
"Biasa saja" jawab Bintang begitu saja tanpa melirik sedikit pun kearah Kartika. Kartika di buat kecewa dengan sikap dingin Bintang yang tidak pernah berubah.
"Wajar kalau kamu bilang biasa saja. Nanti kalau kebaya ini sudah di pakai oleh Berlian, mama yakin pendapat kamu akan berbeda" gumam mama farida dalam hati.
"Ma, Bintang pergi dulu ya" pamit Bintang pada mama nya.
"Kamu tidak sarapan dulu. Memangnya mau kemana sih ? bukannya lagi libur kerja? . Mumpung ada Kartika disini, kita sarapan sama-sama" ingat mama Farida.
"Mama sarapan sama Kartika saja. Bintang masih banyak urusan" tolaknya.
"Aku pergi dulu. Assalamu'alaikum..."
"Waalaikumsalam..." jawab mama Farida dan Kartika bersamaan.
"Masih saja seperti yang dulu" desah Kartika kecewa tak pernah di anggap oleh Bintang.
"Tika, kamu temani tante sarapan yuk" ujar mama Farida membuyarkan lamunan Kartika.
"Baik tante" sahut Kartika kehilangan semangat.
...****************...
Bintang melajukan motor sport merah kesayangan nya menuju tempat di mana biasanya Berlian melewati jalan dengan sepedanya. Bintang sudah bertekad untuk membuat perhitungan dengan gadis kampung yang hampir saja merusak rencana besarnya.
Dua jam menunggu seperti orang gila, Berlian belum juga menampakkan batang hidungnya. Bintang mulai bosan dan dongkol harus menunggu berapa lama lagi.
"Cewek kampung itu kemana sih?. Apa aku harus menemui dia di rumahnya?" pikir Bintang.
"Kalau aku kerumahnya, aku bisa mati di libas oleh kakeknya yang sangar itu" Bintang jadi ragu dengan keputusannya mengingat bagaimana dia hampir mati di sambit dengan golok oleh kakek Berlian.
"Bodo ah...!. Masalah kakek sangar itu bisa di pikirkan nanti karena yang terpenting gadis kampung itu harus merasakan pembalasan dari ku" tekad bintang mantap.
Bintang kembali mengendarai motor merahnya melewati jalanan yang kanan kirinya terbentang luas perkebunan teh yang hijau.
Motor yang di bawa Bintang melaju dengan kencang membelah sebuah perbukitan di hiasi pohon pinus yang menjulang tinggi.
__ADS_1
"Tunggu... gadis yang di bawah sana bukannya Berlian ya" Bintang rem mendadak ketika melihat bayangan seorang gadis di antara pohon pinus yang tertanam rapi. Dari atas ketinggian, Bintang bisa memastikan gadis itu adalah gadis yang dia cari.
Berlian menatap lekat cincin pemberian Rangga yang melekat pada jari manisnya. Perlahan cincin itu di lepas dan Berlian mengamati dengan seksama ukiran nama yang terdapat pada cincin tersebut.
"Rangga & Berlian" gumamnya dengan nada merindu.
"Oh... jadi di sini tempat persembunyian kamu?" seru seseorang mengagetkan Berlian. Berlian langsung menoleh kearah pemilik suara.
"Kamu?" ujar Berlian terkejut mengenali siapa yang berdiri angkuh menatapnya dengan sorot mata seperti mau menerkamnya hidup-hidup. Tanda tanya besar pun menyeruak dalam dirinya, bagaimana Bintang tahu tentang tempat ini karena ini tempat rahasia dia berdua dengan Rangga.
"Bagaimana kamu tahu aku ada di sini?" tanya Berlian penasaran.
"Itu bukan pertanyaan penting yang harus aku jawab. Kamu sudah membuatku harus berurusan dengan mama karena mulut ember kamu. Mulai besok, bawa keluarga kamu keluar dari rumah kamu karna aku akan meratakan rumah yang kamu huni dan rumah kamu adalah rumah pertama yang akan aku singkirkan dari pemukiman warga"
"Kamu tidak bisa main hakim sendiri. Tanah dan rumah itu milik kakek ku bukan perusahaan kamu"
"Orang miskin seperti keluarga kamu tidak mungkin bisa memiliki tanah seluas itu. Kalau memang punya,itu pun hasil rampasan tanah perusahaan milik keluarga ku. Secepatnya kamu pergi jauh-jauh dari daerah ini sebelum aku bertindak lebih kejam lagi" Bintang kembali melontarkan kata-kata pedas yang di sertai sebuah ancaman yang membuat darah berlian mendidih mendengarnya.
