
Tangan kekar itu tak pernah lepas memeluk wanita di depannya. Wanita yang di peluk pun terlihat begitu damai bersandar di bahu bidang lelaki tersebut. Rasa aman dan terlindungi berada dalam pelukan hangat menyeruak dalam diri wanita tersebut setelah kejadian buruk yang menimpanya tadi siang. Kejadian yang hampir saja merenggut nyawanya. Kejadian itu juga yang menyadarkan Bintang kalau rasa takutnya kehilangan Berlian melebihi rasa takut akan kehilangan apa pun yang dia miliki dalam hidupnya.
Dari kejadian buruk siang tadi, ada hal janggal yang membuat Bintang harus berfikir keras mencari tahu siapa lelaki yang di maksud oleh beberapa saksi yang sempat melihat berlian bertengkar dan di tarik-tarik di tepian sungai hingga Berlian hanyut terbawa arus sungai. Dan kenapa Berlian seolah menutup-nutupi kejadian yang sebenarnya darinya?.
"Lian, kamu katakan saja siapa sebenarnya lelaki yang coba mencelakai kamu tadi siang?. Kamu jangan takut karna aku akan melindungimu jika lelaki itu coba mencelakai kamu lagi" untuk kesekian kalinya Bintang menanyakan hal yang sama dan berusaha meyakinkan wanita dalam pelukannya kalau dia tak akan membiarkan hal buruk menimpa dia lagi.
"Bin..." Berlian beringsut dan duduk berhadap-hadapan dengan suaminya di atas tempat tidur mereka. Berlian berusaha meraih dan menggenggam tangan suaminya dengan sorot mata teduh menenangkan.
"Aku kan sudah bilang, ngga ada orang yang mau mencelakai aku. Aku yang ceroboh ga bisa menjaga keseimbangan tubuh waktu bermain di sungai. Harusnya aku menurut apa kata kamu untuk tidak mendekat sungai itu"
"Lalu siapa lelaki yang di lihat oleh buruh perkebunan sedang bertengkar dan menarik tangan kamu dengan kasar?. Buruh itu ngga mungkin berani membohongi aku" sela Bintang tidak percaya begitu saja dengan keterangan yang keluar dari berlian sebab dia sudah paham kalau berlian bukan tipe istri pembangkang.
Berlian berusaha tenang dan tersenyum. Dia tahu tak mudah untuk membohongi Bintang yang memiliki insting kuat mengenali ancaman di sekitarnya. Dan bukan hal yang sulit baginya untuk jujur mengakui kejadian sebenarnya seperti apa dan siapa sebenarnya yang mau mencelakainya. Tapi Berlian tak mau terjadi keributan antara Bintang dan Rangga yang bisa memperkeruh hubungan persaudaraan yang memang kurang baik. Berlian juga tidak mau sampai ibu mertuanya kian tertekan dan sedih memikirkan hubungan anak dan keponakannya yang sulit berdamai.
"Kita ngga usah bahas masalah ini lagi. Aku sudah ga mau mengingat kejadian tadi siang lagi"
Bintang menarik nafas berat dan mengangguk kecewa karna berlian masih saja tak mau buka suara perihal lelaki misterius yang coba mencelakainya. Bintang juga tak mau memaksa agar dia mau menceritakan kejadian sebenarnya seperti apa karna yang penting baginya adalah berlian selamat dan kondisinya masih segar bugar meski kening nya yang mulus harus di perban menutupi luka benturan itu. Soal lelaki misterius itu bisa dia cari tahu sendiri.
"Cepat atau lambat aku pasti tahu siapa bajingan yang coba mencelakai kamu. Dan lelaki itu gak akan pernah bisa hidup tenang" ucap Bintang dalam hati bertekad membuat perhitungan dengan lelaki misterius tersebut.
"bagaimana dengan kepala kamu?. Masih pusing?" Bintang beralih memperhatikan dan membelai lembut rambut halus istrinya.
