
Sakit itu masih sangat terasa. Tak mudah bagi Berlian membuang bayang-bayang bagaimana Flora memeluk suaminya dengan bebas. Berlian merasa hatinya masih gundah meski Bintang sudah menceritakan kejadian sebenarnya seperti apa. Tapi tetap saja, rasa sakit itu tak mau pergi.Sebab sebelumnya dia juga pernah menyaksikan dengan mata kepalanya mereka terlihat berpelukan biarpun dia tidak tahu cerita sebenarnya seperti apa.
"Yank, kamu percaya padaku. Aku sama sekali tak menduga kalau Flora akan memeluk aku. Pelukan itu insiden yang tidak disengaja dan tidak pernah aku kehendaki" ujar Bintang tak pernah lelah meyakinkan istrinya.
"Lalu, bagaimana dengan insiden di perkebunan waktu kita menginap di villa dulu?. Apa kamu mau mengatakan kalau itu cuma kejadian yang tak terduga juga?. Ini sudah kedua kalinya aku melihat kamu dan dia berpelukan di depan mata ku sendiri. Mana ada sebuah ketidaksengajaan berulang seperti ini?" kata Berlian membuka suara setelah sekian lama terdiam.
"Kejadian waktu di perkebunan yang mana?" tanya Bintang bingung dengan kejadian yang di maksud Berlian.
"Waktu Flora jatuh menindih kamu, dan aku juga melihat dia mendekat kan wajahnya" ujar Berlian perih mengingat kejadian sekitar 4 bulanan yang lalu.
"Sebelum aku hanyut, aku sempat melihat kamu dan dia..." Berlian tak meneruskan kata-katanya lagi.
Bintang dengan cepat memeluk istrinya dengan penuh kasih sayang. Sekarang dia baru ingat dengan kejadian waktu itu. Dia sama sekali tidak tahu kalau Berlian melihat insiden buruk tersebut.
"Sayang... saat itu tidak ada hal aneh yang terjadi antara aku dan dia. Flora memang menindih aku dan coba bersikap diluar batas normal. Tapi aku tak segampang itu membiarkan dia bertindak semaunya. Aku ingat, aku punya kamu. Dan aku tidak akan pernah mengkhianati kamu"
"Tidak terjadi apa-apa saat itu. Kamu percaya sama aku" Bintang mengecup ubun-ubun istrinya setelah menyudahi penjelasannya.
Berlian tak memberi tanggapan apapun. Dia hanya diam dalam pelukan suaminya.
"Sayang, kamu percaya kan sama aku?" Bintang mengangkat dagu istrinya menggunakan jarinya.
Berlian masih saja diam. Hanya bola matanya yang bergerak mengarungi kejujuran dari balik sorot mata penuh sinar milik bintang.
"Bin, flora gadis yang sangat cantik. Dia punya segalanya . Sebagai sesama wanita aku bisa merasakan , kalau dia menyukaimu" ujarnya getir.
"Hanya kamu perempuan yang memiliki cinta untukku. Cinta yang luar biasa dan tulus tanpa pamrih. Dan cinta aku hanya untuk kamu seorang" balas Bintang.
"Kalau pun benar adanya dia suka sama aku, aku ga bisa mencegahnya. Tapi aku bisa mencegah hati aku menerima cinta lain selain cinta luar biasa seorang istri yang hebat." lanjutnya untuk lebih meyakinkan hati istrinya.
"Nasib punya suami ganteng,, ya begini. bawaannya was was... apa lagi kalau perutku semakin membesar, pasti aku bakal terlihat gendut dan jelek" curhat berlian sambil mengelus-elus perut nya yang sudah sedikit menonjol.
"kamu itu ngomong apaan sih yank? mau bentuk tubuh kamu berubah atau ngga, aku udah cinta mati sama kamu. titik gak pake koma. malah kamu itu makin hari makin cantik harusnya aku yang was was"
"Ternyata kalau kamu cemburu kamu lebih dewasa yah. Aku kira kamu bakal menampar aku atau lari-larian ketengah jalan sambil berteriak seperti orang gila"
__ADS_1
"Memangnya aku anak kecil apa?" sungut Berlian menatap suaminya.
"Segala permasalahan dalam rumah tangga kita, bisa di bicarakan secara baik-baik, kan?" sambungnya dengan senyuman.
Bintang ikut tersenyum dan manggut-manggut tanda setuju, kemudian diam dan menunduk mendekati wajah istrinya.
