Kilau Berlian

Kilau Berlian
Bab 15. Di suruh mencoba Kebaya


__ADS_3

"Ma, kenapa harus membela maling ini di banding anak sendiri?. Dia tadi sudah tertangkap basah mau mencuri" protes Bintang.


"Bin... Berlian kemari bukan mau maling tapi dia punya niat baik mau membicarakan hal penting dengan mama" kata mama Farida menatap tajam Bintang. Bintang makin geram melirik kearah Berlian karena bintang cukup jeli membaca situasi.


"Pasti berlian sudah mengatakan semua pada mama" tebaknya dalam hati.


"Lian, sebaiknya kamu pulang dulu ya. Biar tante bicara dulu dengan bintang" ujar mama Farida tanpa bermaksud mengusirnya.


"Iya tante. Lian pulang dulu. Assalamu'alaikum...." Berlian mencium punggung tangan mama Farida tanpa sungkan.


"Waalaikumsalam..." jawab mama farida.


Berlian berjalan melewati bintang tanpa melihatnya. Bintang tergerak memutar kepalanya di saat yang sama Berlian menengok kebelakang sambil melempar senyum kearah mama Farida.


Bintang diam termangu mengartikan pilu sendunya sorot mata Berlian menatap mamanya. Entah kenapa seperti ada misteri di balik senyum dan tatapan Berlian yang seperti merindukan seseorang.


"Berlian nya sudah tidak ada" tegur mama Farida setengah menggoda putranya yang masih saja melihat kearah pintu dan Berlian nya sudah hilang.


"I..i..iya" Bintang menjawab dengan tergagap.


...****************...


 Tebakan Bintang tidak meleset. Berlian memang sudah mengatakan semua rencana penggusuran terhadap mamanya. Bintang benar-benar di buat geram dengan tingkah Berlian, karena ulah dia mama nya marah dan tidak setuju dengan rencana penggusuran tersebut.


"Pokoknya mama tidak mau tahu, kamu harus segera membatalkan rencana penggusuran itu" kata mama Farida tegas.


"Tidak bisa begitu. Rencana penggusuran ini sudah di pikirkan matang-matang dari dulu. Pemukiman itu tetap harus di gusur karena tanah yang di tempati warga sana adalah tanah milik keluarga kita ma. Tidak ada salahnya kalau kita mengambil kembali apa yang memang menjadi milik kita. Warga di sana sudah keenakan menempati lahan perkebunan berpuluh-puluh tahun tanpa seizin perusahaan" koar Bintang tak tersentuh dengan permintaan mama nya.


"Kamu salah, nak. Tanah pemukiman itu bukan lagi milik kita. Tanah itu sudah di hibahkan kakek kamu untuk warga sana. Kita sudah tidak berhak lagi mengganggu gugat apa yang sudah tidak menjadi milik kita lagi" jelas mama Farida lebih lembut dan sabar agar putranya mau mengerti.


"Maaf ma, selama belum ada bukti yang menyatakan kalau tanah itu memang milik warga sana, pemukiman tersebut akan tetap di gusur" ujar Bintang tetap pada pendiriannya.

__ADS_1


"Bintang, kenapa kamu bisa sekeras ini?. Apa kamu tidak bisa menggunakan hati nurani kamu untuk merasakan penderitaan orang lain jika kamu tetap keras kepala mau menggusur pemukiman itu?" mama Farida sudah kehilangan kata-kata untuk menyadarkan arogansi putra kandungnya itu.


"Bintang capek mau istirahat dulu"


Bintang beranjak dari duduknya dan berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


"Sikap keras kamu sudah tidak bisa mama biarkan lagi,nak. Perjodohan kamu dengan Berlian harus segera di laksanakan karena hanya Berlian yang bisa melunakkan hati kamu. Mama bisa melihat dan merasakan bagaimana lemahnya kamu jika berhadapan dengan Berlian. Mama bisa melihat putra mama yang sebenarnya ketika kamu bersama Berlian" mama Farida berucap lirih dalam hati dengan sorot mata tak lepas memandangi punggung putranya sampai menghilang dari pandangannya.


...****************...