Berlian menggeleng dan memeluk manja tubuh suaminya. Dalam pelukan itulah setiap kedamaian dan rasa terlindungi mengalir menenangkan ketakutannya akan segala ancaman yang datang menerjang. Tanpa ragu Bintang balas memeluk dan mendaratkan kecupan sayangnya menyapa ubun-ubun nya. Kedamaian dan rasa aman itu pun makin nyata terasa.
"Oh ya,, tadi mama sempat cerita kalau kamu sebenarnya ngga bisa berenang. Tapi saat hanyut tadi, kamu justru bisa berenang dan berhasil menyelamatkan aku. Bukannya kamu trauma dengan sungai dan dulu kamu juga sempat mau tenggelam di telaga?" Berlian mempertanyakan hal yang membuat dia bingung dan penasaran kenapa bintang bisa berani dan nekat menyelamatkan dirinya.
"mama cerita apa saja kepada mu mengenai trauma aku?" Bintang jadi takut dan panik kalau-kalau mamanya menceritakan banyak hal mengenai kejadian masa kecil yang merenggut nyawa ibu kandungnya berlian.
__ADS_1
"mama cuma cerita itu saja" jawab Berlian singkat dan cukup membuat Bintang bisa bernafas lega.
"maaf Lian, aku belum bisa jujur mengenai kejadian itu. Aku takut kalau kamu akan membenciku, sungguh... aku belum sanggup. Biarpun cepat atau lambat kamu pasti akan mengetahuinya."
"Bin.... kok ngelamun?"
"Kamu belum jawab pertanyaan aku tadi" ingat Berlian sambil tetap memeluk Bintang.
"Karna kamu begitu berarti dalam hidup ku, lian" jawab Bintang pelan. Berlian kembali menengadah dan menatap suaminya dengan tatapan tidak percaya dengan apa yang dia dengar dan kalimat ajaib yang di ucapkan Bintang waktu dia tak sadarkan diri mengiang-ngiang menggelitik jiwanya ingin tahu apa yang di dengarnya memang benar atau itu hanya sebuah fantasi alam bawah sadarnya.
"Waktu aku ga sadarkan diri, aku sempat dengar kamu mengatakan sesuatu. Apa aku boleh tahu kamu mengatakan apa saat itu karna apa yang kamu katakan tadi samar terdengar di telingaku?"
Bintang menahan nafas dan tak tahu bagaimana cara mengulang kalimat jujur yang keluar dari dasar hatinya.
"Aku..." Bintang coba bicara, tapi lidahnya kelu untuk melanjutkan kata-kata apa lagi yang harus dia ucapkan.
"Aku apa?" tanya Berlian dengan wajah menunggu penuh harap.
Bintang benar-benar kehabisan kata-kata, dia tak tahu bagaimana mengatur lidahnya agar mau menuruti isyarat hatinya.
"Aku sayang sama kamu, Lian" bisik bintang sambil menunduk dan menekan lembut leher istrinya agar mendekat dan kian mendekat.
"Aku sayang sama kamu" bisik nya lagi tepat di bibir berlian, lalu menyentuh dan menguasai bibir merah itu dengan lembut. Spontan tangan Berlian mengalun manja menarik leher suaminya hingga keduanya merebahkan diri bersamaan di atas pembaringan yang empuk. Bintang kian berhasrat dan bergairah menciumi bibir Berlian penuh kasih sayang dan itu terus berlanjut penuh kedamaian. Untuk kedua kalinya pasangan suami istri yang tenggelam menikmati kembali mengulang kisah indah mereka di kamar villa tempat pertama kali mereka menunaikan hak dan kewajiban mereka dengan penuh kesadaran tanpa paksaan. Sama halnya dengan apa yang mereka lakukan kini.
...****************...
Sulit bagi Rangga untuk memejamkan matanya. Ketakutan menyergap jiwanya mengenai perbuatannya yang membiarkan berlian hanyut di sungai dan tak berniat menolong wanita yang pernah mengisi hatinya. Apa lagi dia juga sudah mendengar Bintang berhasil menyelamatkan Berlian. Bagaimana dengan nasibnya jika Berlian mengadu pada Bintang kalau dialah penyebab dari hanyutnya dia. Bintang pasti akan langsung menghabisinya tanpa ampun.
