Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab. 37 Meninjau lokasi perkebunan baru


__ADS_3

Berlian merasa lega setelah bercerita panjang lebar dengan sahabatnya mengenai pernikahan dadakannya dengan Bintang yang berasal dari sebuah perjodohan juga pengkhianatan Rangga.


Kartika yang mendengar dengan seksama cerita sahabatnya dari awal sampai akhir di buat prihatin dan emosi dengan sikap pengecutnya Rangga .


Meski dadanya sesak mengetahui pernikahan Bintang dengan sahabatnya lewat pesan WhatsApp dengan Berlian beberapa Minggu lalu, Tapi Kartika tetap tersenyum dan pintar menyimpan rahasia hatinya. 


"Lian, setelah menjadi istrinya Bintang, apa perasaan kamu ke Rangga masih tetap sama?. Apa kamu masih mencintai laki-laki pengecut itu?" tanya Kartika.


 


"Tik, kamu tahu bagaimana aku. Aku gadis kampung yang hidup bersama kakek dan nenek yang selalu mengajarkan aku tentang norma dan agama. Soal cinta, mungkin iya aku masih mencintai Rangga dan aku sudah belajar melupakan dia. Aku ingin menempatkan Bintang sebagai pemilik hati aku satu-satunya melalui kesetiaan aku pada pernikahan kami dan aku berharap bisa mencintai Bintang sepenuh hati aku. Aku ingin mencintai suami aku sendiri, aku tidak hanya ingin membuat dia bahagia bisa menikah dengan aku tapi aku juga ingin memberi suamiku keturunan dan hidup bersama dia sepanjang hayat. Tapi itu semua tidak mudah , Tik. Bintang terlalu angkuh untuk aku gapai, dia terlalu dingin meresapi kesungguhan aku membina rumah tangga kami" ujar Berlian panjang lebar. 


"Lian, aku kenal siapa Bintang. Kamu hanya perlu bersabar menghadapi sikap angkuh dan arogannya. Bintang laki-laki yang baik, kamu tidak boleh menyia-nyiakan dia. Kamu sangat beruntung mendapatkan Bintang, Lian. Sangat beruntung"


"Tik, apa bintang itu pangeran masa kecil yang kerap kamu ceritakan selama ini sama aku?" selidik Berlian curiga mendengar penjelasan Kartika yang seolah datangnya dari hati. 


"Bukan..." bantah Kartika berbohong. 


"Aku dan Bintang itu masih saudara. Enggak mungkin banget aku jatuh cinta dengan laki-laki sedingin Bintang" 


Berlian manggut-manggut percaya meski merasa ada yang aneh dari balik sikap sahabatnya.


...****************...


"Rin, apa Rangga sudah menyerahkan laporan keuangan yang saya minta kemarin?" tanya Bintang pada sekretarisnya begitu sampai di kantornya. 


"Belum pak, kata pak Rangga masih ada laporan lainnya yang harus di lengkapi" jawab Karina diplomatis. 


"Sekarang Rangga nya ada di mana?"


"Ada di ruangannya pak" 


"Kamu lanjutkan pekerjaan kamu" perintah Bintang yang kemudian berjalan menuju sebuah ruangan dan menerobos masuk tanpa permisi. 


"Bagus,,,, jadi begini cara kamu mengerjakan laporan yang aku minta" 

__ADS_1


"Bintang" kaget Rangga yang tengah bermesraan dengan salah seorang karyawati di sana. 


"Pak Bintang" ujar karyawati tersebut melonjak dari pangkuan Rangga yang duduk di kursi putarnya. 


"Esti, kamu bisa keluar dari ruangan saya sekarang" suruh Rangga. 


"Sekalian kemasi barang-barang kamu dan jangan pernah datang lagi kekantor saya" tambah bintang menjatuhkan keputusan tegas. 


"Saya di pecat pak?" tanya Esti berkaca-kaca mau menangis. 


"tentu" jawab Bintang singkat dan tegas. Esti pun keluar dengan isak tangisan.


 


"Segera serahkan laporan yang aku minta 15 menit lagi" Bintang to the point.


"Bin, laporan yang kamu minta belum selesai, aku masih me..." 


