menyodorkan cek yang sudah di tanda tanganinya dengan nominal uang yang cukup besar.
"Seratus juta??" kaget dua preman tersebut. Mata keduanya seakan mau keluar melihat nominal yang tertulis dalam cek tersebut.
"Kenapa? masih kurang?" Bintang menatap tajam satu persatu preman di hadapannya.
"Hutang Arya semuanya sudah lunas, saya tidak mau lagi melihat kalian coba mengganggu istri saya apa lagi sampai menyakitinya. Jika kalian melanggarnya, saya bisa pastikan kalian akan dijebloskan ke penjara" gertak Bintang tak main-main.
"Hutang lunas, perkara selesai" koar kedua preman sembari memacu kendaraan roda duanya.
...****************...
Hampir 5 hari menghabiskan waktu di rumah kakek ,hubungan Bintang dan Berlian makin erat. Bintang makin dewasa dan sabar juga manis. Tapi dia bisa begitu hanya untuk Berlian. Berhadapan dengan orang lain sikap angkuh dan arogan nya tak bisa hilang.
Hubungan mereka yang membaik bukan berarti tak ada masalah. Bintang mulai terusik dengan kesibukan Berlian dengan pekerjaannya. Sudah beberapa hari ini Berlian tidak bisa menemaninya makan siang di luar atau pun di tempat kerjanya karna menurut keterangan Kartika, Berlian harus memeriksa langsung stok buku yang di pesan langsung ke percetakan.
Bintang mau membicarakan langsung keberatannya pada Berlian. Tapi Bintang belum mendapatkan waktu yang tepat untuk bicara dari hati ke hati dengan Berlian.
Dan Bintang berharap kedatangannya siang ini bisa membuahkan hasil. Namun yang di dapatnya, Berlian sedang keluar dengan alasan yang sama. Bintang meradang dan tak terima dengan alasan Kartika.
...****************...
Demi sebuah cerita yang berkualitas untuk novel yang di karangnya, Berlian harus rela kesana-kesini menemui narasumber yang bisa memperkuat cerita karangan novel berdasarkan kisah nyata. Dia tak peduli jika harus kepanasan atau pun kehujanan demi mendapatkan gambaran yang nyata akan perjalanan hidup tokoh dalam novelnya. Baik kisah hidupnya atau pun kisah cintanya.
Tak heran jika kondisi Berlian hari ini tampak lemah dari hari biasanya. Tapi dia tetap nekat mau menemui narasumber lainnya menggunakan sepeda motor yang di pinjamkan Kartika.
__ADS_1
Wawancara selesai, Berlian balik ketempat kerja dan kehujanan di jalan.
...****************...
Hujan yang turun deras membuat cemas Bintang yang setia menunggu Berlian. Saat bintang berusaha menghubungi ponsel Berlian, ternyata dia tidak membawanya. Ponsel Berlian ada di atas meja kerjanya. Emosinya sudah tak dapat di bendung lagi. Bintang mengendus ada yang di sembunyikan kartika darinya.
"Kamu jangan coba-coba membohongiku. aku ngga akan memaafkan mu jika tahu kalau kamu memperkerjakan lian hanya untuk memanfaatkan tenaganya"
"Bin, aku sudah jelaskan, akhir-akhir ini banyak stok buku yang rusak dan harus di kembalikan ke pihak percetakan. Lian bertugas memeriksa langsung ke percetakan" Kartika kembali memberi jawaban yang sama dan mengambang karna dia sudah terlanjur berjanji untuk tidak membocorkan kegiatan Berlian sesungguhnya pada siapa pun.
"Kamu pikir istriku kurir yang bisa kamu suruh kesana-sini, bawa ini itu semau kamu. Jangan mentang-mentang kamu atasannya, kamu bisa dengan seenaknya menyuruhnya tanpa kenal waktu" sengit Bintang tak terima lagi dengan alasan yang menurutnya di buat-buat.
"Bintang, kamu jangan menuduh Tika sembarangan" seru suara lantang dari depan pintu masuk.
Dua manusia yang tengah berselisih paham serentak menengok kearah asal suara.
"Lian,kamu..."
Bintang yang terkejut melihat keadaan Berlian basah kuyup buru-buru membuka jasnya dan memasangkannya ke tubuh Berlian.
"Kamu kenapa ngga hubungin aku?. Aku kan bisa jemput kamu. Atau seenggaknya kamu berteduh dulu"
Dalam cemasnya, Bintang memeluk tubuh Berlian yang basah kuyup. Tak peduli kalau dia ikutan basah karena nya.
"kamu jangan salah paham pada tika. Tika ngga salah" Berlian berusaha membela temannya karna Kartika memang tidak salah, apa yang dia kerjakan tidak ada hubungannya sama sekali dengannya.
"Kamu ngga perlu membela dia. Dia hanya mau memanfaatkan tenaga kamu. Mulai hari ini aku ngga akan mengizinkan kamu bekerja lagi dengannya"
"Apa?" Berlian terkejut dan mendongak menatap kecewa atas keputusan yang di ambil Bintang tanpa meminta pendapatnya terlebih dahulu.
"Kamu benar-benar sudah keterlaluan menilai buruk persahabatan aku dengan Berlian. Apa yang aku lakukan terlihat salah dan kejam di mata kamu karna kamu tidak pernah tahu kenapa aku melakukan ini semua" Kartika tak terima di sudutkan terus dan berusaha membela diri.
Berlian tak tahan mendengar Bintang dan kartika berdebat, dia ingin suami dan sahabatnya itu berdamai. Tapi Berlian seperti kehabisan tenaga. Tubuhnya terasa begitu lemah dengan suhu yang tidak normal.
"Lian, kamu kenapa?" cemas Kartika yang berhadapan langsung dengan Berlian.
"Lian, kamu sakit?" Bintang ikut cemas melihat keadaan berlian.
"Bin...aku..." tubuh Berlian lunglai dan pingsan di pelukan Bintang.
"Lian..." Bintang meraba kening dan leher Berlian.
"Ya Allah. Badan kamu panas sekali" panik Bintang.
__ADS_1
"Lebih baik kamu bawa Lian langsung ke rumah sakit" kata Kartika cemas. Tanpa di suruh pun Bintang sudah berniat melarikan Berlian ke rumah sakit.
Bintang mengangkat tubuh Berlian dan membawanya masuk ke mobil, lalu melarikannya ke rumah sakit.