"Sial..." Rangga bangkit dan duduk sambil menjambak rambutnya sendiri.
__ADS_1
"bintang gak boleh tahu kalau aku yang menyebabkan berlian hampir kehilangan nyawa hanyut di sungai. Aku harus menemui berlian dan minta dia tutup mulut. Aku ga peduli bagaimana pun caranya aku harus bisa menemui berlian malam ini juga sebelum semua terlambat" tekadnya kuat. Semenjak Berlian menikah dengan Bintang, Berlian mengganti nomor handphone nya sehingga Rangga benar-benar kehilangan.
Rangga kemudian berdiri meraih dompet dan kunci mobilnya, lalu bergegas keluar dari kamar.
...****************...
Dari ruang tamu terdengar suara mama Farida tengah berdebat dengan seorang laki-laki. Rangga memperlambat langkahnya dan bersembunyi di balik sebuah dinding. Rangga memasang baik-baik pendengarannya karna sepertinya apa yang di perdebatkan sangat menguntungkan bagi dirinya.
"Maaf mas erwin, aku ngga bisa menuruti kemauan mas erwin untuk memisahkan mereka. Bintang begitu bahagia hidup berumah tangga dengan Berlian dan aku gak mungkin tega menghancurkan kebahagian putraku. Seumur hidup , baru kali ini aku melihat bagaimana bahagia dan semangatnya bintang menjalani hidupnya. Dan semua itu karna berlian,bukan Kartika" mama farida tanpa ragu menolak kemauan tamunya yang tak lain ayah kandungnya Kartika, adik dari mendiang suaminya yang kedua.
"Farida, aku nggak main-main dengan keinginan ku. Segera minta Bintang menceraikan wanita itu lalu mau menerima perjodohannya dengan Kartika" tekan pak erwin tetap saja pada egonya yang tak masuk akal.
"Atau aku akan memperkarakan bintang secara hukum atas kejadian yang merenggut nyawa almarhum kakakku 10 tahun silam" lanjut pak erwin mengancam dan membuka memori lama yang membuat mama Farida terperanjat.
"Mas, kejadian itu sudah berlangsung lama. Kejadian itu terjadi begitu saja tanpa unsur kesengajaan. Bintang sama sekali ga bermaksud menciderai mas reza, dia hanya bermaksud menyelamatkanku dari perlakuan kasar nya" mama Farida melakukan pembelaan dan menceritakan kejadian yang sebenarnya. Terus terang, jantung wanita paruh baya itu terasa sakit dan sesak di tekan oleh kisah masa lalu dia dan putranya yang perih.
"Bintang harus menerima balasan yang setimpal, karna dia aku harus kehilangan saudaraku satu-satunya" tandas pak erwin.
"bintang sama sekali ga salah. Waktu itu dia masih dibawah umur dan dia sama sekali ga mengerti dengan apa yang di perbuat. Masalah ini juga sudah di selesaikan dengan damai"
"Tapi itu gak cukup!"potong pak erwin.
"aku mau Bintang dan Tika menikah secepatnya kalau kamu ga mau putra kesayangan mu meringkuk di penjara seumur hidupnya" lanjut pak erwin serius dengan ancamannya. mama Farida tak tahu harus bagaimana lagi. Kepalanya mau pecah dan jantungnya makin sakit terasa.
Sementara dari balik dinding, Rangga tersenyum puas penuh kemenangan.
"Ternyata Tuhan begitu sangat menyayangiku. Aku gak perlu mengotori tangan aku lagi untuk menghancurkan Bintang karna dia akan hancur dengan sendirinya. Hancur sehancur nya" tawa Rangga dalam hati.
__ADS_1
"Om bisa tenang di alam sana. Rangga gak akan pernah lupa membalas semua kebaikan om Reza. Cepat atau lambat, Bintang akan menerima balasan yang setimpal karna dia , Bulan meninggal sia-sia dan karna dia juga, om reza harus kehilangan nyawanya" Rangga mengenang satu persatu kisah masa lalu bintang penuh dendam.