"oh ya sayang, aku bawakan makanan kesukaan kamu, beef teriyaki" Berlian lebih dulu berpaling dan membuka tutup rantang yang di bawanya tadi. Bintang cuma bisa menarik nafas kecewa.
"Gagal deh..." dengusnya.
"Apanya yang gagal?" Berlian kembali menoleh.
"nggak, bukan apa-apa" ujar Bintang berusaha santai.
Berlian cuma ber Oh ria, dan kembali fokus pada rantang berisi makanannya. Tapi Bintang lebih dulu sigap memutar wajah istrinya dan melayangkan sentuhan hangat pada bibir ranum istrinya.
Kehangatan pun menjalar saat Berlian tak hanya terbawa suasana dan turus membalas permainan bibir suaminya yang indah.
"Permisi pak, saya mau..."
Keduanya cepat-cepat mengakhiri kemesraan yang mereka ciptakan bersama. Berlian menunduk menahan malu. Sementara Bintang bersikap biasa saja dan tetap menjaga wibawanya dengan baik.
"Ada apa Karin kenapa tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu?" tegur Bintang pada sekretarisnya.
"Maaf pak, saya cuma mau menyerahkan laporan yang harus bapak tanda tangani" Karina berbalik dan menyerahkan laporan yang ada di tangannya dengan wajah menunduk.
"Kamu boleh keluar" perintahnya begitu laporan berpindah tangan.
Karina pun keluar. Bintang segera mengunci pintu dari dalam dan kembali duduk di samping istrinya. Sebuah cubitan pun di terimanya.
"Ahhhh... kok aku di cubit?" protes Bintang sambil memegang pinggangnya yang kena cubitan Berlian.
"Habisnya kamu nakal banget. Kita ke ciduk sama bawahan kamu"
"Bukan aku saja yang nakal, kamu juga" Bintang tak mau di salahkan.
__ADS_1
"Kamu yang mulai" Berlian tak mau kalah.
"Tapi kamu ga menolaknya kan" balas bintang menggoda dan mencolek gemas dagu istrinya.
"Sudah, ah. Kamu makan dulu. Dari pagi kamu cuma makan rujak saja, kan?. Aku ga mau kamu nanti jatuh sakit" Berlian tak mau berdebat panjang lebar. Diapun menyerahkan rantang yang berisi makanan kesukaan suaminya. Bintang menerimanya dengan senang hati.
"Kamu tidak ikutan makan?" tanyanya sebelum dia menyendok makanan tersebut masuk ke mulutnya.
"Kamu habiskan saja makanannya, aku sudah makan siang sama mama di rumah" tolak Berlian halus.
"Enggak enak ah, makan sendirian" Bintang mengurungkan niatnya untuk menyantap makanan kesukaannya.
"Biar aku suap in, biar kamu mau makan" Berlian mengambil alih rantang dan sendok yang di pegang suaminya.
Bintang kembali semangat dan segara membuka mulutnya menerima suapan langsung dari tangan istrinya. Setelah beberapa suapan, Bintang ganti menyuapi istrinya. Berlian tak bisa menolak. Hanya tiga suapan, Berlian kembali menyuapi suaminya hingga makanan tersebut habis tak bersisa.
"Yank, yang di dalam rantang itu apa?. Kok nggak di keluarin?" mata Bintang tertuju pada sisa anak rantang yang masih pada tempatnya saat dia selesai meneguk sebotol air mineral.
"Rantang itu isinya sambal terasi sama sayur asem kesukaan kak arya. Tapi kak arya malahan keluar. Padahal aku sudah masak makanan itu buat kak Arya. tapi aku juga salah, ga hubungi kakak lebih dulu" terangnya dengan nada kecewa.
"Makanannya buat aku saja"
Bintang langsung menyambar 3 anak rantang tersisa yang berisi nasi putih, sambal terasi dan sayur asam.
"Sayang, kamu kan baru saja selesai makan. Masa mau nambah lagi. Nanti kamu kekenyangan, nggak baik loh" ingatnya Berlian.
"Bawaan kamu hamil kali, makanya aku pengen makan terus" balasnya asal.
"Yang hamil kan aku, kenapa kamu yang doyan makan?" herannya.
Bintang tak menyahut, dia sibuk menikmati sedapnya makan dengan sambal terasi di campur sayur asem.
"Ternyata makanan ini lebih enak. Hmmm..enak banget..." ucapnya dengan mulut terisi penuh.
Berlian cuma bisa menopang dagu melihat kelakuan suaminya makin hari makin aneh saja.
__ADS_1