"Kamu pikir kamu semudah itu mengancam ku, sama semudah kamu menghina orang semau kamu?. Ancaman kamu tidak lebih dari sebuah gertakan omong kosong" balas Berlian tak pernah takut berhadapan dengan pria angkuh di depannya.
"oh begitu ya...." Bintang menyeringai menatap Berlian dari ujung kaki hingga kepala dan kembali ke tangan Berlian yang memegang sebuah benda mengkilap.
Berlian yang melihat arah sorot mata Bintang mengamati cincinnya, Berlian dengan cepat menyembunyikan tangan di balik punggungnya.
"Cincin itu cincin siapa?. Jangan-jangan cincin itu cincin mama yang kamu curi dari rumah kemarin?" tuduh Bintang tanpa bukti.
"Kamu jangan sembarangan bicara, cincin ini milikku, bukan cincin curian" ujar Berlian membela diri.
"Tidak mungkin gadis miskin seperti kamu memiliki cincin sebagus dan semahal itu" sengit Bintang.
"Kembalikan cincin itu" Bintang berusaha mengambil cincin yang di sembunyikan Berlian di belakang punggungnya.
"Enak saja. Ini cincin ku dan kamu tidak berhak mengambilnya dari ku"
Berlian berusaha menghindar dan mundur ketika Bintang terus mendesaknya sampai kakinya tersandung ranting pohon yang kuat.
__ADS_1
"Aaaaaaa.... " Berlian terjatuh dan spontan menarik jacket yang di kenakan Bintang dengan kuat hingga Bintang ikut terjatuh.
Berlian menutup mata dengan cepat, tubuh Bintang menindihnya dengan cepat . Bintang juga tidak bisa menguasai keseimbangan tubuh dan wajahnya yang tepat mengecup kening Berlian.
"Huaaaa... dasar cowok mesum" Berlian mendorong tubuh Bintang dengan kasar dan dia cepat berdiri sambil menggosok keningnya berkali-kali.
"Najis... najis... najis... " Berlian bergidik jijik.
"Kamu bilang apa?. Kening kamu yang najis, bibirku bisa karatan kalau belum di cuci dengan air bersih sampai tujuh kali " balas Bintang.
"Memang dasar bibir kamu saja yang karatan" ujar Berlian.
Bintang berniat membalas perkataan Berlian, namun matanya tertuju melihat cincin yang tergeletak di atas rumput. Saat yang sama Berlian juga melihatnya.
"Cincinnya..." Bintang dan Berlian serentak berebut mengambil cincin tersebut dan Bintang lebih cepat bergerak sehingga bisa mendapatkan cincin itu dengan mudah.
"Itu cincinku, sini kembalikan" pinta Berlian.
"Cincin ini akan aku buang sebagai balasan karena kamu sudah berani cari perkara dengan ku "
Bintang berlari kearah telaga dan berdiri pada sebuah batu besar yang terdapat di sana.
"Bintang ,jangan... " Berlian ikut berlari dan menaiki batu yang sama dengan Bintang.
"Bin, aku mohon jangan buang cincin ku"
"Kamu mau cincin ini kembali, ambil sendiri kalau bisa" Bintang menegakkan tangannya hingga Berlian kesulitan merebutnya karena postur tubuhnya kalah tinggi.
"Bintang, kembalikan cincinku"
Berlian melompat dan melompat demi mendapatkan cincin pemberian Rangga kembali ke tangannya. Bintang lama-lama terdesak dan kakinya sudah berada di bagian pinggir batu yang dia pijak.
"Dapat..." teriak Berlian kesenangan mendapatkan kembali cincinnya.
"Huaaaaaaaa....." Bintang sudah tidak bisa menahan keseimbangan tubuhnya lalu terjatuh ke telaga dan tanpa sengaja menarik pinggang Berlian.
__ADS_1
"aaaaahhhh..... " Berlian pun ikut berteriak.
"Byurrrr..... " keduanya tercebur ke telaga tanpa bisa dihindari.