Besok adalah hari yang paling di tunggu-tunggu oleh Berlian. Rangga, kekasih hatinya akan pulang setelah 10 hari pergi bertugas keluar kota. Kerinduan dalam hati nya membuncah ingin segera bertemu dengan sang kekasih.


Berlian hanya bisa menikmati kerinduannya sambil merenung di telaga tempat dia dan Rangga biasa bertemu.


"Rangga, kenapa kamu pulangnya mesti besok,sih?. Kenapa bukan sekarang saja, aku sudah kangen banget sama kamu" ujar Berlian sambil menyibak air telaga dengan tangannya.


...****************...


"Pagi, tante" sapa Kartika pada sosok wanita anggun di hadapannya.


"Oh ya, bagaimana kabar mama sama papa kamu?"


"Alhamdulillah mereka sehat. Kemarin mama baru balik dari Luar kota dan nitip ini untuk tante" Kartika memberikan sebuah bingkisan ke mama farida, istri dari almarhum pamannya Kartika. Almarhum paman Kartika adalah suami ke dua mama Farida, ayah tiri dari bintang.


"Wah, jadi ngerepotin. Bilang sama mama kamu,terima kasih untuk bingkisan nya, Tante suka "ujar mama Farida menerima dengan senang hati sebuah kain batik halus dan bercorak indah.


"Nanti Tika sampaikan ke mama" katanya sembari matanya melirik sana-sini mencari penampakan seseorang. Tapi yang di cari tidak ada. Bertanya pada tantenya pun, Kartika tentunya sungkan.


"Tadi katanya tante mau membicarakan sesuatu sama Tika, tante mau bicara apa?" tanya Kartika setelah bosan melirik tak tentu.


"Oh itu... kamu tunggu sebentar"

__ADS_1


Mama Farida beranjak menuju kamarnya, tak kurang dari 5 menit lalu keluar dengan membawa sebuah baju kebaya berwarna putih yang cantik.


"Ini baju kebaya siapa tante?. Bagus sekali" puji Kartika terkesima melihat kebaya putih yang terbuat dari bahan kain terbaik dengan rancangan yang sangat modis dan elegan.


"Itu dia yang ingin tante bicarakan sama kamu. Kebaya ini tante persiapkan untuk calon istrinya Bintang" cerita mama Farida antusias.


"Calon istri Bintang?" gumam Kartika terhenyak. Perasaannya tiba-tiba di liputi ketakutan kehilangan Bintang . Bintang , sepupu tiri yang dia cintai diam-diam sejak dia masih duduk di bangku SMP.


"Siapa tante?" tanya Kartika hati-hati dan harap-harap cemas dengan jawaban yang akan dia dengar.


"Nanti kamu juga tahu" kata mama Farida penuh rahasia.


"Oh..." Kartika tersenyum getir.


"Tika, kamu coba berdiri deh!. Tante mau lihat ukuran baju ini muat tidak untuk calon istrinya Bintang"


Wajah Kartika berbinar ceria karena salah tanggap dengan maksud mama Farida yang memintanya menyesuaikan baju kebaya itu dengan tubuhnya.


Kartika segera bangkit dan mencoba mencocok kebaya tersebut di dadanya.


"Bagaimana tante, sesuai nggak?" tanyanya.


"Sempurna" sahut mama Farida, membuat Kartika makin besar kepala.


"Bin, kamu sudah mau berangkat?" mama Farida menyapa putranya yang baru turun dari kamarnya.


"Iya ma..." jawab bintang singkat.


"Hai, Bin...." sapa Kartika salah tingkah berhadapan dengan orang yang dari tadi di carinya.


"Hai..." sahut Bintang dingin tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Bin, bagaimana menurut kamu dengan kebaya yang di pegang Kartika, dia cantik kan kalau memakai baju kebaya ini?" mama Farida meminta pendapat putranya.


Wajah Kartika sontak bersemu merah. Apa yang di katakan mama Farida tadi membuat Kartika benar-benar yakin calon istri yang di maksud adalah dia. Kalau tidak, kenapa mama Farida harus menyuruh dia yang mencoba dan apa maksudnya meminta pendapat putranya.


__ADS_2