"aku tidak butuh alasan kamu. Yang aku butuhkan laporan keuangan itu sudah harus kamu serahkan ke padaku atau kamu akan bernasib sama dengan pacar kamu tadi. Selama ini aku sudah terlalu baik mentolerir sikap semena-mena kamu di kantor ini. Jangan pikir karna mama selalu membela kamu, kamu bisa seenaknya bekerja di sini. Aku tidak akan pandang bulu untuk mengeluarkan kamu dari kantor ini" potong Bintang tanpa memberi peluang bagi Rangga melakukan pembelaan diri. 


"aku akan hancurkan kamu Bintang Pratama" ucapnya menggebu-gebu. 


...****************...


Sejak kejadian itu hubungan Rangga dan Bintang makin renggang. Mama Farida juga sudah kehilangan akal bagaimana mendamaikan anak kandung dan keponakannya. Berlian juga tidak bisa membantu mama mertuanya karna Berlian benar-benar harus menunggu waktu yang tepat masuk dalam permasalahan suaminya. Berlian tak mau sembarangan ikut campur karena tak mau memberi peluang bagi Rangga mendekatinya dengan cara membuat ulah yang di tujukan menarik perhatiannya. 


...****************...


Lain dari biasanya, Bintang tampil lebih santai dengan pakaian kasualnya yang di lengkapi jaket kulit hitam saat mau pergi meninjau lahan baru yang akan di buka untuk perluasan perkebunan setelah pemukiman warga batal di gusur. 


Berlian termangu ketika melihat suaminya dengan gagah mau menunggangi motor sport kesayangan.


"Kamu kenapa melihat aku seperti itu?"tanya Bintang.


"Motornya bagus" jawab Berlian asal-asalan menyembunyikan rasa penasarannya akan bagaimana rasanya naik motor seperti itu. Selama ini Berlian belum pernah naik motor sport, kalau motor bebek pernah, sepeda apa lagi. 

__ADS_1


"Kamu mau ikut?" cetus Bintang membaca apa yang di pikirkan istrinya. 


"Emang Boleh?" tanya Berlian berbinar-binar. 


"Kamu ambil jaket kamu. Aku tunggu di sini" 


Berlian setengah berlari masuk ke rumah. Kurang 5 menit dia sudah kembali sudah siap menggunakan jaket dan tak lupa memakai helm . Kemudian langsung duduk di belakang suaminya. 


"Kok belum jalan juga?" Berlian bingung Bintang belum juga menyalakan mesinnya. 


"Bintaanggggg..." pekik Berlian kaget dan reflek memeluk pinggang Bintang karna tanpa aba-aba bintang melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. 


"Bin, kamu bawa motornya jangan ngebut, aku takut" pinta Berlian yang ngeri dengan kecepatan laju kendaraan roda 2 yang di bawa suaminya itu.


 


"Bintangggg..." pekik Berlian lagi karna Bintang bukannya mengurangi kecepatan motornya tapi justru menambahnya. Mau tak mau Berlian kian erat memeluk pinggang suaminya yang diam-diam tersenyum menikmati kedekatannya dengan Berlian.


"bin, aku takut..." rengek Berlian menyembunyikan wajahnya di balik punggung suaminya karna tak berani melihat bagaimana lihainya Bintang menyalip kendaraan di depannya. 


Bintang tak tega juga mengerjai istrinya dan mengurangi sedikit kecepatan motornya. Berlian pun tenang dan mau melepas pelukannya. Namun, Bintang lebih dulu menahan tangannya agar tetap dalam posisinya. Bintang sempat menoleh kebelakang dan tersenyum tipis memandangi istrinya. Berlian balas tersenyum dan membiarkan Bintang meremass halus jemarinya yang memeluk pinggang suaminya. 


...****************...


Tempat yang di tuju Bintang cukup jauh dan memakan waktu. Di sana Bintang mendengarkan penjelasan staf lapangan mengenai area yang akan di jadikan lahan perkebunan mulai dari perizinan, luas area, kendala yang akan di hadapi mengingat tempat tersebut masih berbentuk hutan belantara.


Puas mendengar penjelasan stafnya dan sempat berkeliling di temani istrinya, Bintang kembali pulang setelah hari mulai beranjak sore. 


Setengah perjalanan, hujan deras turun tanpa henti. 


"Lian, kita nginap di villa keluarga saja malam ini, bahaya kalau kita terus jalan" kata Bintang sedikit berteriak melawan gemuruh suara hujan. 


"Villanya masih jauh nggak?. Kalau jauh sama aja bohong" 


"Villanya dekat kok, nggak jauh dari sini" 

__ADS_1


"Terserah kamu, aku nurut saja" 


__ADS_2